TINGKAH ANEH IRUL

1119 Kata
"Itu tuuuh!" teriak Ican. "Kalian melihatnya kada?" "Apa?" tanya Irul dan Fany kompak. "Kain di jendela itu tadi gerak gerak. Masa, kalian berdua kada ada yang malihatnya?" (Kada = tidak) Fany dan Irul menggeleng bersamaan. "Dah, aku mau pulang aja!" tegas Ican mulai ketakutan. Sekali lagi, Irul menahan lengannya. "Tetap temani kami di sini!" sentak Irul, membuat Ican pun tak kuasa untuk menolak. "Buat apa kita di sini? Nanti malah sial kita!" Fany pun mengajak  untuk pulang. Akan tetapi Irul masih terus memaksa untuk tetap tinggal.  Kedua teman Irul pun akhirnya mengalah.  Mereka mulai mengikuti langkah Irul yang berjalan lebih dulu.  Hingga ketiganya berhenti tepat di depan jendela. Irul mulai menempelkan wajahnya rapat pada kaca. Begitu juga dengan Fany dan Ican. "Apa yang kalian lihat?" tanya Irul. "Kada ada!" jawab Ican tegas. "Bujur! Aku jua kada melihat apa-apa."  Fany terus mengintip ke arah dalam rumah. Tiba-tiba dia seperti melihat bayangan, berkelebat. "Ehhh! A-apa ... itu?" Sembari berteriak. (Bujur = benar) Sontak teriakannya mengejutkan Ican dan Irul. Mereka berdua mengalihkan pandangannya, pada Fany. "Ka-kamu lihat apa?" tanya Irul tegang. Fany hanya menunjuk ke arah dalam  ruamah. "Ka-kalian lihat itu!" Irul dan Ican mengikuti arah telunjuk Fany. Ternyata apa yang dilihat teman mereka, benar adanya. Irul dan Ican melihat sosok gadis yang berdiri di depan cermin. Rambut panjang sepunggung menutupi wajahnya dari samping. Sosok gadis itu tak bergerak sama sekali. Hanya diam seakan memandang dirinya pada cermin. Hingga membuat ketiga remaja ABG itu terhenyak. Mereka tak  bergerak, bahkan untuk berkata-kata seakan tercekat. Tatap mereka tajam  mengarah pada sosok sang gadis. Yang perlahan menggerakkan lehernya, sampai wajah yang tertutupi rambut, mulai mengarah pada Irul dan teman-teman. Namun, dengan tubuh yang masih menghadap ke arah cermin? Bagaimana bisa? Mereka bertiga saling bertanya-tanya dalam hati dan pikiran.  "Kok, bisa?" ucap Irul. Menyadari hal yang aneh dan semakin membuat mereka merinding. Ican dan Fany langsung menarik lengan Irul yang masih terpaku. "Rul ... Irul!" teriak mereka berdua. Namun tetap saja Irul seperti terhipnotis. Dia terus melihat sosok gadis yang aneh dan menyeramkan itu. Sampai kedua temannya, menarik paksa. Hanya saja semua percuma. Irul seperti terpaku di tempatnya. Sampai akhirnya Ican dan Fany meninggalkan Irul yang masih mengintip ke arah dalam rumah. "Kita lari saja!" ajak Ican pada Fany. Irul seperti tak mendengar, teriakan kedua temannya. Dia pun tak bisa merasakan tarikan tangan Ican dan Fany padanya. Detik ini, yang dia rasa dan lihat. Hanyalah sosok gadis dengan wajah yang tersembunyi oleh rambut. "Si-siapa kamu?" bisik Irul. "Sofia." "So-Sofia?" Sosok gadis itu mengangguk pelan. "Kenapa kamu di dalam rumah kosong ini?" "Ini, memang rumahku." "Rumah kamu?" ulang Irul keheranan. "Bukannya selama ini kosong? Semenjak Pak Hasbi dan istri meninggal?" Sosok gadis itu menggeleng lambat. "Masih ada Sofia!" "Sofia ... kamu?" Mendengar perkataan Irul. Membuat sosok Sofia menegakkan wajahnya. Hingga dagunya terangkat ke atas. Rambut yang menutup wajah, mulai tersibak sebagian. Membuat Irul terperanjat. Seketika kedua bola matanya membeliak lebar. "Ka-kamuuu ...?" "Kenapa?" "Ka-kamu ... bukan manusia. Kamu bukan manusia." Perlahan Irul berjalan mundurur. Hingga hampir saja terjungkal. Saat kedua tumitnya menginjak batu. Irul yang syok terus menggeleng.  Dia melihat sosok Sofia terus mendekati dirinya. "Pergi ... pergi kamu!" teriak Irul. Namun masih saja sosok Sofia mneghampiri dan semakin mendekat. Spontan Irul lari terbirit-b***t meninggalkan rumah Sofia. Hanya sekali lompatan. Irul sudah ebrhasil keluar rumah. Di saat yang bersamaan. Suara adzan maghrib terdengar. Irul terus berlari kencang menuju rumahnya. Dengan napas yang tersengal-sengal. Dia langsung menerobos masuk. Membuat Nini Amas heran melihat Irul yang seperti orang ketakutan. "Kamu, kenapa Rul?" "Kada apa-apa, Mak." "Kalau kada apa-apa, kenapa muka kamu merah kayak gitu? Tarus napas jadinya ngos-ngosan kayak disoraki maling aja." "Aku mau mandi dulu Mak." Bergegas Irul menyambar sarung dan handuk. Di dalam kamar mandi, dia masih terbayang sosok Sofia. "Sofia," desis Irul. ":Kanapa bisa dia ada di rumah itu? Siapa dia sebenarnya?" Tak mau ambil pusing.  Irul langsung mengguyurkan air dingin di atas kepala. Sambil berharap pikirannya bisa terlepas dari bayangan  Sofia tadi. Setelah selesai mandi. Irul mengenakan pakaian. Tiba-tiba .... Byurrrr! Saat Irul menyiramkan air. Dia merasa kalau di kamar mandi ini tak sendiri. Irul seperti melihat bayangan yang berkelebat. Seakan mengikuti dirinya. Buru-buru Irul menyelesaikan mandi. Tak lama dia pun bergegas kelaura dan emnuju kamar. Nini Amas terus memperhatikan anaknya. Yang terlihat aneh seperti tak biasanya. "Rul ... Irul!" Tak ada sahutan dari kamar.  "Kamu kenapa diam tarus?" Masih tetap tak ada suara. Membuat NIni Amas beranjak dari tempat dia, yang sibuk membuat tapai ketan putih. Pesanan warga sekitar. Memang tapai ketan bikinan Nini Amas terkenal paling enak. Wanita itu kini sudah berdiri did epan pintu. Saat hendak menarik kenop. Tampak dia kesulitan. Sepertinya Irul mengunci pintu dari dalam kamar.    Tok tok tok! "Ruuuul ... Iruuuul!" Tok tok tok! Masih saja tak ada balasan yang terdengar. "Bukain pintunya, Rul!" Tak lama berselang. Klek! Muncul Irul yang wajahnya terlihat lesu.  "Kamu kenapa kayak gitu?" "Hemmm, laper," jawab Irul sekenanya. Langkah remaja itu berjalan menuju ruang dapur.  Nini Amas masih terus memperhatikan anaknya. Yang memang sejak kepulangannya dari bermain sedikit berbeda. "Kamu sakit?" "Kada, Mak!" "Tarus, kenapa kelihatan aneh kayak gitu?" Masih saja Irul tak menggubrisnya. Dia mengambil piring dan nasi. Serta ikan goreng dan sambal. Tanpa ada ekspresi sama sekali. Dengan lahap Irul menghabiskan makanannya. Sesekali pandangan bocah remaja, berumur 15 tahun itu, menoleh ke kanan kiri. Seperti orang yang sedang gelisah. "Hei!" Nini Amas menepuk bahu anaknya pelan. "Kalau makan jangan pusingin hal lain. Makan ... ya makan aja. Kenapa juga lihat kiri kanan. Kayak orang lagi cari sesuatu." Irul makan dengan sangat lahap. Tak sampai lima menit, makanan dalam piringnya tandas. Sampai Nini Amas dibuat geleng-geleng. Tak habis pikir melihat Irul yang aneh. "Kamu ini kenapa sih Rul?" Anak lelaki itu terus menggeleng. Respon yang dia berikan untuk menjawab Ibunya. "Lah, bilang! Jangan cuman bisa geleng kepala aja!" "Irul lihat Sofia." "Sofiaaa?" Kedua mata Nini Amas melotot. Sampai dahinya ketarik ke atas. "Sofia siapa?" ulang Nini Amas lagi. "Dia, babinian  yang ada di rumah Pak Hasbi." (Babinian = cewek/wanita) "Rumah Pak Hasbi? Bagaimana bisa, Rul? Di sana itu rumah kosong!" tegas Nini Amas, penuh tanya. "Udah tahu!" Langkah Irul meninggalkan Nini Amas yang masih dalam kebingungan atas kalimat anaknya. Saat tersadar. Wanita itu mengejar Irul yang kembali masuk kamara. Di saat Irul hendak menutup pintu. Tangan Nini Amas bergerak cepat menahan dan mendorong pintu, agar kembali terbuka. "Mamak mau bicara sama kamu!" Nini Amas langsung menerobos masuk. Dia pun duduk di tepian ranjang kayu. "Mamak sangat yakin kalau kamu mengalami sesuatu kejadian. Coba bilang!" Irul menundukkan wajahnya, dengan terus menggeleng. "Jawab! Dari mana kamu tahu soal Sofia itu?" Nini Amas semakin tak sabar menghadapi anak semata wayang. "Kenapa kamu tak jawab jujur Mamak, Rul?" Follow masukkan cerita ini dengan tap love kalian. _oOo_ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN