"Sakit gimana?" tanya Eno ikutan panik.
"Kayak ... Ada yang menarik rambutku dari belakang. Sakit sekali, Eno!"
Belum sampai Eno dan Iwan memeriksa, tubuh Sofia sudah terbanting ke lantai. Gadis itu sampai menjerit histeris.
"Kenapa kamu Sofiaaa?"
Aulia berlari ke arahnya. Dia membantu temannya itu untuk bangun. Saat menoleh, posisi mereka berada di depan cermin itu lagi.
Sofia kembali manatap cermin yang ada di hadapan. Dia mulai melihat seseorang yang berbeda di dalam cermin itu.
" Ka-kamu ... akhirnya datang juga!!" desis Sofia penuh kemarahan.
Mereka yang melihat Sofia bicara sendiri pada cermin, merasa aneh. Karena di antara mereka bertiga tidak ada yang bisa melihat, ada makhluk apa dalam cermin itu.
Tanpa ada yang tahu, Aulia mengambil ponselnya. Dia menyorot video pada arah Sofia dan cermin, sambil berharap ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuk Sofia nantinya.
Kini, Sofia merasa berhadapan dengan seseorang yang sangat mirip dengannya. Berwajah pucat, tanpa senyum sama sekali. Hanya menunjukkan aura dingin yang mencekam menyelimuti sosok itu. Sofia pun bisa melihat sorot mata yang kosong dan hampa, kini menyeringai padanya.
"Kamu menyerah atau--"
"Atau apa? Aku pastikan bahwa aku bisa menghancurkan dirimu Sofia Hirang."
Sofia yang dalam kemarahan, meninju cermin itu dengan kekuatan yang tinggi.
Bughhhh!
Praaakkk!
Kaca cermin itu tetap tak berubah. Tidak ada pecahan, bahkan retak pun tidak tampak sama sekali.
"Kamu pikir aku akan takut? Haaa ...?!"
Bughhh!
Untuk kedua kalinya Sofia mengarahkan hantaman kuat pada cermin itu. Bersamaan dnegan teriakan Alam yang ingin menghentikannya.
"Stop, Sofia. Hentikan!"
Gadis itu menoleh pada Alam. Dia hanya tersenyum, dan ....
Praaaaakkk!
Hantaman kuat Sofia, mampu membuat cermin itu sedikit retak.
"Kamu pikir aku tak akan bisa menghancurkan kamu, Sofia HIrang. Aku bisa dan akan aku buktikan itu!"
Dengan bercucuran darah segar dari tangan, Sofia berjalan lemah menuju kamar. Eno yang sigap langsung memapah tubuhnya. Yang langsung diambil alih oleh Alam, yang menggendongnya.
"Sebaiknya kamu jangan letih dulu, Sofia. Jangan seperti ini lagi!"
"Aku hanya ingin sosok itu tahu, aku tidak mudah untuk dia kalahkan begitu saja."
"Iya, Sofia. Apa yang dibilang Mas Alam tadi benar. Kita inginnya kamu sehat dulu," imbuh Aulia.
"Siapa yang bilang aku ini sakit? Badan aku kayak gini, gara-gara sosok Sofia Hirang. Dia buat aku kayak gini!"
Alam langsung merebahkan tubuh Sofia.
"Mas Alam, tetaplah di sini. Jangan kembali ke kamar kamu dulu, Mas."
"Iya, Sofia. Aku akan temani kamu kok."
Eno dan Aulia yang duduk di karpet, terus memandang ke arah mereka.
"Sebentar lagi adzan Shubuh. Bagaimana langkah ita selanjutnya, Sofia?"
"Aku ingin ke rumah Paman Ali."
"Paman Ali? Memangnya badan kamu bisa tahan selama naik jukung?" tukas Eno, memicingkan mata pada Sofia yang masih duduk bersandar. (Jukung = perahu tanpa motor)
"Apa jalanan ke rumahnya kada bisa dilewati mobil, Eno?"
"Bisa sih. Tapinya mutar jalanan kita."
"Lebih lama mana sama naik jukung?"lanjut Sofia.
"Hampir sama, mungkin malah lebih cepat naik darat kita."
Sofia pun manggut-manggut.
"Besok pagi kita tolak ke sana!"
"Kamu enggak apa-apa Sofia? Kondisi badan kamu masih lemah sekali ini," sahut Alam cemas.
"Insyaallah enggak, Mas. Semoga aku kuat."
"Ta-tapi, kenapa kamu tiba-tiba ingin ke rumah Paman Ali?"
"Entahlah, Eno. Hati aku ini ingin aja ke rumahnya. Mungkin dia juga berharap kalau kita datang ke sana juga."
"Apa dia orang pintar juga, kayak Kai Ansyah?" lanjut Aulia.
Sofia mengangguk pelan.
"Nini Amas yang mengenalkan kita, Lia. Dari dia juga aku tahu soal Kai Ansyah ini, dia yang suruh pergi ke sana."
Tak lama dari mereka berbincang, adzan Shubuh mulai terdengar. Aulia dan Eno pun bangkit untuk melaksanakan sholat.
"Kita gantian aja. Aku masih takut ada hal aneh kayak semalam. Sampai sholat aku jadinya kacau," ujar Aulia.
"Oke, biar Mas Alam yang temani Sofia duluan."
Setelah mereka bergantian untuk sholat Shubuh. Tepat pukul enam pagi, Eno sudah datang dengan membawa mobilnya.
"Kalian emang enggak ngantuk apa? Berangkat sepagi ini?" Aulia memandang mereka satu persatu.
"Kita nyetirnya gantian aja. Mas Alam bisa tidur duluan, biar aku yang nyetir."
"Kamu enggak ngantuk, En?"
"Kada, Mas. Mumpung masih belum ngantuk. Mungkin perjalanan satu jam an dari sini."
"Masuk ke luar kota kah?"
"Iya, Mas."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang mneuju rumah Paman Ali. Sengaja Sofia tidak mengajak Nini Amas, karena dia tidak ingin merepotkan. Selama perjalanan hanya Sofia dan Eno yang masih fokus pada jalan. Aulia dan Alam telah tertdiur pulas.
"Kamu kalau ngantuk bilang lho Eno."
"Siap, aku belum ngantuk. Kan semalam sempat tidur aku, sebelum bangun karena Aulia itu. Kamu apa capek, Sofia?"
'Enggak Eno. Malah lebih baikan."
"Apa karena kamu berada di rumah itu, Sofia?"
"Bisa jadi. Cuman kalau rumah itu kada aku huni, bisa makin merajai si Sofia Hirang. Ujungnya tetaplah dia mengganggu aku. Terus, keselamatan aku dan orang didekat aku pun pastinya dalam bahaya Eno, iya 'kan?"
"Benar juga, Sof. Aku pun pusing juga merasakannya."
"Semoga Paman Ali bisa kasih kita jalan keluar lagi, Eno."
"Iya, Sof."
Perjalanan menuju kampung sungai rumah Paman Ali, sedikit terhambat. Hujan deras mengguyur pagi ini. Sengaja Eno memperlambat laju kendaraannya.
"Mending cari makan dulu, Eno! Anginnya kencang juga lho ini."
"Oke, bentar. Kada kelihatan nah, Sofia."
"Mending berhenti di depan situ nah, Eno. Di belakangnya mobil itu."
"Oke."
Mobil telah berhenti. Sesaat Eno membuka ponselnya mencari rumah makan terdekat.
"Ini ada makanan khas Banjar, kayak apa Sof?"
"Terserah aja. Yang penting kenyang, terus bisa hangatin badan juga nah."
"Jaraknya dua kilometer dari sini."
"Berarti jalan?" tanya Sofia.
"Iya, pelan-pelan. Posisi warung makannya di sebelah kiri kok Sofia."
Di pagi ini, hujan lebat seakan ditumpahkan dari langit. Eno sangat berhati-hati. Pandangannya lurus ke depan. Sampai akhirnya warung makan yang mereka cari pun terlihat. Dengan cepat Eno membelokkan pada halaman yang cukup luas.
"Ehhh, kenapa kok berhenti? Apa udah sampai ini?" Alam terbangun dan terkejut saat melihat mobil sudah berada di halaman sebuah warung makan.
"Ayo, kita makan dulu!" ajak Sofia. Dia menepuk pelan bahu Aulia yang masih tertidur pulas. "Bangun Lia!"
"Haaahhh? Apa, Sof?"
"Bangun, Lia. Kita makan dulu nah."
Gadis itu langsung terbangun dan melihat sekelilingnya.
"Wahhh, hujannya deras juga nih," celetuk Aulia, sambil mengucek mata.
"Yuk, ahhhh! Kita turun!" ajak Eno yang langsung keluar mobil. Mereka pun mengikutinya. Sambil berlari kecil Eno mendapatkan meja paling sudut.
"Pesankan kopi latte aku," ujar Alam.
"Aku juga mau," sahut Aulia bersamaan dengan Sofia. "Ehhh, Sofia kamu kok udah kelihatan seger gini. Kayak enggak lagi sakit. Apa udah sembuh nih?"
"Iya, udah enakan."
"Apa ... karena enggak berada di rumah itu, Sofia?"
Mereka pun terdiam, sambil melihat wajah Sofia yang lebih terlihat segar. Tiba-tiba Aulia bergerak cepat, menyambar lengan Sofia. Dia hanya ingin memastikan, bahwa di lengan Sofia terdapat luka itu.
"Kamu ini kenapa sih, Lia?" Alam terlihat kesal dengan ulahnya.
"Maaf, Mas Alam, Sofia. Aku hanya tidak ingin ditipu sama sosok itu."
"Enggak apa-apa, kok."
Namun Sofia merasakan seperti ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya saat ini. Segera Sofia mengangkat kepalanya. Dia melihat di meja paling ujung. Ada seorang lelaki memakai kacamata hitam yang diletakkan di atas kepala. Kini, lelaki itu pun memandang Sofia dengan sorot mata yang tajam.
"Dia lagi?" desis Sofia, membuat yang lain ikut terhenyak.
"Maksud kamu dia siapa ini?" Alam terlihat tegang.
"Ehhh ... maaf, Mas. Aku ngerasa ada yang ngilihatin aja. Terus, kayaknya cowok itu sama yang waktu kita di KOta Baru."
"Yang bener?" tanya mereka bertiga serempak.
"Iya, aku enggak mungkin salah lihat!" tegas Sofia. Dia pun beranjak dari kursinya.
"Kamu mau ke mana?" Alam pun sudah berdiri seakan ingin mengikuti Sofia. Namun, kekasihnya mencegah.
"Mas Alam lihat saja dari sini. Biar Sofia selesaikan."