"Irul?!"
Bersamaan dengan namanya dipanggil oleh seseorang. Seketika seluruh lampu rumah ini padam dan menjadi gelap. Hanya menyisakan penerangan pada lampu teras.
"Paman Botek!"
Spontan Irul memeluknya erat dengan tubuh yang gemeteran dan ketakutan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Paman Botek membelai rambut dan mengusap punggungnya. Hanya sekedar untuk menenangkan bocah remaja itu. "Coba kamu ceritakan, Rul?"
"Tapi, jangan di rumah ini, Paman."
"Ayo, Paman antar pulang ke rumah!"
Setelah mengunci semua pintu. Paman Botek yang heran, langsung bertanya,
"Dari mana kamu bisa membuka pintu pagar sama rumah?"
Irul hanya menggeleng. Sembari mengikuti langkah lebar lelaki yang berjalan di sampingnya.
"Jadi, kamu datang sudah terbuka pintunya?"
"Kada juga Paman. Pas Ulun datang. Pintu pagar baru terbuka pelan. Lalu, ulun berjalan ke arah teras. Tapi, di halaman belakang, sempat melihat Sofia lari-lari sendirian di sana." (Ulun = saya)
Sejenak dia menghentikan langkah, sambil menarik napas dalam-dalam. Botek mengingat lima tahun, sebelum kematian Hasbiansyah dan juga Lidia. Saat itu Sofia kecil, sangat mneyukai bermain di halaman belakang. Berlarian sambil mengambil bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya.
"Kenapa, Paman berhenti?"
"Ohhh, kada apa-apa. Yuk, jalan lagi!"
Hanya berjarak sepuluh meter. Rumah Irul sudah terlihat. Sengaja mereka berdua duduk di teras.
"Apalagi yang kamu lihat di sana tadi?"
"Ulun juga melihat Pak Hasbi sama istrinya. Kayak jaman dulu, waktu masih hidup."
"Di mana itu?"
"Keluar dari kamar yang sebelah kiri, terus berjalan ke ruang tengah."
Tampak Paman Botek manggut-manggut.
"Terus tadi kenapa kamu sampai terkejut kayak itu? Sampai menangis segala?"
"Karena ulun melihat Abah berjalan mendekat. Cuman yang bikin ulun ketakutan itu, kondisi Abah yang mengerikan."
"Berarti harus kamu doakan. Jangan lupa, usai sholat didoakan terus abahnya."
"Iya, Paman. Cuman ulun itu heran. Sofia ini kayak ajak Irul ke rumah itu terus. Ada apa sebujurnya itu?" (Sebujurnya = sebenarnya)
Lelaki itu tetrunduk dalam-dalam. Pandangan mata terjatuh pada lantai kayu.
'Ada apa dengan semua ini?' batin Paman Botek. Lalu dia mengalihkan pandangan pada Irul yang juga melihat padanya.
"Ulun takut, Paman."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Takut bila ulun pun mati kayak Abah."
Paman Botek menepuk bahunya.
"Kematian itu rahasia Allah. Jangan kamu risaukan hal ini. Kalau kamu terus mikirin tentang ketakutan kamu, apa yang selama ini kamu pikirkan itu bisa kejadian."
"Iya, Paman."
Terdengar derap langkah dari dalam rumah. Tampak Amas mnegintip mereka dari balik jendela. Tak lama pintu berderit pelan.
"Loh, kok kamu di sini?" Lalu, pandangannya tertuju pada Paman Botek. "Ehhh ... Paman! Enggak kelihatan ulun tadi. Ada apa ini?"
"Ini, pas aku patroli melihati rumah. Kelihatan pintu pagar sama pintu terbuka. Pas saat aku masuk, sudah ada Irul di situ."
"Haaahhh? Ngapain kamu di sana?" Amas langsung terbelalak, saat mendengar penjelasan dari Paman Botek. Dia seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Ulun mendengar si Sofia manggil tarus, Mak. Ujarnya Abah ada di sana."
"Haaahhh?! Dasar kamu ini susah dibilanginnya. Mamak berjuta kali udah bilangin sama kamu 'kan? Masih aja kamu kada mau percaya juga. Ini bukan sosok Sofia anak Pak Hasbi lagi, Rul. Ini tuh setan!!!" sentak Amas tak sabar.
"Sudah ... sudah! Ini masih malam, jangan ribut. Mungkin si Irul kada bisa menolak halusinasi yang ditimbulkan oleh suara makhluk itu, Amas. Jangan engkau langsung marah-marah kayak gitu. Kasihan anak kamu yang juga ketakutan."
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Paman Botek. Amas berusaha untuk meredam emosinya. Dia menarik napas panjang, untuk menetralkan perasaan emosi yang bergulat dalam hati.
"Udah, sebaiknya kalian masuk rumah! Dan, tidur!"
"Baik, Paman."
"Nah, si Irul. Jangan lupa juga, doakan Abahnya ya!"
"Iya, Paman."
Lelaki itu pun beranjak dari tempat dia duduk. Lalu pergi meninggalkan rumah Amas. Berulang kali dia mengembuskan napas seolah tak mempercayai, apa yang telah terjadi dengan si Irul ini. Sebelum berjalan pulang menuju rumahnya sendiri. Sengaja Botek mampir lagi ke rumah kosong itu. Hanya memandang dari luar pagar.
Tak ada yang terlihat aneh atau pun salah. Semua terlihat baik-baik saja. Bahkan lampu hanya menyala di bagian teras dan belakang rumah. Sekian menit dia berdiri memandang arah rumah. Lalu, Botek kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Namun, dia merasa seperti ada yang tengah memandangnya. Dari arah belakang. Spontan dia menoleh ke belakang. Sepintas dia seperti melihat sosok bayangn melintas dan berdiri di balik pagar. Seolah terus mengamati dirinya.
"Siapa itu?" bisik Botek. Sekian detik dia terhenyak. Memperhatikan bayangan itu yang tiba-tiba menghilang. "Hemmm ... kenapa seperti mendiang Pak Hasbi?"
Akan tetapi dia tak ingin mencari tahu. Botek meneruskan langkahnya berjalan.
"Ahhh! Mungkin aku terlalu hanyut sama cerita si Irul tadi."
Dia pun berjalan pulang menuju rumah yang tak terlalu jauh dari tempat itu.
***
Sofia memandang Paman Botek dengan tatap mata serius.
"Paman, bisa antar Sofia ke kuburan Papa sama Mama?"
"Bisa. Setelah Sofia baikan."
"Sofia sudah baikan, Paman. Sekarang aja kita kuburan."
Mina ikut memandang ke arah suaminya.
"Cuman kuburannya ini agak jauh, Sofia. Ada sekitar satu jam setengah dari sini," sahut Mina yang terlihat keberatan.
"Kada apa-apa, Acil."
"Terus, apa kita kada jadi antar Mbak Sofia ke rumah sakit dulu?" celetuk Mamak Eno.
Belum sampai Acil Mina dan Paman Botek menyahut. Sofia sudah emnggeleng.
"Pusing Sofia sudah hilang kok. Jadi enggak usah ke dokter atau rumah sakit. Sekarang Sofia mau ganti baju dulu. Tolong Paman antar ke makam ya?"
Paman Botek tak bisa mengelak lagi. Selain mengangguk dan keluar kamar. Diikuti yang lain. Walaupun sebenarnya kepala Sofia masih terasa pening. Dia menguatkan dirinya.
"Aku harus ke makam Papa sama Mama."
Setelah melepaskan baju yang penuh darah. Sofia mencoba berjalan merambat ke arah luar kamar.
"Mau kemana Mbak Sofia?'
"Mau wudhu dulu, Mamak Eno. Tadi belum rampung sholat."
Mereka menunggu sampai Sofia siap. Gadis itu sudah membawa ponsel dan dompet yang diletakkan pada tas selempang.
"Paman, ini pakai apa kita ke sana?"
"Pakai mobil aku aja, Mbak Sofia. Kada dipakai juga. Sekalian manasin mesin mobil."
Mereka mengikuti langkah Mamak Eno yang berjalan pulang ke rumah.
"Ohhh, beneran kada apa-apa, Mamak Eno?"
"Ihhh, ya kada lah. Santai aja, Mbak Sofia. Dulu sewaktu orang tua Sofia masih hidup. Saya juga seringlah pinjam vespa."
Sofia pun mengembangkan senyum manisnya.
"Vespa?"
"Iya, Mbak Sofia. Punya Pak Hasbi satu. Punya Bu Lidia satu. Belum lagi mobil ada dua juga. Masih ada truk juga. Kalau kada percaya tanya tuh sama Paman, sama Acil."
Sofia menoleh ke arah mereka.
"Benar begitu?"
"Iya. Pak Hasbi dulu kan seorang pengusaha batu bara," sahut Acil MIna. "Memangnya Sofia kada ingatkah?"
"Ingatnya pas naik mobil. Kadang vespa juga. Tapi, kada ingat kalau Papa punya kendaraan banyak."
Tak lama menunggu. Paman Botek sudah mengeluarkan mobil dari garasi rumah Mamak Eno.
"En! Kamu jaga rumah aja lah. Mamak mau ikut Mbak Sofia sebentar."
"Iya, Mak."
Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil. Paman Botek menyuruh Sofia untuk duduk di jok depan.
"Apa jauh, Paman?"
"Lumayan. Hampir di perbatasan luar kota."
Satu jam perjalanan. Akhirnya mereka pun sampai di pemakaman tua. Yang masih terawat walau pun pemakaman ini sudah tak dipakai lagi, karena sudah penuh.
"Ini sangat tua sekali ya Paman?"
"Iya. Katanya sih sejak jaman kolonial udah di pakai."
"Makanya, sekarang udah kada dipakai lagi," sahut Mamak Eno.
"Tuh, seberang jalan gantinya. Orang menamai ini kuburan kembar," jawab Paman BOtek.
"A-pa, Paman masih ingat makam Mama sama Papa?"
"Insyaallah masih, Sofia. Kalau pun kada ingat, ada juru kunci makam yang berjaga di sini."
Sofia hanya manggut-manggut. Mereka mulai berjalan menuju pintu masuk pemakaman. Tampak Paman Botek melepas sandalnya, begitu juga sama Acil mIna. Sofia yang heran pun mengikutinya. Dia melepaskan sepatu kets yang dipakai.
Saat melihat ke sekitar area kuburan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Paman Botek tadi. Kuburan ini benar-benar masih dirawat.
Setelah melewati beberapa pohon kamboja. Lelaki itu berhenti tepat di dua makam, dengan nisan yang terlihat masih baru. Pandangan mata Sofia terpaku pada beberapa tangkai bunga yang tegeletak di dekat batu nisan.
"Siapa yang taruh kembang ini Paman? Apa Paman Botek kah?"
Lelaki itu langsung menggeleng.
"Bukan, Sofia."
"Terus ... ini tulisan apa di nisan Papa sama Mama ini, Paman?"
_00_