"Panas ... panas!"
Mina mulai panik, sampai dia mencari dari dalam kulkas. Tiba-tiba saja semua isi air putih telah kosong.
"Apa maksud kamu berbuat ini?"
Bibir Sofia yang mengering dan sebagian mengelupas, menyeringai lebar. Seolah sedang mentertawakan Mina yang kalang kabut mencari air.
"A-abah ... Abah!" Suara Mina terdengar serak. Sedanga sosok Sofia hanya menggerakkan lehernya patah-patah, ke kiri dan kanan, hingga menempel pundak. "Erghhh ... panas! Ya Allah ... ya Allah!"
Yang dilakukan Mina hanya memegang leher yang semakin terasa panas membara. Seperti ada sesuatu yang bersarang di tenggorokannya. Sampai akhirnya wanita jatuh tersungkur, di lantai kayu. Hanya linangan air mata yang membasahi kedua mata Acil Mina.
Dalam penglihatannya, sosok itu merangkak ke arahnya dengan tubuh yang terbalik. Bagian d**a dalam posisi di atas, tapi wajahnya dalam posisi yang menghadap arah Mina. Sorot matanya nyalang, memandang pada wanita itu.
"Kalian akan mati ... kalian akan mati!" Suara yang terdengar terbata-bata. Namun Acil Mina memahaminya. Dalam waktu yang hampir bersamaan. Pintu rumah berderit. Mina tahu jika itu suaminya.
"Abah ... Abaaaah!"
Suaranya sangat lemah, hampir tidak bisa dengar. Saat menapaki lantai dan menuju ruang tengah. Paman BOtek terpaku, saat melihat snag istri yang sudah tersungkur. Sontak dia berteriak histeris dengan langkah yang berlari cepat ke arahnya.
"Mina ... Mina!"
Kekhawatiran membayang di wajah Paman Botek. Dia melihat lukan yang sedikit berdarah di kening sang istri, mungkin akibat benturan pada lantai yang sangat keras.
"Ka-kamu kenapa Mina? Ada apa ini?"
Bergegas Paman Botek menelepon Sofia. Dalam deringan pertama, langsung diangkat dan terdengar suara gadis itu.
"Assalamualaikum Paman?"
"Waalaikumsalam, Sofia." Suara Paman Botek bergetar dengan terbata. Membuat Sofia mengerutkan dahinya penuh heran.
"Paman! Ada apa? Kok suara Paman kayak nangis gitu?"
"Acil ... Acil Mina, jatuh di lantai Sofia. Kayaknya enggak sadarkan diri sekarang. Paman ini panik."
"Hohhhh! Paman tenang sekarang. Bantu Acil dulu, aku ke sana bawa mobil. Sekarang juga Sofia bawa mobil Paman!"
Segera Sofia menutup telepon Paman Botek. Dia langsung menyambar jaket dan dompetnya.
"Eno! Enoooo!"
"Apaan teriak-teriak segala nih?"
"Ambil mobil kamu sekarang juga! Se-ka-rang juga, jangan pakek nanya dulu!"
Sesaat Eno masih terpaku dengan apa yang dikatakan oleh Sofia. Sampai Aulia menepuk pundaknya, yang membuat Eno tersadarkan. Bergegas dia berlari keluar rumah menuju rumahnya.
"Ada apa ini, Sofia?" tanya Alam panik.
"Acil Mina jatuh terus pingsan kata Paman Botek. Kasihan Paman sampai nangis. Aku sampai gemetaran ini, Mas Alam."
"Ya udah, kalau gitu kita siap-siap, sambil nunggu Eno ambil mobil!" seru Alaam.
"Ba-baik, Mas."
Aulia berlari cepat menuju kamar. Dia mengambil HP dan tas selempang.
"Ayo, Lia! Aku mau kunci rumahnya."
"I-iya, bentar."
Mereka berlarian keluar rumah. Sofia segera mengunci pintu rumah dan pagar. Tak lama, mobil berwarna putih milik Eno pun terlihat menuju arah mereka.
"Kita bisanya muter jalan raya. Kalau lewat jembatan kada muat ," ujar Eno.
"Dah, terserah kamu. Mana yang cepat sampai!" sahut Sofia ikut tegang.
Hanya butuh waktu sepuluh menit. Mobil sudah berhenti di depan rumah Paman Botek. Sofia langsung turun dan berlari kencang menuju rumah.
"Paman ... Paman!"
Sofia langsung menerobos masuk. Dia mendapati Paman Botek yang sudah memangku sang istri sambil terisak.
"Paman, Acil kenapa?"
"Sofia, Acil jatuh di lantai nah. Aku juga kada tahu kenapa? Pulang dari masjid udah kayak gini."
"Ya, udah. Kita masukkan Acil ke dalam mobil."
"Paman masuk dulu aja!" ujar Alam. "Nanti biar kita bawa motor Paman!"
"Kita, berarti sama aku, Mas?"
"Iya lah Sofia. Lagian mobil mana cukup?"
"Siap, Mas!"
Mereka pun menggotong tubuh Acil Mina, ke dalam mobil.
"Lia, kamu pindah ke depan!" seru Eno. "Biar Paman Masuk dahulu!"
Setelah semuanya masuk mobil. Alam bergegas mengambil kunci motor dan mengunci pintu rumah.
"Ayo, Sofia!"
Gadis itu mnasih terpaku melihat ke arah dalam rumah.
"Kamu ini kenapa? Kok malahnya bengong."
"A-aku ... tadi kayak lihat ada sosok seseorang dalam rumah, Mas."
Deg!
Apa yang dikatakan Sofia membuat Alam tercengang. Dia mengarahkan pandangannya pada titik yang dilihat oleh Sofia.
"Di mana Sof?"
"Di ... situ, Mas. Dia tadi berdiri di balik selambu jendela."
"Ka-kamu beneran lihatnya?"
"Iya, Mas. Coba kita buka dulu pintunya. Aku bener-bener lihat soalnya."
"Ta-tapi, kita bakal ketinggalan Sofia!"
Gadis itu mengacungkan Ponselnya ke atas.
"Kita bisa pakai maps. Lagian si Eno pasti bawa Acil ke rumah sakit paling dekat Mas Alam."
"Oke, oke."
Alam pun turun dari motor yang sudah hendak dia stater. Lalu, mulai membuka pintu yang tadi dikunci olehnya perlahan.
"Coba kamu lihat! Mana ada orang?"
Sofia tak menghiraukan pertanyaan kekasihnya. Dia berjalan menuju selambu korden. Menyibaknya perlahan, tapi tidak juga dia temukan seseorang di balik selambu itu.
"Enggak ada 'kan?"
Namun Sofia yang sudah penasaran, tak pedulikan omongan Alam. Gadis itu berjalan masuk memeriksa kamar depan. tidak ada yang aneh atau pun janggal. Semua terlihat baik. Kemudian dia langsung berjalan menuju ruang makan. Dapur dan juga tempat cucian. Masih terlihat biasa saja. Lalu, Sofia tertarik dengan ruang yang dibuat sholat, dia mengintip perlahan.
Pada saat bersamaan. Sekilas dia melihat sehelai kain yang bergerak cepat di ruangan sebelahnya. Tempat Acil Mina biasanya menumpuk pakaian bersih.
"Sofia! Kita udah ketinggalan jauh."
"Hussst!"
Sofia meletakkan jari pada bibirnya sendiri. Sambil menunjuk ke arah ruangan itu. Alam yang tidak sepakat dengan Sofia, akhirnya mengikuti sang kekasih. Yang kini berjalan pelan menuju ruangan tanpa pintu tersebut.
Pandangannya tercekat, manakala melihat sosok lain yang tengah duduk di lantai.
"Ka-kamu ... siapa?"
Dalam detik yang sama, Alam tidak melihat siapa pun juga di ruangan itu.
"Mas ... Mas Alam! Kamu ini mau ke mana?"
"Lah, enggak ada apa-apa kok?"
Dengan langkah santai Alam meninggalkan Sofia yang masih terpaku di ambang pintu masuk. Sosok yang tertutup kain putih, bergerak perlahan dengan beringsut mengarah padanya. Yang perlahan bagian ujungnya terangkat ke atas hingga menjadi sosok Sofia yang sama persis tiada beda, kecuali baju mereka.
"Ka-kamu!" sentak Sofia yang terbelalak melihat sosok Sofia Hirang tersenyum dingin padanya. "Kamu ternyata yang buat ulah, pada Acil Mina?"
Sosok Sofia HIrang menyeringai lebar. Dia seakan mentertawakan Sofia yang berdiri terpaku menantangnya. Hanya sekali gerakan angin yang kencang di skeitar Sofia. Gadis itu merasakan tangan yang ada luka seperti dipeluntir oleh seseorang.
"Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan aku! Karena kamu adalah aku. Dan aku adalah kamu!"
"Tidaaak! Tidak mungkin itu semua. Kamu tidak akan bisa mengalahkan aku. Tidak akan aku biarkan kamu menyakiti semua orang yang mencintaiku, Sofia!"
"Lakukan!"
Bruaaakkk!
Tubuh Sofia terhuyung ke belakang dan sampai menabrak tembok di belakangnya.
"Aaarghhh!" jerit Sofia terdengar keras. Sampai membuat Alam berlari masuk rumah. Dia terkejut saat melihat Sofia yang sudah tersungkur mengaduh. Dadanya terasa perih dan sesak.
"Sofiaaa! Ka-kamu kenapa?"
"D-dia ternyata ada di sini, Mas."
"Dia siapa ini?"
"Sofia Hirang!"
Seketika Alam terlihat resah. Dia sempat tidak percaya pada kekasihnya ini. Untuk yang kesekian kalinya.
"Ma-maafkan aku lagi, Sofia. Entah kenapa aku tadi bisa tak percaya lagi sama kamu?"
"Sudahlah Mas! Ayo, kita susul mereka sekarang. Sepertinya memnag Sofia hIrang mulai berani menampakkan wujudnya sama aku."