PERGI KALIAN

1121 Kata
"Bukannya tadi kamu udah sehat, kata Mas Alam?" imbuh Aulia. "Dah sehat?" tanya Sofia merasa aneh. "Aku dah sehat?" "Tadi 'kan Mas Alam aku suruh ajakin kamu makan, Sofia," lanjut Aulia. Namun jawaban Sofia menggeleng. "Aku sempat tidur! Terus enggak ada Mas Alam juga." Aulia memandang Eno. Dia merasa aneh pada Alam, kenapa harus berbohong. Atau memang Sofia tak sadar saat itu? "Aku ambilin makanan ya? Pastinya kamu lapar 'kan?" tanya Aulia. Sofia pun mengangguk pelan. Bergegas Aulia beranjak dari duduknya. "Ehhh, Lia!" panggil Sofia. Membuat gadis berkacamata itu berhenti. "Apa. Sof?" "Sekalian minum obat." "Loh, kan barusan  minum obat Sofia. Belum sampai dua jam. Harusnya minim empat sampai lima jam deh!" seru Aulia. "Tapi, aku enggak kuat. Berasa ingin muntah." "Mungkin, kamu masuk angin. Sini, aku kerokin!" ujar Eno. Sofia pun hanya bisa mengikuti apa kata teman-temannya. "Habis kamu makan, baru aku kerokin ya." Kembali Sofia mengangguk. Sedang Aulia yang berada di dapur terkesiap saat Alam sudah berjalan ke arahnya. "Siapa mau makan?" "Sofia, Mas. Kayaknya sakitnya tambah parah." "Yang bener aja kamu! Orang tadi udah sehat dan baik-baik aja kok." Tanpa menunggu Aulia, Alam langsung berjalan menuju kamar. Dari ambang pintu yang terbuka, dia melongok, melihat Sofia yang masih terbaring lemah. "Loh, tadi katanya sudah sehat, Sofia?" "Kapan, Mas Alam ke sini" "Tadi, waktu aku mau tawarin kamu makan. Kamu udah duduk di pinggiran sambil main HP kok." Masih dengan berbaring, Sofia menggeleng. Pandangan matanya nanar melihat arah Alam, yang juga tengah memandang dirinya. "Badan aku makin tambah lemes, Mas Alam." "Apa kita ke dokter aja, Sayang?" Seraya berjalan mendekati ranjang, dan duduk di sebelah Afofia. "Engga usah dulu, Mas! Biar aku makan sama dikerokin, siapa tahu sembuh."   Alam pun mengusap lembut rambut Sofia yang basah oleh keringat. "Apa ... kita balik ke Jawa aja, Sofia?" "Terus, urusan rumah ini bagaimana Mas?" "Serahkan sama Paman Botek, Sofia. Rumah ini udah enggak nyaman dan enggak aman buat kamu dan kita juga." Sesaat Sofia terdiam cukup lama. Pandangannya beralih mengitari seisi kamar. "Sebenarnya aku ingin saja Mas Pergi dari sini. Hanya saja, apa aku bisa? Apa sosok itu akan pergi dan tidak mengikutiku?" Aulia yang baru datang menghentikan langkahnya, dengan membawa piring. "Itu pertanyaan yang kita enggak pernah tahu jawabannya, Sofia,"  sahut Aulia, yang menghampiri Sofia. "Mas Alam geser dulu. Biar aku suapain Sofia." "Kalau malam ini enggak sembuh juga, besok pagi kita bawa ke dokter!" tegas Alam. Mereka pun sepakat dengan jalan pemikiran Alam. "Aku tinggal kalian ke kamar, kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu aku!" "Siap, Mas!" Alam pun pergi meninggalkan kamar. Tinggal Aulia yang menyuapi Sofia dengan pelan. "Kamu harus makan!" "Iya, ini 'kan coba makan, Lia." Suara Sofia benar-benar lemah. Kemudian, tangan gadis itu bergerak sedikit ke atas. Memberikan tanda agar Aulia untuk menghentikan suapannya. "Kenapa?" "Perutku mual, Lia. Mau muntah!" Belum sampai Aulia meletakkan piringnya. Sofia sudah tersedak dan seluruh isi makanan keluar semua. Eno langsung melompat dan duduk di belakang tubuh Sofia. Jemari tangan mengurut bagian tengkuk. Sambil terus mengusapkan minyak angin. "Muntahkan semuanya Sofia!" Namun di saat yang bersamaan, mereka terbelalak, melihat ceceran darah yang juga keluar bersamaan dengan muntahan Sofia. Tak hanya itu saja, dari hidung pun keluar darah segar. Membuat Eno dan Aulia semakin panik. "Ambil air yang dikasih Kai Ansyah, dalam botol. Ada sama Mas Alam." "Ba-baik, Sof!" Dengan gerak cepat Eno melompat dan lagsung berlari menuju kamar Alam. Dug dug dug! "Mas Alam! Mas Alam!" Dug dug dug! Tak lama Alam membuka pintu. Eno tanpa permisi langsung menerobos masuk. "Mas, di mana botol yang isi air dari Kai Ansyah?" "I-itu!" Alam menujuk sebuah botol yang ada di atas meja. Tanpa banyak bicara dan memberikan penjelasan, Eno langsung menyambar cepat. Lalu berlari lagi menuju kamar Sofia. Melihat kepanikan Eno, membuat Alam mengejar cepat langkahnya. "A-ada apa ini?" tanya Alam dengan nada yang tinggi. Saat melihat banyak ceceran darah, lelaki tampan itu terkesiap. Ceceran darah ini kenapa sama kayak yang ada di lantai depan saat kita masuk tadi?" Mereka pun kian terhenyak. "Mas Alam benar. Ceceran darah yang berakhir di kamar orang tua Sofia," sahut Aulia.  "Ceceran darah apa? Aku eggak lihat apa pun, saat masuk rumah!" tegas Eno heran. Alam dan Aulia hanya bisa saling pandang. "Mas Alam ikut aku!" ajak Eno melangkah cepat keluar kamar. "Mau ajak ke mana?" "Untuk memastikan cecran darah itu, ada apa enggak!" Eno pun sudah mendahului berjalan, diikuti Alam yang melangkah di belakangnya. "Coba Mas lihat sendiri! Enggak ada apa-apa di sini!" tegas Eno. "Aku juga baru perhatikan lagi." Tak berhenti sampai di situ. Eno terus berjalan menuju halaman. "Mau ke mana kamu?" "Aku ingin lihat pagar itu, yang kelihatan agak aneh." Saat mereka berdua sampai. Eno menunjuk pada tembok pagar. "Lihat ini, Mas! Ada ceceran noda kecoklatan, dan merah segar. Apakah ... ini darah?" "Sepertinya begitu. Sama persis cerita Sofia tadi. Dia kayak melihat kronologi yang terjadi pada masa itu." "Hemmm ... dan ceceran darah ini?" Pertanyaan Eno yang sulit terjawab oleh Alam. "Aku juga enggak tahu. Apa ada hubungan dengan kondisi Sofia sekarang?" "Mungkin saja Mas. Semoga habis minum air itu kondisi Sofia lebih baik."   "Ayo, kita masuk!" ajak Alam. "Di mana tadi ceceran darah itu, Mas?" Alam langsung berdiri di ambang pintu, sambil menunjuk ke lantai dan berjalan pelan, hingga berhenti di depan kamar bekas orang tua Sofia. "Tapi, sekarang bekasnya enggak ada?" "Kamu lihat sendiri 'kan?" Mereka pun memasuki kamar Sofia yang sedikit lebih tenang. Aulia tampak membersihkan bekas muntah dan darah Sofia. Dibantu oleh Eno dan Alam. Setelah bersih, mereka duduk di lantai sambil melihat kondisi Sofia yang tengah tertidur pulas. "Mas Alam, apa ceceran darah tadi pertanda untuk Sofia?" Tiba-tiba pertanyaan Eno memecah keheningan. "Entrah, Mas. Kok feeling aku bilang, itu sbeuah pertanda akan terjadi sesuatu dengan Sofia." "Maksud kamu, bahwa itu oeringatan dari DIA?" ulang Aulia, sambil menatap tajam pada Eno, yang langsung mengangguk. "Cuman, ini baru pertama kalinya 'kan Eno?" tanya Alam, mulai cemas. "Yang kedua kali, Mas. Saat itu Sofia hendak sholat, dan mendapat gangguan sampai muntah darah kayak gini." "Apa kita bacakan ayat Qursi sama-sama gimana?" Tiba-tiba, Aulia mendapatkan sebuah ide. Yang langsung disepakati oleh mereka bertiga. Mereka memulai membacakan ayat Qursy perlahan, mengulangi hingga beberapa kali. Sesekali pandangan mereka beralih pada tubuh Sofia.  "Hussst!" Eno menunjuk ke arah Sofia yang menggeliat lemah. Perlahan dia mulai menendang berulang kali ke udara. Seperti sedang berkelahi dengan seseorang. "Mas ... Mas! Lihat si Sofia!" Di tengah pembacaan ayat Qursy, dari arah ruang tengah, mereka seperti mendengar pinggiran kaca yang diketuk dan dibuat mainan. Berulangkali mereka bertiga mendengarnya. "Teruskan bacanya jangan sampai berhenti!" tegas Aulia. "Teruskan Mas Alam, jangan terpancing!" Mereka berusaha sekuat tenaga, untuk  tidak terpancing dengan semua bunyi yang terdengar. Sampai aroma wangi bercampur busuk, melintas di hidung mereka. "Aaaarghhh, sakiit! Sakiiit ... pergi kalian! Pergiiii!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN