Acil Mina menunjuk pada ujung jembatan. Dia melihat seorang gadis, berdiri dengan gaun putih setinggi lutut. Yang berkibar terkena angin. Wajahnya masih samar. Tidak terlihat dengan jelas. Karena rambut menutupi sebagian wajahnya.
"Abah lihat?"
"Iya, memang mirip tapi bukan Sofia. Dia ada di rumah, Mak. Jangan terkecoh!"
"Ta-tapi, Bah. Apa tujuannya dia berdiri di tempat itu? Apa dia Sofia Hirang?"
"Jangan ngawur, Mak! Mungkin aja anak kampung sebelah."
"Ta-tapi, Bah?"
Seiring terdengar adzan Maghrib, sosok gadis yang tadi sempat dilihat oleh Acil Mina, menghilang. Sampai membuat wanita itu, mencari ke segala arah. Pandangannya berpendar mengitari ujung jembatan, tapi sosok itu memang telah lenyap.
"Abah ... saat adzan Maghrib, gadis tadi menghilang."
"Masa Mak?"
"Iya, Abah. Mamak tadi benar-benar melihatnya."
Sorot mata lelaki tua itu, terlihat redup. Dia memasang kaca mata, agar bisa melihat lebih jelas.
"Coba Abah coba lagi motornya!"
"Ba-baik, Mak!"
Hanya sekali stater, mesin motor langsung menyala.
"Nah, apa kataku, Bah. Biasa kan? Pasti ini gara-gara penampakan tadi. Mamak yakin itu!"
"Dah, kada usah dibahas lagi!"
Motor melaju pelan melewati jembatan hingga ujung. Ban motor mulai menapak lagi di jalanan beraspal. Tak sampai satu kilometer, mereka memasuki halaman rumah.
"Abah langsung ke masjid, Mak. Udah telat nah."
"Iya, Abah tolak sana!"
Langkah tuanya berlari kecil menuju masjid yang berjarak sekitar sepuluh rumah. Mina hanya memandang suaminya dari arah belakang. Segera wanita itu, mengambil kunci yang disimpan dalam tas. Hanya sekali putaran, pintu sudah terbuka. Perlahan dia mendorong, serta menutupnya kembali.
Bergegas Acil Mina menuju kamar. Wanita itu melepas kerudung dan Meletakkan di atas meja. Segera dia melepas pakaian berganti dengan yang bersih. Buru-buru hendak berwudhu.
Saat keluar kamar, Acil Mina merasa ada seseorang yang tengah berdiri di ruang tamu. Sontak dia menoleh, dan mengurungkan niat ke ruang belakang.
"Ka-kamu ... siapa? Kok, tiba-tiba ada di sini?"
Acil Mina terus mengamati sosok yang berdiri di depan pintu. Seperti sedang mengingat bahwa sosok ini yang berada di ujung jembatan. Saat menyadari hal itu, Acil Mina berjalan mendekat.
"Kamu ...bagaimana masuk rumah aku ini?"
Sosok itu tak memberikan reaksi sama sekali. Dia masih berdiri dengan tertunduk, hingga rambut panjang menjuntai menutupi wajah.
"Tapi, kenapa kamu mirip sama Sofia? Apa ... kamu Sofia?" desak Acil Mina, terus mendekat. Sampai langkahnya terhenti, tepat di depan sosok gadis itu. Hanya berjarak satu langkah. Tangan Acil Mina bergerak ingin menyibak rambutnya.
Saat jemari tangan wanita tua itu, menyentuh sebagian rambut sang gadis. Kepalanya mulai mendongak, hingga Acil Mina bisa menangkap wajahnya yang pucat.
"Sofia? Ini kamu?"
Tangannya bergerak cepat menarik lemgan sosok Sofia. Yang masih diam memandang pada Acil Mina.
"Ayo masuk sini, Sofia. Kenapa kamu diam saja?"
Gadis itu pun disuruh duduk di sebuah kursi yang berada di ruang tengah.
"Kamu tunggu sebentar ya? Acil mau wudhu dulu."
Sosok Sofia hanya mengangguk pelan, bekali-kali.
"Apa kamu enggak ikut sholat Maghrib sekalian?"
Tidak ada jawaban selain gelengan kepala.
"Ya, sudah kalau gitu. Acil mau sholat dulu."
Buru-buru langkah wanita tua itu, menuju tempat wudhu. Sambil sesekali menoleh ke arah Sofia yang tampak aneh. Lebih diam dan dingin. Tidak ada reaksi yang terlihat.
"Ada masalah apa dia?"
Selesai mengambil air wudhu, Acil Mina terkejut. Dia tidak melihat sosok Sofia di tempat duduknya. Sesaat tandangannya mengitari seluruh ruang. Masih saja tidak didapati sosok Sofia.
"Aku sholat dulu aja," bisik Acil Mina.
Setelah selesai mengenakan mukena. Tangan Acil Mina bergerak ke atas, seraya berucap,
"Allahu Akbar!"
Bersamaan dengan takbir, samar terdengar suara aneh. Entah apa?
Namun Acil Mina abaikan semua itu. Dia terus fokus dengan bacaan sholatnya.
"Erghhhh!"
Suara itu kembali terdengar. Tetap saja tidak membuat Acil MIna tergoyah sedikit pun. Setelah membaca dua salam. Dia mengusap wajahnya. Masih dengan istighfar, Acil Mina bewranjak dari tempat dia sholat. Mencari dari mana asal suara aneh tadi.
"Sofia ... kamu kah itu?"
Tidak terdengar jawaban. Sekilas Acil Mina melihat sebuah bayangan yang melintas. Seperti menyebrang dari ruang tengah menuju sebuah ruang kosong, yang digunakan sebagai tempat seterika dan lemari pakaian.
Bergegas Acil Mina masuk ruang yang tidak ada pintunya tersebut. Dia melihat sosok Sofia berdiri membelakangi.
"Kamu kok di sini, Sofia? Kenapa?"
"Takut!"
"Takut kenapa?"
Lalu, tangannya menunjuk ke arah Mina. Membuat wanita itu mengerutkan dahinya.
"Takut sama Acil?"
Kemudian, dia mengangguk pelan.
"Tapi, kenapa? Alasannya apa?"
"Karena kamu ... sembahyang. Aku merasa panas semua."
Mina semakin kebingungan menghadapinya..
"Ayo keluar sini kalau gitu."
"Aku ... cuman ingin kamu jangan pernah datang ke rumah aku lagi!"
Seketika Mina tersentak. Bagaimana bisa Sofia mengatakan dengan tegas tanpa basa basi sama sekali.
"Ke-kenapa kok bis agitu, Sof? Apa salah Acil sama kamu?"
"Banyak! Kamu selalu ikut campur urusan orang. Dan, suami kamu terlalu banyak mengerti tentang rahasia rumah itu!"
Saat itu, Mina baru tersadar. Bahwa yang dia hadapi bukanlah Sofia yang sebenarnya.
"Kamu tidak akan bisa menghalangi kami! Sebaiknya malah kamu yang harus pergi jauh!"
Hanya dalam sekejap mata. Sosok Sofia berbalik, dia menatap tajam pada Mina, yang tersentak. Saat melihat wajah pucat Sofia.
"Kau akan mati!"
Hanya seklai gerakan tangan, tubuh MIna terpental hingga menghantam didin ruang tengah.
"Aaaaarghhh!"
Dalam sekian detik, sosok Sofia sudah berdiri di hadapan Mina, yang kesakitan.
"Masih membangkang?"
"Pergi kamu dari rumahku!"
Perlahan tubuh Sofia terjatuh ke lantai kayu. Kepalanya membentur keras, membuat Mina sampai menutup mata. Dengan gerak cepat. Sofia berjalan dengan kedua tangan, dan kaki yang terbalik. Seketika itu, Mina menyadari bahwa sosok yang berada di hadapannya kali ini benar-benar iblis.
"Masih mau menentang aku?"
Manik mata Mina semakin nanar. Dia tidak mampu apa yang harus dikatakan atau dilakukan. Melihat wujud Sosok Sofia yang seperti ini saja sudah membuat dirinya ketakutan.
"Pe-pergi kamu! Jangan ganggu kami!"
Tampaknya pengusiran yang dilakukan oleh Mina, membuat sosok itu semakin menjadi-jadi. Dalam jarak jauh, sosok Sofia mengangkat kedua tangan, membentuk suatu gerakan. Yang sepertinya sedang mencekik seseorang.
Dalam detik yang sama. Mina merasakan lehernya mulai panas. Seperti ada sesuatu yang membakar. Sampai Mina berlari menuju dapur. Dia mencari air dingin. Namun tidak ditemukannya.
"Panas ... panas!"
Mina mulai panik, sampai dia mencari dari dalam kulkas. Tiba-tiba saja semua isi air putih telah kosong.
"Apa maksud kamu berbuat ini?"
Bibir Sofia yang mengering dan sebagian mengelupas, menyeringai lebar. Seolah sedang mentertawakan Mina yang kalang kabut mencari air.
"A-abah ... Abah!"