RAHASIA APA YANG DISIMPAN (?)

1035 Kata
"Apa Paman Ali mengenal seorang cowok, seumuran kayak Mas Alam ini? Rambutnya diikat, tinggi orangnya." "Enggak pernah tahu dan enggak pernah kenal Sofia, memang kenapa?" "Tadi ulun bertemu cowok kayak gitu, pas mau ke sini, Paman. Dan, kayaknya dia juga tahu semua seluk beluk permasalahan Sofia juga. Bahkan apa yang terjadi secara pribadi dengan Mas Alam, dia juga tahu Paman. Ulun  jadinya bingung. Ini semua kayaknya aneh buat ulun." (Ulun= saya) "Paman juga kada tahu soal ini, Sofia. Mungkin bisa juga dia memang berniat baik. Tapi, apa yang Sofia lakukan ini sudah benar." "Iya Paman." Paman Ali beranjak dari tempat dia duduk. "Sofia, Paman mau kasih kamu sesuatu. Tunggu sebentar di sini!" "Iya, Paman." Tak lama setelah mengambil suatu barang dari kamarnya, Paman Ali sudah duduk kembali bersama Sofia dan yang lain. "Pakailah ini!" "Kalung?" "Kalung ini dari kayu gaharu, yang ada bacaan doanya. Dulu, aku diberi sama guruku, Sofia. Entah, sejak aku menyarankan kamu mencari Kai Ansyah, jadi kepikiran. Apalagi yang kamu hadapi itu bukan lah sesuatu yang mudah." "Terima kasihlah Paman. Sofia pakai sekarang juga." Dibantu Alam, Sofia pun memakai kalung yang berupa butiran seperti tasbih hanya saja lebih panjang. Dengan liontin bulat berwarna hitam. "Itu pun liontinnya dari kayu gaharu juga, Sofia." "Apa ini bisa menangkal pengaruh sosok itu, Paman?" "Bisa!" Sofia terus memperhatikan liontin yang ada di ujung jarinya. "Kalau semisal kalung ini dipakai Mas Alam gimana Paman?"  Sontak Paman Ali menggeleng. "Kada bisa Sofia. Kalung ini sudah aku niatkan buat kamu!" Gadis itu pun hanya manggut-manggut, seraya melirik pada Alam. "Cuman untuk Mas Alam, bisa pegang ini!" Lelaki itu melepaskan batu akik yang menjadi cincin. Dia meletakkan di lantai. "Ambillah, dan pakai. Biar Mas Alam bisa melihat perbedaan antara Sofia dan makhluk itu. Dia akan terus mengejar Mas Alam, sampai kapan pun. Termasuk juga kamu ... dan kamu!" sambil menunjuk pada Eno dan Aulia. Kedua gadis itu pun tersentak. "Maksudnya apa Paman?" tanya Eno penasaran. "Siapa pun yang dekat dengan Sofia, maka dia juga akan jadi incaran sosok itu!" Seketika Aulia bergidik ketakutan. "Terus, kami neggak dikasih kayak Aulia dan Mas Alam juga, Paman?" "Tenang saja. Sosok itu fokusnya ke Sofia, selama dia masih hidup." Mereka berempat saling berpandangan. "Selama ulun masih hidup?" "Iya, selama kamu masih hidup, dia akan terfokus pada kamu Sofia. Makanya kamu harus segera ke rumah yang disarankan oleh Kai Ansyah itu! Jangan sampai lupa juga. Tolong tunjukkan liontin yang dimiliki sama orang tua kamu. Yang dari batu hitam." "Ba-baik, Paman." "Kondisi kamu akan pulih dengan sendirinya, selama sosok itu tak berani emndekat atau merasuki kamu lagi. Dan ingat hal ini! Kuatkan ibadah kalian! Hanya itu yang bisa aku sarankan. Semua yang aku beri tadi hanya sebagai sarana saja. Karena masih ada sebaik-baiknya pelindung untuk umat manusia, yaitu kekauatan Allah." "Iya, Paman." "Sekarang kalian pulang, setelah Shubuh. Kalian berangkatlah, cari Abah Gambut!" "Baik, Paman." "Untuk Mas Alam, kalau selama perjalanan ada rasa sakit coba tarik napas dalam-dalam, sambil baca sholawat yang banyak ya!" "Baik, Paman Ali." Setelahnya mereka pun berpamitan. Sofia masih tercenung mendengarkan apa yang dikatakan oleh Paman Ali. "Jadi, sosok itu mnegnginkan kematian aku. Sebagai gantinya dia akan mengambil ragaku," desis Sofia lirih. "Jangan sampai itu terjadi!" sahut Aulia. "Yup! Jadinya kamu yang harus lebih tegar lagi." Sofia pun manggut-manggut. "Apa dia mengincar aku cuman untuk menyakitin kamu, Sofia?" tanya Alam tiba-tiba. "Sepertinya kayak gitu, Mas Alam." Langkah mereka berhenti, di depan mobil yang diparkir. "Sekarang pasti besok setelah Shubuh kita berangkat, Sofia?" tanya Eno, smabil menggamit lengannya. "Iya, En. Kita sebelum pulang mampir dulu ke rumah Paman Botek dulu ya. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya beliau." "Iya, Sof. Sekalian kita pamitan juga!" sahut Alam. Perjalanan tak terasa, sampai mobil kembali berhenti did epan rumah Paman Botek. Dari pintu yang terbuka lebar, mereka yakin kalau Paman Botek ada di rumah. "Assalamualaikum!" "Waalaikumsalam!" Paman Botek buru-buru berjalan keluar dan menyambut mereka dengan senyum lebar. "Habis dari mana kalian ini?" "Dari jalan-jalan sama cari makan, Paman," sahut Sofia. Sengaja dia berbohong. "Masuklah kalian!" "Bagaimana sama Acil Mina, Paman?" (Acil = tante) "Alhamdulillah, Acil  sudah sehat. Tuh udah masak juga, katanya buat kirim ke kamu Sofia." Segera Sofia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. "Acil Mina!" Wanita itu langsung berbalik dan menepuk lengan Sofia. "Kapan datang?" "Baru aja, Acil. Kenapa masak? Kan Acil baru aja sembuh." "Udah enakan badan Acil ini, Sofia. Aku masakin buat kamu. Rencana sorean kami ke sana." "Kada usahlah Acil. Istirahat aja dulu." "Kada apa-apa kok. Udah, kamu duduk di depan aja." Tak bisa menolak dan mengelak lagi, Sofia pun berjalan menuju ruang tamu. "Paman, ulun ini mau pamitan." "Pamitan mau ke mana?" "Ulun mau ke kota Intan. Mau menuntaskan perjalanan kemarin yang belum selesai, Paman." "Empat sampai lima jam itu dari sini. Kalian bisa bawa mobil itu!' 'Iya, Paman." "Tapi, Paman melihatnya kamu ini agak tak sehat Sofia. Kulit wajah kelihatan pucat, terus dalamnya mata itu pun kelihatan  redup. Apa tadi malam ada kejadian?" "Ya, kada bisa tidur aja, Paman. Apalagi, sosok Sofia Hirang mulai terang-terangan meneror kita lagi. Terutama ulun dan Mas Alam." Lelaki tua itu tertunduk dalam-dalam. Dan tak biasanya, dia menangis terisak. "Maafkan Paman, Sofia. Yang kada jujur dari awal. Sekali lagi, maafkan Paman!" "Ada apa ini, Paman?" Lelaki itu menangis tergugu. "Baiknya kita ke rumah kamu sekarang Sofia! Ada yang ingin Paman katakan sama kamu!" Sofia dan yang lain sampai tidak bisa berkomentar. Mereka bingung dan terkesiap melihat Paman Botek yang tiba-tiba menangis. "Paman, kada pernah sangka, kalau smeua ini akan membawa pada penderitaan kamu!" "Sebenarnya ini soal apa Paman?" "Aku kada mau ceritakan kalau belum sampai di rumah itu! Karena aku harus mengingkari janji pada Bu Lidia!" "Mama?" "Iya, Mama kamu." "Kalau gitu, berangkat sekarang Paman!" ajak Sofia sambil terus meneatap tajam pada manik mata lelaki tua itu. "Tunggulah! Aku berganti pakaian dulu!" Saat itu, Acil Mina turut masuk kamar. "Apa Abah seriusan mau bilang sama Sofia yang sebenarnya?" "Iya, Mamak. Kasihan dia! Selama di sini dia menderita terus. Aku sudah kada bisa pegang janjiku lagi pada Bu Lidia. Maafkan aku, bila nanti aku ingkar. Demi anakmu juga." "Abah! Pikirkan dulu jangan gegabah!" "Aku sudah pikirkan hal ini sejak kedatangan dia, Mina." "Bukannya waktu itu, Abah bilang, kalau ingin menyelamatkan Sofia dnegan tak bercerita padanya?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN