SUNYI DAN HENING DALAM KEGELAPAN

1205 Kata
Abah Haji Saipul langsung masuk kamar. Dia mengambil tasbih dan duduk bersila di atas kasur. Sambil tangannya terus menggerakkan butiran tasbih. Bibirnya pun terus mengucapkan doa. Kedua matanya terpejam, sembari sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan. Sampai tarikan napasnya begitu kuat dan berat. "Aaaahhh!" Abah Haji mnegeluarkan suara keras. Tergopoh sang istri berlari ke dalam dan masuk kamarnya. "A-Abah, ada apa ini?" Dia melihat dari sudut bibir sang suami, menetes darah segar. "Sosok itu ternyata benar-benar jahat, Mamak." Istrinya hanya bisa menatap sang suami dengan tatap sorot mata yang tajam. "Biar aku bicara sama Farid." Seraya mengusap tetes darah di bibirnya. "Tapi, Abah kada apa-apa?" Lelaki tua tersebut, menggeleng pelan. Dia turun dari atas kasur. Berjalan lambat sembari menahan rasa pusing di kepalanya. Lalu, dia duduk di hadapan Farid yang sedang menikmati lontong sayur. "Habiskan makan kamu!" "Iya, Abah. Tadi ulun udah makan di rumah. Kada tahu juga kenapa lapar lagi?" (Ulun = saya, kada = tidak) "Jarak rumah jauh. Pastinya kamu juga capek 'kan?" Farid manggut-manggut membenarkan ucapan Abah Haji Saipul.  Setelah selesai makan. Barulah Abah haji Saipul mengajaknya bicara. "Aku tadi sudah melihatnya. Dia memang sosok yang menyerupai seorang gadis. Kayaknya berhubungan dengan rumah itu, namanya Sofia." "Benar, Abah. Namanya Sofia, dan dia anak pemilik rumah itu yang sudah pindah ke Jawa." "Jadi, rumah itu kosong?" "Benar, Abah Haji." "Sosok itu benar-benar jahat. Dia ingin menyerupai si Sofia ini. Karena dia merasa bahwa diri sang gadis adalah dia."  "Haaahh?" Tampak Farid sangat terkejut sekali dengan keterangannya."Ba-bagaimana bisa seperti itu, Abah Haji?" Lelaki berpeci putih itu tak menjawab. Dia hanya menyodorkan tasbih dengan butir dari kayu, berwarna coklat tua hampir kehitaman. "Tolong setiap malam, bangun dan sholatlah. Berdzikir pada Allah. Sebaik-baiknya penolong bagi umatNYa." "Lalu, Bah. Bagaimana kalau dia muncul menganggu anak dan istri ulun lagi?" (Ulun = saya) "Lemparkan butiran tasbih itu! Menjelang sore nanti, di setiap sudut rumah, kamu adzanin. Jangan ada yang terlewat, itu akan jadi pagar benteng buat rumah kamu juga." "Apakah dia tak akan mengganggu lagi Bah?" "Aku kada bisa janji. Cuman mendekatkan diri sama Allah itu jalan yang terbaik." Farid semakin tertunduk dalam. "Satu hal lagi. Makhluk ini bukanlah hantu atau penunggu rumah itu. Dia semacam bawaan, entah dari mana? Seperti sengaja didatangkan oleh seseorang." "Seperti ... santet?" "Aku juga enggak bisa pasti soal ini. Cuman bukan santet. Yang jelas sosok ini sangat jahat. Ada sesuatu hal yang mmebuat makhluk ini berubah menjadi jahat seperti ini. Dia juga tak segan membunuh siapa saja yang sekiranya akan jadi penghalang bagi dia. Termasuk anak kamu." Deg! Jantung Farid berdetak lebih kencang. Dia menekan dadanya yang semakin berdebar-debar. "Maksudnya ... Bah?" "Dia akan menghisap sukma, seseorang yang melihatnya. Untuk menambah kekuatan menjadi sosok yang seperti yang dia serupai. Saat ini wajahnya masih polos. Hanya tampak kulit yang menggelambir penuh luka, dan lendir nanah yang berbau busuk." Mendengar penjelasan Abah Haji Saipul. Farid semakin ketakutan dan terlihat snagat tegang. "Sabujurnya aku nih, kada mau bilang sama kamu. Cuman kalau aku kada bilang, nanti kamunya semakin penasaran." (Sabujurnya = sebenarnya) "Memang Abah Haji. Dengan kayak gini, ulun jadinya tahu. Kalau memang apa yang dibilang si Irul ternyata benar." "Tolong apa yang tadi aku bilang, lakukan. Dekatkan diri sama Allah. Hanya Dia yang sanggup menolong. Apa pun yang terjadi di dunia ini pun atas takdir-Nya." "Iya, Bah. Kalau gitu ulun mau pulang sekarang. Mau kerja juga." Abah Haji dan sang istri mengantarkan kepergian Farid hingga di luar pagar. "Perasaan aku enggak enak, Mak." "Kenapa, Bah?" (Abah = bapak) "Entahlah, Mak. Aku kada mau duluin takdir Allah. Cuman ada sesuatu yang akan terjadi sama keluarganya. Aku juga kada tahu apa itu." "Astaghfirullahaladziimi! Semoga kada terjadi apa-apa, Bah. Mamak yang emndnegar jadi gemetaran ini. Apa makhluk yang mengganggu anaknya itu, kada bisa disingkirkan?" "Abah kada kuat, Mak." Seraya menyibak kemeja bagian atas. Hingga sang istri melihat kulit di sekitaran lehernya menghitam. Seperti bekas hantaman yang sangat keras. "Apa makhluk itu Abah?" "Entahlah, Mak. Yang jelas dia didatangkan oleh seseorang. Cuman yang Abah heran, kedatangannya itu bukan suatu paksaan. Semacam kayak diundang gitu." "Diundang?" ulang sang istri, sembari tatap mata mereka tak lepas pada punggung Farid yang semakin jauh. "Iya, Mak. Sengaja diundang oleh seseorang. Entah siapa? Kalau mau harus menelusuri dari awal. Dari asal mula rumah itu berdiri dan juga keluarga yang tinggal di sana." "Ini, sangat menyeramkan menurutku, Bah." "Memang, Mak. Semoga Allah akan melindungi mereka."  "Aamiin ... Aamiin." Keduanya pun kembali masuk rumah. Saat berjalan di teras depan.  "Abah!" "Apa Mak?" "Tasbih yang Abah berikan ke Farid jatuh rupanya." "Ya Allah! Sini, Mak. Biar Abah susul aja dia." "I-iya, Bah. Apa Mamak temani?" "Ayok, kalau gitu!" Bergegas mereka menaiki motor butut dengan membawa tasbih dari kayu gaharu. Abah Haji berusaha mengejar sepeda Farid yang mungkin belum terlalu jauh. _00_ Selama perjalanan pulang dari rumah Abah Haji Saipul. Perasaan Farid semakin tidak tenang. Dia terus terngiang akan ucapannya.  "Bagaimana si Irul nanti? Ya, Allah. Kenapa Engkau hadapkan kami pada masalah ini?"  Batin Farid seakan berteriak tak terima. Tanpa terasa tetes air mata membasahi wajahnya yang legam. Hingga dia merasa banyak orang berteriak, ke arahnya. Entah mengapa perasaannya seperti merasa kehilangan yang teramat snagat dalam. Seolah sedang menyiksa dirinya saat ini oleh kesedihan. Farid pun semakin kencang mengayuh sepedanya. Dalam pikirannya, dia hanya ingin pulang saat ini. Sampai dia melihat pemandangan aneh, dari orang sekitar yang dia lewati. "Woiiii ... berhenti! Berhenti!"  Teriakan dari beberapa orang yang membuat Farid kebingungan. Dia sampai memicingkan mata ke arah mereka, satu persatu.  "Ini ... orang-orang, kenapa sih pada berteriak kencang?" Sembari Farid menoleh kiri kanan. Dia semakin heran karena roda sepeda yang dia kayuh, hanya berjalan di tempat. Seakan tak bergerak sama sekali. "Malah sepeda aku kok kayak diam di tempat sih?" Membuat Farid menghentikan kayuhannya. Lalu ikut memperhatikan orang-orang yang berkerumun tak jauh darinya berdiri. "Ada apa ini? Banyak orang berdatangan ke arah aku. Aneh?" Farid pun segera turun dari sepedanya. Lalu mengikuti langkah orang-orang yang seperti mengerumuni sesuatu. Tak jauh dari tempat itu. Farid juga melihat sebuah truk yang berhenti di tengah jalan. Suara orang-orang yang semakin banyak berdatangan, semakin riuh. Membuat kepalanya tiba-tiba pusing.  Entah kenapa dari kepalanya mengucur darah yang sgear. "Ke-kenapa aku ini?" bisik Farid demakin keheranan. Dia pun berusaha menyibak orang-orang yang menghalangi pandangannya. Tiba-tiba, napasnya jadi memburu dengan cepat dan berat. Embusan napasnya tak lagi dia rasa. Saat melihat di jalan yang beraspal. Penuh darah bercecran. "Se-sepedaku," ucap Farid lirih. Dia sangat syok dan terperanjat melihat sepedanya yang hancur tak berbentuk. "Ke-kenapa ini? Ada apa sebenarnya?" teriak Farid mulai panik dan ketakutan.  Darah di kepalanya semakin deras menetes. Dengan langkah gontai dan lemas. Farid mendekati seseorang yang tertelungkup di jalan. "Ke-kenapa ... bajunya sama persis kayak punyaku? Dan ... mirip sama aku?" Pandangan matanya semakin nanar. Dia berusaha untuk membuka mata yang semakin berat, dan mulai merasakan pipinya menyentuh panasnya jalanan. "Asma ... Iruuuul," ucapnya berdesis. "Hei! Panggila ambulan ... ambulan! Cepaaat!" "Cepat ... hei!" "Panggil Pak Polisi!" "Truk yang nabrak sudah berhenti." "Ayo kita bawa ke rumah sakit!" Silih berganti orang saling berteriak dalam kepanikan yang luar biasa. Namun, hanya dalam sekian detik berlalu. Farid sudah tak bisa lagi melihat. Semua tampak gelap. Hanya bisik-bisik orang di sekitarnya. Sampai akhirnya dia pun tak mendengar apa-apa lagi.  Semua menjadi hening dan sunyi. _oOo_ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN