Hampir semua tempat di dalam rumah sudah Alif cari, tapi cincin itu tak kunjung ke temu juga. Alif mau menangis rasanya, apalagi Aura tidak mau membuka suara ataupun menatapnya. Wanita itu benar-benar marah karena keteledoran dirinya sendiri. "Ra, bantuin aku dong, cariin cincinnya. Aku udah cari ke semua tempat tapi nggak dapat juga," ucap Alif pelan. Duduk berjongkok di depan Aura yang masih setia membaca novel. Wanita itu tetap mengacuhkannya. "Ra ...." panggil Alif lagi dengan rengekan. "Yang hilanginnya lo, jadi lo harus bertanggung jawab buat cari cincin itu sampai ke temu," ucap Aura tanpa menatap Alif. "Nggak nyangka aja benda sepenting itu bisa lo hilangkan, lo sepele berarti, Lif." Napas Aura memburu. Sebenarnya dia sedari tadi sudah mencoba menahan amarah yang dari pagi i

