HARUSKAH MENEMUI NINI AMAS LAGI (?)

1128 Kata
"Untungnya ada pian, Mamak Eno." (Pian = anda) Mamak Eno mengernyit, seolah ingin mengatakan sesuatu. "Ada apa, Mamak Eno?" "Ehhh ... aku tadi kayaknya lihat Nini Amas, dia masuk ke rumah ini." "Nini Amas? Ngapain dia ke sini?" tegas Paman Botek. Dengan dua bola mata yang melebar. Lelaki tua ini, melirik pada Sofia yang mulai tertidur pulas. "Kada tahu jua lah Paman. Kayaknya dia asyik aja tuh ngobrol sama Mbak Sofia tad." "Jadi, mereka berdua sempat ngobrol?" ulang Paman Botek, seolah tak percaya kalau Sofia melanggar apa yang dikatakannya. "Iya, Paman," sahut Mamak Eno. Tanpa menunggu lebih lama. Paman Botek berjalan cepat keluar rumah. Melihat hal ini, Acil Mina berlari keluar mengikutinya. "Abah!" Namun Paman Botek tak menghiraukannya. "Abah tunggu sebentar!"  Pada akhirnya lelaki itu, menghentikan langkahnya. Dia berbalik menunggu sang istri mendekat. "Ada apa?" "Mau ke mana?" "Ke rumah dia." Acil Mina menggeleng. "Kita jangan terlalu jauh ikut campur soal ini, Abah. Kita kada tahu, siapa yang sebujurnya kita hadapi ini? Iya 'kan?" (Sebujurnya = sebenarnya)   "Terus? Biarkan si Sofia makin parah sakitnya? Ingat, Mak! Bu Syarif semasa hidupnya sudah banyak bantuin kita. Apa Mamak mau biarkan  si Sofia kayak bagitu?" Acil MIna tertunduk dalam-dalam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dari suaminya. "Kada bisa jawab jua lah? Makanya jangan ikut campur, atau melarang apa yang handak aku lakukan. Paham Mak?" "Tapi, Bah?" Lelaki tua itu, tak menggubris keberatan sang istri. Dia terus pergi meninggalkan Mina sendirian di halaman. Yang terus memandang ke arahnya. Langkah lebar Paman Botek menuju rumah Nini Amas. Emosi meletup dalam dirinya. Mengapa wanita tua itu berniat menganggu Sofia? Pertanyaan itu berulang-ulang tersemat dalam pikirannya. Hingga langkahnya terhenti di depan pintu rumah yang kumuh. Dug dug dug! Bukanlah sebuah ketukan yang biasa. Ini lebih mirip sebuah gedoran yang berulang sangat cepat. Tak lama, pintu yang kayunya mulai lapuk, terbuka pelan-pelan. Wanita tua itu, sangat terkejut dengan kedatangan Botek. Yang berdiri dengan muka garang, seperti menahan kemarahannya. "Kamu?" "Untuk apa Nini datang ke rumah Sofia?" "Bukan urusan kamu!" "Jangan main-main sama aku, Ni! Apa tujuan kamu berbaik-baik sama Sofia? Katakan sekarang juga!"   "Dari dulu kamu selalu berpikiran buruk sama aku. Seharusnya kamu dengar apa yang aku bilang itu, Botek!" Sontak keberanian Nini Amas melawan kalimatnya membuat lelaki tua itu geram. Kedua tangannya terkepal, menahan amarah yang meledak. "Apa tujuan Nini  ke rumah?" "Aku cuman ingin melihat Sofia. Memastikan kalau  dia baik-baik saja." "Bohong! Tak bisa aku percayai omongan kamu!"  "Ya, sudah kalau itu yang kamu pikirkan, Botek. Asal kamu ketahui ya. Anakku jadi korban rumah itu!" "Tetap saja aku kada bisa percayai kamu sema sekali. Menurtut aku, kamulah yang bunuh anak kamu sendiri, Nini Amas!" Amarah wanita tua itu memuncak. Kedua tangannya mengepal erat. Dengan pandangan kedua mata yang menyorot tajam pada Botek. "Kamu sudah keterlaluan! Bagaimana bisa aku membunuh anat aku sendiri? Benar-benar kamu sudah menyakiti aku, Botek. Kalian warga sini sudah emnganggap aku gila, termasuk kamu. Hanya Sofia yang bisa menerima aku." "Iya lah, kerena dia kada tahu siapa  sabujurnya Nini Amas ini!" (Sabujurnya = sebenarnya) Tanpa mempedulikan lagi keberadaan Botek. Nini Amas membanting pintu dengan keras. Membuat lelaki itu terhenyak.  "Sulitnya memberitahu Sofia, agar tak dekat-dekat dengan wanita ini." Tak bisa berbuat banyak. Paman Botek pun akhirnya pulang. Sisa-sia dia menemui wanita itu. Walau pun ingin memberikan peringatan padanya. Semua percuma kalau Sofia tetap akan menemuinya.  "Sebaiknya aku harus bicara pada Sofia langsung." Sesampai di rumah, bergegas Paman Botek menuju arah kamar Sofia. "Sudah bangun si Sofia?" "Masih tidur, Paman." "Acil ke mana?" (Acil = bibi) "Di belakang, buatin makanan buat Mbak Sofia." Paman Botek segera menuju dapur, dia menghampiri sang istri. "Gimana Abah?" "Kalau Sofia bangun, aku harus bicara sama dia!" "Memangnya ada apa?" "Nini Amas kayaknya malah berusaha mendekati Sofia. Aku bilang kada boleh, masih saja kada menggubris apa yang aku bilang, Mak. Yang aku takutkan, kalau  rumor  beredar di masyarakat itu benar. Mana pernah kita tahu. Iya 'kan, Mak?" "Itulah yang aku juga takutkan. KIta kada pernah tahu, pastinya si Irul dulu mati karena apa? Terus lakinya juga kena apa? Yang kita tahu mereka berdua sakit. Nini Amas juga kada mau diperiksa ke dokter. Tarus rencana Abah kayak apa?" "Aku hanya ingin bicara sama Sofia. Akan aku ceritakan ihwal keluarga Nini Amas, serta kematiannya." "Kayaknya itu akan lebih baik." Dari arah depan. Mamak Eno memanggil meraka. "Paman, Aciil! Ini Mbak Sofia sudah bangun." Bergegas keduanya mendatangi Sofia. Wajah gadis itu mulai memerah. Tak sepucat sebelumnya. "Acil ...!" Dengan suara yang lemah. Membuat Mina dan Botek tak tega melihatnya. "Sofia kada pa-pa?"     "Cuman masih lemes aja, Cil. Sofia masih belum sholat Shuhur. Kayak apa ini Cil?" "Ini udah masuk Ashar. Kamu jamak aja ya nanti." Gadis itu mengangguk lemah. Paman Botek menarik kursi kayu agar merapat pada ranjang. "Paman mau bertanya sama Sofia!" Sofia melirik ke arahnya. "Tanya apa Paman?" "Kenapa kamu ke rumah Nini Amas?" Terdengar Sofia menghela napas panjang. Memejamkan kedua matanya sesaat. Lalu, kembali menoleh lagi pada Paman Botek. "Jujur, Sofia bingung dengan kenyataan yang dialami selama di rumah ini, Paman. Niat Sofia hanya ingin menjualnya. Tapi, rumah ini kayak kada mau kalau dijual." "Dari mana Sofia bisa tahu dan punya pemikiran kayak gitu?" "Iya, Paman. Banyak sekali penampakan yang Sofia lihat di rumah ini. Apalagi ada bukti-bukti aneh menurut Sofia. Seperti foto Irul yang juga punya bayangan yang sama. Ehhh ... maksudnya Sofia tuh, sama kayak yang di foto punyaan saya waktu kecil Paman. Ini 'kan aneh? Apa Paman sama Acil tak merasa aneh?" "I-iya, aneh juga. Cuman Sofia. Jangan dekat-dekatlah sama NIni Amas. Kita kada ada yang tahu, saat kejadian itu, Sofia. BIsa saja 'kan kematian mereka bukan berasal dari rumah ini?" lanjut Mina. "Kenapa Paman sama Acil sampai punya pikiran begitu? Sofia baru beberapa hari saja sudah tahu kalau rumah ini, ada yang aneh. Sangat tak wajar. Paman sama Acil, mungkin Mamak Eno bisa merasakan aura yang berbeda. Aura yang jahat, kejam, tak kenal ampun pada siapa saja. Benar 'kan?" Mamak Eno langsung mengangguk. Paman Botek dan istrinya, hanya bisa terdiam melihat pendirian Sofia. "Jadi, apa menurut Paman sama Acil, Nini Amas tetaplah orang gila?" "Kita pun juga kada tahu hal itu, Sof. Tapi, melihat tingkah laku yang ditunjukkan, memang seperti sinting. Kada waras dia," tegas Paman Botek. Sofia pun terdiam. Semua pemikiran dan pendapatnya dipatahkan oleh mereka semua. Dia pun kembali teringat tentang janji besok untuk bertemu. Menemui orang pintar yang ada  hulu. Walau pun terlihat ragu, akan tetapi Sofia ingin mencari kebenaran. Dia ingin mmebuktikan apa permasalahan yang berhubungan dengan rumahnya itu. "Kamu kenapa diam Sof?" tanya Mina. Yang terus mengamati Sofia. "Tak apa-apa, Acil. Sofia itu bingung. Semalam pacar Sofia dapat pesan dari HP Nini. Padahal; Sofia tak kirim pesan sama sekali. Apalagi HP Nini selalu Sofia matikan. Aneh 'kan Acil, Paman?" Sembari mendongak ke arah mereka bergantian. _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN