KEMATIAN FARID

1112 Kata
Silih berganti orang saling berteriak dalam kepanikan yang luar biasa. Namun, hanya dalam sekian detik berlalu. Farid sudah tak bisa lagi melihat. Semua tampak gelap. Hanya bisik-bisik orang di sekitarnya yang terdengar. Sampai akhirnya dia pun tak mendengar apa-apa lagi. Tubuhnya seketika terasa dingin dan menggigil. Wajahnya memucat seketika. Darah segar yang mengalir mulai mengering ditempa sinar matahari.  Kini, semua menjadi hening dan sunyi. Dari kejauhan motor Abah Haji mendekati kerumunan orang di pinggir jalan. Dadanya semakin berdebar-debar saat melihat ada polisi di tempat itu. "Abah kayaknya ada kecelakaan." "Iya, Mak. Perasaan Abah makin kada nyaman ini." "Ayo kita datangi ke sana." Motor berhenti tak jauh dari lokasi. Abah haji beserta istri berjalan pelan, mendekati kerumunan. Sebelum mereka mendekat. Pandangan Mamak Haji tertuju pada sebuah sepeda yang hancur. tergeletak di pinggiran jalan. "Haaahhh?!" Sembari tangan mencekal erat lengan sang suami. Lalu dia menunjuk arah sepeda. "I-itu ... apa sepeda milik Fa-Farid Bah?" Suaranya parau seakan tercekat di tenggorokan. Sontak apa yang dikatakan sang istri, membuat Abah Haji berlari menerobos kerumunan. Walau dihalangi beberapa orang, tetap saja Abah Haji bersikeras mendekat. Sampai pandangan matanya tertuju pada sosok Farid yang tergeletak bersimbah darah. "Ya Allah ... ya Allah, Farid. Ya Allah ... Farid!" Sang istri yang mendnegar pun menghampiri. Waita itu hanya bisa terperangah dengan mata yang terbeliak. "Kenapa kada ada yang bawa ke rumah sakit?" tanya Abaha Haji mulai panik. Salah seporang polisi menghampiri. "Maaf, apa Bapak keluarga dari korban?" "Iya! Saya masih kerabatnya, Pak. Kenapa kada langsung dibawa ke rumah sakit?" "Kita masih menunggu ambulan datang. Mungkin sebentar lagi, Pak. Tolong tenang!" Dari kejauhan terdengar sirine yang mengaung. Jantung Abah Haji berdetak kian kencang. Tanpa terasa air mata menetes dan membasahi pipi. "Pak Polisi, tolong bisa sampaikan sama pihak keluarga. Saya akan ikuti Farid ke rumah sakit." "Baik, Pak. Akan kami lakukan." Abah Haji langsung menarik lengan sang istri sedikit menjauh. Memberikan ruang bagi ambulan untuk menepikan mobil. Begitu juga dengan kerumunan orang, mundur beberapa langkah.  Para tim medis segera menurunkan brankar. Dalam waktu sekejap, tubuh Farid sudah berada dalam mobil ambulan.  "Ayok, Bu!" "I-iya, Pak." "Bentar aku tanyakan dulu rumah sakitnya. Pasti nanti jalan mereka sangat kencang." Dengan berlari kecil, Abah Haji menuju mobil. Tampak dia sedang bertanya pada seorang lelaki berpakaian medis. Di mana letak rumah sakit yang akan mereka tuju. Setelah mendapatkan informasi, segera Abah Haji mengambil motornya. "Ayok, Mak. Aku udah tahu tempatnya. KIta berangkat duluan aja" "Iya, udah kalau gitu Bah." Motor butut mereka melaju meninggalkan lokasi kejadian. Dari kejauhan suara ambulan mulai meraung-raung. Hanya dalam sekejap, menyalip mereka yang jauh tertinggal. Bergegas Abah Haji mengejar, akan tetapi percuma saja. Karena memang motornya sudah seperti umur pemiliknya. Yang tak kuat dibawa melaju dalam kecepatan tinggi. "Udah, Bah.! Kita sesampainya di sana aja. Kada usah mengebut juga. Nanti malah kita kenapa-kenapa lagi." "Iya, Mak." Tiga puluh menit berlalu .... Barulah motor Abah Haji Saipul memasuki halaman parkiran rumah sakit. Setelah memarkir motor. Keduanya berjalan dengan langkah yang lebar menuju ruangan UGD. Setelah bertanya pada salah seorang perawat. Langkah mereka terhenti di sebuah ruangan. "Bujur nih kamarnya Bah?" (Bujur = bener) "Kayaknya begitu Mak." Mereka langsung memasuki ruangan yang terlihat sangat sibuk, oleh lalu lalang perawat dan dokter. "Permisi, Pak!" Seorang perawat laki-laki menoleh ke arahnya. "Ada apa Pak?" "Ehhh ... ada korban tabrakan?" "Ada Pak. Sedang diberikan pertolongan." "Alhamdulillah, masih hidupkah?" "Masih, Pak, Cuman dalam kondisi yang sangat kritis." Seketika Abah Haji menoleh pada sang istri. "Sebaiknya Bapak tunggu di luar. Satu orang saja yang boleh ada di dalam." "Biar Abah saja yang di dalam. Mamak tungguin si Amas di luar." Langkah Abah Haji mengikuti seorang perawat yang menunjukkan ranjang di mana Farid dirawat. Lelaki tua itu, tak kuasa menahan kesedihannya lagi. Walaupun tak ada ikatan darah di antara mereka. Hubungan kekeluargaan sudah terjalin sejak Farid masih remaja. Abah Haji melihat tarikan napas yang terasa berat. Langkahnya mendekat. Bibirnya pun tak berhenti mendoakan Farid. "Apa yang sebenarnya terjadi, Farid?" bisik Abah Haji, sambil mengusdap lengan yang penuh darah. Kepala Farid pun dalam posisi miring, sepertinya leher Farid ada yang patah.  "Semoga Amas segera sampai sini." Hampir empat puluh lima menit berlalu. Terdengar derap langkah yang berlarian menuju ruang Farid di rawat. "Abah ... Abaaaah!" teriak Amas menjadi-jadi. Diikuti oleh Irul yang turut menangis di atas perut ayahnya. Namun, sesaat mereka berdua seperti mendnegar suara yang berdesis. Sangat lirih. "Hati ... hati. Sofia itu ... jahat!" Hanya kaimat itu yang terakhir terucap.  "Abaaaah!" teriak mereka berdua. Isak tangis mewarnai ruangan kecil itu. Nyawa Farid tak tertolong lagi. Menyisakan duka yang sangat mendalam bagi Amas dan Irul. Apalagi kata-kata terakhir yang diucapkan Farid begitu terngiang di telinga mereka. Setelah pemakaman usai. Amas dan Irul mendatangi Abah Haji Saipul beserta istri yang duduk di ruang tamu. "Abah apa mendengar yang dikatakan Kak Farid, waktu di rumah sakit?" Lelaki itu menggeleng. "Memangnya apa yang didengar sama Amas?" "Kita berdua mendengarnya, Abah Haji." "Apa yang dikatakan Farid?" "Hati ... hati. Sofia itu ... jahat!" Seketika Abah Haji Saipul terdiam, dengan wajah yang tertunduk. Membuat Amas semakin bertanya-tanya. "Apa ... ini ada kaitan sama si makhluk itu?" tanya Amas berhati-hati. "Sepertinya begitu. Dia ingin kalian agar berhati-hati lagi." "Lalu, apa yang mesti kami lakukan Abah Haji?" Lelaki meletakkan tasbih milik Farid yang tertinggal. "Ini milik suami kamu yang terjatuh di teras rumah. Banyaklah berdoa, dekatkan diri sama Allah. Makhluk ini bukan hantu biasa atau jin biasa. Dia datang ke rumah itu atas undangan seseorang." "Undangan seseorang?" ulang Amas tak mengerti. "Seperti santet? Yang ingin menyakiti orang di rumah itu?" Kembali Abah Haji menggeleng. Walau sebenarnya dia enggan untuk bercerita, tapi dia harus tetap menjelaskan. "Aku sabujurnya enggan berkisah lagi. Cuman biar kamu tahu!" tegas Abah Haji. "Dia datang ke rumah itu atas undangan perjanjian. Bukan untuk menyakiti orang yang berada dalam rumah, tapi malah sebaliknya. Cuman, aku juga kada tahu. Perjanjian apa yang ada di dalam rumah itu." "Perjanjian? Berarti makhluk itu diundang sama pemilik rumah?" "Aku kada yakin soal ini, Amas. Yang jelas makhluk itu tidak datang sendiri. Sebelumnya dia bukan penghuni rumah itu." "Lalu, apalah yang harus kami lakukan?" Abah Haji Saipul tertunduk dalam-dalam. "Aku sudah mencoba untuk berkomunikasi sama makhluk itu. Cuman ilmu aku kalah jauh sama dia." "Iya, Amas. Abah samapi berdarah mulutnya." "Makanya saran yang aku berikan. Teruslah berdoa. Karena makhluk ini akan membunuh dan mengikuti siapa yang pernah melihatnya." "Haaaahhh?!" Amas terbelalak, dengan mulut yang terbuka lebar. "Makanya itu dia mengikuti Irul?" "Iya. Dia akan berhenti mengikuti kalau betuknya sudah sempurna." "Ja-jadi?" Sengaja Abah Haji tak melanjutkan. Karena dia pikir Amas pun telah mengerti yang dia maksud. "Jadi dia mengikuti manusia yang seusia dia? Dan ... membunuh siapa saja yang bisa menghalangi dia?" "Seperti itulah kira-kira, Amas." _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN