Sofia terus mengacau rambutnya sendiri. Dia terus mengayunkan tubuhnya maju mundur. Untuk menghilangkan kepanikan dan kebingungan yang melanda.
"Apa benar aku lupa? Atau memang aku yang mengirimkan pesan-pesan itu? Cuman, Hp Nini dalam keadaan mati? Apa setelah mengirimkan pesan, aku mematikannya?"
Suara Sofia terus bergumam. Dia semakin merasa kacau.
"Tak mungkin aku. Sangat jelas hal ini tak mungkin sama sekali. Aku masih waras dan sangat ingat betul. Kalau aku tak melakukannya, tapi dia."
Pyaaarrr!
Seperti suara benda yang pecah. Hancur berserakan di lantai. Sofia langsung berlari menuju arah belakang. Bola matanya tertuju pada gelas yang sudah hancur di lantai.
"Apa kucing? Atau ... mungkin tikus?"
Sofia segera mengambil sapu, dengan cepat dia membersihkan pecahan kaca, yang berserakan di bawah meja makan. Setelah selesai, Sofia berjalan menuju pintu belakang yang terbuka. Dia sangat yakin kalau ini perbuatan kucing liar.
Langkahnya berjalan lambat menuju tempat pembuangan sampah. Terbuat dari tanah yang digali oleh Paman Botek. Sejenak Sofia memperhatikan halaman belakang tak tak seluas halaman depan. Ada beberapa pohon di tempat itu.
Teringat akan kotak sepatu, buku bersampul biru dan juga foto-foto aneh tentang dirinya. Bergegas Sofia masuk rumah. Rasa penasaran semakin membuat gadis itu, ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini.
"Rumah ini atau kah ada hal yang lain?"
Dalam genggaman kedua tangannya. Terdapat buku, foto dan juga kotak sepatu. Sengaja Sofia membawa ke teras depan. Dia langsung duduk di lantai. Mulai kembali memperhatikan bayangan pada fotonya yang aneh.
"Aulia," desis Sofia. "Dia harus bisa membantu aku."
Beberapa gambar dia foto dan dikirim pada Aulia, Dengan memberikan tambahan caption, ada yang aneh?
Sofia menunggu balasan sahabatnya itu. Tak lama terdengar notifikasi pesan yang masuk.
Ting!
{Hemmm ... apa yang aneh, Sof?}
Tampaknya Aulia kurang cermat memeprhatikan beberapa foto yang dikirim Sofia.
{Perhatikan dengan tamat, Li! Ada hal aneh di dalam foto-foto itu! Coba deh lihat lagi yang lamaan!}
{Oke}
Tak lama berselang. Aulia mengirim balasan.
{Satu foto kayak adat kabut nutupin kamu, Sof. Yang kedua bayangan kamu yang kena matahari, ada dua. Bener enggak?}
{Bener sekali, Li. Menurut kamu aneh?}
{Aneh, sih. Kecuali di belakang kamu waktu itu ada orang.}
Sofia tak langsung membalas. Dia kembali memperhatikan kedua foto dirinya. Sesaat dia mulai merasakan kepalanya pusing. Mungkin dia terlalu kelelahan, memeprhatikan foto-foto ini.
Iseng, Sofia membuka kotak sepatu dari Nini Amas. Dia pun mengambil foto Irul anak laki satu-satunya wanita tua itu. Sontak Sofia terkejut. Saat melihat pada salah satu gambar Irul, terdapat bayangan hitam yang berdiri di belakangnya.
"I-ini, siapa?"
Sofi tak hanya memeprhatikan satu gambar. Dia mengambil foto-foto yang terdapat di kotak itu. Semua gambar Irul terdapat bayangan hitam di belakang tubuhnya. Sampai akhirnya Sofia melihat salah satu foto yang mengambil gambar rumahnya.
Tenggorokannya bagai tercekat dan kering tiba-tiba. Saat melihat gambar rumahnya, ada yang aneh. Gadis itu melihat sosok yang berdiri dari balik jendela. Dan ....
Tarikan napas Sofia naik turun begitu cepat. Lalu dia terus menggeleng, seolah tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok itu seperti seorang gadis seumuran dia.
"Kalau foto ini diambil sepuluh tahun yang lalu. Berarti umur aku 15 tahun saat itu. Kayak sepantaran dengan gadis ini!" Tunjuk Sofia pada sosok yang tertangkapa kamera di tahun itu.
"Pakaian dia ini, kenapa sama kayak yang aku punya?"
Seketika Sofia menoleh ke arah belakang. Tepatnya jendela yang sama di dalam foto. Lalu, gadis itu bangkit dari duduknya. Berjalan menuju arah pagar, berbalik dengan pandangan lurus ke arah jendela rumah.
Dia memampangkan foto itu, menyamakan posisinya.
"Hemmm, sosok gadis itu muncul dari balik jendela itu. Cuman sayang, wajahnya tak kelihatan sama sekali. Tertutup rambutnya. Tapi, kenapa aku ngerasa dia mirip sama aku ya? Padahal ini tak mungkin aku! Selama lima belas tahun, aku belum pernah ke sini lagi. Semenjak Nini mengajak pindah ke Jawa."
Sofia hanya bisa berdiri terpaku. Melihat beberapa fakta dan bukti yang ada di depan mata. Sampai sebuah tepukan di pinggang membuat gadis itu terlonjak dan menjerit keras.
"Aaaahhh!"
Pandangan mata Sofia tertuju pada sosok Nini Amas yang sudah berdiri di belakang dirinya.
"Nini Amas?! Bikin kaget aja, Ni. Saya sudah mau pingsan jadinya."
"Apa kamu mulai merasa ada yang aneh sama rumah kamu?"
"I-iya, Ni."
"Kamu lihat 'kan? Dalam foto itu ada penampakan yang mirip sama kamu. Cuman aku tahu itu bukan kamu. Dia mengaku saudara kembar kamu, Sofia."
"Dari mana Nini tahu kalau dia bilang saudara kembar aku?"
"Aku mencari tahu. Setelah kematian anakku Irul. Aku sering datang ke rumah ini, Sofia. Makanya banyak yang mengira aku gila. Aku sinting, kada bisa menerima kematian anakku. Padahal bukan itu! Bukan itu ...!"
Sofia hanya bisa terdiam sambil mendengarkan ungkapan hati wanita tua ini.
"Mari, Ni. Masuk dulu!"
Namun wanita tua ini, menolak.
"Dia pasti tahu. Gadis itu pasti ikut mendengarkan kita."
"D-diaaa ...?"
Nini Amas mengangguk.
"Iya, dia yang menyerupai kamu. Mulai dari kamu kecil hingga sekarang, sosok itu masih ada di dalam rumah ini."
"Dari mana NIni bisa tahu?"
"Karena aku cari tahu, ke berbagai tempat. Ke orang yang tahu soal ini. Mereka bilang memang ada makhluk penghuni di rumah kamu ini. Yang sangat jahat. Hanya saja mereka kada tahu kenapa bisa menyerupai kamu?" (Kada = tidak)
"Mereka bilang bagaimana Ni?"
"Ada kemungkinan ini berhubungan dengan orang tua kamu dulu. Hanya saja aku pun kada tahu jua lah."
Sofia terpaku memandang wanita tua yang berdiri di sebelahnya. Lalu wanita itu melirik pada Sofia.
"Apa kamu kada dihantui olehnya?"
"Iya, Ni. Dia sering muncul. Bahkan sejak dulu, hanya saja Sofia baru mengerti sekarang."
"Di manakah itu?"
"Ada di foto waktu Sofia kecil, Ni."
"Bisa kah aku melihatnya?"
"Bi-bisa! Nini Amas tunggu di sini sebentar, Sofia ambil dulu."
Tangan wanita itu mencegah lengan Sofia. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"A-ada apa Ni?"
"Biar aku ikut kamu."
"Nini tak apa-apa?"
Dia menggeleng pelan.
"Kada apa-apa. Ayok, tunjukkan sama aku."
Sofia menggandeng lengan Nini Amas. Walau dia tahu Paman Botek pasti tak menyukainya, kalau dia dekat dengan wanita ini. Namun, tak ada pilihan untuk Sofia. Hanya NIni Amas yang pernah mengalami kejadian aneh atau yang berhubungan dengan rumah ini.
"Kamu masih melamun haja?"
"I-iya, Ni. Ayo ke teras. Sofia taruh semua foto-foto itu di sana."
"Sebaiknya kamu bawa semuanya, Sofia. Aku masih belum sanggup berlama-lama di rumah kamu."
"Jadi, kita akan ke mana?"
"Ke rumah aku aja. Kamu tutup pintu rumah dulu!"
Walau ragu, Sofia pun menutup pintu rumah. Dia mnegikuti apa yang dikatakan Nini Amas.
'Semoga Paman, tak marahin aku. Karena ke rumah Nini Amas lagi,' bisik Sofia dalam hati.
_Hai readers, bantu tap love selesai membaca ya. Dan jangan lupa follow_