BUKU DIARY LIDIA

1203 Kata
"Sosok itu wajahnya kelihatan berdarah. Mana baunya busuk lagi." "Kamu bicara apa, Sofia?" Tiba-tiba, Paman Botek sudah berdiri di dekatnya. "Paman! Dia tadi datang. Aku tahu kalau dia itu ... Sofia!" Dia melihat Paman Botek memperhatikan dengan heran. "Maksud kamu apa, Sofia?" "Sofia yang ditemui oleh Irul itu, tadi dia datang Paman. Sepertinya dia ingin menunjukkan keberadannya di rumah ini." "Sofia sempat lihat wajahnya?" Seraya Sofia menggeleng, "Wajahnya tertutup rambut, Paman. Cuman Sofia tahu kalau dari wajahnya itu, terus mengucurkan darah segar yang baunya busuk. Ada wangi kamboja, tapi kalah sama bau amis darah, Paman." Walau Paman Botek bingung apa yang hendak dia sampaikan. Dia mencoba untuk tak memperlihatkan semua kejadian ini sebagai masalah yang besar. Lelaki itu, hanya ingin Sofia tengang dan tak terganggu. "Semoga dengan adanya kamu di rumah ini, dia bisa pergi menjauh. Karena pemilik yang sebenarnya adalah kamu, Sofia. Jangan sampai dia merebutnya." "Merebut, gimana sih Paman?" 'Haduh, aku salah omong lagi!'  batin lelaki tua tersebut. "Ehhh, maksud Paman itu, kalau rumah kada kosong, penghuni alam lain itu menjauh. Begitu maksud Paman Botek, Sofia." Gadis itu hanya manggut-manggut. Seraya duduk di kursi, "Besok pacar sama teman Sofia datang. Kayak apa Paman?" "Kada apa-apa. Suruh datang aja. Besok pagi Paman bersihkan dan beres-beres kamar tamu itu." "Biar, besok Acil bantuin, Sofia. Enak kamu ada kawannya." "Makasih ya, Paman, Acil MIna. Kalau kada ada Paman sama Acil, kayak apa Sofia ini." Keduanya tersenyum lebar. "Kamu udah kita anggap kayak anak sendiri, Sofia. Mulai dari kamu kecil dulu," sahut Acil Mina. Selesai menyantap nasi goreng dan mie goreng. Paman dan Acil Mina bewrpamitan pulang. Mereka ingin melihat rumah terlebih dulu. "Tapi, Paman sama Acil tidur sini 'kan?" "Iya, Sofia. Kada tega kita biarkan kamu seorangan di sini." Senyum mengembang dari bibirnya. Gadis itu pun mempersilakan mereka untuk pergi. Dalam waktu yang bersamaan. Terdengar ponsel Sofia berdering. Buru-buru gadis itu berlari kecil menuju kamar. Setelah menutup pintu rumah terlebih dahulu. "Mas Alam," desisnya, saat melihat nama tersebut di layar ponsel Sofia. "Assalamualaikum. Hallo, Mas!" "Waalaikumsalam. Kamu ini keman aja sih? Di WA enggak balas. Apa kamu ngambek?" "Enggak ngambek. Memangnya kenapa aku ngambek segala sih Mas?" "Ya, mungkin aja. Gara-gara pas kamu telpon enggak aku angkat." "Telpon?" Dengan bola mata yang terbelalak. "Aku telpon Mas Alam?" ulang Sofia meyakinkan dirinya. "Kamu jangan mulai ngaco lagi deh, Sofia!" tegas Alam kembali emosi. "Tunggu bentar, Mas! Kapan aku telpon Mas Alam?" Sejenak lelaki itu terdiam. Tak ada suara yang terdengar. "Tadi siang, jam satuan." "Oke. Jam segitu aku lagi sakit. Kepala aku sangat pusing, sampai mimisan. Jadi, kalau aku telpon kayaknya enggak mungkin." Kembali Alam diam. Tak ada pembicaraan di antara mereka. "Sekarang secara logika, ini nomer kamu yang telpon aku. Kalau bukan kamu, terus siapa Sofia?" "Dari pada kita nanti ujung-ujungnya bertengkar lagi. Mas Alam besok jadi 'kan?" "Kok, besok sih Sofia? Lagi-lagi kamu bisa lupa aku mau datangnya kapan." "Maaf, Mas Alam. Sofia memang lupa. Kirian besok dah kamis, ternyata lusa." "Ingat, Sofia. Jam 10 pesawat kita dari Juanda." "Oke, siap Pak Bos! Lusa, Sofia jemput deh Mas. Kita lanjutkan besok lagi aja bahas soal telpon tadi ya." "Hemmm ...!" Sofia pun menutup teleponnya.  "Lagi! Dia selalu menelepon Mas Alam, seakan dia itu aku," bisik Sofia geram. "Sekarang katakan apa mau kamu?!" teriak Sofia. Dia tahu kalau makhluk itu akan terus memperhatikan dirinya. Apa pun sebab yang membuat kedatangan sosok itu, Sofia tahu ini semua berhubungan dengan masa lalunya. "Gimana aku bisa bener-bener lupa kalau besok masih rabu? Besok 'kan aku udah janjian sama Nini. Gimana bilangnya sama Paman ya?" Terlihat Sofia yang mondar mandir di dalam kamar. Dia mencari cara bagaimana bisa keluar rumah. Apalagi kepergiannya bersama dengan Nini Amas. Yang ada Paman Botek akan marah besar. Di tengah kebingungannya. Sofia kembali mendengar suara seorang wanita yang tengah bernyanyi lagu anak-anak. "Lagu, itu lagi?" Gadis itu berjalan mendekati pintu kamar. Dia merapatkan telinganya di daun pintu. Berusaha mendengarkan dengan jelas, suara itu berasal dari arah mana. "Se-seperti berasal dari kamar Papa?" Lalu, Sofia menggeleng keras. "Aku kada mau terpancing lagi nah. Pasti dia ingin agar aku datang ke kamar itu." Sekian detik berlalu. Suara nyanyian itu lenyap dalam sekejap.  "Ini, bener-bener aneh." Di saat detik yang sama. Ting tung! Notifikasi pesan masuk di ponsel Sofia. Segera gadis itu naik ke atas ranjang. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah pesan aneh yang baru saja masuk. Namun, yang mengherankan Sofia, pesan itu berasal dari ponsel sang nenek, yang selalu dimatikannya. Deg! Seketika jantung Sofia berdebar kencang. Hal ini sangat membuat dirinya takut. Sungguh berbeda perasaan Sofia, antara mendengar suara kasat mata, dengan kejadian pesan masuk ini. Segera dia membaca pesan aneh itu. {Sofia,  Sofia, Sofia. Aku akan menjadi kamu. Kamu akan menjadi aku} Sontak ponsel yang berada dalam genggamn tangan terjatuh begitu saja. Tubuhnya gemeteran seketika. Ini bukanlah sebuah permainan lagi.  "Si-siapa kamu? Kenapa kamu ingin jadi aku? Katakan!" Ting tung! Kembali terdengar ponsel Sofia yang berbunyi. Walau ketakutan mencekam. Dia berusaha untuk menguatkan hati dan pikiran yang terintimidasi oleh sosok ini. Saat ujung jarinya bergerak. Pesan itu langsung terbaca. {Sofia,  Sofia, Sofia. Aku akan menjadi kamu. Kamu akan menjadi aku} "Siapa kamu ini sebenarnya?! Kamu memang berniat membuat aku jadi gila ... ha?" teriak Sofia kesal. Buru-buru dia merogoh ponsel mendiang sang nenek, yang selalu berada dalam tas. "Aku harus nyalakan HP nenek!" Setelah menyala, Sofia merujuk pada kotak pesan keluar. Sang gadis langsung menjambak rambutnya sendiri.  "Kenapa ... kada ada di sini? Di Hp Nini, kada ada pesan itu? Kada ada pesan keluar sama sekali. Ini benar-benar aku merasa dipermainkan!" Kembali dia menyambar, ponsel miliknya. Sofia memperhatikan lagi pesan yang baru masuk. "Haaahhh?! Hilang? Kenapa kada ada di sini? Aku kada menghapusnya sama sekali." (Kada = tidak) Sofia merapatkan tubuhnya di sudut kamar. Dia menekuk kedua lutut, hingga menyentuh dagu. "Ini, kenapa jadi kayak gini sih? Apa aku gila?" Sofia meremat kepalanya dengan keras. Sesekali dia memukulinya. "Kenapa aku sampai kayak gini?" Sofia mulai sesenggukan. Tak tahu lagi, apa yang hendak dia lakukan. "Apa memang Sofia Hirang itu ada?" Tiba-tiba bibirnya tercetus kalimat itu. Teringat akan cerita tentang Irul. Bergegas Sofia menyambar kotak sepatu, yang berisi diary sang Mama, serta foto dirinya dan foto milik Irul. "Pasti Mama akan menulis sesuatu mengenai hal ini. Kada mungkin Mama diam aja. Pasti beliau tahu tentang semua ini. Pasti ada sesuatu yang bisa aku buat jadi sebuah petunjuk." Sofia mulai membuka lembaran pertama. Hanya tertulis nama Lidia Hasbiansyah. "Hanya ada tahun di sini. Tanggal pastinya, Mama kada menulisnya. Coba deh aku baca!" _Tahun 1993_ Pernikahanku dengan Mas Hasbi, sudah hampir sepuluh tahun lamanya. Tahun 1983, usia aku saat itu masih 19 tahun. Sedangkan Mas Hasbi, sudah hampir tiga puluh tahun. Jauh juga jarak usia kami.  Namun, ada sesuatu yang buat aku sedih sekali. Sampai detik ini, aku pun belum juga dikaruniai seorang anak. Walau Mama Mas Hasbi menginginkan dia menikah lagi. Tetap saja Mas Hasbi menolak masukan dari sang Mama dengan cara yang lembut. Sungguh bangga dan bahagia di pertemukan dengan seorang lelaki seperti kamu, Mas.  Semoga pernikahan kita langgeng dan bahagia selalu. Aku yakin di tahun ini, bisa hamil dan berikan anak padamu, Mas. _I love you, Mas Hasbi_ Sejenak, Pandangan mata Sofia tak bisa beralih dari lembaran pertama buku itu. _00_ Follow IG Raifiza_Lina
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN