Walau pun Irul sudah menghalangi, tetap saja Farid tak menghiraukan.Perlahan pintu kamar mulai terbuka. Dia melongok kiri kanan. Tak terlihat siapa pun juga.
"Siapa pun kamu, jangan pernah mengganggu anak istri aku!" tegas Farid. Kemudian kembali menutup pintu. Saat dia berbalik, jendela kamar yang terbuat dari kayu terbuka perlahan.
Kriieeeet!
Pandangan matanya terkesiap, saat melihat sebuah wajah yang tertunduk dari arah luar. Dengan rambut yang menutup wajahnya.
Dalam detik yang sama. Amas dan Irul pun menoleh ke arah jendela mereka yang terbuka.
"I-ituuuu ....!"
Fardi menunjuk ke arah jendela.
"Aaaarghhh!"
Sosok dengan wajah datar polos, seakan tengah menatap ke arah mereka masing-masing.
"Pergi kamu!" sentak Amas.
"Aku hanya ingin bermain bersama Irul. Kenapa tidak boleh?"
"Karena pasti kamu akan mencelakainya!" teriak Amas histeris. Sembari mendekap anaknya. Terdenga tawa melengking tinggi.
"Aku hanya ingin bermain bersama Irul. Kenapa tidak boleh?"
"Aku hanya ingin bermain bersama Irul. Kenapa tidak boleh?"
"Aku hanya ingin bermain bersama Irul. Kenapa tidak boleh?"
Suara sosok Sofia terus berkumandang dan terngiang di telinga mereka. Sampai menghilang. Fardi dan Amas serta Irul langsung lemas. Makhluk ini benar-benar mengancam anak mereka.
"Kita kada bisa diam kayak ini, Bah."
"Besok pagi aku akan datang ke rumah Abah haji Saipul."
Mereka melirik jam dinding yang menunjuk pukul tiga dini hari. Tak ada lagi yang tidur setelah kejadian tadi. Sampai adzan Shubuh mulai berkumandang. Segera Amas mengajak Irul untuk segera ke masjid, bersama Farid.
"Berangkatlah sama Abah ke masjid Nak."
"Iya, Mak.
Matanya berkaca-kaca, melepas kepergian Irul. Semacam ada perasaan kehilangan yang teramat dalam. Entah mengapa Amas berpikiran bahwa sosok Sofia akan terus menghantui.
Tepat pukul tujuh pagi Farid, berpamitan pada sang istri. Untuk menuju rumah Abah Haji Saipul.
"Jaga diri, hati-hati di rumah ya, Mas!"
"Iya, Bah."
Perasaan Amas tiba-tiba menjadi tidak karuan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Membuat dirinya mengusap d**a berulang-ulang.
"Ya Allah, lindungi kepergiaan suami saya."
"Maaak!"
Tiba-tiba Irul sudah berdiri di belakang.
"Ada apa?"
"Irul udah lapar."
"Ayuk!"
Amas menggandeng lengan anaknya menuju ruang makan. Baru saja mereka berdua duduk.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum!"
Terdengar suara laki-laki yang mengucap salam. Membuat Irul mencolek siku sanga Ibu.
"Kayaknya ada tamu, Mak."
Bergegas Amas menuju ruang tamu, yang pintunya terbuka lebar.
"Waalaikumsalam."
Amas melihat Botek sudah berdiri di depan pintu. Cukup terkejut juga dia, saat melihat sosok lelaki itu yang terlihat tegang.
"Paman Botek? Kada biasanya pian ke sini. Ada apa nah?" (Kada = tidak, pian = anda)
"Aku ingin bicara sebentar sama Irul, bisa kah?"
"I-irul?"
"Iya!" Seraya mengangguk tegas.
Tampak keresahan bergelayut di wajah Amas. Dia berusaha kuat untuk tetap tenang. Namun hati kecilnya tak bisa dibohongi. Dia pun tahu, kalau kedatangan Paman Botek ke rumahnya pasti berhubungan dengan kejadian sore itu di rumah mendiang Pak Hasbi.
Bergegas langkahnya masuk rumah. Dia melihat Irul baru saja selesai makan.
"Ke depan bentar Rul!"
"Ada apa, Mak?"
Tanpa menjawab, Amas terus menggandeng lengan sang anak menuju arah depan. Menemui Paman Botek. Setelah duduk saling berhadapan. Irul terus menatap lelaki itu, dengan penuh tanya dalam hati.
"Ada apa Paman Botek?" tanya Irul cemas.
"Tadi Mamaknya Ican sama Mamaknya Fany datang ke rumah. b*****h tentang kalian yang ambil layangan di rumah Pak Hasbi. Bujur kada?" (b*****h = bercerita, Bujur = benar, kada = tidak)
Irul anggut-manggut.
"Katanya juga kalian melihat sosok di rumah itu?"
"Iya, Paman. Namanya Sofia."
"Kada mungkin!" sentak lelaki itu tak percaya. "Kamu pasti bohong!"
"Paman Botek!" bentak Amas tak terima. "Mana ada anakku bohong. Dia bilang yang sabujurnya sama Paman. Benar-benar Irul melihat sosok Sofia. Cuman,--" (Sabujurnya = sebenarnya)
Amas tak melanjutkan lagi kalimatnya.
"Cuman apa? Kenapa kada dilanjutkan?"
"Wajahnya kosong. Tak ada wajah siapa pun di sana, Paman," sahut Irul. "Benar-benar kada ada matanya, hidungnya, mulutnya juga kada ada."
"Lantas, dari mana Irul tahu kalau nama dia Sofia?"
"Dia yang bilang kalau namanya, Sofia."
Sesaat Paman Botek terdiam. Dia mencoba mencerna apa yang diceritakan oleh Irul dan juga teman-temannya.
"Aku juga sudah pergi ke rumah Kai Iksan. Coba Paman tebak apa yang terjadi?"
"Memangnya apa yang terjadi?"
Kali ini, lelaki itu mulai merasa ada sesuatu yang benar-benar genting.
"Apakah sosok itu jahat? Seperti akan melukai siapa saja?"
Amas mengangguk pelan.
"Termasuk orang-orang yang akan menghalangi dia."
"Tidak mungkin! Aku yakin ini kada mungkin berasal dari rumah Pak Hasbi. Mungkin anak-anak kesambet di tempat lain."
"Kada Paman!" teriak Irul mulai lepas kontrol. Dia mulai tak bisa mengendalikan amarahnya. "Kenapa kada ada yang percaya sama ucapan aku ini? Sosok Sofia itu benar ada dan mengancam siapa saja yang tak menurutinya. Baru saja semalam, dia mendatangi rumah kami juga Paman."
Irul berusaha menjelaskan dengan nada yang kesal. Napasnya memburu dengan cepat.
"Baik ... baiklah. Paman bisa percaya sama kamu. Bisa kamu tunjukkan di mana kamu melihatnya?"
"Di ruang tengah. Kayak lagi bercermin."
"Cermin?" desis Paman Botek. "Hemmm ... aku harus ke sana juga."
Segera dia bangkit dari duduknya.
"Tunggu sebentar Paman. Dengarkan cerita aku ini dulu!"
"Soal Kai Iksan?"
"Iya."
Paman Botek kembali duduk.
"Ceritalah!"
"Kai Iksan terluka, sama sosok Sofia . Sama juga Irul. Mereka berdua berdarah dengan luka yang sama. Di bagian sudut bibir sama bawah mata. Kayak bekas cakaran."
Seketika Paman BOtek terperanjat saat mendengar penjelasan dari Amas. Wanita itu bercerita dengan detil. Dari kepergiannya hingga pulang. Sampai sosok Sofia kembali menghantui mereka.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke rumah itu sekarang!"
"Paman sendirian?" tanya Irul, cemas.
"Iya, biasanya juga Paman bersih-bersih di sana sendirian juga 'kan?"
"Iya, Paman."
"Dah, aku pergi dulu. Wassalamualaikum."
Amas dan Irul melepas kepergian Paman Botek dengan perasan yang tak bisa dikatakan lagi.
"Semoga semuanya akan baik-baik saja, Rul."
"Iya, Mak. Irul takut."
"Makanya kalau Mamak bilang kada boleh. Jangan pernah lagi kamu langgar. Paham kan?"
"Iya, Mamak. Maafin Irul."
***
Langkah lebar Paman Botek, bergerak cepat menuju rumah yang selama ini memang dia jaga dan rawat. Bahkan sudah hampir lima tahun berlalu. Belum pernah dia menemukan hal aneh. Terutama seperti yang dikatakan oleh Irul dan teman-temannya.
Kalau pun ada hantu dalam berbagai penampakan yang macam-macam, Paman Botek menilai itu sangatlah wajar. Akan tetapi, penampankan yang mengaku bernama Sofia ini menjadi pikirannya.
"Siapa sebenarnya sosok itu? Apa yang membuat sosok ini, muncul?"
Sampai langkah Paman Botek berhenti di depan pagar.
"Apa penyebab sosok itu hadir? Atau mungkin memang mereka berniat main-main?"
_oOo_