DIA ... SOFIA (!)

1014 Kata
"Yah, mungkin ada orang nakal dan iseng berniat corat coret di kuburan. Biarpun itu jarang," sahut Mamak Eno. Sofia hanya manggut-manggut.  Mobil melaju dengan kecepatan sedang. tepat adzan maghrib mereka sampai di rumah. Betapa terkejutnya mereka saat melihat pintu pagar dan rumah sudah terbuka lebar. Seolah sedang menyambut kedatangan mereka. "Si-siapa Paman yang buka?" Mereka yang baru saja turun dari mobil langsung terhenyak. Dari wajah mereka, terlihat mimik yang penuh rasa heran.  "Abah, apa ada orang?" Lelaki tua itu hanya bisa menggeleng. Langkah lebarnya segera memasuki halaman rumah. Terlihat lampu teras dan dalam rumah sudah menyala. Sesaat mereka berempat berdiri terpaku di depan teras. Sembari memperhatikan dalam rumah. "Kayak enggak ada siapa-siapa Abah," ujar Mina, takut. Tak bisa dipungkiri bahwa dia sedang dilanda kecemasan. "Coba kita masuk!" ajak Paman Botek. Perlahan langkahnya mulai memasuki rumah. Sofia, Mina serta Mamak Eno masih berdiri di ruang tamu. Sambil memperhatikan Paman Botek yang mulai memasuki kamar Sofia. Dan memeriksa apakah ada barang yang hilang. Sekian detik, dia sudah keluar, menuju kamar orang tuanya. Lalu, keluar lagi. Menuju kamar kosong, yang dulu menjadi kamar tamu. Hingga akhirnya Paman Botek berjalan menuju ruang belakang. Berkeliling cukup lama.  "Kada ada siapa-siapa!" teriaknya kencang. Sesaat mereka bertiga mengembuskan napas lega.  "Haduuuhh, aku tegang sekali nah. Acil MIna, Mbak Sofia, aku pulang dulu aja lah."    "Silakan Mamak Eno. Makasih banyak sebelumnya." "Sama-sama. Kalau butuh bantuan apa-apa, lari aja ke rumah ya!" "Makasih banyak, Mamak Eno." Wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan rumah Sofia. "Paman, siapa yang melakukan ini?" Suara Sofia terdengar parau. "Kejadian ini sangat mirip dengan beberapa tahun yang lalu. Saat peristiwa Irul. Seringkali pintru rumah sama pagar terbuka. Tahunya Irul dah ada di dalam." "Jadi, kada sekali aja Paman?" (Kada = tidak) "Kada! Seringkali Paman jumpai dia. Pasti si Irul ini berdiri di tempat kamu situ. Mungkin dia mau masuk lebih dalam, juga takut." "Hemmm ...." "Baiknya kita sembahyang dulu!" ujar Acil MIna. Diikuti oleh Sofia menuju tempat cucian pakaian. "Wudhulah di sana, Sofia!" "Baik, Acil." Setelah mereka bertiga menunaikan sholat maghrib. Tak ada kejadian yang aneh atau sesuatu yang berniat untuk mengacaukan sholat mereka. "Mak, Abah kerasa lapar nah." "Beli nasi goreng aja lah, Bah." Paman Botek mengangguk, tanda sepakat. "Sofia apa nih? Nasi goreng apa mie goreng nah?" Sofia masih berdiri di depan kotak kaca, yang berisi kayu barwarna hitam. Yang bertuliskan Sofia Hirang. Pandangannya tertuju pada kayu hitam itu. "Kayu apa ini sebenarnya? Kenapa Papa sama Mama kasih nama Sofia Hirang?" bisik gadis tersebut. (Hirang = hitam) "Sofia, apa kada dengar Acil memanggil?" (Acil = bibi) "Hohhh, maafkan Sofia, Cil.  Sofia masih fokus melihat kayu ini. Memang ada apa nih Acil?" "Kamu apa kada lapar kah?" "Lapar ae, Cil. Memangnya Acil mau beli apa?" "Nasi goreng sama mie goreng. Kamu mau apa?" Sofia tak langsung menjawab. Dia masih terpaku pada kayu hitam itu. "Mie goreng aja, Cil." "Ya, sudah. Kamu tunggin di rumah dulu lah. Jangan ke mana-mana!" Seketika Sofia menyeringai dan tersenyum lebar. "Memangnya Sofia mau pergi ke mana juga sih Acil? Sofia 'kan belum hapal daerah sini." Sembari tangannya sibuk megeluarkan selembar uang seratus ribu. Lalu, menyodorkan pada Acil Mina. "Ini Acil duitnya." "Kada usah, Sofia. Pakai uang Paman aja!" seletuk Paman Botek menolak. "Sofia malah enggak mau makan loh Paman." Gadis itu kembali menyodorkan uang pada Acil Mina. "Ya, sudah kalau gitu. Yuk, Bah. Kita cuman sebentar kok." Mereka berdua pergi menggunakan sepeda kayuh. Saat Sofia tersadar. Dia merasakan kalau rumah ini jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya. Dan saat ini, Sofia benar-benar merasa sendiri.  Sesaat dia meperhatikan seluruh ruangan saat ini dia berpijak, ruang tengah. Kembali dia terfokus pada kayu hitam itu lagi. "Kenapa bisa kayu ini ditaruh di dalam kotak kaca?"  Masih saja Sofia tak bisa mempercayainya. Sampai dia mendengar suara lamat-lamat. Yang sepertinya berasal dari arah belakang. "Kayak ada suara orang ketawa?' bisik Sofia. Dia mulai merasa bulu kuduknya berdiri.  "Beneran, ada yang ketawa nih? Apa telinga aku aja?" Seolah ingin meyakinkan dirinya. Sofia bisa merasakan aura yang semakin berbeda. Atmosfir dalam ruangan ini pun, dia rasa mulai berubah. Apalagi hawa dingin semakin terasa menusuk hingga tulang. "Pasti ini ada yang salah!" Dengan menguatkan hatinya. Sofia memberanikan diri berjalan menuju ruang belakang. Napasnya terdengar memburu, walau tampak sekali dia berusaha untuk tetap tenang.  Tiba-tiba .... Braaakkk! Pintu rumah yang terbuka lebar,  terbanting dan tertutup. Sontak membuat Sofia menjerit dan berbalik.  Matanya sampai berair, sanking terkejutnya. Dalam detik yang sama. Dai mendnegar derap langkah berlarian, seakan sedang mengelilingi dirinya. Gadis itu mendengar, suara tawa yang semakin lama, semakin melengking tinggi. Hingga menggetarkan dadanya. Perlahan, Sofia merapatkan tubuhnya ke dinding. Pandangan matanya liar ke sana kemari. Dengan tarikan napas yang naik turun. "Sofia ...!" "Haaahhh?! Siapa yang manggil aku?" "Sofia ...!" Suara langkah kaki semakin terdengar keras. Seakan mendekati dirinya.  "Ya, Allah. Tolong aku," bisik Sofia. Dalam waktu yang bersamaan. Terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring. Seperti ada yang sedang makan. Kali ini, keberanian Sofia mulai memudar. Gadis itu benar-benar ketakutan. Dia merasa terjebak di dalam rumahnya sendiri. Hingga sentuhan lembut mengejutkannya. Saat dia menoleh ke arah sampingnya. Sofia melihat sosok seraut wajah yang sangat dekat pada dirinya. hanya berjarak beberapa inchi. Mmebuat Sofia tak bisa bergerak. Pandangannya menjadi kosong terus mengarah pada sosok seorang perempuan. Dengan ukuran tubuh yang mirip dia. Di saat Sofia tersadar. Dia langsung berkedip. Dalam detik yang sama, sosok itu pun menghilang. Namun, aroma tubuh sosok itu masih tercium. Berbau wangi kamboja bercampur anyir darah yang amis.  "Si-siapa sosok tadi? Apa--"  Belum sampai kalimat Sofia terucap. Pintu rumah terbuka pelan-pelan.  "Sofiaaa!" Muncul Acil Mina yang keheranan melihat gadis itu, tengah terduduk di lantai. Wajahnya pun pucat pasi, seperti orang ketakutan.  "Kamu ... kenapa, Sofia?" Mendengar suara Acil MIna. Tampak Sofia geragapan, sembari mendongak ke arahnya. "Acil MIna?" "Iya, ini Acil. Yuk kita makan!" Namun, tetap saja Sofia duduk dan diam terpaku. Dalam bayangannya saat ini. Dia masih teringat sosok yang tadi berada di dekatnya.  "Sosok itu wajahnya kelihatan berdarah. Mana baunya busuk lagi." "Kamu bicara apa, Sofia?" Tiba-tiba, Paman Botek sudah berdiri di dekatnya. "Paman! Dia tadi datang. Aku tahu kalau dia itu ... Sofia!" _00_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN