PINTU RUMAH YANG TERBUKA

1027 Kata
"Dia siapa ini?" "Sofia Hirang!" Seketika Alam terlihat resah. Dia sempat tidak percaya pada kekasihnya ini. Untuk yang kesekian kalinya. "Ma-maafkan aku lagi, Sofia. Entah kenapa aku tadi bisa tak percaya lagi sama kamu?"  "Sudahlah Mas! Ayo, kita susul mereka sekarang. Sepertinya memnag Sofia Hirang mulai berani menampakkan wujudnya sama aku." "Ayolah, Sofia!" Dalam perjalanan Eno menelepon mereka. "Hallo, Eno!" "Hei, kamu ini di mana?" "Ini lagi nyusul. Di rumah sakit mana jadinya?" "Di Pal lima, ada rumah sakit swasta cukup besar. Aku bawa Acil ke sana." "Ya, udah En! Tolong kamu urus dulu administrasinya. Nanti aku yang bayar." "Paman, udah urus sendiri barusan. Dia nitip satu juta." "Oke. Makasih Eno." Alam membawa cepat motor tua milik Paman Botek, menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh. Setelah bertanya pada seseorang, mereka akhirnya sampai juga di rumah sakit yang dimaksud oleh Eno. "Kamu di mana sekarang, En?" "Ruang UGD lah, Sofia." "Oke, aku ke sana!" Dari jauh Eno dan Aulia melambaikan tangan ke arah mereka.  "Itu mereka, Mas." Sofia dan Alam berlari kecil menuju arah mereka. "Bagaimana keadaan Acil?" "Masih belum sadar, Sof," sahut Aulia. "Sekarang Paman  masih di dalam ruangan dokter." "Berarti kita tunggu hasilnya." "Iya, Sof." Lima menit berlalu. Paman Botek sudah berjalan keluar menuju arah mereka. Spontan Sofia berdiri enyongsongnya. "Bagaimana Acil, Paman?" "Harus opname dulu. Soalnya Mamak masih pingsan. Cuman sudah bisa merespon, seidkit-sedikit." Sofia pun turut cemas atas keadaan wanita yang sudah menganggap dirinya sebagai anak. "Apa anak-anak Paman sudah dihubungi?" "Sudah, mungkin besok lah baru datang mereka." "Baiklah Paman. Barusan Sofia transfer lima juta dulu ke rekening, Paman Botek, buat bantuin pengobatan Acil Mina." "Kada usah, Sofia. Jangan merepoti diri kamu sendiri!" "Mana ada Sofia repot." Mereka pun duduk di ruang tunggu. Belum lama, tiba-tiba seorang perawat memanggil Paman Botek. "Pak Botek, Ibu MIna sudah siuman!" "Alhamdulillah!" Serempak mereka mengucap bersamaan. "Ayo Sofia kita masuk! Temani Paman." Sofia mengangguk dengan mengekor pada langkah lelaki tua itu. Di ranjang pasien tampak tubuh Mina yang masih lemah, dengan wajah yang pucat. "Acil ... Acil Mina?!" Wanita itu mengarahkan pandangannya pada Sofia. "D-dia ... jahat, Sofia. Dia ingin membunuh semua orang yang dekat dengan kamu." Suara Mina berbisik. Membuat Sofia terperanjat. Lidahnya terasa kelu seketika. "Dia ... sangat ingin menghancurkan kamu, Sofia." "Si-siapa yang kamu maksud ini, Mamak?" tanya Paman Botek ikut terhenyak. "Sofia Hirang, Abah. Dia yang membuat aku jadi seperti ini." "Ma-maafkan Sofia ya, Acil. Sofia juga kada tahu kalau sosok ini mulai semakin menjadi-jadi." Paman Botek menarik lengan Sofia kuat. Dia mencengkeram dengan keras. "A-ada apa Paman?" "Kamu harus secepatnya bisa menemui orang pintar itu Sofia. Jangan sampai semua orang yang berada di sekelilingmu mati. Atau dia sakiti!" Kalimat tegas meluncur dari bibir Paman Botek. Manik mata Sofia bergetar, dengan pandangan yang nanar. Apa yang dikatakan oleh lelaki tua yang tengah memandang dirinya tak terbantahkan. Semuanya sebuah kebenaran! Sofia hanya bisa tertunduk dalam-dalam. Lalu menggamit lengan Paman Botek. "Lusa kami akan berangkat, Paman. Segera Sofia mencari orang itu, Abah Gambut." "Iya, karena sosok itu sudah emmbahayakan siapa saja." _Satu jam berlalu_ Mereka sudah membawa pulang Acil Mina. Walau masih sedikit pusing dan badannya lemas, tapi wanita itu memaksa untuk pulang. "Biar Paman saja yang bawa motornya. Mas Alam ikut saja di mobil." "Enggak apa-apa, Paman." "Sudah, masuk sana!" Tepat pukul sebelas malam mereka pun sampai rumah Paman Botek. Sofia membantu memapah Acil Mina masuk rumah hingga kamar. "Belum pernah aku alami kejadian kayak tadi. Dari awal kita pulang, di ujung jembatan itu aku sudah melihatnya.S Hanya saja Abah kada percaya. Ya sudah aku juga mikirnya mungkin aku salah lihat." Wanita itu mengambil jeda sebentar. Lalu, melanjtkan kembali perbincangannya. "Pas Adzan Maghrib, sosok ini udah lenyap Sofia. Kada ada aku melihatnya. Hilang lah dari pandangan aku tuh. Pas Sampai rumah, Abah langsung ke masjid. Nah, saat hendak ambil wudhu. Aku kayak melihat orang di ruang tamu. Aku berpikirnya itu kamu sungguhan, Sofia." "Apa Acil kada sadar sama sekali? Sofia 'kan di rumah, mana mungkin berjalannya lebih cepat dari pada Acil MIna yang naik motor." Wanita itu kembali menggeleng berulang-ulang. "Kada sadar sama sekali aku, Sofia. Yang ada dalam pikiran aku tadi, itu ya kamu." "Lalu, apa yang dibilangnya Mak?" tanya Paman Botek. "Dia ancam aku, Bah. Mungkin kita lah. Katanya tuh, kalau kita masih ikut campur urusan Sofia, dia akan menyakiti kita. Makanya kita disuruhnya pergi atau kada usah ikut campur sama sekali." Mereka yang mendengar kisah Acil Mina terhenyak.  "Bagaimana bisa dia bilang kalau Acil Mina ikut campur urusannya? Ini, urusan yang mana?" tanya Aulia dengan mimik yang serius.  "Mungkin ikut campur di sini, karena terus memberikan support dan bantuan sama Sofia. Kurasa yang kayak gitulah," sahut Alam. "Dan, dia tidak senang kayaknya, kalau Sofia benar-benar mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang terdekat." "Nah, Mas Alam benar. Aku punya pemikiran yang sama, Mas Alam," cetus Eno. "Kalau dia sudah berani menyerang Acil Mina, berarti dia juga berani menyerang kita di rumah itu. Iya 'kan?" Kali ini Aulia menebarkan pandangan, pada mereka satu persatu. "Kalau yang dikatakan Aulia benar, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi dia?" tanya Eno mulai cemas dan khawatir. Sofia yang memandang ke arahnya menggeleng. "Aku juga enggak tahu kita harus ngapain?" tutur Sofia pelan. "Jangan putus asa. Itu yang memang akan dia manfaatkan dari kita." Paman Botek mengingatkan Sofia. "Seperti yang pernah Paman bilang. Kamu harus jauh lebih kuat dan tegar dari yang dia perkirakan Sofia. Dia juga makhluk Allah, kenapa kita harus takut?" "Paman benar!" tegas Sofia. "Ini sudah malam, sekarang kalian pulanglah. Acil Mina biar istirahat dulu, Paman akan jagain." "I-iya, Paman. Apa Paman kada ingin Sofia temani?" Lelaki itu menggeleng. Mendapatkan jawaban itu, Sofia yang masih berat hati meninggalkan mereka. membiarkan Acil Mina untuk istirahat. "Besok, Paman kada usah ke rumah dulu. Sampai Acil benar-benar sembuh, Paman." "Iya, Sofia. Hati-hati kalian di jalan. Baiknya mutar aja, jembatan itu terlalu sempit Eno." "Iya, Paman. Tadi, Eno memang mutar jalannya." Setelah berpamitan, mereka pun segera menuju mobil. Tidak ada yang bicara sama sekali selama perjalanan. Semuanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Saat mobil sudah sampai di depan pagar rumah Sofia. Mereka berempat, terkesiap sejenak. "Si-siapa yang buka pintu pagar sama rumah kamu Sofia?" tanya Eno terbelalak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN