SEPULUH TAHUN LALU

1032 Kata
Sofia pun terdiam. Semua pemikiran dan pendapatnya dipatahkan oleh mereka semua. Dia pun kembali teringat tentang janji besok untuk bertemu. Menemui orang pintar yang ada  hulu. Walau pun terlihat ragu, akan tetapi Sofia ingin mencari kebenaran. Dia ingin mmebuktikan apa permasalahan yang berhubungan dengan rumahnya itu. "Kamu kenapa diam Sof?" tanya Mina. Yang terus mengamati Sofia. "Tak apa-apa, Acil. Sofia itu bingung. Semalam pacar Sofia dapat pesan dari HP Nini. Padahal; Sofia tak kirim pesan sama sekali. Apalagi HP Nini selalu Sofia matikan. Aneh 'kan Acil, Paman?" Sembari mendongak ke arah mereka bergantian. "HPnya Bu Syarif?" "Iya, Nininya Sofia. Bukan Nini Amas, Paman." Mereka terdiam. "Yang bikin heran lagi, si pengirim pesan ini. Mengirim kata-katanya itu aneh. Genit gitu lho Paman. Itu bukan Sofia banget." "Bi-bisa Paman lihat?" Sofia merogoh tas ranselnya. Lalu menyodorkan HP tua pada Paman Botek. Mereka bertiga melihat isi pesan yang terkirim pada Alam. "Masa, Sofia ajak Mas Alam tidur bareng. Enggak mungkinlah!" Eno yang dari tadi hanya diam di sudut kamar. Terus memperhatikan mereka. Pada akhirnya dia mulai penasaran. "Coba, lihat di tanggal sama jam nya, Mak," bisik Eno pada Mamanya. "Ohhh, iya. Bener juga. Nih, Paman lihat jam sama tanggalnya!" Sembari jari telunjuknya  mengarah pada ujung atas kolom pesan. "Kamu bener juga Mamak Eno. Ini jam satu an malam," ucap Acil Mina lirih. Lalu mengalihkan pandangannya pada Sofia yang masih lemas. "Kamu, semalam ngapain?" Sofia hanya bisa geleng-geleng. "Banyak kejadian, Acil. Tanya aja sama Paman!" "Sepertinya kalau Sofia yang kirim pesan ini, Kayak kada mungkin," sahut Paman BOtek. Seraya membenarkan apa yang disampaikan oleh Sofia. (Kada = tidak) "Inilah, yang jadi alasan Sofia menerima Nini Amas untuk dekat sama Sofia. Karena dia pernah mengalami sesuatu yang aneh sama rumah ini juga." "Apa ... Sofia mau dengar kisah si Irul sama laki-nya Nini Amas?" Sofia menatap tajam pada Paman BOtek dan Acil MIna bergantian.  "Coba ceritakan sama Sofia!" Gadis itu berusaha uintuk duduk bersandar pada sandaran ranjang, yang terbuat dari besi. Mina mmebantu memberikan bantal pada belakang punggungnya. "Makasih, Acil." "Mungkin orang sekitar sini, hanya tahu kejadian saat Irul mengambil layangan saja. Sampai akhirnya Irul bersama teman-temannya, melihat sosok gadis itu dalam rumah. Paman, kada berhenti di situ saja cari keterangan. Paman tanyakan pada Irul, kedua tamannya, sampai ke Pak Farid mendiang suami Nini Amas. Makanya Paman bisa bekisah kayak sekarang ini." Kemudian, dia menoleh pada Mamak Eno dan anak gadisnya. "Mamak Eno, sama Eno sekalian. Tolong jangan dikisahkan ke orang lain. Kita udah anggap Mamak sekeluarga ini saudara." "Insyaallah, pasti Paman. Nih, mulut akan ulun kunci rapat. Biar kada seorang pun yang tahu kisah ini." (Ulun = saya, kada = tidak) "Setelah kejadian itu, kisahnya langsung menyebar. Banyak versi, semuanya kada yang sama. Ujar mereka si Irul itu ketulahan, kesambet." "Terus apa yang Paman lakukan?" "Pertama Paman mendatangi rumah Nini Amas. Waktu itu, sikap Nini Amas kada kayak sekarang. Yang sangat tertutup dan aneh." Mereka semua yang berada dalam kamar, terdiam mendengarkan penuturan Paman Botek. Lelaki tua itu kembali melanjutkan kisahnya. _Sepuluh tahun yang lalu_ Kampung yang berada diatas sungai itu, masih banyak terdapat rawa-rawa. Rumah Hasbiansya sudah kosong selama lima tahun. Selama itu pula, Botek dan istri, menjaga dan memelihara peninggalan keluarga mendiang Hasbiansyah. Sore menjelang petang. Suara anak-anak bermain masih riuh terdengar. Tak lain mereka adalah Irul dan kawan-kawannya. Di depan rumah Sofia, saat itu hingga sekarang terdapat tanah lapang, yang tak terlalu luas.  Biasanya dijadikan anak- anak kampung sekitar bermain.  "Layangan ... layangan pagat!" teriak salah seorang anak. (Pagat = putus)  "Hayooo, kejaaaarr!" teriak Irul, yang langsung diikuti oleh teman-temannya. Mereka berlari menuju arah rumah Sofia. Hingga sampai di depan pagar, mereka semua berhenti dan terdiam. Tak ada teriakan lagi yang terdengar. "Hei! Kenapa kalian malah diam?" tanya Irul keheranan. Teman-temannya menggeleng. Pertanda mereka tak mau untuk mengambil ke rumah kosong itu. "Kada, Rul. Aku takut kalau harus masuk rumah ini!" "Iya, aku juga. Ujar orang-orang, ini rumah berhantu." "Siapa bilang? Rumah aku yang dekat sini aja kada pernah ditakutin!" tegas Irul masih bersikeras. Lalu dia menarik lengan kedua temannya. "Ayo, jangan jadi penakut!" Terpaksa Fany dan Ican mengikutinya. Walau ragu dan takut, mereka berdua tak ingin Irul marah. Perlahan Irul lebih dahulu memanjat pagar. Diikuti oleh kedua temannya. "Ayooo!" ajak Irul; terus mengayunkan tangan ke arah mereka. "Tuh, ada di pohon rambutan." Tunjuk Yrul pada Fany dan Ican. "Siapa yang handak naik?" tanya Ican, gamang. "Aku, aja kalau kalian kada berani," sahut Irul lantang. Bergegas dia melompat, dan mulai merambat naik ke atas pohon rambutan yang tak seberapa tinggi. Namun ranting dan daunnya sangat lebat. Hanya sekali menulurkan tangan, Layangan ukuran besar itu, akhirnya dia dapatkan. Lalu, Irul menjatuhkan layangan itu ke tanah. "Nih, tangkap!" Fany dan Ican langsung menangkap layangan ukuran besar itu. Hanya sekali lompatan, kedua kaki Irul sudah menjejak di tanah. "Nah, bagus kada layangannya?" "Iya, nih. Bagus banar," sahut Ican. "Yuk, keburu maghrib," ajak Fany. Saat mereka bertiga melangkah hendak meninggalkan rumah. Irul mendengar suara yang aneh. Ternyata tak hanya Irul saja yang mendengar. Ternyata Fany dan Ican juga mendengar suara yang mirip dengan ketukan di jendela. Dug dug dug! Spontan mereka bertiga berbalik dan memperhatikan sekitar jendela.  "Kayak ada orang Rul," tukas Ican, sambil memegang erat lengan Irul, yang berdiri di tengah mereka. "Mana?" Irul mengalihkan pandangannya pada Ican, yang menunjuk ke arah jendela sebelah kanan. "Ayo kita intip!" ajak Irul tanpa takut. "Haaahhh?!" Fany dan Ican berteriak yang ditahan. Mereka tak menyangka bila Irul malah mengajak untuk melihat ke jendela rumah Sofia.  "Yang banar aja kamu Rul?" Tampak Fany tak menyetujui rencana Irul. "Mending aku pulang!" Namun gerak cepat tangan Irul langsung menghalangi tubuh Fany. "Kita datang sama-sama. Berarti kita pulang harus sama-sama. Itulah teman, Fan!" tegas Irul. Yang membuat Fany dan Ican tak berkutik.  Dengan berat hati, pada akhirnya mereka mengikuti langkah Irul. Perlahan mereka mulai mendekati teras rumah. Korden jendela tampak bergerak-gerak, seperti terayun oleh angin. Atau gerakan tangan. "Itu tuuuh!" teriak Ican. "Kalian melihatnya kada?" "Apa?" tanya Irul dan Fany kompak. "Kain di jendela itu tadi gerak gerak. Masa, kalian berdua kada ada yang malihatnya?" (Kada = tidak) Fany dan Irul menggeleng bersamaan. "Dah, aku mau pulang aja!" tegas Ican mulai ketakutan. Sekali lagi, Irul menahan lengannya. "Tetap temani kami di sini!" _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN