KESEDIHAN NINI AMAS

1110 Kata
"Siapa nama anak pian?" (Pian - anda) "Irul Hariansyah." Kembali lelaki tua itu manggut-manggut. Ujung jari telunjuknya tak berubah. Masih mengaduk air di dalam mangkok. Sesekali dia mengambil sejumput garam. Memasukkan ke dalam mangkok, pelan-pelan. "Ada sosok anak gadis, yang terus mengikuti anak Pian." "I-itu kenapa lah Kai?" "Sosok itu antara menyukai dan kada mnyukai anak pian, Bu. Dia kada suka kalau ada yang bikin keributan di rumahnya. Cuman dia suka sama Irul, mencari kawan." Amas menggeleng. "Masih saja saya kada mengerti Kai." "Dia ini sosok yang ditinggalkan oleh temannya. Yaitu si pemilik rumah. Yang secera fisik hampir sama dan mirip sama dia. Cuman, sosok ini jahat dan kejam, Coba lihat air ini!" Kai Iksan menyuruh Amas memperhatikan air dalam mangkok. Yang entah karena apa, tiba-tiba berubah menjadi kemerahan.  Seperti banyak butiran merah pekat yang berasal dari dasar mangkok. Mungkin dari taburan garam kasar yang dicampurkan. "Ke-kenapa jadi merah?" "Itu menunjukkan kalau sosok yang mengikuti anak Pian, sangatlah jahat!" tegas Amas. (Pian = anda) Tampak kecemasan membulat dalam bola mata Amas. Dia mulai tegang dan ketakutan. Sampai tubuhnya gemetar hebat. "Jangan takut dulu! Saya akan coba bantu untuk komunikasi dengan sosok makhluk ini. Apa pun nanti yang Ibu lihat, Ibu dengar, Ibu harus tetap diam! Paham ya Bu?" "Iya, Kai." "Tahan semua perasaan, saat Ibu nanti melihatnya. Jangan ada suara atau apa pun juga. Sanggup?" "Sanggup!" Lelaki tua itu, duduk bersila. Kedua tangan diletakkan di lutut. Hanya satu kali tarikan napas, kepalanya lemas tertunduk. "Siapa kamu?" Hening tak ada suara apa pun juga. Sampai suara air yang berkecipak mengejutkan Amas. Mmebuat dia menggeser duduknya mundur beberapa jengkal. "Siapa kamu anak cantik?" Suara Kai Iksan kembali mengulang pertanyaannya. Tiba-tiba, lantai kayu di ruangan itu berbunyi. Seperti ada derap langkah yang berjalan berkeliling. Seolah sedang memperhatikan mereka berdua saat ini. Amas bisa mengetahuinya dari jejak kaki yang tertinggal. Kedua bola matanya terbeliak, dengan tangan yang menutup mulut. Berusaha sebisa mungkin untuk tetap diam tanpa suara apa pun. Amas kembali memeprhatikan jejak langkah yang bergerak mengelilingi mereka berulang-ulang. Hingga bekas tapak kaki itu berhenti tak jauh darinya. Amas langsung menahan napas dalam-dalam. Dia tahu sosok sang gadis, tengah memperhatikan dirinya. "Kembali ke sini anak cantik! Bilang, siapa nama kamu?" Tiba-tiba, suara Kai Iksan berubah. "So-fiaaaa ...." Kata yang keluar terbata-bata.dan bergetar dari mulut lelaki tua itu. "Kenapa kamu mengikuti anak l;elaki itu? Si Irul Hariansyah." "A-ku ... ingin teman." "Dia bukan teman kamu. Jadi, jangan ikuti dia!" Dalam waktu yang hampir bersamaan. Setelah Kai Iksan selesai berucap. Mangkok yang ada di hadapannya, terguling. Hingga membuat air di dalamnya tumpah. "Jangan coba-coba marah di sini!" ancam lelaki tua. Namun,tiba-tiba saja Kai Iksan memegang lehernya dengan ekdua tangan. Sepertinya sosok Sofia mulai menyerang. Tak hanya itu saja. Beberapa perabot di sekitar ruangan itu mulai terjatuh bergelimpangan di lantai kayu. Membuat Amas semakin bergerak mundur dan merapat pada dinding kayu. Jantungnya berdetak kencang. Sampai Amas mulai eksulitan bernapas, saat melihat kondisi Kai Iksan yang menjulurkan lidahnya. Seperti mulai kewalahan. Kemudian, sebelah tangan Kai Iksan bergerak seolah menunjuk sesuatu. Pandangan mata Amas terus mengikutinya. Hingga terhenti pada sebuah wadah tempat penyimpanan garam yang tadi ditaburkan dalam air di mangkok. Tanpa berpikir panjang lagi. Dengan gerak cepat, Amas mengambilnya. Segera dia membuka penutupnya, mengambil segenggam garam. Tak peduli dengan apa yang terjadi. Wanita ini langsung melemparkan garam ke arah lelaki tua. Sebanyak tiga kali. Samar dia bisa mendengar, suara jerit histeris di telinganya. Seperti teriakan seorang wanita. Saat Pandangan Amas beralih ke depan dan melihat Kai Iksan. Dia pun terperanjat. Manakala melihat Kai Iksan bersimbah darah pada bagian bibir dan p[ipi. Seperti bekas cakaran yang tajam. "Kai! Kai Iksan!" teriak Amas, saat tubuh sang lelaki tua sudah bergelimpang di lantai. Sontak Amas yang ketakutan dengan tubuh gemetaran dan lemas. Berteriak minta tolong. "Tolooong ... tolong!" Keluarga Kai Iksan yang berada di ruangan yang lain, berlarian memasuki ruang tamu. Begitu juga dengan tetangga dan beberapa tamu yang sedang mengantri. "A-ada apa ini?" "Kenapa Kai Iksan bisa luka kayak ini?!" "Iya, nah. Kada biasanya Kai sampai luka mengobati pasien." Suara riuh dan tanya seolah mengintimidasi Amas. Yang tengah kebingungan dan syok berat Beberapa warga memberikan minum padanya. Agar Amas bisa menceritakan dengan detil apa yang telah terjadi. Namun, Amas masih belum bisa diajak bicara. Dia masih bungkam sejuta bahasa. Kedua bola matanya memandang redup ke arah tubuh Kai Iksan yang masih tergelatak.. "Tolongin ... Kai!" ucap Amas lemah. "Memangnya ada apa ini tadi, Bu? Kenapa Abah bisa sampai kayak gitu?" tanya seorang wanita muda pada Amas.   "Aku juga kada ngerti. Tiba-tiba aja, suara Kai berubah-ubah. Sampai yang terakhir, Kai mencekik lehernya sendiri sampai lidahnya terjulur." Mereka yang berada di ruangan langsung terdiam. Walau banyak orang, seketika suasana menjadi hening dan sunyi. "Lalu, apa yang terjadi?" desak gadis. "Aku bingung. Soalnya Kai berpesan, kalau aku kada boleh bergerak, kada boleh bicara. Harus diam, biar pun kalau ada yang terjadi!" Sejenak Amas menarik napas panjang. "Terus, aku ambillah wadah biru itu. Yang isinya garam. Kenapa aku ambil itu? Tangan Kai menunjuk ke arah benda itu. Ya, aku ambil aja. Langsung aku lempar ke arah Kai sebanyak tiga kali. Sudah, aku kada tahu lagi harus berbuat apa. Dalam pikiran, aku harus menolong Kai. Itu aja!" Kembali mereka diam. Sampai salah seorang keluarga Kai. Seorang lelaki paruh baya, mulai mengangkat tubuh kakaknya.  "Tolong bantu Kai duduk!" ujarnya pada wanita muda. Setelah menopang tubuh Kai, segera sang lelaki menekan kuat bagian tengkuk dengan cengkeraman yang sangat kuat. Membuat Kai mengerang lirih. "Ada reaksinya!" ucap salah seorang tetangga. Hanya dalam hitungan sekian detik. Kai Iksan muntah darah hitam. Sampai muntahan yang ketiga kali. "Ambilkan air minum di gelas. Cepat!" Tak lama, seseorang sudah memberikan gelas pada lelaki. Dia mengambil garam beberapa butir, dengan bibir yang bergerak-gerak, seperti sedang membaca doa. Lalu, meniupkan perlahan di atas permukaan air. "Bantu, minumkan airnya," ucap lelaki. Mereka pun membantu mmeinumkan pada Kai Iksan. "Usapkan ke seluruh wajah dan percikkan ke badannya juga!" pinta lelaki pada yang ada di ruangan ini. Amas hanya bisa menatap dengan lemas. Dia tak tahu hal ini sampai terjadi. "Ini serangan yang dilakukan dari makhluk yang sedang diajak untuk komunikasi. Sepertinya makhluk itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sampai bisa mengalahkan Kai." "Bagaimana nasib anak saya," desis Amas. Semua pandangan beralih padanya. "Anak Ibu?" tanya si lelaki. Amas manggut-manggut dengan tatap mata yang kosong. Dia tak tahu lagi harus ke mana? "Mungkin malam ini sebaiknya Ibu pulang dulu aja. Kondisi Kai Iksan tak mungkin langsung bisa kasih pengobatan lagi. Beliaunya harus istirahat!" tegas lelaki, membuat Amas tak kuasa menahan tangisnya. Dia pun terisak sembari meninggalkan rumah itu. Tak tahu lagi, apa yang harus dia perbuat. Dalam hati dan pikiran Amas saat ini. Jiwa anaknya terancam.  _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN