"Di bully lagi?" tanya Beni, pria itu baru saja datang dan duduk di sofa. Memperhatikan wajah anaknya yang babak belur. "Apa perlu Papa turun tangan untuk dia?" tanya Beni lagi. Ratna ikut meringis saat mengobati luka Alif. "Nggak usah, Pa. Alif bisa selesaikan sendiri," jawab Alif. Menyandarkan punggungnya di sofa setelah wajahnya usai di obati. Beni menatap Alif remeh. "Halah! Kamu cuman bisa ngomong gitu, buktinya kamu tetap di bully kan," sarkas pria itu. Alif mengembuskan napasnya pelan. "Alif udah balas pukul, tapi dia tetap lebih kuat dari Alif, Pa." "Papa bingung sama kamu, Nak." Beni menatap Alif. "Dulu waktu kecil kamu jago banget berantem. Nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba berhenti eskul taekwondo. Malah beralih ke bidang akademik," ucap Beni. "Papa masih ingat pas kecil kak

