Dalam keadaan yang lemah. Samar, Sofia seperti mendengar suara seseorang, yang memanggil dirinya. Bahkan dia juga bisa mendengar derap langkah yang mulai memasuki rumah.
"Sofia ... Sofiaaaa!"
Hening, Sofia pun tak menjawab panggilan itu, dengan sengaja. Karena badanya terasa lemah. Bahkan untuk bersuara pun dia tak sanggup.
"Mbak ... Sofiaaa!"
Langkah seseorang semakin dekat. Saat melongok ke kamar Sofia. Wanita itu tersentak. Dia begitu terkejut melihat keadaan Sofia yang tiba-tiba berdarah.
"Mbak Sofia kenapa ini?"
Langkahnya semakin lebar memasuki kamar Sofia. Betapa terkejutnya saat melihat kondisi Sofia yang penuh dengan darah dan dalam keadaan lemah.
"Mbak ... Mbak, kamu masih sadar 'kan?"
"Ma-masih Mamak Eno." Suara Sofia benar-benar lemah. Dengan gerak cepat, wanita itu membersihkan hidung Sofia yang terus berdarah.
"Tunggu sebentar!"
Mamak Eno berlari kencang keluar rumah. Dia mengambil beberapa lembar daun sirih yang ada di depan pagar.
"Eno ... Eno!" teriak wanita memanggil anaknya.
"Apa, Ma?"
"Kamu panggilkan Paman Botek sama bininya. Suruh mereka ke rumah Mbak Sofia sekarang juga. Bilang kalau Mbak Sofia berdarah."
"Ba-baik, Ma!"
Gadis itu langsung berlari cepat meninggalkan sang mama. Yang langsung kembali masuk ke dalam rumah. Perlahan dia mulai menggulung daun sirih dan memasukkan ke lubang hidung Sofia.
Mamak Eno langsung melepaskan mukena yang masih dipakai oleh Sofia. Punggung tangan dia letakkan di dahi gadis ini. Terasa sedingin es batu.
"Mbak Sofia, bangun Mbak!"
"Sa-saya belum pingsan Bu. Cuman kepala sakit sekali."
"Punya minyak kayu putih?"
Sofia mengangguk. Dia menunjuk pada tas ransel miliknya. Bergegas Mamak Eno merogoh dan mengambil. Dia langsung mengoleskan pada bagian tengkuk, leher, dan d**a/ nmengusapkan pada telapak tangan dan kaki.
Tak lama berselang, terdengar derap langkah berlarian. Menuju kamar Sofia.
"Sofia ... Sof! Ada apa ini?" tanya Acil Mina cemas. Terlihat dia sangat ketakutan dan khawatir. "Pak, ayo kita bawa ke dokter atau ke rumah sakit aja."
"Iya, Paman. Mending begitu."
"Baik, biar Paman pinjam Pak RT mobil dulu."
"Paman!" Sofia memanggilnya dengan suara yang dipaksa. "Sofia baik-baik aja, Paman. Enggak usah ke dokter!"
"Baik-baik gimana, Sofia. Nih, kok bisa banyak darah kayak ini?" Kali ini Acil Mina benar-benar panik. "Untung ada Mamak Eno. Kalau kada ada kayak apa nah?"
"Haus ... Sofia haus, Cil."
"Acil buat kan minuman hangat."
Langkahnya berlari kecil menuju dapur. Paman Botek terus memperhatikan Sofia dari depan pintu. Dia terlihat sangat iba dan prihatin. Berulang kali lelaki tua itu, menghela napas panjang.
"Ini tadi kenapa sih Sofia?"
"Aku juga enggak tahu Paman. Sofia cuman pengen sholat. Pas takbir, telinga Sofia kayak sakit banget. Mendengung kencang. Sampai kepala Sofia kesakitan. Tapi, Sofia masih terus aja sholat Paman. Pas takbir rakaat kedua. Mimisan Sofia tambah parah. Terus ... kepala makin pusing dan ambruk di kasur tadi. Untung ada Mamak Eno."
"Iya, tadinya mau ajakin Mbak Sofia main ke rumah. Kita lagi bikin rujak. Kada tahunya Mbak Sofia sakit."
"Makasih lah Mamak Eno," ucap Acil Mina yang sudah kembali membawa secangkir teh hangat. "Minum dulu Sofia."
"Iya, Cil."
Dibantu Mamak Mamak Eno, Sofia berusaha untuk bangkit dan duduk. Perlahan dia meminum teh hangat yang disodorkan Acil Mina.
"Gimana pusing kamu, Sofia?"
"Sudah baikan Acil. Cuman sekarang kedinginan."
"Abah, ambilkan selimut yang tebal di kamart sebelah. Di lemari bagian bawah."
Bergegas Paman Botek menuju kamar yang berada didepannya. Dari mimik wajah lelaki tua itu, mengira semua ini bukanlah hal yang biasa. Ini semua pasti ada kaitan dengan rumah ini.
"Siapa pun kalian, para makhluk jahat yang ingin menyakiti Sofia, pergilah yang jauh! Jangan pernah sekali pun mencoba untuk menyakitinya!" bisik Paman Botek penuh ancaman. "Perlihatkan diri kamu, baik yang berada di kamar ini, atau pun dalam cermin depan. Tunjukkan perwujudan kalian!" Sembari menahan kekesalannya.
"Abaaah!" teriak sang istri, cukup mengejutkannya.
Buru-buru Paman Botek mengambil selimut tebal yang masih berada di lemari.
"Iyaaa, bentar lah!"
Sambil berjalan menuju kamar Sofia. Paman Botek merasa ada yang sedang memperhatikan dirinya. Seperti sedang mengamati dan mengawasi apa yang dilakukan oleh lelaki tua.
Setelah memberikan selimut pada sang istri. Paman Botek kembali keluar. Dia berjalan menuju ruang tengah. Berdiri tepat di depan cermin tua yang diselimuti kain oleh Sofia.
"Siapa sebenarnya yang berada dibalik cermin ini?" Suara Paman Botek berbisik. Perlahan sebelah tangannya, menyingkap kain tersebut. Cermin itu terlihat biasa-biasa saja. Bahkan bayangan Lelaki tua itu, pun terlihat wajar.
"Kenapa bisa Sofia melihat bayangan yang aneh tentang dirinya?"
Jemari tangan mengepal kuat. Lalu mengetuk cermin itu pelan. Pandangan matanya tertuju pada dalamnya cermin, yang bisa memantulkan semua bayangan. Yanga ada di depannya.
"Semuanya wajar. Cuman kenapa bisa Sofia sampai ketakutan?"
Saat dia sedang berpikir keras. Paman Botek merasa ada bayangan berkelebat, di belakang tubuhnya. Sontak dia berpaling. Pandangannya berpendar ke segala penjuru. Dia pun memperhatikan antara satu sudut dengan sudut yang lain.
"Di mana bayangan tadi? Kenapa tiba-tiba sudah menghilang begitu cepat?"
Hingga tatap matanya tertuju pada kayu hitam yang berada di dalam sebuah bingkai pigura.
"Bukankah kayu ini, diletakkan dalam kotak kaca, untuk menghilangkan kekuatan jahat yang ada di sekitar tempat ini? Kenapa tak ada reaksinya?"
Namun dalam kotak kaca itu. Paman Botek merasa melihat ada yang aneh.
"Bagaimana bisa kotak kaca ini berembun?"
Belum tuntas pertanyaan Paman Botek. Terdengar suara Acil Mina yang berteriak kencang.
"Abaaaah!"
"Ada apa, Mak?"
"Badan Sofia masih dingin ini. Kayak apa nah? Jadikah kita bawa ke dokter?"
Masih dengan perasaan yang gundah dan tak karuan. Paman Botek pun meninggalkan ruang tengah. Dia melihat kondisi Sofia masih belum membaik.
"Pakai mobil kita aja, Paman!" seru Mamak Eno.
"Jangan! Sofia udah lebih enak kok Acil, Mamak Eno. Sofia cuman ingin tidur aja."
Mereka pun membiarkan gadis itu, untuk beristirahat. Mama Acil menyelimuti tubuh Sofia yang masih dingin. Hanya saja mulai keluar keringat.
"Acil MIna, sebaiknya suruh ganti bajunya yang basah itu nah."
"Iya, tapi sekarang biarkan saja dulu. Sofia tidur."
Mereka keluar kamar dan sengaja membiarkan pintu terbuka lebar. Acil MIna menggelar karpet yang cukup tebal di depan pintu kamar.
"Mamak Eno, kalau mau pulang, silakan saja."
"Kada apa-apa, Cil. Di rumah juga kada ngapain. Ini tadi niat kita mau ajakin Sofia sujakan. Ehhh ... ternyata hidungnya penuh darah."
"Untungnya ada pian, Mamak Eno." (Pian = anda)
Mamak Eno mengernyit, seolah ingin mnegatakan sesuatu.
"Ada apa, Mamak Eno?"
"Ehhh ... aku tadi kayaknya lihat Nini Amas, kayak masuk ke rumah ini."
"Nini Amas? Ngapin dia ke sini?" tegas Paman Botek.
_Hai readers! Jangan lupa berikan tap love untuk cerita ini. Follow yaaa ...
_oOo_