"Ehhh ... maaf, Mas. Aku ngerasa ada yang ngilihatin aja. Terus, kayaknya cowok itu sama yang waktu kita di KOta Baru."
"Yang bener?" tanya mereka bertiga serempak.
"Iya, aku enggak mungkin salah lihat!" tegas Sofia. Dia pun beranjak dari kursinya.
"Kamu mau ke mana?" Alam pun sudah berdiri seakan ingin mengikuti Sofia. Namun, kekasihnya mencegah.
"Mas Alam lihat saja dari sini. Biar Sofia selesaikan."
Namun Alam mencegah lengan Sofia, "Biarkan aku ikut!" Sofia terus menggeleng. "Enggak usah, Mas! Sofia tahu kok apa yang mesti aku lakukan. Dah, Mas Alam di sini saja."
Bergegas Sofia beranjak dari tempatnya, sebelum lelaki itu kabur lagi. Pandangannya hanya tertuju pada sorot mata tajam yang terkesan angkuh dan dingin. Walau terselip gamang dan ragu, di hati Sofia. Namun dia bertekad untuk menemui sosok lelaki asing itu.
"Semoga aku kada salah orang," bisik Sofia. Dia berusaha untu terlihat tegar dan kuat saat jarak sudah mulai mendekati meja sang lelaki.
"Permisi, Bang."
Sang lelaki mendongak pelan, dan memandang sekilas pada Sofia, tanpa ada terucap sepatah kata pun padanya.
"Ehhh ,,, apa saya mengenal Abang? Atau mungkin, Abang yang mengenal saya?"
Lelaki itu semakin mengerutkan dahinya. Kemudian, salah satu sudut bibirnya menyungging, sambil menggeleng.
"Maksudnya?" Tampak Sofia pun tak kenal menyerah. Dia terus mengejar lelaki untuk bicara.
"Aku tidak kenal!" Suara serak dan berat, terdengar tegas di telinga Sofia yang tak mampu melepaskan pandangannya dari sosok lelaki ini.
"Ta-tapi, kenapa Abang selalu ada dan selalu terlihat saat saya berada di mana aja? Kenapa? Apa sebuah kebetulan? Cuman kalau itu kebetulan, sangat aneh dan janggal, Bang. Apalagi saat kami sewa rumah, Abang terang-terang memantau rumah itu 'kan?"
Sekali lagi lelaki hanya memandang sekilas pada Sofia.
"Bersihkan diri kamu itu!"
"Haaahhh?!"
"Jangan melongo! Apalagi pacar kamu itu!"
Sofia menyipitkan mata, sambil menatap tajam.
"Saya kada paham Abang ini bilang apa?"
Lelaki itu mengembuskan napas kesal. Sofia mendengar embusan kasarnya.
"Ma-maaf kalau saya sudah mengganggu Abang, tapi tolong beri saya ini penjelasan. Siapa Abang ini?"
"Kalau kamu ingin tahu aku, ikut aku!"
"Ke-kema--"
Belum selesai Sofia menuntaskan kalimatnya, lelaki sudah memotongnya lagi.
"Tanpa teman-teman kamu itu, hanya kamu sendirian!" Kali ini, keduanya saling beprandangan. Manik mata mereka saling beradu tajam. Sofia hanya bisa terpaku tanpa tahu apa yang harus dia jawab dan putuskan.
"Saya kada bisa menjawabnya, Bang. Kada bisa juga putuskan dengan cepat. Saya kada tahu siapa Abang ini, terus kalau nanti saya Abang culik gimana?"
Kembali lelaki itu mendengkus kasar. Sambil meneruskan isapan rokoknya. Asap mengepul di antara mereka, menjadi sedikit penghalang bagi Sofia untuk bisa kembali menikmati wajah tampan lelaki yang terlihat dingin ini.
"Kalau begitu, matilah kamu dalam kebimbangan dan rasa ingin tahu kamu!"
"Bisa kada, ngomongnya yang santai gitu? Tanpa banyak retorika bikin saya makin pusing!" tegas Sofia mulai kesal. Raut wajahnya terlihat gusar dan hendak meninggalkan lelaki.
"Apa kamu akan membiarkan semua teman dekat yang saat ini berada di meja itu mati?!"
Suaranya terdengar pelan tapi menusuk kalbu Sofia. Membuat sang gadis menghentikan langkahnya dan berbalik, "Maksud kamu ini apa? Mau ancam saya?"
"Mana ada kaliamat ancaman Nona? Aku hanya bilang apa kamu ingin biarkan teman kamu mati, terlebih pacar konyol kamu itu? Yang memang sengaja mengambil kenikmatan bersama sosok kamu yang lain?"
Deg!
Jantung Sofia berdebar kencang. 'Dari mana dia tau?' batin Sofia, dengan mendekati meja lelaki. Yang tersenyum dingin padanya.
"Kamu penasaran juga akhirnya. Atau ingin berkalang rasa mati akan kehidupan yang kamu alami saat ini?"
"Katakan sekarang juga! Dari mana kamu tahu tentang kisahku ini!" tegas Sofia mengindahkan kesantunan yang tadi dia jaga. Dia lepaskan pengucapan kata SAYA, untuk berniat menghormati lelaki sombong itu. Yang ternyata semakin membuat gadis semakin jengkel.
"Duduklah!"
"Kada! Cukup aku berdiri saja, dan bilang sekarang juga!"
Kali ini Sofia jauh lebih tegas dari sebelumnya.
"Duduk!" Suara lelaki itu lebih kencang menyuruhnya. Dengan tatapan penuh kekesalan, dengan terpaksa Sofia mengikuti kemauan lelaki asing itu.
"Nah, kalau aku omong ikuti!"
"Haaahhh?! Memang Abang ini siapa aku ... haaa?"
Kembali lelaki itu mneyeringai dan memalingkan wajahnya. Bibir hitamnya menyedot lama rokok yang berada di sela jari-jarinya. Membuat Sofia makin geram.
"Bisa kada itu rokoknya dihentikan?" Lelaki melirik pada Sofia. "Kepalaku pusing kena asap rokok, tahu?"
Mendengar kalimat itu, dia menghentikan rokoknya dan membuang dalam asbak.
"Kamu mau ke mana?"
Sofia hanya bisa melongo.
"Apa ... aku harus menjawab juga?"
"Jangan balik tanya! Jawab yang aku tanya, dan lakukan yang aku minta, titik!"
"Ahhh!" Sofia semakin kesal menghadapi lelaki ini. "Aku mau ke rumah Paman Ali."
"Untuk apa?"
Kali ini kedua tangan Sofia mengepal kuat. Dia berpikiran kalau salah orang. Hanya saja lelaki ini tahu apa yang tengah dia hadapi. Sang gadis mencoba untuk tetap bertahan dengan rasa kesal yang terpendam.
"Enggak usah pakai cemberut, kesal, marah atau persaan buruk lainnya padaku, Nona."
"Kada usah pakai Nona, cukup panggil Sofia!"
"Langsung aja jawab, apa tujuan kamu ke sana?"
"Hemmm ... aku ingin bertanya tentang rumahku lagi. Semalam aku dan teman-teman merasakan gangguannya semakin menjadi-jadi."
"Karena lelaki itu mudah tergoda. Pacar kamu memang membiarkan dia datang untuknya, sampai sosok itu ingin menguasainya. Dan membuat dirimu lemah, dan mengambil alih raga kamu."
Seketika Sofia tercengang dengan semua penjelasannya.
"Da-dari mana kamu bisa tahu semua ini? Katakan sama aku, Bang!"
"Tidak perlu tahu. Sebelum ke Paman Ali itu, ke mana kamu ingin pergi?"
"Aku ingin cari rumah Abah Gambut. cuman kondisi aku masih belum memungkinkan perjalanan jauh."
"Sampai kapan pun kamu akan mengalami hal yang sama. Bahkan badan kamu akan semakin lemah."
Sofia memandang sang lelaki tanpa jeda sedetik pun. Hingga dia tidak tahu lagi apa yang akan disampaikannya. Lelaki ini tahu semua yang terjadi dengan dirinya.
"Bagaimana Abang bisa tahu semua? Apa ... Abang seorang dukun gitu?"
Sontak pertanyaan Sofia mmebuat lelaki tergelak.
"Perhatikan tampilan aku ini, Nona cantik! Apa aku terlihat seperti dukun?"
Sofia menggeleng pelan.
"Kada sih, Bang. Cuman ... Sofia heran aja, kenapa bisa Abang tahu semuanya?"
"Berarti ada seseorang yang kasih tahu aku. Itu jawaban termudah dan paling sederhana yang bisa kamu cerna. Iya 'kan?"
'Hufhhh! Ini cowok menghina banget sih. Dikiranya aku bodoh gitu?' gerutu Sofia dalam hati.
"Enggak usah menggerutu seperti itu, tidak baik!"
Spontan Sofia tersedak sampai terbatuk-batuk. Dengan cepat jemari tangan lelaki menggeser segelas air putih yang masih utuh ke hadapannya.
"Minumlah!"