ERANGAN ANEH

1048 Kata
"Mas ... Mas! Lihat si Sofia!" Di tengah pembacaan ayat Qursy, dari arah ruang tengah, mereka seperti mendengar pinggiran kaca yang diketuk dan dibuat mainan. Berulangkali mereka bertiga mendengarnya. "Teruskan bacanya jangan sampai berhenti!" tegas Aulia. "Teruskan Mas Alam, jangan terpancing!" Mereka berusaha sekuat tenaga, untuk  tidak terpancing dengan semua bunyi yang terdengar. Sampai aroma wangi bercampur busuk, melintas di hidung mereka. "Aaaarghhh, sakiit! Sakiiit ... pergi kalian! Pergiiii!!!" Sofia terus berteriak. Dengan kedua kaki yang terus menendang kesakitan. "Kita harus pegangi badannya, Mas. Aku takut dia melakukan hal yang nekad," ujar Eno was-was. "Kamu benar, En!" Alam pun berlari menuju ranjang. "Lia, fokus pada bacaannya!" seru Alam. Kini Alam dibantu Eno, memegang kuat kedua tangan dan kaki Sofia. "Lepaskan aku sekarang!" bentak Sofia sambil melotot pada Eno. Tanpa rasa takut, Eno membalas hal yang sama. Dia memberanikan dirinya menantang dan menatap tajam pada manik mata Sofia.  "Kamu ... bukan Sofia! Jadi, lepaskan dia sekarang juga!" "Hiiiiii ...." Sofia mempertontonkan sederet giginya yang putih bersih. Mengatup rapat dengan bunyi gemertak. Terdengar suara Sofia yang bergetar menahan emosinya. "Awas kamu!" "Jangan suka mengancamku, Sofia! Karena aku paling kada suka diancam. Paham?!" "Ergggghhh!" Sofia terus menggeram, penuh amarah. Eno teringat akan air dalam botol yang masih tersisa. Dengan gerak cepat, Eno memercikkan air dari rambut hingga ujung kaki.  Membuat Sofia semakin beteriak kencang dan kelojotan. "Bagaimana ini, Mas Alam?" teriak Eno yang mulai kewalahan. Di saat bersamaan, dalam kepanikan mereka. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan kasar. Mereka melihat Nini Amas yang sudah berdiri di ambang pintu. "Nini Amas?!" ucap Eno cukup senang melihat kehadirannya. Dengan langkah yang tertatih, wanita tua itu, mendekati Sofia. Melihat kedatangan Nini Amas, sorot mata yang tajam terus mengarah padanya. "Untuk apa kamu ke sini?" "Bukan urusan kamu iblis!" sentak Nini Amas berani. "Tahan tangan sama kakinya kuat-kuat!" seru Nini Amas. Eno dan Alam menahan dengan kuat, walau pun Sofia terus berusaha untuk berontak. "Sudah berani kamu ingin menguasai tubuhnya, Iblis wanita!" "Arghhhh!" Di saat mulut Sofia terbuka lebar. Segera Nini Amas, memasukkan garam yang ada dalam genggamannya. "Keluar kamu Iblis!" teriak Nini Amas, berapi-api. "Haaarghhh ... haaargggh!" Setelah beberapa kali teriakan, tubuh Sofia terkulai lemas dan pingsan. Dari bibirnya banyak mengeluarkan air liur. "Benar-benar jahat iblis itu. Dia mulai berani menjamah badan Sofia," gumam Nini Amas. "Beri dia air minum kalau bangun nanti!" "Iya, Nini. Tapi, dari mana Nini Amas tahu, kalau Sofia dalam keadaan sakit kayak tadi." "Aku dengar suaranya. Terus di atas genteng, tepat di kamar Sofia, ada asap merah. Makanya aku cepat-cepat datang ke sini. Terus aja kalian berdoa. Makhluk ini akan semakin menjadi-jadi!" Lalu, Nini Amas mengalihkan pandangannya pada Alam. Dia menyentuh lengan lelaki manis itu. "Kamu sudah pernah disentuh sama sosok jahat itu. Berhati-hatilah! Karena kamu, nyawa Sofia makin terancam." "Maksud Nenek apa?" "Dia bisa menyukai kamu, selayaknya Sofia menyukai kamu. Kuharap kamu paham kata-kataku ini!" Nini Amas pun pergi meninggalkan rumah Sofia. Meninggalkan tanya di benak Alam, Aulia dan Eno. "Kalian apa mengerti maksud dari Nenek tadi?" tanya Alam. "Mungkin sosok Sofia Hirang, akan turut mengambil semua yang dicintai dan mencintai Sofia. Aku menangkapnya seperti itu," sahut Aulia. "Kalau kamu, Eno?" Tampaknya Alam tidak puas dengan pendapat dari Aulia.  "Aku sepemikiran sama Lia. Dengan menyatunya Mas Alam sama sosok itu, membuat dia tidak ingin Mas Alam menjadi milik Sofia." "Ya, kamu benar Eno!" tegas Lia. Alam hanya menggeleng, seolah tidak percaya sama sekali. Sampai terdengar Sofia yang terbatuk-batuk. "Air ... air!" pinta Eno. "Yang dari Kai Ansyah aja!" tandas Lia. Eno memberikan air pada bibir Sofia yang pucat dan kering. "Kamu baikan, Sofia?" tanya Alam dengan menggenggam jemari tangan kekasihnya. Gadis itu mengangguk lemah. "A-aku, seperti melihat Nini Amas ke sini?" "Iya. Dia tadi datang sebentar, sekarang udah pulang." "Ada apa dia ke sini?" Sofia terus bertanya. "Hanya kasih obat buat kamu," sahut Eno. "Kenapa aku merasanya aneh, Eno." "Aneh, kenapa?" Kemudian, Sofia melihat pada Alam yang terus memandang sedih pada Sofia. "Aku melihat Mas Alam membunuhku." Suara Sofia terdengar lirih. "A-aku?" "Iya, Mas Alam." "Mungkin itu hanya bunga tidur saja. Dah, kamu jangan pikirin itu ya. Yang terpenting kamu segera sehat. Dan kita bisa segera berangkat ke rumah Abah Gambut." "Iya, Mas." "Berarti enggak bisa besok. Karena kondisi Sofia enggak memungkinkan buat perjalanan jauh," imbuh Aulia. "Benar, kita harus tunggu sampai Sofia benar-benar sehat. Sekarang kalian istirahat, biar aku yang berjaga di sini." Aulia dan Eno beranjak pada karpet yang sudah diberi selimut tebal. Tak sampai beberapa menit, mereka berdua telah pulas. Alam berusaha menahan kantuknya.  Tepat pukul dua malam. Aulia terbangun dan saat melihat ke atas ranjang. Dia tidak mendapati Alam di sisi Sofia. "Ke mana lagi Mas Alam ini?" Aulia yang ingin ke kamar mandi, mengira Alam telah kembali ke kamarnya. Dengan santai dia berjalan lambat menuju arah belakang. Saat berada di dalam kamar mandi, Aulia seperti mendengar suara desahan yang aneh. Akan tetapi dia tidak asing akan suara itu. "Mas ... Alam?" bisiknya. Buru-buru Aulia membersihkan dirinya. Setelah selesai, gadis itu yang penasaran, berusaha mencari tahu asal suara. Sambil berjingkat, Aulia mencoba merapatkan tubuhnya mendekati kamar Alam. Saat dia mencoba untuk mengintip ke arah dalam kamar, tak dia jumpai sosok Alam. "Aneh? Aku tadi mendengar nyata suara Mas Alam dari sini. Tapi, kok enggak ada. Di mana dia?" "Aaaarhhhh!" Kembali desah itu terdengar keras di telinga Aulia. Tidak hanya suara seorang laki-laki saja, tapi juga seorang wanita. Suara rintihan dan erangan yang dia dengar, membuat Aulia meneguk ludahnya berkali-kali.  "Su-suara ... si-siapa itu? A-apa Mas Alam?" Masih dengan berjingkat, Aulia memberanikan dirinya untuk berjalan merambat mendekati kamar bekas orang tua Sofia. Suara itu dia dengar semakin jelas. Dengan tangan yang bergetar hebat, gadis itu memberanikan dirinya untuk mendorong pelan pintu kamar yang sedikit terbuka. Aulia berusaha menahan napasnya, dia berudaha meredam ketegangan yang melanda. Sampai butiran keringat menetes deras membasahi wajah. Saat pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Pandangan matanya bagai tersentak. Tubuhnya menggigil seketika. Dia melihat Alam tanpa mengenakan busana sama sekali. Sambil memeluk seseorang yang tidak terlihat jelas. Namun, dari rambut dan suara erangan yang keluar, Aulia bisa menebak bahwa itu adalah Sofia. "Ka-kalian ...?" desis Aulia, membuat Alam langsung menoleh ke arah pintu. Namun dengan gerak yang sangat cepat, gadis berkacamata itu berlari dengan kaki yang berjingkat dan masuk kamar.  Saat melihat ke arah ranjang, Aulia melihat Sofia yang tengah tidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN