PERILAKU ANEH

1017 Kata
Mama, aku bisa melihatnya. Ada Mama di situ."  Sofia bergerak maju beberapa langkah, diikuti Alam dan Aulia. Kini, ketiganya berhenti tepat di depan cermin.Mama, aku bisa melihatnya. Ada Mama di situ."  Sofia bergerak maju beberapa langkah, diikuti Alam dan Aulia. Kini, ketiganya berhenti tepat di depan cermin. Bagi Sofia, dia melihat sosok sang Mama, yang sedang mengurai rambutnya. Walau wajah yang terlihat pucat, bagi Sofia saat ini, tetaplah cantik. Bahkan aroma bedak dan parfum yang biasa dipakai langsung tercium. Lidia masih mematut dirinya. Seolah hendak pergi, dan berjalan keluar kamar.  "Sofia ... Sofia!" teriak Alam yang mengikuti langkah kekasihnya. "Mau ke mana kamu?" Namun Sofia masih saja terdiam. Dia berjalan cepat seperti sedang terburu-buru.   "Sofiaaa! Kamu mau ke mana malam-malam gini?" Aulia pun heran melihat tingkahnya yang aneh. Sampai gadis itu berhenti di depan pagar. Dalam penglihatan Sofia, sang Mama seperti sedang menunggu.  "Mama lagi nungguin siapa?" Tiba-tiba, entah berasal dari mana. Sebuah kilat cahaya begitu terang menyoroti mereka berdua. Tiba-tiba, Sofia merasa berada di sebuah tempat seorang diri tidak ada yang lain, baik Alam mau pun Aulia. Sorot cahaya cukup membuatnya terkejut. Saat sebuah mobil sudah berada di hadapannya  Sofia kesulitan untuk membuka pagar,  dan dia sudah kalah cepat  dengan Lidia yang turun dan berjalan menuju arahnya. Hanya sekali tarik, pagar pun terbuka.  Langkah Lidia segera masuk ke dalam pagar. Namun, belum sampai pintu terbuka lebar. Sofia melongo dan berteriak, "Stop! Stooop ... jangan teruskan Paaa!" Braaaakkk! "Aaaaarghhh!" Teriakan Sofia hampir bersamaan dengan Lidia. Gadis itu sekuat tenaga berlari untuk menolong sang Mama. Namun apa daya, Sofia terlambat.  Dalam waktu yang bersamaan. Sekilas Sofia melihat sang papa, yang terkulai lemas. Namun ada sesuatu yang menarik dari sisi belakang Hasbi. "Si-siapa dia?" desis  Sofia, seolah tak percaya. "Ja-jadi kamu?!" Sambil Sofia melotot tak percay. Yang dilihatnya sosok Sofia Hirang yang memegang setir mobil. Sosok itu melihat pada Sofia d jgan menyeringai lebar. "Ka-kamu ... lagi?!" teriak Sofia histeris. "Setan laknat kamu;" Aulida dan Alam yang melihat hanya bisa tercengang. Manakala Sofia berteriak kencang. Sampai meraung dengan menangis. "Sofia sadarlah!" Aulia menepuk lembut bahunya. "Sofia, bangunlah jangan menangis kayak gini!" ucap Aulia lembut. Saat itu, Sofia memandang ke arahnya. Yang tadinya dia berada di situasi pada sore hari. Berubah menjadi gelap.  "Di mana ini?" "Kita ada di halaman rumah, Sofia." Aulia menggamit lengan Sofia agar masuk rumah. Alam menarik pergelangan tangan kekasihnya. "Ada apa ini Sofia?" tanya Alam cemas. "Ayo, kita masuk dulu!" Mereka berdua menuntun Sofia yang masih termangu.  "Aku melihat dia!" bisik Sofia. "Dia yang membuat Mama terbunuh. Dan aku yakin dia juga yang menjadi penyebab Papa meninggal." "Lantas apa yang akan kita lakukan?" tanya Aulia. Sofia menggeleng. "Aku juga belum tahu. Secepatnya kita harus menemui Abah Gambut." Gadis itu berjalan tertatih dengan di gandeng Aulia dan Alam.  "Tidurlah Sofia, kamu kecapekan!" seru Alam. Sebelum Alam beranjak dari kamarnya. Sofia menark ujung kaos paling bawah. Membuat Alam terhenti dan menoleh padanya. "Ada apa?" "Kalau ada apa pun yang terjadi pada Sofia, tolong Mas Alam tetap percaya padaku." "Pasti Sofia. Dengan siapa lagi aku bisa percaya?" Bibirnya mengurai senyum senang, "Makasih Mas Alam." Lelaki tampan itu pun pergi dari kamar. Sofia menoleh pada Aulia yang terus memandangnya. "Ada apa?" tanya Aulia heran. "Kamu pun harus sama, hanya percaya padaku aja, Lia!" "Iya, dong." Sofia mencoba untuk membaringkan tubuhnya. Dia mulai merasakan kepala yang berdenyut keras. Seperti dibenturkan pada dinding. Sesekali tangannya bergerak menahan kepala. "Tidurlah Sofia!" "Enggak bisa, Lia. Kepalaku sakit." Gadis berkacamata itu, mengambil sesuatu dari dalam tas. Dia menemukan sebotol minyak angin yang selalu dia simpan. Perlahan dengan telaten mengusapkan pada kening, tengkuk dan bagian leher. "Habis ini coba buat tidur ya?" Sofia mengangguk lemas. "Assalamu'alaikum!" teriak Eno dari arah depan. Gadis tomboy itu langsung masuk, dan berjalan menuju kamar. "Enggak ada yang jawab salam aku?" "Waalaikumsalam!" sahut Aulia. "Si Sofia kenapa lagi?" "Entah! Katanya kepala dia sakit. Habis teriak-teriak di halaman depan." "Teriak di depan?" ulang Eno sambil memicingkan mata. "Iya." Kemudian Aulia mengajak Eno keluar kamar, menuju meja makan. Melihat keduanya, Alam pun mengikuti mereka. "Kalian mau makan?" "Nih aku bawa makanan Mas. Mama masak nasi goreng buat kalian. Makanya aku agak lama balik." Bergegas Alam mengambil sendok dan piring. "Sofia enggak makan?"  "Dia tadi dah mau tidur, Mas. Takutnya kalau dia bangun malah enggak bisa merem lagi." "Biar aku tawarin makan sama obat!" Alam pun meninggalkan mereka. Dia menarik handle pintu, dan mendorong pelan. Dari balik pintu Alam melihat Sofia yang duduk di tepian ranjang. "Sofia! Udah enggak sakit kepala kamu?" "Sakit? Aku enggak sakit Mas." "Lah, yang lemes tadi siapa?" "Bukan aku!" Sambil tersenyum lebar.  "Enggak makan?" Gadis itu menggeleng cepat. "Mas makan aja duluan!" "Ya, udah aku makan dulu." "Oke." Alam berjalan cepat meninggalkan kamar Sofia. "Gimana Mas? Sofia enggak mau makan?" Aulia terlihat cemas. "Dia udah baikan kok. Udah kelihatan ceria, sambil main HP." Aulia dan Eno terlihat senang, kalau memang Sofia ternyata baik-baik saja. "Mungkin aku terlalu khawatir," ucap Aulia lirih. "Itu tanda kamu sayang Sofia. Dan aku senang Lia, pacarku punya teman baik seperti kamu dan Eno." Selesai makan, mereka pun langsung menuju kamar. Sengaja Eno membawa sebotol besar air putih. Perlahan mereka membuka pintu. Keduanya melihat  Sofia masih dalam posisi semula, seperti saat mereka tinggal. Eno dan Aulia saling berpandangan aneh. "Bukannya kata Mas Alam tadi Sofia dah enakan?" "Tau deh Lia." Mereka menggelar karpet di lantai, dan sibuk dengan ponsel masing-masing. "Coba ceritakan apa yang terjadi sama Sofia tadi?" "Menurut Sofia, penabrak Mamanya ya si Sofia Hirang. Begitu juga yang membuat Papanya Sofia sakit." Tiba-tiba .... "Erghhh!" Sontak kedua gadis menoleh arah ranjang. "Kamu enggak apa-apa, Sofia?" tanya Eno. "Dadaku ... sakit, En. Kayak sesak gitu, kada bisa bernapas." Mereka langsung beranjak, dan memeriksa kondiri Sofia. "Badan kamu agak demam ini!" celetuk Eno. "Bukannya tadi kamu udah sehat, kata Mas Alam?" imbuh Aulia. "Dah sehat?" tanya Sofia merasa aneh. "Aku dah sehat?" "Tadi 'kan Mas Alam aku suruh ajakin kamu makan, Sofia," lanjut Aulia. Namun jawaban Sofia menggeleng. "Aku sempat tidur! Terus enggak ada Mas Alam juga." Aulia memandang Eno. Dia merasa aneh pada Alam, kenapa harus berbohong. Atau memang Sofia tak sadar saat nya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN