KONDISI SOFIA YANG LEMAH

1004 Kata
"Jadi, kita akan ke mana?" "Ke rumah aku aja. Kamu tutup pintu rumah dulu!" Walau ragu, Sofia pun menutup pintu rumah. Dia mnegikuti apa yang dikatakan Nini Amas. 'Semoga Paman, tak marahin aku. Karena ke rumah Nini Amas lagi,' bisik Sofia dalam hati.  Mereka berdua meninggalkan rumah, dengan membawa foto dan buku yang dimasukkan ke dalam kotak sepatu. Nini Amas berjalan cepat, diikuti oleh Sofia di belakangnya. Sangat terlihat jika mereka berdua menghindar dari Paman Botek. Yang bisa dipastikan akan marah dan melarang dirinya bergaul dengan Nini Amas. Akan tetapi bagi Sofia saat ini tak ada pilihan lain. Hanya Nini Amas yang selama dia di rumahnya ni, memberikan informasi yang dia harapkan. Apalagi Nini Amas pernah mengalami sendiri kejadian yang mencekam. "Masuklah Sofia!" "Baik, Ni."  Setelah mereka masuk, segera wanita tua itu menutup rapat pintu rumahnya. "Duduklah di sini! Tikar ini bersih kok." "Iya, Ni. Tak masalah kok buat Sofia." Keduanya duduk saling berhadapan. Sofia meletakkan kotak sepatu di hadapan mereka. "Bukalah foto kamu sama foto anakku!"  Tanpa banyak bertanya. Sofia melakukan apa yang dikatakan oleh Nini Amas. "Ini, Ni!" "Lihatlah baik-baik kedua foto ini, Sofia!" "Saya sudah melihatnya, Ni. Ada bayangan itu juga di belakang Irul." "Sama dengan yang di foto kamu juga?" "Iya, sama. Sangat mirip sekali, Ni." Kemudian wanita itu membongkar semua isi kotak sepatu. Menumpahkan semua isinya. Lalu menunjuk pada sobekan kertas yang berserakan. "Kertas ini memangnya kenapa, Nini?" "Coba kamu baca tulisan yang ada. Sengaja semua sobekan kertas yang ditulis Irul aku simpan. Karena aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." Perlahan Sofia mulai membaca satu persatu, kertas yang ada di tangan. Raut wajahnya seketika tegang. Kedua bola matanya membulat. "Ke-kenapa banyak sekali tulisan nama aku, Nini? Ini semuanya bertuliskan Sofia. Memangnya ada apa ini?" "Karena dia memperkenalkan dirinya sebagai Sofia." Deg! Serasa jantung Sofia mau copot. Sampai dia sulit untuk bernapas. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. "Bagaimana bisa anak NIni yang tak kenal sama saya, bisa menuliskan nama Sofia di semua carikan kertas ini? Kok bisa Ni?" "Aku juga kada tahu lah, Sofia. Baru saja aku tahu semuanya, saat dia sudah kada ada. Dia sudah meninggal baru aku tahu semua tulisan dia, adalah nama kamu!"  "Bagaimana bisa? Ini jadinya semakin aneh buat aku, NIni." Wanita tua itu terus menggeleng. Karena dia sendiri benar-benar tidak tahu, apa yang tengah terjadi. "Apa kamu diganggu?" "Iya, Ni." "Seperti apa?" "Kadang suara, sama penampakan dia. Sampai sekarang Sofia tak berani bercermin. Takut." Nini Amas terus memperhatikan Sofia dengan mimik wajah memelas. Entah mengapa? MUngkin dia teringat akan anaknya."Apa ... Nini tak mau melanjutkan cerita tentang kejadian sama mendiang Irul?" "Apa kamu nantinya enggak takut?" "Sebenarnya sih takut, NI?  Cuman Sofia semakin penasaran. Siapa sebenarnya makhluk itu? Kenapa dia bisa berkirim pesan juga ke orang lain. Mengatas namakan saya lho, Ni."   Wanita tua ini mengerti maksud dari Sofia. "Aku tahu yang kamu rasakan itu. Kamu juga kada bisa menghindarinya."  "Kok gitu, Nini?" "Kamu harus tahu, dari mana makhluk itu berasal. Dia pasti ada asal muasalnya." "Berarti Sofia harus cari orang pintar?" Nini Amas manggut-manggut. "Aku akan lanjutkan cerita tentang Irul. Sejak kejadian dia mengambil layangan. Dan melihat seorang gadis seumuran Irul kala itu. Kata teman-temannya. Irul itu hanya bisa diam, kada bergerak sama sekali. Padahal di depannya ada gadis itu di depan cermin, yang sampai sekarang masih di tempatnya." "Lalu?" "Sejak kejadian itu. Irul mulai aneh dan berubah. Dia lebih suka murung dan menyendiri di kamar. Sudah kada lagi mau sekolah. Hari-hari hanya melamun terus. Kalau malam pun, berteriak keras. Cuman satu nama yang dia sebutkan Sofia!" "Nama saya, Nini?" "Iya, Sofia. Semua tulisan dia sebutkan nama kamu. Sampai dia pernah menggambar seorang gadis. Rambutnya panjang. Cuman kada ada wajahnya. Polosan." "Aaaarghh! Kok saya makin ngeri sih, NIni. Mending udahan dulu ya kisahnya. Sofia tak kuat, kok jadi merinding kayak gini, Nini." "Tunggulah sebentar!" Wanita tua itu, masuk ke kamarnya. Tak lama dia datang membawa kalung yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua. "Pakailah ini! Makhluk itu kada pernah ganggu Nini kalau ke rumah kamu." "Terus Nini?" "Pakai saja." Sofia segera bersiap-siap pulang. Dia membereskan semua kertas dan foto serta buku milik orang tuanya. "Kapan kamu bisa sempatkan ke rumah orang pintar? Dia dulu tempat aku tanya." "Kalau besok bagaimana, Nini? Apakah jauh?" "Kita naik klotok. Satu jam lah dari sini." Sesaat Sofia tampak berpikir. Bagaimana caranya dia bisa minta ijin sama Paman dan Acil. "Pasti kamu mikirin Paman sama Acil Mina?" "Iya, Ni. Mereka pasti tak akan kasih ijin jua." "Pagi selepas mereka pulang rumah. Kayak apa?" Sofia berpikir itu rencana yang sangat bagus sekali. "Nini ternyata benar. Besok pagi setelah Paman sama Acil pergi. Nini tunggu di rumah saja, biar Sofia yang jemput." Wanita tua itu manggut-manggut. "Pulanglah!"  "Naiklah Ni. Assalamualakum." "Waalaikumsalam." Sesampai di rumah, terdengar adzan dhuhur.  Buru-buru Sofia meletakkan buku dan kotak sepatu. Dia langsung mengambil air wudhu dan sholat. Saat dia mnegangkat tangan dan mengucapkan takbir. Telinganya berdengung, sampai membuat sakit. Hingga Sofia mimisan. Namun dia tetap meneruskan sholatnya. Pada rakaat kedua, saat takbir kembali. "Allahuu Aklbar!" Blaaakkkk! Suara jendela kayu yang terbanting keras. Berasal dari kamar orang tuanya dulu. Sampai mmebuyarkan konsentrasi Sofia. Bahkan darah segar terus mengucur dari hidungnya. Sofia pun merasakan pusing yang teramat hebat. Hingga dia membatalkan sholatnya. Lalu merebahkan diri di atas kasur. Mukena putih telah berubah merah di beberapa bagian. Kebingungan mencari tisu, akrena lupa. Sofia terpaksa mengusap dan menahan darah segar yang terus keluar dengan ujung kaosnya. Tetap saja darah segar masih terus menetes. "Ke-kenapa kok kayak gini? Kepalaku jadi makin sakit." Gadis itu terus merintih kesakitan. Dia mengerang, menahan kepala yang seperti di bentur-benturkan. Sampai jemari tangan Sofia menjambak kuat rambutnya sendiri.  "Kepalaku kenapa kayak gini?" Sofia berusaha untuk tenang. Dia menarik napas dalam-dalam. Berharap sedikit meringankan kepala yang sakit dan pusing. Serta mimisan yang belum juga berhenti. Dalam keadaan yang lemah. Samar, Sofia seperti mendengar suara seseorang, yang memanggil dirinya. Bahkan dia juga bisa mendengar derap langkah yang mulai memasuki rumah. "Sofia ... Sofiaaaa!" Hening, Sofia pun tak menjawab panggilan itu, dengan sengaja. "Mbak ... Sofiaaa!" _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN