Gadis itu memberanikan diri untuk memegang sesuatu yang dingin dan empuk. Hanya saja Sofi amulai membau sesuatu yang busuk. Teramat sangat busuk.
Seperti bau kotoran manusia bercampur darah yang membusuk. Membuat Sofia merasakan mual. Dan hampir muntah, akan tetapi dia tahan.
"A-apa ini? Kok bau banget."
Semakin dia raba. Sofia seperti memegang dua betis, yang bagian kulitnya terasa basah oleh cairan yang sangat lekat dan kental.
"Ini ... seperti bau darah?" desis Sofia lirih. Saat dia ingin menyentuh lagi. Sesuatu itu telah menghilang. Namun, Sofia merasakan ada seseorang di sampingnya. Dari embusan napas yang keluar, membuat Sofia terperanjat.
Perlahan Sofia menoleh dan ....
Dia melihat seraut wajah yang rusak dan penuh darah. Tengah menatapnya. Sontak Sofia berlari dan berteriak kencang. Sampai akhirnya tubuh Sofia terguling ke lantai.
Buughhh!
"Adoooohhh!" Terdengar erangan kesakitan Sofia. Dia mengusap bagian kepala yang terbentur lantai. "Masih belum jam 12, udah mimpi enggak karuan." Kembali Sofia mengusap rambutnya.
Tiba-tiba, Sofia kembali mengendus bau tak sedap. Sampai hidungnya kembang kempis, untuk memastikan bau yang tercium. Saat melihat kedua telapak tangannya. Sofia terbeliak.
"Ba-bagaimana bisa?" desis Sofia saat melihat kedua tangannya, yang basah dan berlendir. Lalu dia mencium kedua telapak tangan. "Yeeekkk! Baunya enggak enak."
Segera Sofia berlari keluar kamar, menuju kamar mandi. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan shampo bersamaan.
"Kok, bisa? Ini aneh banget."
Dia teringat akan kekasihnya. Buru-buru Sofia keluar kamar mandi dan menuju kamar. Mencari ponsel miliknya.
"Aku harus telpon Mas Alam tentang ini."
Dalam hitungan deringan ketiga, barulah terdengar suara Alam.
"Assalamualaikum, Sofia."
"Waalaikumsalam. Mas!"
"Hemmm, masih kangen juga?"
"Ihhh, dengerin dulu!"
"Tuh 'kan juteknya keluar lagi. Habis manis-manis manja minta disayang. Sekarang jutek lagi."
Sesaat Sofia terdiam, mendengar ucapan Alam.
"Apa maksud Mas Alam?"
"Lah yang barusan kirim pesan tadi? Apa kangennya masih kurang? Katanya kalau sampai sana, mau dipeluk sama dicium terus."
Deg!
"Pe-pesan?"
"Iya, Sofia! Kamu 'kan baru aja kirim pesan pakai nomer mendiang Nini. Aku mikirnya sih paketan kamu habis. Dari tadi aku telpon susah banget masuknya."
"Paketan data masih banyak Mas. Ini aja bisa telpon 'kan?"
"Mungkin kamu habisin pulsa di nomer Nini ya?"
"Ehhh ... ehhhh."
Sofia kebingungan untuk menjawab. Dia masih tak habis pikir bagaimana bisa, makhluk itu menghubungi Alam seolah itu dirinya.
"Kamu kok diam, Sof?"
"Mas Alam ... ehhhm, kalau aku bilang yang kirim pesan aku tadi, Mas percaya?"
"Ma-maksud kamu?"
"Ya kalau aku tak merasa kirim pesan buat Mas Alam. Apalagi pakai nomer NIni. Tak pernah sama sekali."
Hanya terdengar embusan napas Alam, yang memantul. Dia masih belum paham juga apa yang dibicarakan oleh Sofia.
"Jadi, kamu mau bilang kalau pesan tadi bukan dari kamu?"
"Yup!"
Sontak Alam tekikik geli.
"Kamu pintar banget ya kalau bikin prank," ucap Alam datar.
"Mas Alam, ini bukan prank. Aku bilang yang sebenarnya."
Kembali Alam terdiam.
"Maksud kamu Sof?" Kali ini suara Alam mulai berubah.
"Dengerin aku dulu, Mas."
"Ya, cerita aja, Sof!" Tampak Alam mulai jengkel. Namun Sofia tak peduli. Dia mengatakan yang sbeenarnya.
"Ada makhluk lain di rumah ini, yang mirip kayak aku, Mas. Kata orang-orang sekitar. Dan sejak aku datang dia sudah memperlihatkan dirinya sama aku. Apa mungkin dia yang mengirimkan pesan-pesan itu sama Mas Alam?"
Sontak Alam tertawa terbahak-bahak. Seolah mentertawakan penuturan Sofia.
"Kamu kok jadi aneh gini? Mudah banget percaya hal konyol kayak gitu, Sof? Pasti ada yang meracuni pikiran kamu ya?!"
"Mas!!!" sentak Sofia kesal. Habis kesabarannya untuk menjelaskan, tapi tetap saja Alam tak bisa mempercayainya. "Aku cerita ini, tak sedang main-main. Ini semua benar dan nyata."
"Kamu yang menurut aku main-main, Sofia. Sejak datang di rumah itu enggak kasih kabar. Sekali kirim pesan, kamu ingkari. Maksud kamu ini apa? Baru tiga hari kamu sudah berubah."
"Loh ... loh! Mas Alam kok mikirnya jauh gini. Mas Alam yang salah! Mas tak mau percaya sedikit pun sama Sofia. Buat apa sih, aku pake acara bohong segala?"
"Enggak tahu lah aku, Sof. Menurut aku jalan pikiran kamu aneh dan berubah! Dah, aku mau tidur, ngantuk."
"Ta-tapi, Mas--"
Tut tut tut!
Telepon sudah ditutup oleh Alam yang ngambek. Lelaki ganteng itu, terlalu emosi menanggapi apa yang dituturkan oleh kekasihnya. Dia berpikir kalau Sofia terlalu mengada-ada.
Sofia terduduk lemas di atas kasur kamarnya. Dia tak menyangka jika Alam malah akan salah sangka, seperti ini.
"Kenapa Mas Alam malah salah sangka? Dia malah tak percaya sama sekali. Dikiranya malah aku ini bohong."
Teringat akan pesan yang dibilang oleh Alam. Sofia mengambil tas ransel. Menggeser agar lebih dekat padanya. Tangan Sofia merogoh dalam tas, mengambil ponsel jadul milik Nini.
"Mas Alam masih tak percaya juga. Ini lho, HPnya masih mati. Tak nyala sama sekali. Bagaimana bisa ada yang kirimk pesan dari HP ini?" Sofia masih tak habis pikir. "Bagaimana bisa Mas Alam mendapat pesan dari HP NIni?"
Setelah menyalakan ponsel tua itu. Jemari tangan Sofia langsung masuk pada kolom pesan. Dia mencari pesan yang terkirim.
"Ini ... apa?"
Matanya terbeliak. Saat melihat beberapa pesan yang terkirim keluar. Segera Sofia mnecari tahu jam pesan tersebut dikirim.
"Tanggal 9 Agustus jam sepuluh lebih lima belas menit? Bukannya pas aku tidur tadi ya?"
Segera Sofia mmebaca pesan-pesan itu.
"Hohhhh!"
Mulutnya terbuka lebar. Membaca setiap pesan yang sangat v****r terkirim untuk kekasihnya.
"Si-siapa yang berani mengirim pesan gila kayak gini?"
Sofia kembali mengulang membaca pesan itu satu persatu.
{Mas Alam, Sayang. Buruan ke sini, temani Sofia ya. Aku selalu kesepian. Ingin pelukan hangat dirimu Mas. Aku ingin kita bisa bergaul mesra}
"Hohhhhh ...?!"
Sofia hanya bisa menggelengkan kepala berulang-ulang.
"Ma-mana pernah aku kirim pesan nakal kayak gini?"'
Jemari tangan Sofia bergetar hebat. Manakala pmembaca pesan berikutnya.
{Mas Alam sayangku. Sampai sini, kita tidr seranjang dan mandi bareng juga ya? Aku selalu pengen, Mas}
Seketika ponsel yang dibawa Sofia terlepas begitu saja. Terhempas di atas kasur. Gadis itu meremat rambutnya. Dia merasa kacau. Tak tahu lagi, siapa pengirim pesan-pesan panas itu.
"A-apa aku sendiri yang mengirimnya? Ta-tapi ... kapan? Aku tak pernah merasa membuat pesan lanji kayak itu!" (Lanji =binal)
Tampak Sofia benar-benar frustasi dengan beberapa peristiwa yang dia alami, dalam waktu tiga hari ini.
"Aku bisa gila ... kalau kayak gini. Ya Allah, apa yang harus aku perbuat. Apa yang terjadi?"
Sofia terus mengacau rambutnya sendiri. Dia terus mengayunkan tubuhnya maju mundur. Untuk menghilangkan kepanikan dan kebingungan yang melanda.
"Apa benar aku lupa? Atau memang aku yang mengirimkan pesan-pesan itu? Cuman, Hp Nini dalam keadaan mati? Apa setelah mengirimkan pesan, aku mematikannya?"
_oOo_