MELIHAT MAMA

1020 Kata
"Iya, Sofia. Hati-hati kalian di jalan. Baiknya mutar aja, jembatan itu terlalu sempit Eno." "Iya, Paman. Tadi, Eno memang mutar jalannya." Setelah berpamitan, mereka pun segera menuju mobil. Tidak ada yang bicara sama sekali selama perjalanan. Semuanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Saat mobil sudah sampai di depan pagar rumah Sofia. Mereka berempat, terkesiap sejenak. "Si-siapa yang buka pintu pagar sama rumah kamu Sofia?" tanya Eno terbelalak.  Membuat Sofia, Alam dan Aulia pun ikut tercengang. Sofia yang tegang meneguk ludahnya sendiri, hanya untuk membasahi tenggorokkan yang tiba-tiba kering. "A-aku juga enggak tahu, En. Kamu tahu sendiri 'kan sewaktu kita pergi, semua terkunci." Mereka masih berdiam di dalam mobil.   "Kada ada yang turun kah?" tanya Eno lagi seraya berbisik. Dadanya mulai berdebar-debar. Begitu juga yang lain, termasuk Sofia. Dia kembali teringat kisah Nini Amas. "Coba kita turun dan lihat ke rumah! Kali aja ada maling, gimana?" sahut Alam. "Maling? Pikiran aku malah bukan ke sana Mas Alam," tandas Sofia. Alam yang duduk di jok depan langsung menoleh pada Sofia di belakang. "Lalu, kalau bukan maling?" Kali ini suara Alam meninggi. "Apa Mas Alam tidak bisa mengikuti cerita kita dari awal?" Alam menarik pandangannya melempar jauh ke depan. Memandang pintu rumah yang terbuka. "Jangan marah, Mas! Kurasa Mas Alam mengerti yang aku bilang ini. Permasalahan pada rumahku, hanya dia, Sofia Hirang. Enggak ada lagi!" tegas Sofia. "Iya, aku paham. Lalu sekarang apa kita terus di dalam mobil?" "Ya, enggak! Kita turun aja sekarang." Sofia membuka pintu mobil dan melangkah turun. Diikuti oleh Aulia dan akhirnya Alam. "Sofia!" teriak Eno. Membuat gadis manis berambut panjang itu, menoleh. "Aku langsung balikin mobil." "Oke." "Nanti aku ke situ!" Sofia manggut-manggut. Ketiganya mulai berjalan memasuki pelataran rumah. Lalu, menapaki dua anak tangga hingga sampai di teras. Namun, saat langkah pertama mereka masuk, spontan Alam merentangkan tangannya. "A-ada apa Mas?" Hampir bersamaan Sofia dan Aulia menanyakannya. "Coba kalian lihat lantai!" Apa yang dikatakan Alam membuat keduanya reflek menundukkan pandangan. Ternyata pemandangan aneh terjadi di lantai rumah. Banyak ceceran darah mulai dari pintu masuk hingga ke arah ruang tengah. Mungkin saja sampai belakang. Sofia melangkah pelan, mengikuti Alam yang bergerak lebih dahulu. Mereka semakin keheranan, saat ceceran darah berhenti tepat di depan kamar bekas orang tua Sofia. "Ceceran darah ini terhenti di sini, Sofia," bisik Alam. Mereka bertiga saling berpandangan, dengan deru napas yang membara.  "A-aku takut, Sofia." Aulia menggamit lengan Sofia kuat. Bulu kuduk mereka berdiri tegak. Untuk kesekian kalinya, d**a mereka bewrdebar kencang. Alam memberi kode pada Sofia, saat jemari tangannya bergerak ingin menarik handle pintu. Walau bergetar hebat, Alam berusaha untuk tetap tenang. Sofia dan Aulia, berdiri di belakang tubuh jangkung Alam.  Tak bisa digambarkan lagi, bagaimana perasaan mereka saat ini. "Mas hati-hati," bisik Sofia. Alam mengangguk pelan. Kakinya selangkah maju dan mulai menarik handle pintu. Dengan kedua ujung kaki, ikut mendorong.  Kriiiet! Derit pintu mulai terdengar lirih. Memberi kesan yang semakin seram pada rumah Sofia malam ini. Pintu mulai terbuka lebar. Namun, lampu yang biasanya dinyalakan, entah kenapa malam itu mati. Kamar bekas orang tua Sofia pun terlihat sangat gelap. "Ke-kenapa kamar ini lampunya mati?"  "Mungkin dari lampunya, Sofia," sahut Alam.  Dalam waktu yang bersamaan, mereka mendengar bunyi kasur yang seperti bergerak pelan. Seakan ada orang yang tengah duduk di atasnya. Pegangan mereka pada Alam semakin kencang.  Langkah Alam bergerak cepat menuju saklar lampu. Saat di menekan saklar, sekilas dia merasakan sesuatu yang dingin menimpat punggung tangannya. "Haaahhh!" teriak Alam spontan. Membuat Sofia dan Aulia ikut menjerit, serta melompat masuk. "Ce-cepetan ditekan saklarnya Mas!" ujar Aulia terbata. "Sudah aku tekan kuat ini, tapi tetep enggak mau menyala." Tiba-tiba .... Kriiiiet! Brakkkk! "Haaahhh!" teriak mereka bersamaan. Ternyata pintu kamar telah tertutup dengan rapat. Sontak Sofia berlari dan menarik handle pintu dengan kuat, dibantu oleh Aulia. "I-ini, kenapa kita terjebak di kamar sini, Sof?" tanya Aulia dengan gemetaran.  "A-aku juga enggak tahu!" Sofia mengalihkan pandangannya pada Alam yang masih berdiri dtak jauh dari mereka. "Mas Alam! Kemarilah!" "Hp ... HP, Sofia!" Sesaat mereka tersadar bila ada ponsel, yang bisa digunakan untuk membantu penerangan. Dengan gerak cepat, Aulia siudah menyelakan senter. Begitu juga Sofia. Sedangkan Alam masih berdiri di tempatnya dnegan tangan yang memegang tembok. "Mas! Saklar lampu bukan itu. Tapi sebelahnya!" seru Sofia. "I-iya, Sofia, tapi aku ngerasa bagian belakang aku kayak ada yang meluk. Coba kalian lihat!" Perlahan Alam memutar tubuhnya. Mereka terbelalak, saat melihat sosok berambut panjang tengah menempel erat di punggung Alam. Sampai membuat lelaki itu tidak berani melakukan apa pun juga. "Tasbih ...!" Sofia teringat dnegan tasbih pemberian Nini Amas. Dia mengambil kantong kecil yang selalu Sofia sematkan pada bajunya. "Saya berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Bismillah ...! Allahau Akbar!" Sofia pun tidak tahu apakah butiran tasbih ini akan  da manfaatnya atau tidak. Bersamaan ucapan doa, dia melemparkan pada bagian sosok yang menempel rapat pada Alam. ] "Bismillah!" teriak Sofia. Lemparan pertama Sofia luput. Seperti ada angin yang menepiskan tangannya. Tak peduli lagi, Sofia berjalan menghampiri sang kekasih. Dia pun melmepar sebanyak tiga butir tasbih. Hanya dalam sekejap sosok itu menghilang. Spontan Sofia menarik lengan Alam yang masih tercengan. "Mas, Istighfar yang banyak." "Apa ... sudah hilang?" "Sudah, Mas." "Alhamdulillah. Aku sudah merasa agak aneh saat masuk kamar ini tadi." Di saat perbincangan mereka, tiba-tiba kursi yang berada di depan meja rias, bergeser dengan sendirinya. Kreeeekkk! Kreeeekkk! Kreeeekkk! "Ahhhhh!" teriak Aulia yang langsung mundur, merapat pada Alam.  Kali ini pandangan mereka tertuju pada  sudut ruang.  Kursi itu mulai bergerak seolah ada yang sedang dduduk di atasnya. Perasaan Sofia semakin tidak tenang. Saat dia bergerak mundur. Sekilas pandangannya menangkap bayangan lain di dalam cermin. Seperti seorang wanita yang tengah duduk. Walau kenyataannya di kursi yang mereka lihat tidak ada siapa pun juga. "Ma-ma ... apa itu Mama?" desis Sofia, membuat Alam dan Aulia ikut memperhatikan cermin yang ada di seberang mereka. Namun, Alam dan Aulia tidak melihatnya. Hanya sebuah cermin kosong tanpa ada sosok siapapun juga di dalamnya. "Aku enggak melihat siapa-siapa Sofia," bisik Aulia. "Aku juga. Hanya cermin yang kosong tidak ada siapa-siapa," sahut Alam. "Mama, aku bisa melihatnya. Ada Mama di situ."  Sofia bergerak maju beberapa langkah, diikuti Alam dan Aulia. Kini, ketiganya berhenti tepat di depan cermin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN