Segera Sofia mengambil dari dalam lemari. Dia melihat satu persatu foto-foto masa kecilnya. Siluet masa lalu seperti terpampang di depan mata. Si gadis mengusap pelan foto-foto yang kertasnya mulai menguning sebagian.
"Papa, ini lagi di proyek ya Paman?" Dia mengacungkan sebuah foto pada lelaki tua itu.
"Benar, Sofia."
Tampak si gadis manggut-manggut.
"Ini waktu kita di pantai. Sofia, Mama sama Papa," ucapnya lirih. Namun, dia menyadari ada hal aneh dalam foto itu. Sofia mendekatkan hingga di depan mata. "I-ini, kenapa bayangan Sofia ada dua Paman?"
"Maksud Sofia gimana?"
Segera gadis itu menyodorkan foto pada Paman Botek. Lelaki tua itu juga memperhatikan hal yang sama. Dia melihat dua bayangan Sofia yang terkena tempa sinar matahari.
"Paman merasa aneh enggak?"
"Iya. Apa mungkin ada orang lain di belakang Sofia waktu itu?"
"Mestinya 'kan tetep kelihatan Paman."
Paman Botek pun tak bisa mengerti apa yang telah dilihatnya itu.
"Dan, menurut Sofia, Paman. Bayangan ini ada hubungan sama, dengan yang dilihat oleh Irul. Termasuk yang Sofia lihat di dalam kamar sini malam tadi."
Keduanya semakin terdiam, tak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Memang harus diakui oleh Paman Botek, semenjak Lidia hamil sampai melahirkan Sofia. Terlalu banyak kejadian yang tiba-tiba.
"Apa yang Paman pikirkan? Apa sama kayak yang aku pikirkan?"
"Memangnya apa yang dipikirkan sama Sofia sekarang?"
"Sofia mikirnya ini makhluk yang sama. Tapi, entah makhluk apa itu? Sofia tak paham juga. Mungkin ada kaitan dengan rumah ini atau sesuatu yang dulu pernah dimiliki sama Papa, Mama."
Kemudian, Sofia meletakkan satu persatu foto-foto masa lalu. Dia menaruh sejajar di atas kasur tanpa kain sprai. Dan meletakkan foto dengan bayangan aneh di tengah.
Pandangan matanya memperhatikan satu persatu dengan seksama. Dia bermaksud mencari keanehan lainnya.
"Ini foto yang sama di pantai, Paman. Cuman, tak ada satu pun foto yang kelihatan aneh."
"Kalau ini, Sofia? Kenapa kabur, pas di bagian kamu aja. Kayak ada yang menghaling 'kan?"
Paman Botek memberikan foto itu pada Sofia. Si gadis mengamati dengan pandangan yang serius. Ternyata apa yang dikatakan Paman Botek ada benarnya juga.
Dia melihat seperti kabut yang menutupi seluruh tubuhnya samar.
"Paman, apa dulu pernah mengalami kejadian aneh? Saat Papa sama Mama masih hidup."
Paman Botek hanya menggeleng. Membuat Mina langsung menoleh pada suaminya.
"Apa yang menyebabkan Papa sama Mama meninggal, Paman?"
Lelaki tua itu semakin resah. Terlihat dia tidak tenang dan tampak mulai kalut.
"Sa-sakit."
"Sakit? Kata Nini kecelakaan Paman. Yang benar mana ini?"
Segera Paman Botek memperbaiki lagi kalimatnya.
"Maksud Paman, sakitnya karena habis kecelakaan Sofia."
Sorot mata yang tajam masih memandang pada lelaki yang duduk di depannya. Entah mengapa Sofia merasa ada yang disembunyikan oleh Paman Botek dan Acil Mina. Akan tetapi Sofia masih belum bisa memaksanya.
"Yuk, Bah. Ini semua udah selesai. Kita pulang dulu, nanti sore kita ke sini lagi. Tak apa-apa 'kan Sofia?"
Sang gadis menggeleng dengan tersenyum.
"Nanti sore Paman mau baiki kamar mandi yang satunya. Udah lama bocor. Tadi keluapan belum beli bahannya."
"Iya, Paman."
"Kalau ada apa-apa, telpon aja lah!"
"Siap."
Mereka berdua pun meninggalkan Sofia sendiri. Dia mengambil kain sprai yang terbungkus rapi di lemari. Sesaat dia memandang kain itu cukup lama. Berwarna kuning bercampur hijau tua., Pada bagian pinggiran terdapat motif gambar naga yang berwarna orange tua.
Aroma pewangi pakaian masih tercium segar. Sofia langsung membungkus kasur tua itu. Sekaligus mengambil bantal yang disimpan dalam lemari.
Buughh!
Tiba-tiba dia melihat sebuah buku yang terjatuh di lantai. Bersampul biru tua tebal. Sofia pun membungkuk seraya mengambilnya.
"Apa ini?"
Sofia mengapit buku itu di bawah ketiak. Lalu melanjutkan memakaikan sarung bantal. Setelah rapi dan selesai. Dia melompat ke atas kasur.
"Wowww ... selesai juga akhirnya."
Sofia mengambil dua bantal dan meletakkan di belakang punggungnya. Sengaja dia membiarkan pintu kamar terbuka. Agar angin masuk.
Semilir angin, membuat matanya mulai mengantuk berat. Padahal dia berniat untuk mmebaca buku yang baru saja dia temukan. Juga dia ingin memilih foto-foto yang aneh.
Hanya dalam sekejap. Sofia sudah meletakkan kepalanya di atas bantal. Dia benar-benar terlelap. Hingga mendengkur lirih. Sambil kedua tangan mendekap buku di atas d**a.
Satu jam berlalu, masih saja Sofia pulas. Tiba-tiba tubuhnya menggeliat lemah. Lama-lama kedua tangannya direntangkan lurus dan seolah tengah memukul. Entah apa?
"Pergi ... Pegit!" teriak Sofia masih dengan mata yang tertrutup rapat.
Dalam penglihatan batin Sofia saat ini. Dia berada di dalam rumahnya sendiri. Terlihat sangat gelap, tanpa ada pencahayaan sama sekali.
Sofia bisa mendengar guntur dari kejauhan. Dan tak lama, suara petir menyambar, seakan ingin memecah tempat dia berpijak saat ini.
Sang gadis sudah tak tahu apakah dia masih berada di alam mimpi atau bukan. Yang jelas saat ini Sofia benar-benar tegang. Suasana yang meliputi dirinya sangat mencekam.
"Di mana aku sekarang ini?" desis Sofia. Sepanjang mata memandang hanya hitam dan hitam. Benar-benar gelap. Membuat Sofia tak berani untuk bergerak sama sekali. "Pamaaan! Aciiil ...!" Suara Sofia menggema.
Dia merasa benar-benar sendiri. Bahkan Sofia tak tahu ini di mana. Sampai sambaran petir untuk yang kesekian kalinya, begitu nyaring dan dahsyat. Membuat Sofia memekik kencang, dengan kedua tangan menutup telinga. Gadis itu langsung berjongkok.
Saat sambaran petir menggelegar. Cahaya yang berkilat sangat cepat bagai melintas di depan Sofia. Sekatika itu, pandangan Sofia sempat melihat sosok yang berdiri di depannya. Hanya berjarak sekitar sepuluh meter darinya.
"Si-siapa tadi? Aku kayak lihat ada orang berdiri di situ?"
Kembali dia mengamati lurus ke depan. Sembari menunggu kilat yang menyambar lagi. Dalam sekian detik, petir kembali menyambar. Cahayanya sekilas memberikan penerangan pada penglihatan Sofia. Namun, sosok yang tadi terlihat tak tampak sama sekali.
"Kok hilang? Padala aku bener-bener lihat!" tegas Sofia.
Dia mulai merasa bulu kuduknya berdiri. Tantungnya pun berdegup lebih cepat dari biasanya. Hingga dia merasakan, sebuah tiupan di telinga kiri.
"Haaaahhhh!"
Sontak Sofia mengibaskan kedua tangannya ke arah telinga. Namun, tangannya tak menyentuh apa pun juga. Sambil merangkak, Sofia menjauhi tempat itu.
Dalam posisi merangkak. Tiba-tiba, kedua tangannya seperti memegang sesuatu yang dingin. Sedingin es batu. Namun, sayang Sofia tak bisa melihat apa pun di hadapannya.
Gadis itu memberanikan diri untuk memegang sesuatu yang dingin dan empuk. Hanya saja Sofi amulai membau sesuatu yang busuk. Teramat sangat busuk.
Seperti bau kotoran manusia bercampur darah yang membusuk. Mmebuat Sofia merasakan mual. Dan hampir muntah, akan tetapi dia tahan.
"A-apa ini? Kok bau banget."
_oOo_