Setelah melewati beberapa pohon kamboja. Lelaki itu berhenti tepat di dua makam, dengan nisan yang terlihat masih baru. Pandangan mata Sofia terpaku pada beberapa tangkai bunga yang tegeletak di dekat batu nisan. Dia langsung berjongkok dan meraih tangkai bunga itu.
"Siapa yang taruh kembang ini Paman? Apa Paman Botek kah?" Sofia mendongak pada lelaki yang masih berdiri di sampingnya.
Paman Botek menggeleng pelan.
"Bukan, Sofia."
"Bukan? Cuman kalau Sofia lihat, kembang ini masih segar. Kayak ada yang memang snegaja menaruhnya di sini. Cobalah lihat ini Paman!"
Mereka pun ikut berjongkok dan memperhatikan apa yang dikata oleh Sofia.
"Terus ... ini tulisan apa di nisan Papa sama Mama ini, Paman?" Telunjuk Sofia mengusap guratan lembut di batu nisan keduanya. Walau samar, akan tetapi masih tetap terbaca di mata Sofia yang masih awas.
"Mana Mbak Sofia? Mamak kada malihat?"
"Ini, Mamak Eno!"
"Iya, aku juga kada bisa malihat," sahut Acil Mina.
"Memang tulisannya apa, Sofia?" tanya Paman Botek, seraya mengenakan kaca matanya. Dia tampak penasaran atas apa yang baru saja disampaikan oleh gadis ini.
"Ini tulisannya kayak asal gitu, cuman Sofia masih bisa baca. Nih kaya S-nya ada di bawah. Pokoknya hurufnya tuh acak."
Mereka bertiga terus ikut mengamati apa yang ada di batu nisan Hasbi dan Lidia.
"Aku tatap aja kada bisa melihatnya, Sofia," sela Acil Mina.
"Sama, nah Cil. Aku juga kada melihat apa pun juga. Kalau Paman gimana?" tanay Mamak Eno penasaran.
"Aku cuman lihat huruf S besar. Ini nah!"
Paman Botek mengambil sebatang ranting, dan menunjuk pada huruf itu.
"Coba kamu baca Sofia!" pinta Paman Botek.
"Nih, ya Paman. Sofia Hirang!"
Ketiganya saling berpandangan.
"Sofia Hirang?" Serempak mereka bertiga menyahut. Seketika mimik wajah Paman Botek berubah. Wajahnya pias seketika. Lalu dia mengambil buku yasin yang dibawa.
"Mending kita bacakan Yasin sama-sama. Habis itu kita doakan agar segala amal kebaikan Pak Hasbi dan Ibu Lidia di terima di sisi Allah."
"Aaamiin," sahut mereka serempak.
Sekilas Sofia memperhatikan Paman Botek, yang tiba-tiba menunjukkan gelagat yang aneh dan beda. Namun sengaja Sofia meredam pertanyaan yang sudah bersarang di kepala.
Lima belas menit berlalu ....
Mereka telah selesai membaca Yasin dan berdoa. Paman botek segera mengajak Sofia dan yang lain untuk meninggalkan makam Hasbi dan Lidia.
Saat langkah mereka semakin menjauh. Sofia seperti mendengar derap langkah yang lain. Bukan langkah milik mereka. Spontan dia menoleh ke belakang.
Sofia bisa merasakan bahwa ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya. Kembali dia mneoleh untuk yang kedua kalinya. Sekilas dia melihat ada bayangan memakai gaun putih yang berkelebat dan bersembunti di balik pohon kamboja, yang batang pohonnya paling besar. tepat berada di bagian samping makam kedua orang tua Sofia.
Sehingga membuat dirinya menghentikan langkah. Lalu memperhatikan pohon itu. Dengan sangat jelas, Sofia bisa melihat ujung rok yang berkibar terkena embusan angin.
Sontak apa yang terjadi detik ini padanya, seperti dejavu. Pernah terjadi saat dia kecil. Yang selalu melihat seorang gadis seusianya, bersembunyi di balik pohon rambutan.
"Siapa kamu?" teriak Sofia kecil kala itu. Namun sosok gadis itu tak pernah mau menampakkan dirinya. "Nama kamu siapa?" Tetap saja sosok itu diam.
Sampai panggilan kencang, menyadarkan Sofia yang masih berdiri terpaku dengan memandang ke arah pohon kamboja.
"Sofiaaaa!" teriak Mina. "Sofia!"
Bergegas dia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Kenapa kok diam aja di situ?" Tampak Mina cemas dengan sikap Sofia.
"Ehhh kada apa-apa kok Acil. Yuk! Kita pulang," ajaknya menutupi apa yang barusan dilihatnya.
"Bentar Sof!"
Paman Botek mendatangi juru kunci makam.
"Permisi, Pak!"
"Iya, ada apa?"
"Apa ada orang yang datang mengunjungi makam Hasbiansyah dan Lidia?"
Lelaki paruh baya itu mengerutkan dahinya. Lalu menggeleng.
"Kada pernah ada orang, selain pian Pak ae." (Pian = anda)
"Ohhh, ya udah kalau gitu. Permisi."
"Mari mari!"
Sofia langsung mendekati Paman Botek.
"Kata orang tadi kada ada yang mengunjungi makam Papa sama Mama, Paman?"
"Iya, Sofia. Aneh juga kalau Paman mikirnya."
"Apa ... ini masih ada kaitan sama tulisan yang ada di batu nisan? Bukannya tulisan itu sama kayak yang ada di kayu hitam dalam kaca itu, Paman?"
"Memang sama, Sof. Cuman kenapa bisa sama?"
"Sofia tadi melihatnya!"
Deg!
Jantung Botek berdebar-debar kencang. Dia menghentikan langkahnya.
"Jadi, tadi Sofia diam karena itu?"
"Iya, Paman. Kayak kejadian yang sama saat Sofia kecil dulu terulang lagi."
"Kejadian waktu kecil?"
Gadis itu mengangguk.
"Paman tahu kah kalau pohon rambutan itu mati kenapa?"
"Kada tahu, Sof. Cuman kering aja."
"Waktu Sofia kecil dulu itu. Sering melihat kawan, yang sukanya bersembunyi di balik pohon rambutan di rumah. Cuman, dia kada pernah menampakkan dirinya. Mungkin malu atau gimana, Sofia juga kada tahu."
"Terus?"
"Baju yang dia pakai selalu sama. Mirip bahkan sama persis kayak baju punya Sofia. Yang baru dibelikan Papa waktu ulang tahun Sofia, Paman."
"Lalu?"
"Dia selalu muncul kalau Sofia main di teras. Tapi, kayak kada berani masuk rumah. Pernah waktu Sofia melihat ujung roknya ketiup angin. Sofia mencoba untuk mendatanginya di balik pohon." Sofia menggeleng. "Dia kada ada di situ. Dan itu sangat aneh menurut Sofia sampai sekarang."
"Apa ... yang dilihat Sofia baru saja di kuburan juga sama?"
"Kayaknya sama Paman. Cuman kada tahu lagi Sofia nih."
Dari jauh, Acil MIna sudah melambaikan tangan ke arah mereka.
"Apakah menurut Paman semua rangkaian kejadian yang kecil ini, saling berhuvbungan?"
"Berhubungan sama apa?"
"Sama dengan yang dilihat Irul?"
"Paman kada bisa menebaknya, Sofia. Paman kada berani."
"Terus .... bagaimana kematian Irul? Paman belum selesai menceritakannya lho."
"Iya, nanti aja pas di rumah."
Walau pun Paman Botek sudah bersikap terbuka pada Sofia. Namun gadis itu masih merasa ada yang ditutupi oleh Paman Botek dan istri. Entah apa?
Bergegas lelaki itu menuju mobil. Diikuti langkah lebar Sofia. Sesekali dia menoleh ke belakang. Namun sosok itu tak terlihat sama sekali.
"Kenapa kamu diam aja, Sofia?" tanya Mina cemas. "Jangan dipikirkan soal tulisan di nisan tadi ya!"
"Iya, Acil. Sofia kada mikirin itu kok."
"Yah, mungkin ada orang nakal dan iseng berniat corat coret di kuburan. Biarpun itu jarang," sahut Mamak Eno.
Sofia hanya manggut-manggut. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. tepat adzan maghrib mereka sampai di rumah.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat pintu pagar dan rumah sudah terbuka lebar. Seolah sedang menyambut kedatangan mereka.
"Si-siapa Paman yang buka?"
_00_