Sejenak, Pandangan mata Sofia tak bisa beralih dari lembaran pertama buku itu. Termenung dalam sekian detik. Membaca ulang kalimat yang disusun oleh mendiang sang Mama dengan apik.
"Mama," desis Sofia. Sembari jemari tangan mengusap perlahan tulisan rapi itu. :Jadi, Mama sudah sepuluh tahun tak bisa punya anak? Lama juga ya."
Kembali Sofia membuka lembar berikutnya. Hanya terdapat gambar bunga dan seorang wanita, yang berdiri membelakangi. Tak mengerti dengan arti gambar itu. Sofia membuka lembar berikutnya. Kali ini dia melihat sebuah tulisan.
TIDAK ADA PILIHAN LAGI DAN HARUS DIAMBIL!
Sofia terus membaca ulang kata-kata yang singkat, dan tertulis dalam huruf kapital. Membuat dahi gadis tersebut berkerut-kerut.
"Apa maksud Mama menuliskan ini?" Sofia terus berpikir. "Hal apa yang membuat Mama tidak mempunyai pilihan? Apa adala masalah dengan pernikahan mereka?" tanya Sofia sembari mengingat kembali masa kecilnya dulu.
Dalam kenangannya saat itu, tak pernah dia melihat pertengkaran di antara keduanya.
"Papa sama Mama selalu mesra dan romantis," bisik Sofia ingin menyangkal pemikirannya sendiri. "Kurasa bukan tentang pernikahan mereka. Mungkin hal lain. Tapi, apa?"
Tak mau pusing sendiri. Sofia tak ingin berlama-lama, di lembaran tadi. Dia kembali menyibak lembar berikutnya. Ada beberapa tulisan yang tertera. Tampak dari tulisan tersebut, Lidia sedang bahagia.
**
Aku bahagia sekali. Saat dokter bilang, kalau aku hamil. Pas, di tahun ini juga. Hal yang pernah aku ucapkan dan akhirnya terjadi juga.
Walau banyak orang yang akan menentang terhadap apa yang aku lakukan. Aku tidak peduli. Hal terpenting dalam hidupku, adalah bayi dalam perut aku ini. Dia anak yang selalu kami tunggu dan rindukan.
Kalau kamu sudah lahir, Mama akan beri nama indah untuk kamu, Sayangku. Sofia Hasbi.
**
"Ohhh ... apa yang orang tentang, Ma? Kenapa di sini Mama kada menjelaskan sama sekali?"
Otak Sofia terasa semakin berputar-putar. Saat jemari tangannya beralih pada lembar berikutnya. Ada sebuah foto lama yang terseilp. Segera Sofia mengambil dan memperhatikan dengan seksama. Dua bola matanya melebar bulat, dengan perhatian yang terus tertuju pada foto dengan kertas yang mulai menguning.
"Pasti ini foto dulu, saat Papa sama Mama usai menikah" Seulas senyum mengembang di bibirnya. Sofia seakan turut bahagia melihat mereka yang senyumnya memancarkan kebahagiaan.
"Andai kalian masih hidup. Sebenarnya sakit apa kalian? Apa saat itu dokter kada bisa menyembuhkan kah, Papa? Kenapa kalian harus pergi selamanya meninggalkan aku."
Saat ingin melanjutkan di lembar berikutnya. Sofia memperhatikan kertas di balik foto. Betapa terkejutnya Sofia, saat menemukan foto lain.
"Wahhh, foto ini dempet?"
Segera Sofia mencungkit dengan kuku jempol. Hingga dia berhasil memisahkan kedua lembar foto. Sekali lagi senyum mnegembang lebar di wajahnya. Sebuah foto yang menggambarkan kebahagiaan mereka saat itu.
"Mama, kelihatan bahagia sekali. Pasti ini aku yang lagi digendong." Cukup lama Sofia mengamati foto itu. Hingga manik matanya menangkap sesuatu yang aneh. "Ini ... seperti sebuah bayangan," bisik Sofia tercekat.
Sofia pun mendekatkan foto, yang hanya dalam jarak beberapa inchi dari kedua mata.
"Ada bayangan hitam, seperti seseorang ini. Cuman, bayangan siapa waktu itu? Apalagi ini ada pas di belakang, di antara Mama sama Papa. Kenapa bayangan hitam ini mengikuti mereka?"
Lalu, gadis itu menggeleng beberapa kali. Seraya tak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Mungkin saja aku salah. Tapi, bayangan ini benar-benar terlihat." Suara Sofia berbisik. Setelah mengamati foto tersebut. Dia melanjutkan kembali menjelajahi buku diary sang mama.
Kali ini, dia kembali melihat sebuah gambar, yang digores dari tinta hitam. Dua orang gadis kecil berambut panjang. Saling berdiri membelakangi. Namun ada jarak di antara kedua gadis itu. Saat Sofia perhatikan lagi. Ada perbedaan di antara keduanya.
"Yang satau, rambutnya lurus panjang, dibiarkan terurai. Sedangkan yang satunya lagi, di kepang dua, dikasih pita lagi."
Saat tersadar, Sofia langsung meraba rambutnya sendiri. Dari penggambaran coretan dua gadis kecil di dalam buku tua itu. Sofia tahu, kalau keduanya adalah dirinya sendiri. Dia sering mmebiarkan rambutnya lepas. Akan tetapi, papanya sangat menyukai bila rambut Sofia diikat atau dikepang dengan rapi.
"Ahhh!" Sofia menyandarkan tubuhnya. Kepala Sofia kembali berdenyut hebat. "Ini makin membuat kepalaku sakit."
Tak berlama-lama dengan buku diary itu. Dia segera menutupnya, dan mulai merebahkan diri. Mengambil beberapa bantal dan guling untuk sedikit meredakan nyeri di kepala.
"Allahu Akbar! Apa yang sebenarnya terjadi sama aku dan keluarga aku dulu?" Pandangannya tampak hampa. Sofia menilai buku diary sang mama terlalu banyak tebakan, yang harus dia buktikan.
"Buku ini sudah puluhan tahun umurnya. Tapi, kenapa bayangan hitam ini sudah ada semenjak aku bayi?"
Teringat akan fotonya yang di pantai. Buru-buru Sofia, bangkit dari rebahan. Dia meraih kotak yang tak jauh darinya. Lalu, menumpahkan semua isi yang berada dalam kotak sepatu.
Jemari tangan Sofia langsung meraih sebuah foto yang bergambar dirinya. Segera gadis itu, mensejajarkan dua foto. Foto ketika dia masih bayi dan foto ketika dia berumur antara 8-10 tahun.
"Bayangan ini selalu ada. Apa mungkin karena bayangan orang lain dari pantulan cahaya matahari? Cuman, yang bayi ini, posisi berada dalam ruang studio. Aneh aja kenapa bayangan gelap ini sangat tampak?"
Berulangkali Sofia mengembuskan napas panjang.
"Aku harus tanyakan sama Paman Botek. Dia tahu segalanya." Tampak Sofia berpikir keras. Lalu menggeleng, seakan menolak pemikirannya. "Jangan, Paman! Pasti Paman ada yang ditutupi. Atau aku harus mencari tahu dari tetangga sekitar. Kalau ke rumah Nini Amas, pasti Paman akan marah." Terlihat Sofia mengetuk kepalanya berulang-ulang.
"Nah, Mamak Eno! Pasti kurang lebih dia seumuran Mama. Aku yakin Mamak Eno juga tahu tentang cerita rumah ini, dan keluarga Hasbi."
Tak menunggu terlalu lama. Gadis itu segera turun dari ranjang. Mengambil jaket yang tadi dia lempar begitu saja di atas kasur. Tak lupa dia membawa ponsel dan dua foto aneh itu.
Bergegas langkah lebarnya meninggalkan kamar, menuju ruang tamu.
Tring tring tring!
Sontak Sofia menoleh ke arah belakang, tepatnya di dapur. Namun, dia abaikan. Seolah tak mendnegar suara sendok yang seakan menghantam piring atau pun gelas beling.
"Aku harus ke rumah Mamak Eno. Aku tahu kalau itu, kamu yang memeprmainkannya," ucap Sofia berbisik. Hingga dia berlari kecil menuju rumah tetangga terdekatnya. Yang berjarak 20 kilo meter.
"Huuufhhh! Ternyata lama juga aku kada olahraga nah."
Terdengar napas tang tersengal-sengal.
"Assalamualaikum, Mamak Eno!" teriak Sofia. Dia pun mengulang lagi salamnya. "Asssalamualaikum!"
Tak lama, terdengar pintu yang terbuka perlahan. Muncul Eno yang keheranan melihat ke arahnya.
"Waalaikumsalam. Ada apa Sofia?" Masih di ambang pintu.
"Mamak kamu ada?":
"Masih sholat Isya. Memang ada apa mau ketemu Mamak?"
Belum sampai Sofia menjawab. Seorang wanita sudah berdiri di belakang Eno, gadis sumuran Sofia.
"Kamu ini ada Sofia kok kada disuruhnya masuk. Kenapa kamu ini?"
Bergegas Mamak Eno keluar rumah, untuk menghampiri Sofia.
"Ayo masuk, Sofia! Pagarnya kada dikunci kok."
"Iya, Mamak Eno. Makasih."
Wanita paruh baya yang sangat ramah dan baik itu, mempersilakan Sofia masuk rumah.
"Eno buatkan teh buat Sofia."
"Kada usah, Mamak Eno. Ulun kan bukan tamu," sela Sofia menolak halus. (Ulun = saya)
"Ada apa ini?" Sekilas wanita tersebut melihat arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
Tanpa menjawab, Sofia langsung meletakkan dua foto di atas meja.
"Tolong Mamak Eno perhatikan dua foto ini! Apa Sofia yang salah, atau kah memang benar adanya kayak begini." Lalu, Sofia menoleh pada Eno yang ikut memperhatikan. "Eno juga boleh lihat dua foto ini, dan katakan apa yang tampak!"
_00_