KEDATANGAN SOSOK SOFIA

1027 Kata
"Mungkin malam ini sebaiknya Ibu pulang dulu aja. Kondisi Kai Iksan tak mungkin langsung bisa kasih pengobatan lagi. Beliaunya harus istirahat!" tegas lelaki, membuat Amas tak kuasa menahan tangisnya. Dia pun terisak sembari meninggalkan rumah itu. Tak tahu lagi, apa yang harus dia perbuat. Dalam hati dan pikiran Amas saat ini. Jiwa anaknya terancam. Langkahnya terlihat gontai, berjalan menuju jalan raya. Lalu lalang kendaraan  terlihat sepi. Amas dengan pandangan mata yang nanar. Melihat ke sekelilingnya. Dia mencari angkutan umum, mungkin masih ada yang lewat. Cukup lama Amas berdiri di pinggiran jalan. Sampai akhirnya sebuah motor merapat dan berhenti di depan wanita itu. "Bu, mau ke mana malam-malam begini? Udah enggak ada angkutan." "Saya mau pulang ke rumah. Tapi, kemalaman." "Rumah Ibu di mana?" "Dekatnya hulu sungai." "Yang kanan apa kiri, Bu?" "Kanan, Nak." Lelaki muda itu memberikan helmnya pada Amas. "Ayo, Bu. Saya antarin. Kasihan nah saya lihat Ibunya nih, berdiri sendirian." "Anak nih mau antar saya?" "IYa, Bu. Yuk, lekas naik!" Dengan senang, Amas segera naik ke atas motor. Hingga motor pun melaju dengan kencang menuju kampung Amas yang sebenarnya tak terlalu jauh. "Makasih, lah Nak." "Sama-sama, Bu." Motor pun segera berlalu meninggalkan Amas yang masih terpakiu di halaman. Terdengar teriakan sangat kencang, membuat dirinya terburu-buru melangkah. Melihat sepatu yang biasa dipakai suaminya, telah ada di teras. Cukup membuat Amas lega. Setidaknya dia tak sendiri. Saat memasuki rumah, dia melihat suaminya sibuk keluar masuk kamar. Membuat Amas pun ikut berlari mengikut langkah suami. "A_ada apa ini, Bah?" "Dari mana aja kamu? Coba lihat Irul!" Saat pandangan mata beralih pada anaknya. Bola matanya membulat lebar. Dia sangat syok dengan apa yang baru dilihatnya. Wajah Irul penuh darah. Bibirnya seperti tersobek dan luka. Belum lagi bagian leher yang memar lebam kebiruan. "Ke-kenapa luka-luka ini mirip sama lukanya Kai?" "Kai?" ulang sang suami. "Kai siapa?" "Kai Iksan, seberang sungai itu, Bah." (Abah = bapak) Amas sudah membersihkan luka pada wajah Irul Hatinya bersedih melihat keadaannya. Lalu, teringat akan sosok Sofia, seketika tengannya mengepal. "Apa dia datang?" "Iya, Mak." "Terus apa yang dia lakukan?" "Sofia marah Mak. Dia kada suka kalau Mamak mendatangi rumah  orang itu., Dia marah terus mencakari Irul." Sang suami yang mendengar percakapan antara istri dan anak, dibuat kebingungan. Dia tak mengerti maksud dari mereka. Sampai dia menahan lengan Amas yang hendak mengompres sang anak. "Kenapa sama Irul? Memangnya ada apa sama dia?" "Tadi sore dia main di rumah kosong mendiang Pak Hasbi, Bah. Udah seringnya aku bilang, jangan main di situ. Masih aja ke situ!" "Terus?" "Sejak dari rumah Pak Hasbi itu, Irul kayak diikuti sosok gadis yang namanya Sofia. Mirip namanya sama anak Pak Hasbi juga yang ke Jawa." "Sofia? Kok aneh gitu, Mak?" "Makanya aku pergi ke rumah Kai Iksan." Farid yang mendengarkan penjelasan sang istri, langsung terduduk di sebelah Amas. "Jadi, Irul ada yang membuntuti sampai rumah?" Amas hanya manggut-manggut, sembari memberikan obat pada Irul. Menyelimuti dan emmeluknya. "Sekarang aku benar-benar cemas, Bah. Bagaimana kalau makhluk itu sengaja mengincar Irul?" "Ahhh, aku enggak percaya Mak. Besok biar aku ke rumah Abah Haji Saipul. Mungkin dia bisa kasih masukan." "Baik, Bah kalau gitu." Sengaja, Amas menemani anaknya tidur. Begitu juga dengan Farid. Mereka tak ingin ada sesuatu yang mengganggu Irul.  Di tengah malam yang sunyi. Irul seperti mendengar suara pintu kamar yang diketuk pelan. "Mak ... Mamak!" Namun sepertinya Amas benar-benar kelelahan. Begitu juga dengan Farid. Dug dug dug! Suara ketukan di pintu terdengar semakin nyata di telinga Irul. Yang meringesek hingga tubuhnya merapat pada dinding kayu kamarnya. "Si-siapa?" Suara Irul terbata.  "Ruuuul! KIta main yok ... yok!"  "Ruuuul! KIta main yok ... yok!"  "Ruuuul! KIta main yok ... yok!" Suara itu terus berulang-ulang. Sampai membuat tubuh Irul meringkuk ketakutan. "Mamak ... Mamak!"  Irul berusaha terus membangunkan sang Ibu. Yang masih nyenyak dalam tidurnya. Sampai akhirnya melempar bantal ke lantai, berharap sang ibu atau ayah segera terbangun. Sampai akhirnya , lemparan bantal yang kedua kalinya, membuat Amas terbangun. Dia terkejut melihat Irul yang merapat pada dinding. Segera dia naik ke atas ranjang. "Ka-kamu kenapa, Nak?"  "D-dia ... datang lagi, Mak." Deg! Dada Amas berdebar-debar kencang. "Di ... mana?" "Sofia tadi mengetuk pintu kamar, Mak. Dia ajakin aku main." "Haaahhh?!" Kedua mata Amas terbeliak,. Dia tahu bahwa Sofia akan datang lagi. "Se-sekarang kamu tidurlah Nak. Biar Mamak yang jagain kamu!" "Tapi, Mak. Irul takut." "Percaya, Mamak!" Sekian menit berjalan. Keduanya masih terjaga. Terutama Irul yang tak bisa tidur kembali. Dia masih terngiang, suara Sofia yang begitu dekat di telinganya. "Mamak, tahu kenapa Sofia datang?" Amas hanya menggeleng. Karena dia memang benar-benar tidak tahu. "Karena dia masih tanpa wajah, Mak." "Ma-maksud kamu apa?" "Dia ... ingin wajah Irul, Mak" "Mamak masih kada mengerti apa yang kamu katakan ini, Rul. Ada apa?" Irul tak menjawab. Dia hanya diam, sambil terus menggeleng. "Lupakan aja, Mak. Lupakan!" Tubuhnya terus berayun. Seakan ingin melepaskan kegelisahan yang semakin melanda. Amas yang melihat gelagat Irul, sangat yakin pasti ada sesuatu yang dia ketahui. "Ada apa ini, Rul?" "Dia pasti akan datang lagi. Terus akan datang sampai Irul mati!" Bagai petir yang menyambar. Dia langsung merengkuh anaknya. Memeluk erat seolah ingin melindungi dari siapa saja yang ingin menyakiti. Dug dug dug! Mereka berdua saling berpandangan dan terdiam. "Sofia, Mak." Suara Irul lirih, akan tetapi masih terdengar oleh Amas. "Dia datang lagi, Mak. Irul takuuut!" Dug dug dug dug dug! Ketukan itu kembali mereka dengar. Dengan ritme yang semakin cepat. Membuat Amas dan Irul ketakutan. "Abah! Abaaah, bangun!" Namun lelaki itu masih saja lelap. "Abah, bangun!" bisik Amas. Lelaki itu mulai menggeliat lemah. Lalu kedua matanya terbuka pelan-pelan. Dia melihat wajah sang istri dan Irul dari atas ranjang, terlihat tegang. "Ka-kalian kenapa?" "Dia datang, Abah," bisik Amas, pada snag suami. "Sosok gadis itu?" Keduanya mengangguk pelan. "Di mana sekarang?" Amas dan Irul menunjuk arah pintu. Tanpa banyak bicara, lelaki itu bergegas bangun. Dia pun beranjak menuju pintu kamar. "Abah, jangan dibuka!" teriak Irul; tertahan. "Kita harus benar-benar lihat di luar. Jangan-jangan bukan dia." "Tapi, Bah?" Walau pun Irul sudah menghalangi, tetap saja Farid tak menghiraukan.Perlahan pintu kamar mulai terbuka. Dia melongok kiri kanan. Tak terlihat siapa pun juga. "Siapa pun kamu, jangan pernah mengganggu anak istri aku!" tegas Farid. Kemudian kembali menutup pintu. _oOo_ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN