Kalau pun ada hantu dalam berbagai penampakan yang macam-macam, Paman Botek menilai itu sangatlah wajar. Akan tetapi, penampankan yang mengaku bernama Sofia ini menjadi pikirannya.
"Siapa sebenarnya sosok itu? Apa yang membuat sosok ini, muncul?"
Sampai langkah Paman Botek berhenti di depan pagar.
"Apa penyebab sosok itu hadir?" bisik Paman Botek. "Atau mungkin memang mereka berniat main-main?"
Dia mengernyitkan dahi, seakan terus mempertanyakan kemunculan penampakan itu.
Setelahnya berjalan menuju arah teras rumah. Sejenak dia berhenti dan memperhatikan pohon rambutan yang mengering.
"Di situ layangan itu tersangkut. Lalu, mereka lari ke sini, karena dengar sesuatu."
Langkah lelaki itu terhenti di depan jendela. Seperti yang dikatakan Irul dan kedua temannya. Mereka berdiri di tempat yang sama. Seperti yang dilakukan oleh Paman botek sekarang. Lelaki mengarahkan wajahnya perlahan, dan mengintip ke arah dalam. Tak terlihat siapa pun atau apa pun juga.
Terdengar dia mengembuskan napas panjang, berulang-ulang.
"Selama aku merawat rumah ini. Memang tak pernah sekali pun aku melihat hal yang aneh. Atau sesuatu yang menakutkan. Mungkin mereka lagi apes saja." Seraya berbisik.
Tak berniat untuk masuk ke dalam rumah. Paman Botek meninggalkan rumah itu. Baru tiga langkah berjalan, dia seperti mendengar pintu rumah yang terbuka perlahan. Sontak membuat lelaki menoleh. Matanya terbelalak, saat emlihat bahwa pintu rumah ini, benar-benar telah terbuka.
Dia masih tercengang melihat kenyataan yang ada di hadapannya. Masih berdiri dengan terpaku. Paman Botek terus memperhatikan rumah yang masih terlihat megah.
"Ke-kenapa bisa pintunya kebuka sendiri?"
Sekian detik, suasana terasa hening dan sunyi. Hanya embusan semilir angin yang menerpa tubuhnya.
"Aku harus masuk!"
Dengan memantapkan hati, Paman Botek pun melangkah percaya diri. Sampai dia kembali berhenti di ambang pintu. Sejenak pandangan mata berpendar ke seluruh ruangan. Terlihat tidak ada yang aneh. Semua tampak seperti biasanya. Namun, mengapa pintu rumah ini bisa terbuka dengan snedirinya?
Tanya itu masih terus berputar di kepala. Walau saat ini dia abaikan sementara. Paman Botek terus melangkah menuju ruang tengah. Di mana anak-anak remaja tadi melihat sosok Sofia yang bediri di depan cermin oval milik Lidia Hasbi.
Masih teringat dalam bayangan Bortek saat itu. Wanita berkulit putih asli Jawa, dengan kecantikan wajah yang tak tertampik. Selalu menyukai berdiri di depan cermin itu. Sembari memutar tubuhnya, lantas tersenyum.
Sepertri siluet masa lalu yang kembali terbayang. Dengan cepat Botek menggelengkan kepalanya. Berharap bayangan-bayangan itu segera menghilang dari kepala.
Kini, dirinya telah berhenti tepat did epan cermin. Tetap saja lelaki, tak melihat ada yang aneh. Semua terlihat normal dan wajar. Hingga dia berjalan menuju ke arah belakang. Memeriksa setiap sudut dapur kamar mandi, dan tiga kamar yang berada di rumah Hasbiansyah.
"Kada ada apa-apa juga. Aneh!"
Sampai akhirnya dia putuskan untuk keluar dan mengunci pintu. Setelah yakin pintu tak akan terbuka. Barulah Paman Botek pergi meninggalkan rumah itu.
Sepanjang langkahnya berjalan. Masih saja dia tak habis pikir. Kenapa pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Mungkin memang kemarin aku l;upa tak menguncinya. Terus tertiup angin. Bisa saja kayak itu!"
Botek berusaha menenangkan hatinya sendiri.
***
Tampak Farid mengayuh sepeda yang dia pinjam dari tetangga. Kebetulan memang rumah Abah Haji Saipul cukup berjarak jauh dari rumah.
Keringat mulai membasahi wajah dan tubuhnya. Hingga hampir satu jam perjalanan akhirnya dia pun sampai. Pandangannya langsung tetruju pada rumah yang terlihat sepi.
"Semoga Abah Haji ada di rumah."
Bergegas Farid menyandarkan sepeda di bawah pohon akasia. Yang berada di depan pagar.
"Assalamualaikum!" teriak Farid. "Ahhhh .... kayaknya memang benar dia kada ada di rumah." Tampak wajahnya lesu seketika. Sekalai lagi dia berteriak,
"Assalamualaikuuuum ...!"
"Walaaikumsalam." Sontak lelaki paruh baya itu berpaling. Dia meihat seorang wanita seumuran dirinya, telah berdiri di belakangnya. "Lagi cari Abah Haji?
"I-iya, Bu."
"Tuinggulah sebentar! Tadi, Abah Haji lagi antar Emak Haji ke pasar."
Mendengar ucapan wanita itu, Farid langsung lega. Setidaknya usaha menuju ke tempat ini tidak sia-sia.
"Alhamdulillah. Berarti ada di rumah ya, Bu."
"Ada, Pak. Pian tungguin aja!"
"Nggih, makasih lah Bu."
Wanita itu pun pergi meninggalkan Farid seorang diri. Dia langsung duduk di bawah pohon akasia. Cukup lama Farida menunggu hampir tiga puluh menit. Hingga sebuah motor tahun 70- an, berhenti tak jauh darinya.
"Assalamualaikum, Abah Haji!" Terlihat Farid begitu senang dengan kedatangan lelaki tua itu bersama sang istri. Dia langsung menjabat tangan lelaki itu.
"Walaikumsalam. Wahhh ... tamu jauh ini. Mas Farid, Mak Haji."
"Kenapa kada sama bininya?"
"Amas di rumah Emak Haji. Jagain si Irul."
"Nah, kenapa sama si Irul?" tanya wanita tua itu, sembari membawa barang belanjaannya masuk rumah.
"Ayo masuk!" ajak Abah Haji.
"Iya, Bah. Si Irul, Mak Haji. Kayak habis kesambet setan."
"Lahhh ... kenapa sampai kayak itu?"
Mereka pun duduk di ruang tamu. Dengan ekspresi sangat terkejut, atas apa yang baru saja dikatakan oleh Farid.
"Kenapa bisa si Irul kesambet setan itu?" ulang Emak Haji.
"Ceritanya pun panjang, Emak Haji. Sebujurnya saya sendiri pun kada tahu pasti kisahnya. Cuman kata Amas, dia itu habis main ke rumah kosong, milik tetangga kami." Sembari menarik napas panjang. Farid mulai menceritakan semuanya, sama persis seperti cerita Amas. Termasuk kejadian tadi malam yang mereka alami.
Abah haji yang mendengarkan ceritanya pun sampai menggelengkan kepala.
"Sofiaa?" desis Abah Haji berulang-ulang.
"Iya, Abah. Katanya si Irul memang itu namanya."
"Tunggu lah bentar!"
Abah Haji masuk bersama sang istri, yang langsung menuju dapur.
"Buatkan dulu minuman buat Farid, Mak."
"Iya, Bah. Nih, juga udah mau buatin juga."
Sang istri menghampiri Abah Haji.
"Menurut Abah apa kisah si Farid ini kada ganjil kah?"
Lelaki tua hanya manggut-manggut.
"Mamak merasakannya juga?"
"Iya lah, Abah. Kenapa sampai sosok si Sofia ini mengikuti si Irul?"
"Biar Abah lihat dulu aja. Mamak kalau ada makanan, tolong buatlah makanan. Kasihan dia jauh-jauh datang ke sini. Takutnya lapar."
"Baik, Bah. Lontong sayur yang Ulun beli tadi buat Abah. Ulun suguhkan lah?" (Ulun = saya)
"Nah, itu aja. Kasih, Mak. Kasih, kasihan dia jangan sampai lapar," bisik Abah Haji.
Abah Haji Saipul langsung masuk kamar. Dia mengambil tasbih dan duduk bersila di atas kasur. Sambil tangannya terus menggerakkan butiran tasbih. Bibirnya pun terus mengucapkan doa.
Kedua matanya terpejam, sembari sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan. Sampai tarikan napasnya begitu kuat dan berat.
"Aaaahhh!"
Abah Haji mnegeluarkan suara keras. Tergopoh sang istri berlari ke dalam dan masuk kamarnya.
"A-Abah, ada apa ini?"
Dia melihat dari sudut bibir sang suami, menetes darah segar.
_oOo_