TIGA PULUH TAHUN LALU

1008 Kata
"Apa Abah seriusan mau bilang sama Sofia yang sebenarnya?" "Iya, Mamak. Kasihan dia! Selama di sini dia menderita terus. Aku sudah kada bisa pegang janjiku lagi pada Bu Lidia. Maafkan aku, bila nanti aku ingkar. Demi anakmu juga." "Abah! Pikirkan dulu jangan gegabah!" "Aku sudah pikirkan hal ini sejak kedatangan dia, Mina." "Bukannya waktu itu, Abah bilang, kalau ingin menyelamatkan Sofia dengan tak bercerita padanya?"  Sejenak lelaki itu duduk di pinggiran ranjang. Tarikan napas yang berat terdengar dari tubuhnya yang tak lagi muda. Membuat Mina duduk menemani di sebelahnya, dengan pandangan nanar. Berulangkali dia mengusap punggung suaminya. Berharap bahwa ini bukanlah suatu keputusan yang salah. "Aku sudah yakin, Mak. Bahwa ini memang yang benar. Aku kada bisa melihat Sofia kayak itu terus. Dia meraba apa yang sebnarnya terjadi dnegan masa lalu keluarganya. Mungkin dia akan marah, dengan semua yang aku katakan nanti. Pikirku itu jauh lebih baik, dari pada aku kada bilang sama sekali." "Apa pun keputusan Abah, aku akan dukung selalu. Insyaallah, ini memang yang etrbaik untuk Sofia." Paman Botek manggut-manggut. Setelah mengenakan pakaian rapi, dia keluar kamar. "Aku berangkat dulu, Mina!" "Iya, Bah." Melihat kedatangan Paman Botek. Sofia tersenyum lebar. "Kita berangkat sekarang Paman?" "Ayok!" "Acil, Mina kada ikut?" "Kada, biarin aja selesaikan memasaknya, Sofia. Nanti habis maghrib, Acil ke sini." "Sama siapa?" "Diantar Maman. Dia memang tukang ojek." "Ohhh, ya sudah kalau gitu." Sofia berlari ke arah dapur, dan berpamitan pada MIna, yang masih sibuk memasak. "Sofia, berhati-hatilah ya." "Iya, Acil." (Acil = tante) Mobil telah melaju meninggalkan rumah Mina, yang termenung di ambang pintu. "Semoga semuanya cepat selesai, Sofia," bisik Mina. Dalam perjalanan yang singkat, tak banyak percakapan yang terjadi. Sengaja Eno memarkir motornya di luar halaman. Tepatnya di depan pagar. "Enggak kamu masukin?" tanya Alam menoleh pada Eno. "Kada, Mas. Biar aja di situ, nanti mau dipakai mamak ke rumah temannya." "Ohhh." Mereka berjalan memasuki rumah mengikuti langkah Paman Botek. Sofia langsung menggelar karpet yang tergulung dengan rapi, di ruang tengah. "Di sini saja kah, Paman?" "Iya, Sofia." Lelaki itu mulai duduk bersila. Dari wajahnya tampak sangat serius, sampai tidak ada satu pun di antara mereka yang berani bicara. "Sebelumnya, aku minta tolong kalian yang mendengarkan cerita aku ini, berjanjilah pada hati kalian untuk tidak menceritakan apa yang aku sampaikan nanti." "Baik, Paman!" sahut mereka serempak. "Sofia, sebelumnya Paman mau minta maaf. Dari awal kada menceritakan semuanya sama kamu. Sekali lagi Paman minta maaf, karena berkaitan dengan janji yang sudah Paman ikat bersama Bu Lidia, Mama kamu!" Sofia menunduk dengan manggut-manggut. Dia tak sanggup untuk melihat wajah Paman Botek yang terlihat sedih. Sofia hanya tidak ingin menangis, karena yang akan dia ceritakan ini tentang masa lalu orang tuanya. _Tiga puluh tahun yang lalu_ Botek bisa melihat kegelisahan Lidia beserta Hasbiansyah. Hampir sepuluh tahun lamanya mereka menanti momongan , tak kunjung hadir. Apalagi tekanan batin Lidia, di mana dia harus menghadapi keluarga mertuanya. Yang selalu mengintimidasi soal anak. "Sudahlah, Lidia! Kamu jangan sedih kayak gini. Bukannya sudah aku tegaskan sama Mama aku. Kalau aku menolek rencana menikah lagi. Iya 'kan?" "Tapi, Pa. Hatiku ini masih sakit. Mama kamu selalu menuding aku lah pembawa sial. Aku yang tidak bisa punya anak. Ini tuh ... sangat menyakitkan buat aku, Pa!" Hasbi langsung memeluk sang istri dan berusaha untuk menenangkannya. "Botek!" teriak Hasbi tiba-tiba. Lelaki yang menjadi pelayan di rumah itu selalu siaga. Ke mana pun keduanya pergi, dia selalu berada di dekat mereka. "Ada apa, Pak Hasbi?" "Apa kamu tahu dukun bayi?" Pertanyaan yang sempat membuat Botek tercengang dan juga bingung. "Aku pernah mendengar kalau ada orang pintar yang bisa menarik bayi, apa benar itu Botek?" "Memang ada, Pak. Cuman, itu hanya aliran sesat Pak Hasbi. Ilmu iblis yang mereka gunakan. Sebuah dosa besar kalau sampai kita melakukannya." "Diam! Jangan mengajari aku, Botek! Apalagi kalau soal dosa! Paham kamu?!" Suara Hasbi menggelegar. Membuat Botek hanya bisa tertunduk dalam. Dia tidak ingin apa yang ada dalam pikiran majikannya itu, sampai terwujudkan.  "Ma-maafkan saya Pak Hasbi. Tidak ada niat untuk menggurui atau juga mengajari. Tidak ada sama sekali. Saya--" "Sudah, cukup, Botek! Aku tidak mau berdebat sama kamu, paham" "Iya, Pak Hasbi." "Kamu itu cuman cukup menjawab aku saja. Ada atau tidak?" "A-ada, tapi saya tidak tahu di mana Pak." "Cari tahu!" "Ta-tapi, Pak Hasbi?" "Cari tahu secepatnya, Botek!" Lidia yang masih terisak dalam pelukan Hasbi, mengusap d**a sang suami. "Jangan terlalu kasar dengan Botek, Pa. Dia sangat setia dan baik sekali pada kita. Jangan pernah lagi Papa bentak dia ya?" "Apa pun demi kamu Lidia, akan aku lakukan semuanya. Biar pun nyawaku sebagi imbalannya." "Husssst! Papa ngomong apaan sih? Aku enggak suka!" Hasbi mengusap rambut sang istri. Dia melihat sekelebat Botek yang hendak pergi. "Botek kemarilah!" Hasbi memanggilnya dengan intonasi merendah.  "Kamu mau tanya ke mana?" "Ada, Paman saya ada yang tahu soal ini, Pak." Lidia terkesiap. Ternyata ini bukanlah hal yang main-main. "Jadi, ini memang beneran ada?" ulang Lidia heran. "Memang ada, Bu. Hanya saja ... ini perjanjian dengan setan. Dengan iblis, saya rasa Ibu lebih mengerti maksud saya." Berharap bahwa Lidia terketuk hatinya untuk tidak menyambut niat dari sang suami. Namun, apa yang dia perkirakan malah sebaliknya. Lidia malah lebih bersemangat. Dia lebih antusias. "Kalau begitu segera cari ya, Botek. Ini akan menjadi tanggungan dan resiko kami. Kamu hanya cukup mencarikan saja." Botek pun tak bisa berbuat banyak. Selain melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Lidia dan Hasbi. "Aku berharap kamu segera mendapatkan kabar baik, Botek!" Seraya Lidia berbisik. "Cuman ingat! Kamu harus memegang janjimu pada kami, Botek. Bahwa ini adalah hal sangat rahasia. Bahkan bisa ditukar dengan nyawamu. Kuharap kamu bisa memegang kepercayaan yang kami sampaikan kepadamu, Botek. "Baik,Bu Lidia." Di malam itu juga, Botek pergi mengendarai motor menerjang derasnya hujan yang lebat. Walau hatinya berontak dan melawan, tetap saja dia tak mampu untuk menolak. "Mereka terlalu baik padaku selama ini. Aku kada sanggup rasanya  tak menjalankan apa yang mereka minta. Walau aku juga tahu, bagaimana penderitaan Ibu Lidia, selama ini." Deru motor beradu dengan deru napasnya yang memburu. Sesekali Botek menengadahkan wajahnya ke atas. Agar air hujan menyapu kesedihan hatinya saat ini. "Aaaarghhh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN