"Kalian ini yang aneh. Dibilangin kok malah enggak percaya. Masa aku enggak bisa bedakan mana Sofia asli dan mana yang KW. Sadarlah kalian!"
"Enggak mungkin!"
"Ya, coba kalian lihat lagi aja! Siapa yang ada dalam kamar itu?!"
Eno dan Aulia benar-benar merasa rancu, galau dan cemas. Kebenaran mana yang harus mereka pegang. Dengan gerak cepat, Eno menarik lengan Aulia, menuju kamar. Dari ambang pintu mereka masih melihat, Sofia yang tertidur.
"Coba kita bangunkan Sofia, En!"
Perlahan Eno mengguncang tubuh Sofia yang pulas.
"Sof ... Sofia!"
Tidak ada pergerakan sama sekali.
"Balik badanya Eno!"
Eno manggut-manggut. Dia mulai mencoba menarik bahu Sofia. Saat tubuhnya berbalik ke arah mereka. Sontak Eno dan Aulia terperanjat.
Mereka melihat wajah Sofia yang aneh. Kedua bola matanya terdapat lingkaran hitam. Kulitnya pucat pasi. Disertai bibir yang mengering, di bagian sudut seperti terkelupas.
"Haaaarghhh!" Keduanya berteriak bersamaan.
"Ka-kamu ... siapa?!" teriak Aulia, melotot.
Sofia membuka matanya pelan. Memandang aneh pada kedua temannya.
"A-aku ... Sofia." Suaranya berbisik hampir tidak terdengar.
"E-enggak mungkin! Kamu bukan Sofia. Pasti ... Kamu iblis itu!" teriak Eno histeris.
Tiba-tiba ....
"Sudah aku bilang! Kalau dia bukan Sofia!" Alam sudah berdiri di belakang Eno dan Aulia. Seketika kedua gadis menoleh.
"A-apa ... yang kamu bilang?" Sofia berusaha untuk terbangun. Dia melihat pada Alam, Eno dan Aulia. "Kalian kada ada yang percaya ini aku?" Sofia berbisik.
"Kenapa kalian kada percaya kalau ini aku?!!!!" teriak Sofia parau, matanya membulat lebar. Memandang mereka satu persatu. "Aku ini Sofia! Sofiaaaaa ...!"
Gadis itu membentangkan lengannya.
"Kalian masih bisa lihat luka ini? Mas Alam! Apa kamu tetap kada bisa bedakan antara aku sama DIA ... haaaa?"
Saat itu, Eno dan Aulia tersadar. Sosok iblis itu mampu membuat wajah Sofia terlihat seperti mayat hidup.
"Kenapa kamu diam, Mas Alam? Apa ... kamu sudah terpikat dengan Sofia Hirang, haaa? Jawab, Mas!!!"
Alam tertunduk dan menangis. Lelaki tampan itu, hanya bisa tertunduk dalam-dalam, sembari menyadari kesalahannya.
"Maafkan aku, Sofia. Maafkan aku! Ternyata aku tidak layak buat kamu. Untuk bisa membedakan antara kamu dan DIA saja aku tak mampu!"
"Apa yang terjadi, Mas?" Tatap Sofia tajam mengarah pada kekasihnya. "Jangan bilang kalau Mas Alam melakukannya lagi!"
Tanpa menjawab apa pun, Alam pergi meninggalkan kamar Sofia. Lelaki itu tampak terpukul. Hanya ada perasaan bersalah, yang menyelimuti perasaannya saat ini.
"Mas ... Mas Alam!" teriak Sofia.
Gadis itu berusaha untuk turun dari ranjang dan mengejar Alam. Namun, kondisinya tubuh yang lemah, membuat Sofia kembali terduduk.
"Ayo aku bantu Sofia!" Aulia sudah melingkarkan tangan pada bahu Sofia. " Makasih, Lia."
Eno membuka pintu kamar lebih lebar.
"Sofia, kenapa badan kamu makin lemah kayak gini? Aku ingin kita segera selesaikan semuanya. Kamu harus kuat Sofia," bisik Eno terus menyemangatinya.
"Entahlah Eno? Badanku jadi makin lemas kayak gini."
"Apa karena ini semua berhubungan dengan Sofia Hirang?" lanjut Eno lagi.
"Aku juga berpikiran kayak gitu, En. Apa memang dia buat seperti ini?" sahut Aulia.
"Kurasa, iya!"
"Jadi, memang sengaja membuat Sofia lemah, dan merebut tempatnya gitu?" Aulia semakin penasaran.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di kamar Alam.
Tok tok tok!
Tanpa menunggu pintu dibuka oleh Alam, Mereka bertiga menerobos masuk. Tampak Alam berkemas. Dia memasukkan semua pakaian ke dalam tas.
"Mas Alam ... Mas! Ka-kamu mau ke mana ini?"
"Aku mau balik ke Jawa, Sofia. Di sini bikin aku gila, tahu enggak?!'
"Tu-tunggu dulu, Mas!"
Sofia yang lemah, berusaha menghentikan Alam dan membuang tas ranselnya.
"Dengarkan aku dulu, Mas!"
"Apalagi? Kenyataan yang ada, aku berselingkuh dengan wanita iblis itu, Sofiaaa! Ini ... semua bikin aku makin gila!"
Gadis itu terduduk di pinggiran kasur. Dia menangis' sejadi-jadinya. Melihat Sofia yang lemah seperti ini, membuat Alam tak bisa melanjutkan niatnya hengkang. Dia memeluk Sofia erat. Keduanya pun menangis bersama.
Eno dan Aulia yang menyaksikan kesedihan mereka, turut terisak.
"Kalau Mas Alam pergi, siapa yang bantu Sofia lagi?" Suara Aulia tercekat. "Kita harus sama-sama bantu Sofia, Mas."
"Ba-baiklah. Aku minta maaf Sofia, sudah gegabah. Terlalu sembrono mengikuti hasrat liar aku. Maafkan aku ya Sayang!"
"Iya, Mas. Sudah aku maafkan kok!"
Dalam detik yang sama.
Braaaakkk!
"Suara apa itu?!" teriak Eno.
"Seperti pintu yang dibanting," tandas Aulia
"Apa perlu kita lihat?" tanya Sofia.
Mereka terdiam sejenak dan saling berpandangan. Lalu, Sofia mengangguk.
"Kita lihat saja sekarang!"
Sambil dituntun Aulia dan Eno, mereka mengikuti langkah Alam yang mendahului.
Saat melewati kamar orang tua Sofia. Alam terpaku sekian detik. Kamar di mana baru saja dia melakukan hal yang memalukan.
Lalu, Alam melanjutkan langkahnya berjalan, menuju arah suara tadi.
"Ke mana kita?" tanya Iwan bingung.
"Sepertinya tadi dari arah ruang tengah, Mas." Eno membisiki lelaki itu. Mereka berempat menuju ruang tengah. Dari jauh dia bisa melihat kain yang menutupi cermin, terjatuh ke lantai.
"Selalu dari ruangan ini, Sofia. Pasti ada hal yang salah," cetus Alam.
"Hal salah gimana, Mas?" tanya Sofia.
"Entahlah, yang pasti berhubungan dengan kamu!"
Sofia melepaskan pegangan tangan Aulia dan Eno. Gadis itu berjalan pelan menuju arah cermin.
"Ini kedua kalinya aku berdiri di sini. Sekarang aku memberanikan diriku, untuk melihat wajahku sendiri," ucap Sofia.
Alam, Eno dan Aulia hanya memperhatikan dari jarak yang tak jauh. Mereka melihat Sofia semakin mendekati cermin itu.
"Tunjukkan wajah kamu! Siapa kamu ini,? Kenapa mengganggu aku?"
Sofia melihat bayangan dirinya yang hanya diam tanpa bergerak sama sekali.
"Kenapa kamu diam?!" Kali ini Sofia mengeraskan suaranya. "Kenapa???" Sofia memukuli cermin itu berulang-ulang. "Keluar kamu! Sekarang jua keluar!"
Alam langsung emndekat. Dia membenamkam wajah Sofia ke dalam dadamya.
"Sebaiknya kita enggak di sini, Sofia!"
Saat mereka hendak meninggalkan ruang itu. Sofia tiba-tiba berteriak. Suaranya sangat keras di telinga mereka.
"Ada apa Sofia?" tanya Alam cemas.
"Rambutku kayak ada yang narik, Mas." Sofia menunduk dan memegang kepalany. "Sakit ini lagi, Mas. Sakit ini lagi!"
"Sakit gimana?" tanya Eno ikutan panik.
"Kayak ... Ada yang menarik rambutku dari belakang. Sakit sekali, Eno!"
Belum sampai Eno dan Iwan memeriksa, tubuh Sofia sudah terbanting ke lantai. Gadis itu sampai menjerit histeris.
"Kenapa kamu Sofiaaa?"
Aulia berlari ke arahnya. Dia membantu temannya itu untuk bangun. Saat menoleh, posisi mereka berada di depan cermin itu lagi.
Sofia kembali manatap cermin yang ada di hadapan. Dia mulai melihat seseorang yang berbeda di dalam cermin itu.
" Ka-kamu ... akhirnya datang juga!!"