"Iya. Dia akan berhenti mengikuti kalau betuknya sudah sempurna."
"Ja-jadi?"
Sengaja Abah Haji tak melanjutkan. Karena dia pikir Amas pun telah mengerti yang dia maksud.
"Jadi dia mengikuti manusia yang seusia dia? Dan ... membunuh siapa saja yang bisa menghalangi dia?"
"Seperti itulah kira-kira, Amas."
Wajahnya memucat seketika. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah anaknya. Bagaimana cara dia mencari jalan keluar, untuk memusnahkan makhluk kejam itu.
"Jadi, Sofia juga yang bikin Abah terbunuh, Mak?"
Tiba-tiba suara Irul meledak-ledak. Dia seperti tidak terima bila sang ayah harus mati mendadak. Tak pernah terbayangkan sebelumnya di benak Irul. Bahwa dia akan kehilangan seorang ayah, di usia muda.
"Aku kada bisa terima, Mak. Kalau Abah mati karena Sofia!" tegas Irul penuh dendam amarah.
"Sebaiknya kamu jangan ikut-ikut!" Amas melarang anaknya untuk ikut campur. Walau kenyataannya sulit.
Seketika suasana menjadi hening dan sunyi. Sama halnya dalam kamar Sofia saat ini. Dia masih tak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Paman Botek.
"Dari mana Paman tahu semuanya ini?" tanya Sofia masih tak bisa percayai semuanya. "Paman bisa menceritakan semuanya sedetil ini?"
Acil Mina menarik kursi agar sang suami duduk di dekat ranjang Sofia.
"Aku tahu semuanya, Sofia. Karena aku tanyai mereka satu persatu. Kematian Farid itu, hanya berselang satu hari dengan penampakan Sofia pada Irul."
"Lalu, jarak kematian Irul berapa lama dengan kematian bapaknya?"
"Kayaknya kada sampai 40 harinya ya Paman?" sahut Mamak Eno.
"Iya, kada sampai lama," lanjut Acil MIna, menanggapi pertanyaan Sofia. Gadis itu mengerutkan dahi. Sambil memijit kepala yang masih terasa sakit.
"Lalu, kematian Irul kenapa, Paman?"
Terdengar embusan napas panjang. Walau sudah enggan untuk melanjutkan ceritanya. Namun Sofia terus menatap dengan sorot mata yang tajam ke arahnya.
"Kenapa Paman? Sepertinya Paman Botek kada nyaman mau cerita ya?"
Lelaki tua menarik napas dalam-dalam.
"Bukan aku enggan, Sofia. Itu seperti luka lama, biarpun kada menimpa keluarga Paman. Cuman, ini semua berhubungan dengan rumah ini."
"Coba lah Paman ceritakan sedikit aja, tentang kematian Irul."
"Haaaahhh!" Dengan tertunduk, lelaki tua mulai bercerita.
Sejak kematian Farid, Amas jarang terlihat keluar rumah. Dia lebih banyak menemani Irul. Karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.
Tepat menjelang di hari ke 40 kematian Farid. Malam sekitar pukul 11.00 WIB. Terlihat Irul sangat gelisah. Dia masih saja belum bisa tidur.
"Kamu kenapa, Nak?"
"Kada tahu, Mak. Ulun kada bisa tidur. Pikiran ke rumah itu terus, Mak." (Ulun = saya, kada = tidak)
Sontak Amas menoleh pada anaknya.
"Kenapa kepikiran rumah itu terus?" Pandangan matanya terus tertuju pada Irul. Yang masih terlihat gelisah. "Kamu jangan pernah kepikiran ke rumah itu lagi!"
"Abah, masih hidup, Mak!"
"Jangan ngawur kamu, Rul!"
"Irul mimpi, kalau Abah ada di rumah itu. Irul melihatnya dalam mimpi kalau Abah duduk di teras depan rumahnya, Mak."
"Kada mungkin itu!" tegas Amas kesal. "Jangan pernah sekali-kali kamu ke rumah itu lagi!"
"Tapi, Mak? Kalau Abah bujur ada di sana kayak apa?" (Bujur = benar)
"Jangan ngawur! Sudah tidur lagi!"
Irul mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya. Dia berusaha memejamkan mata. Namun tetap saja tak mampu membuat dirinya mengantuk.
Mendengar dengkur lembut sang ibu. Irul duduk kembali di atas kasur. Dia menatap sedih wajah ibunya.
"Maafkan Irul, Mak. Udah buat banyak kesalahan."
Saat menatap wajah Amas yang telah tidur pulas.
"Iruuul ... main yuk!"
"Iruuul ... main yuk!"
"Iruuul ... main yuk!"
Sontak suara samar-samar itu membuat Irul terperanjat. Dia tahu itu suara siapa.
"Kada mau! Aku kada mau main sama kamu!" tegas Irul.
Ajakan Sofia serasa terus terngiang di telinga.
"Di rumah ada bapak kamu!"
"Abah?"
Terdengar suara tawa yang terkikik, melengking.
"Iruuul, ayok main ke rumahkuuu!"
Dengan suara yang seolah menggema. Membuat bulu kuduk Irul berdiri dan merinding. Remaja tersebut terus menggeleng. Seolah masih tersadarkan bahwa dia memang harus menolak ajakan Sofia. Dia pun masih teringat pesan dan larangan sang ibu.
"Cuman ada Abah kah di sana? Kayak mimpi aku?"
Tak pedulikan lagi larangan Amas. Irul mulai melangkah turun perlahan. Dia mengendap-endap hingga akhirnya berhasil keluar rumah. Suasana kampung sangat sepi dan lengang. Langkahnya berjalan hanya ditemani embusan angin malam yang menerpa tubuh.
Irul seolah mengabaikan rasa takut atau pun segala larangan ibunya. Yang dia rasa saat ini, hanya ingin menemui sang ayah. Sosok ayah yang malam sebelumnya dia temui dalam mimpi. Seolah mengajak dirinya untuk bertemu.
Hingga langkah Irul berhenti di depan pintu pagar yang terkunci. Namun, tak ada angin kencang atau apa pun juga. Tiba-tiba pintu pagar terbuka perlahan. Sepintas dia melihat sosok gadis berambut panjang berlarian ke arah belakang.
"Sofiaaa?" desis Irul yang masih berdiri terpaku. di halaman depan. Dia memlih memparhatikan teras depan. Seperti yang dia lihat dalam mimpi.
"Abah semalam berdiri di situ, tapi kok kada ada?"
Irul tak pedulikan suara tawa terkekeh sosok Sofia. Sampai panggilannya yang terus berulang mengajak Irul untuk bermain. Namun langkahnya terus berjalan menuju teras depan.
"Abaaah! Abah, di mana?"
Tak ada sahutan yang terdengar.
"Abaaah! Semalam Irul melihat Abah di sini. Sekarang di mana?"
Suara Irul terisak lirih. Dalam keadaan gundah dan kalut. Pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Membuat Irul terperangah. Dia semakin terheran-heran, manakala seluruh lampu dalam rumah itu menyala terang benderang.
Di hadapannya dia melihat sekelebat bayangan yang berlarian.
"Sofia!"
Tanpa ada ekspresi terkejut. Irul seperti telah terbiasa melihat sosok gadis itu. Sampai dia mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Tak jauh dari tempat dirinya berdiri.
"Si-siapa itu?"
Irul melihat bayangan seorang lelaki yang membelakangi dirinya. Akan tetapi bukan Farid. Anak remaja tersebut seperti mengenali sosok lelaki itu.]
"Seperti ... Pak Hasbi? kenapa dia di sini?"
Belum sampai keheranan dirinya sirna. Dari arah belakang dia melihat Bu Lidia. Istri dari Pak Hasbi.
Mereka terlihat sedang bercengkrama, bersama anak mereka, Sofia. Yang bagi Irul sampai sekarang pun, wajah gadis itu masih tertutup rambut. Akan tetapi Irul tahu bahwa tak ada apa pun di wajahnya. Hanya kulit wajah penuh darah dan lendir nanah.
"Ke-kenapa mereka terlihat semuanya? Bukankah Pak Hasbi sama Bu Lidia sudah mati?"
Dalam detik yang sama. Irul mendengar langkah kaki seperti diseret ke arahnya. Sontak Irul menoleh. Betapa terkejutnya anak remaja tersebut, kala melihat sosok sang ayah berdiri tak jauh darinya.
"A-Abah?"
Namun dia langsung terkesiap. Saat hidungnya mengendus bau busuk yang sangat menyengat. Seperti bau bangkai.
"A-Abah, kenapa seperti ini?"
Dia melihat sosok sang ayah, dengan kepala yang hampir pecah. Darah segar yang terus merembes, bercampur nanah. Belum lagi leher yang patah, membuat kepala Farid terlihat menempel di pundak. membuat Irul semakin syok.
"Abah pergi! Pergiiii ... kamu bukan Abah aku!" teriak Farid sangat kencang. Sampai sebuah tepukan keras kembali mengejutkannya.
"Irul?!"
Bersamaan dengan namanya dipanggil oleh seseorang. Seketika seluruh lampu rumah ini padam dan menjadi gelap. Hanya menyisakan penerangan pada lampu teras.
"Paman Botek!"
Spontan Irul memeluknya erat dengan tubuh yang gemeteran dan ketakutan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
_OO_