MEMBINGUNGKAN

1030 Kata
"Ka-kalian ...?" desis Aulia, membuat Alam langsung menoleh ke arah pintu. Namun dengan gerak yang sangat cepat, gadis berkacamata itu berlari dengan kaki yang berjingkat dan masuk kamar.  Saat melihat ke arah ranjang, Aulia melihat Sofia yang tengah tidur pulas. "Te-terus ... Mas Alam sama siapa di kamar tadi?" Aulia menghempaskan tubuhnya, dengan bersandar pada dinding kamar. Pandangan mata Aulia nanar. Dia benar-benar ingin menghapus apa yang baru saja dia lihat. "Kenapa Mas Alam mengulanginya lagi? Kenapa kamu Mas?" Kedua tangan tertumpu pada lutut yang ditekuk di depan d**a. Aulia tak kuat menahan sesak yang merayap benak hati. Tanpa terasa dia menangis terisak. Membuat Eno terbangun dan terkejut melihat Aulia yang terguncang. "Ka-kamu ini kenapa Lia?" Gadis itu terus menggeleng. Eno yang baru saja terbangun kebingungan melihatnya. Dia beringsut mendekati Aulia yang masih terisak. "Kamu ini kenapa sih?" "A-aku, baru saja melihat Mas Alam lagi berduaan sama Sofia, Eno." "Te-terus?" Tanpa berkata-kata, Aulia menunjuk ke arah Sofia yang masih tertidur pulas. "Iya, itu Sofia. Memangnya kenapa?" "Ahhhh!" Aulia pun kesal, melihat Eno yang masih belum menangkap ceritanya. "Jangan sewot dulu lah. Otakku memang belum jernih lah. Orang baru bangun juga." Keduanya sama-sama bersandar di dinding kamar. Tanpa ada yang bersuara sama sekali. Sampai akhirnya Eno tersadar kalau Alam tidak berada di tempatnya. "Ke mana Mas Alam?" "Bukannya tadi aku dah cerita?" "Kamu kan bilangnya Mas Alam berduaan sama Sofia. Wajar 'kan?"  Sontak Aulia memalingkan wajahnya, mengarah pada Eno. "Denger baik-baik sekarang!" tegas Aulia sewot. "Aku tadi mau ke kamar mandi. Selama di dalam itu, aku dengar lagi suara orang yang mendesah kayak keenakan gitu. Buru-buru lah aku keluar. Terus kuping aku tempelkan ke kamarnya Mas Alam. Ternyata dia enggak ada di sana, karena aku lihat ke kamarnya." "Terus?" "Aku masih mendengar suara itu lagi, En. Berjalanlah aku sampai ke depan kamar mendiang orang tua Sofia. Pintunya kebuka dikit dan tebak apa yang aku lihat?" Eno yang tidak bisa menebaknya, kembali menggeleng pelan. "Aku melihat Mas Alam yang ada di kamar itu, enggak pakai baju sama sekali. Terus apa yang kamu bayangkan?" Kembali Eno menggeleng. "Aku kada bisa bayangakan apa-apa, Lia." "Mas Alam berpelukan sama cewek yang juga enggak pakai baju. Tebak siapa cewek itu?" "So-Sofia ...?" Aulia mengangguk pelan, seraya membenarkan apa yang dipikirkan Eno saat ini. "Jadi benar itu Sofia?" "Iya. Sampai aku berlari masuk kamar dan melihat Sofia yang masih tidur pulas. Sekarang kamu mau bilang apa coba?" "Haaaahhh!" Eno yang terperanjat, membuka mulutnya lebar. Matanya sampai terbelalak. Napasnya memburu keras. Antara kesal, marah dan keceawa pada Alam. "Ja-jadi, Mas Alam mengulanginya lagi?" Sambil melirik pada Sofia yang masih pulas. "Iya, En. Mas Alam pun kayaknya sangat menikmati semua itu. Aku bisa tahu dari suaranya dia yang aku dengar." "Aaaahhh! Kasihan Sofia!" Eno menepis tangannya sendiri ke udara. Dia pun telrihat kecewa dan kesal dengan perilaku Alam yang mulai berubah. "Bukannya dia udah dikasih tahu 'kan? Perihal si Sofia Hirang yang bisa menyaru sbeagai Sofia. Kenapa dia abaikan semua itu En?" "Entahlah, Lia. Sekarang apa yang mesti kita lakukan?" "Bagaimana kalau kita intip mereka?" Kali ini Eno memandang teman tajam Aulia. "Apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Aulia heran. "Coba bilang apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang, Eno!" Gadis itu kembali menarik napasnya. "Gimana kalau kita melihatnya sekarang?" "Gila kamu nih! Kalau sosok Sofia itu yang akan memburu kita gimana, Eno?" "Ya, lari! Atau kita baca doa saja." Seketika Aulia menepuk jidatnya. Kebiasaan Eno yang selalu berpikir gampang untuk segala hal. "Ya, udah kalau gitu. Kamu jalan duluan ya?" "Iya." Keduanya bersiap hendak meninggalkan kamar. Sebelum pergi mereka melihat pada Sofia yang masih saja tidur pulas. "Biarkan Lia. Kasihan Sofia!" Eno mendahului berjalan keluar kamar. Tangan Aulia tak lepas memegang ujung kaos  Eno, yang merambat menuju kamar orang tua Sofia. Gadis itu bisa melihat pintu kamar yang masih terbuka.  Sejenak  Eno mengatur tarikan napasnya, begitu juga dengan Aulia. Mereka berdua melanjutkan mencapai sisi samping pintu kamar. Sudah tidak terdengar lagi erangan kenikmatan. "Apa ... mereka sudah selesai?" bisik Eno. "Entah, En! Aku pun enggak tahu lah." "Bismillah, ya Allah lindungi kami!" Perlahan gadis tomboy itu, mendorong pintu kamar dengan ujung kaki. Sejenak langkah mereka tertahan di depan pintu. Kamar itu sudah kosong tidak ada seorang pun juga. "Ke-kemana mereka?" tanya Aulia heran. Mereka mengitari seluruh ruang kamar. Namun soosk Alam dan sosok wanita itu telah pergi. "Coba kita lihat ke kamarnya, Lia!" "Ayo!" Keduanya kembali berjingkat keluar, menuju kamar Alam.  Pintu pun masih terlihat sama seperti kala Lia melihat sebelumnya. "Coba kita dorong pelan!" ujar Eno. Saat pintu mulai bergerak pelan. Tiba-tiba .... "Heh!" sentak suara yang mereka kenal. Sontak Eno dan Aulia berbalik. Dia melihat Alam yang tengah duduk di ruang makan, mengarahkan pandangannya pada kedua gadis tersebut. "Mas ...Alaaam?" Hampir berteriak Aulia mengucapkannya. "Mas Alam ka-kamu dari tadi di situ?" "Iya, memang kenapa?" Eno dan Aulia saling berpandangan. Merkea melihat lelaki manis itu hanya mengenakan celana jeans panjang tanpa baju atasan. Terlihat peluh membasahi seluruh badan serta wajah. Rambutnya pun tampak basah oleh keringat. "M-Mas Alam, kenapa kamu melakukannya lagi?" tanya Aulia sambil menatap tajam, penuh kecewa. "Melakukan apa?" Alam berlagak tidak berdosa sama sekali. Apa dia tidak menyadari semua yang dilakukannya? "Mustahil!" sentak Eno tiba-tiba. "Pasti Mas Alam merasakan terus menikmati b******a dengan sosok itu 'kan?" Suara Eno semakin meninggi. "Kalian ini datang-datang kayak lagi PMS semua. Emangnya ada apa?" Masih saja Alam menghindar dan pura-pura bodoh. "Aku bener-bener melihat Mas Alam di kamar tengah bersama sosok itu. Kalian melakukan lagi, perbuatan  terkutuk itu Mas. Tega ya kamu mengkhianati Sofia dengan makhluk iblis itu? " "Kenapa kamu yakin dia makhluk iblis itu? Aku bersama Sofia tadi. Bahkan tanda bekas luka itu ada di lengannya." "Mustahil!" sentak Eno. "Sofia masih tertidur di dalam. Dia masih lemah sekali badannya. Jangan ngawur Mas!" "Kalian ini yang aneh. Dibilangin kok malah enggak percaya. Masa aku enggak bisa bedakan mana Sofia asli dan mana yang KW. Sadarlah kalian!" "Enggak mungkin!" "Ya, coba kalian lihat lagi aja! Siapa yang ada dalam kamar itu?!" Eno dan Aulia benar-benar merasa rancu, galau dan cemas. Kebenaran mana yang harus mereka pegang. Dengan gerak cepat, Eno menarik lengan Aulia, menuju kamar. Dari ambang pintu mereka masih melihat, Sofia yang tertidur. "Coba kita bangun En!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN