MENDATANGI RUMAH KAI IKSAN

1016 Kata
"Jawab! Dari mana kamu tahu soal Sofia itu?" Nini Amas semakin tak sabar menghadapi anak semata wayang. "Kenapa kamu tak jawab jujur Mamak, Rul?" Irul terlihat memucat. Dia tampak cemas dan gelisah. Amas bisa melihat perubahan mimik wajah sang anak. "Kamu mau diam sampai kapan?" Sengaja Amas menarik lengan Irul. Agar anaknya itu segera duduk di sampingnya. "Coba kamu ceritakan sama Mamak. Ada apa sabujurnya, Rul?" (Sabujurnya = sebenarnya) Sekian detik berselang, Irul menangis sesenggukan. Membuat Amas semakin bingung. Dia meraih pundak anaknya. Dan memalingkan wajah Irul, agar menatap padanya. "Ada apa? Mamak tanya kok malah nangis?" "Mak, aku tadi masuk ke halaman rumah kosong itu." "Milik Pak Hasbi?" Irul pun mengangguk. "Kenapa kamu main ke sana? Bukannya Mama sudah melarang kamu main di situ 'kan?" "Tadi ada layangan masuk sana, Mak. Nyangkut di pohon rambutan yang mati itu." "Terus kamu ambil?" Remaja lelaki itu pun mengangguk.   "Bukan aku aja, Mak. Tapi sama bubuhan kawal-kawal aku jua." (Bubuhan = rombongan, kawal = teman) "Biar pun ada teman, Mamak udah sering ngomong sama kamu, Ruuuul! Jangan, ke rumah itu. Di rumah itu banyak hal yang kada kita tahu. Apalagi lama kosong." (Kada = tidak) "I-iya, Mak. Maafkan, Irul." Remaja itu pun tertunduk dalam-dalam. "Cuman, Irul sama kakawalan, melihat sosok perempuan di dalam rumahnya, Mak." (Kakawalan = teman-teman) "Nah, kan. Apa yang Mamak bilang? Jangan pernah kamu main ke rumah itu. Masih aja dilanggar!" Irul hanya bisa terdiam. "Siapa yang kamu lihat itu?" "Sofia ...." Seketika dahi Amas berkerut-kerut. Seperti sedang mengingat sesuatu. "Sofia?" ulangnya. "Iya, Mak. Dia sendiri yang bilang, kalau namanya Sofia." "D-dia? Kamu bisa saling bicara?" Irul mengangguk cepat. "Cuman lama-lama Irul takut, Mak. Masa, kepalanya itu, bergerak menghadap ke arah Irul. Cuman, badannya tuh, masih menghadap ke cermin. Langsunglah Irul lari pontang panting, Mak. Sampai di rumah 'kan?" "Tarus?" "Ehhh ... ehhh." Irul melihat ke arah sekitar kamar. Segera Amas menepuk bahu anaknya. "Ada apa?" Kedua matanya terbeliak tajam. Seakan ingin memastikan pada anaknya, bahwa di kamar ini aman. Tak ada seorang pun yang akan menganggu. "Bilang yang jelas sama Mamak, Nak. Ada apa?" "Cuman dia ke sini, Mak." "D-dia si Sofia?" Irul hanya mengangguk pelan. Deg! "Haaahhh?!" Kedua tangan Amas langsung menutup mulutnya. Seolah apa yang baru saja dikatakan oleh Irul  hanya sebuah canda. "Yang benar kalau ngomong!" "Irul ngomong bujuran, Mak! Tadi pas Irul mandi dia juga ada di sana. Sampai Irul makan tadi." (Bujuran = benar) Serasa jantung wanita itu berdegup kencang. Dadanya sampai berdebar-debar. "Se-sekarang di mana dia?" Kali ini, Amas benar=benar panik. Tak menyangkan akan ada kejadian seperti ini.  "Kada tahu, Mak. Udah menghilang si Sofianya." "Kamu tunggu di rumah! Karena ini udah malam. Lagian, Ayah kamu mau datang. Mamak keluar sebentar!" "Maaak!" Spontan Irul menarik lengan sang Mamak. "Irul takut nah, Mak. Ikut ya, Mak?" "Mamak bilang di rumah aja!" sentak Amas. "Nanti kalau Ayah kamu pulang. Bilangin kalau Mamak masih ke rumah Kai Iksan." (Kai = kakek) "Jauhlah rumah Kai Iksan, Mak. Irul ikut aja." "Jaga lah rumah. Kalau kosong kasihan Ayah kamu. Pasti kecarian kita berdua." "Ta-tapi, Mal?" "Udah, jangan bawel kamu. Mamak cuman bentar aja kok."  Dengan cepat Amas menyambar kerudung hijau di gantungan baju.  Lalu dia berjalan dengan langkah yang lebar, keluar rumah. Bergegas menyusuri jembatan kayu yang mengarah pada rumah Kai Iksan. Hentakan kaki, menimbulkan suara berderit dalam setiap langkahnya. "Paman!" teriak Amas pada seorang pemilik jukung. (Jukung = perahu kayuh) "Iya. Mau kemana pian?" (Pian = anda)  "Antarkan ke rumah Kai Iksan." "Nah, aku mau balik pulang." "Tolong lah, Paman! Ini penting sekali." Dengan raut wajah yang memelas. Berharap pemilik perahu berbelas asih untuk mengantarnya. Karena lewat sungai lebih dekat, dari pada lewat darat.  "Tapi, pulangnya lewat darat ya?" Amas pun mengangguk setuju. Dia mulai melangkah naik di atas perahu. Sang lelaki yang seumuran dengannya. Mulai mengayuh pelan-pelan. "Mau ada keperluan apa ke Kai?" "Ada hal penting, Paman. Anakku diikuti hantu!" Lelaki itu terperanjat. Pandangannya tak lepas mengarah pada Amas. Yang sedari tadi meremat ujung kerudungnya. "Kenapa bisa? Pastinya anak kamu habis main ke tempat yang angker itu." Amas manggut-manggut. "Iya, Paman. Habis ke rumahnya Pak Hasbi yang kosong itu." "Haaahhh? Bukannya rumah itu kayaknya angker?" "Kata orang-orag sih banyak yang sering lihat ada anak gadis di dalam rumah itu. Mirip kayak anak Pak Hasbi yang ke Jawa." "Yah, namanya juga rumah kosong Bu Amas." "Nah, itulah Paman. Rumah kosong poasti di huni jin jua." Kali ini, lelaki itu manggut-manggut, seraya membenarkan apa yang dikatakn oleh Amas. Tak lama berselang. Perahu pun mulai merapat ke pinggiran daratan. Terdapat tangga dari kayu yang mulai lapuk. Setelah membayar ongkos. Amas pun segera menaiki tangga. Di kampung seberang sungai ini, cukup ramai penduduknya. Berbeda dengan kampung Amas yang masih bisa dihitung jumlah kepala keluarga yang ada. "Aku harus cepat sampai rumahnya," bisik Amas. Lima menit dia berjalan. Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah kayu berwarna kebiruan. Ada beberapa tamu yang sedang menunggu di luar. Amas langsung mendekati salah seorang tamu yang duduk di teras luar. "Ibu juga ngantri?" "Iya, Bu." "Apa banyak?" "Ada satu di dalam, terus sama pian." (Pian = anda) "Ohhh, syukurlah kalau gitu." Amas pun ikut mengantri. Karena memang Kai Iksan terkenal bisa menyembuhkan dari penyakit atau gangguan yang disebabkan oleh makhluk kasat mata. Hingga akhirnya waktu yang ditunggu Amas tiba juga. Hatinya berdebar-debar saat hendak masuk rumah. "Assalamualaikum, Kai." "Waalaikumsalam, masuklah!" Amas pun duduk berhadapan dengan lelaki tua yang berjenggot putih. Sorot mata yang tajam terus mengamati Amas yang tertunduk. "Ada apa dengan anak pian, Bu?" (Pian = anda) Tampak Amas geragapan. Dia tak menyangka jika kai Iksan langsung bisa menebaknya. "Harusnya pian ajak ke sini anaknya." "Iya, Kai. Cuman di rumah dia nungguin Bapaknya." Lelaki itu tanpa memandang hanya manggut-manggut. Dengan santai, Kai Iksan menyedot rokok dalam-dalam. Sembari tangannya terus bergerak memainkan air yang ada di dalam mangkok, tepat di depannya. "Siapa nama anak pian?" (Pian - anda) "Irul Hariansyah." Kembali lelaki tua itu manggut-manggut. Ujung jari telunjuknya tak berubah. Masih mengaduk air di dalam mangkok. Sesekali dia mengambil sejumput garam. Memasukkan ke dalam mangkok, pelan-pelan. "Ada sosok anak gadis, yang terus mengikuti anak Pian." "I-itu kenapa lah Kai?" _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN