RUMAH PAMAN ALI

1019 Kata
"Kada sih, Bang. Cuman ... Sofia heran aja, kenapa bisa Abang tahu semuanya?" "Berarti ada seseorang yang kasih tahu aku. Itu jawaban termudah dan paling sederhana yang bisa kamu cerna. Iya 'kan?" 'Hufhhh! Ini cowok menghina banget sih. Dikiranya aku bodoh gitu?' gerutu Sofia dalam hati. "Enggak usah menggerutu seperti itu, tidak baik!" Spontan Sofia tersedak sampai terbatuk-batuk. Dengan cepat jemari tangan lelaki menggeser segelas air putih yang masih utuh ke hadapannya. "Minumlah!"  Dengan cepat Sofia meraih gelas dan meneguknya sampai setengah. "Sekarang kamu ikut aku, atau kamu tetap pada tujuan kamu semula?" Pertanyaan lelaki asing ini, membuat Sofia semakin keheranan. Dia bingung harus menentukan apa? Sesekalai dia menoleh ke arah Alam, Eno dan Aulia yang tengah memandangnya penuh kekhawatiran. "Kamu enggak percaya sama aku?" "Iya. Apa aku salah? Kamu orang asing yang selalu membuntuti, tiba-tiba mau ajak aku pergi hanya berdua sama kamu. Itu 'kan aneh jadinya." "Ya, sudah. Silakan kamu temui orang yang ingin kalian temui. Pastinya rumah orang itu sudah dekat dari sini. Benar?" Sofia mengangguk.  "Pastinya aku akan menemui kamu lagi." "Buat apa? Kalau kamu kada bisa bantuin aku melenyapkan sosok itu, yang terus meneror, sebaiknya jangan ganggu aku lagi. Paham?" Sofia pun bersiap bangkit dan hendak meninggalkan meja. Namun, gerak tangan lelaki asing itu lebih cepat menahan pergelangan tangan Sofia. "Apaan sih?" sentak Sofia terkesiap. Dia cukup terkejut lelaki itu sudah menahan tangannya. "Berhati-hatilah! Yang kamu hadapi ini bukan makhluk ghoib, yang mudah untuk dikalahkan atau disuruh pergi dari rumah kamu begitu saja. Pastinya dia akan mengambil korban. Ingat itu, Sofia!" Sesaat Sofia tercenung dengan semua perkataan sang lelaki, yang meninggalkan meja dan dirinya yang masih kebingungan. "Siapa dia?" desis Sofia, tatap mata terus mengekor pada sosok jangkung itu. Tak lama mobilnya pun pergi meninggalkan warung makan ini. Dengan wajah lesu dan tertunduk. Sofia duduk dengan perasaan yang tidak tenang. "Siapa dia Sofia?" Pertanyaan Aulia hanya dijawab dengan gelengan. "Aku juga kada paham siapa dia. Cuman dia tahu banyak tentang aku semuanya. Ini yang bikin aneh dan heran. Bahkan ini tadi dia mau ajak aku, entah ke mana. Kada jelas juga, makanya aku kada maulah! Bisa hilang aku kayak apa coba." "Terus? Kamu menolak dia kayak mana?" Eno terlihat penasaran juga. Begitu pun Alam yang hanya memandang serius pada kekasihnya. "Terus dia enggak bilang apa-apa?" lanjut Aulia. "Ya, dia tahu semua yang terjadi sama aku dan juga apa yang terjadi di rumah itu, termasuk tentang Mas Alam juga. Dan dia juga bilang, aku disuruhnya berhati-hati pada sosok Sofia Hirang itu." Sofia sejenak menarik napas dalam-dalam. "Bahkan dia bilang, ikut aku apa tetap pergi ke Paman Ali? Aku 'kan juga bingung. Ngerasa kada kenal sama dia juga iya 'kan?" "Udah benar keputusan kamu ini, Sofia. Kalau memang dia berniat membantu bukan malah bikin teka teki kayak gitu." "Aku sependapat sama Mas Alam. Memang terlalu aneh sih, kita juga neggak tahu niat dia apa sama Sofia. Kalau orang baik sih enggak apa-apa. Kalau jahat itu loh?"  "Ya, udah. Kita makan dulu aja!" ajak Eno. Mereka pun segera menikmati hidangan yang mulai dingin. Sepuluh menit berlalu. Hujan deras pun mulai reda. Bergegas Eno menuju mobil dan langsung menyalakannya.  "Kita jalan ya!" ucap Eno. "Yup!" sahut Sofia.  Mobil kembali melaju menuju rumah Paman Ali. Lima belas menit berselang, mobil telah memasuki perkampungan di atas sungai. Rumahnya pun yang tidak terlalu ramai. "Ini kada bisa masuk sampai rumah Paman Ali. Soalnya melewati jembatan kalau ke sana."   "Terus, mobil kamu gimana Eno?" tanya Alam. "Ada tanah lapang, kada terlalu luas sih. Nanti bayar di sana aja." "Oke." Di sebuah tanah lapang yang tak terlalu luas. Sengaja Eno membelokkan mobil untuk parkir di sana. Melihat kedatangan mobil mereka, salah seorang anak muda berlari menyambut mereka. Dia mengarahkan Eno untuk parkir di tempat yang telah ditentukan. Sengaja Sofia menurunkan jendela mobil, "Berapa kak?" "Satu jamnya dua puluh ribu, Kak." "Oke." Mereka pun turun dan mulai berjalan mengikuti Eno yang sangat paham daerah sini. "Kamu masih hapal rumahnya, En?" "Hapal lah. Dulu ada saudara aku yang tinggal di sini, cuman sekarang dia udah pindahan. Makanya aku hapal seluk beluk sini." Mereka mulai menyusuri jembatan kayu, yang memang jadi penghubung antara rumah warga.  "Itu yang dicat warna biru, rumahnya Paman Ali." Eno menunjuk ke arah lurus. "Berarti sudah dekat," sahut Aulia. Tak lama, mereka telah berdiri di depan pintu rumah. Tok tok tok! "Assalamualaikum!" "Waalaikkumsalam." Paman Ali tertegun sekian detik saat melihat kedatangan Sofia. "Ka-kamu, Sofia?" "Benar, Paman." "Ma-masuklah!" Lelaki itu menyuruh mereka segera masuk rumah. "Bagaimana bisa kamu ke sini, Sofia? Padahal baru saja aku berharap kamu datang." "Oh, ya Paman. Kenapa Paman Ali ingin aku datang kemari?" Lelaki itu tak langsung menjawab. Dia tertunduk beberapa detik. "Apakah kamu jadi mencari Kai Ansyah?" "Jadi, Paman." "Terus, gimana? Apakah beliau masih ada?" "Kalau Kai Ansyah, masih ada Paman. Yang sudah meninggal itu Kai Ibnu Ansyah, dia lah sebenarnya yang kita cari." "Terus?" "Kata Kai Ansyah ini, kita disuruhnya ke kota Intan, menemui Abah Gambut. Menurut beliau, ilmu Abah Gambut ini cukup tinggi. Menghadapi ilmu sosok itu."  "Lalu, apa yang terjadi sama kamu? Apa sudah menemui Abah Gambut ini?" Terdengar Sofia mengembuskan napas panjang. "Masih belum, Paman. Tunggu ulun sembuh dulu." (Ulun = saya) "Besok pagi, kamu berangkat saja. Jangan hiraukan badan kamu yang terasa payah. Memang sengaja dibuatnya kamu begitu!" Suara Paman Ali sampai bergetar. "Jadi, maksud Paman ini semua hanya perbuatan sosok itu?" "Iya, Sofia. Makanya secepatnya kamu harus menemui Abah Gambut. Kalau enggak, badan kamu makin lama makin melemah. Terus, kamu akan sakit. Hanya bisa berbaring di atas kasur saja." "Apa memag itu yang dia mau?" "Benar!" Sofia kembali tertunduk sedih. "Kenapa ini terjadi sama ulun ya, Paman? Kenapa?" "Sabarlah kamu Sofia! Ini memang ujian kamu!" Gadis itu mengusap kedua matanya dengan kasar. "Apa Paman Ali mengenal seorang cowok, seumuran kayak Mas Alam ini? Rambutnya diikat, tinggi orangnya." "Enggak pernah tahu dan enggak pernah kenal Sofia, memang kenapa?" "Tadi ulun bertemu cowok kayak gitu, pas mau ke sini, Paman. Dan, kayaknya dia juga tahu semua seluk beluk permasalahan Sofia juga. Bahkan apa yang terjadi secara pribadi dengan Mas Alam, dia juga tahu Paman. Ulun  jadinya bingung. Ini semua kayaknya aneh buat ulun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN