SOFIA HIRANG KAH (?)

1210 Kata
"Ka-katakan Sayang! I-itu ... jantungnya siapa? Ke-kenapa bisa ada di kamu?" Perlahan Sofia menunjuk ke arah pintu kamar, yang terbuka lebar. Sampai membuat Alam keheranan. Seingat dia, pintu kamar sudah dikunci dengan rapat. "Si-siapa itu?" desis Alam. Dia melihat seorang wanita yang jatuh tersungkur di lantai. "Katakan siapa dia Sofia!" bentak Alam dengan suara kencang. Gadis itu malah terdiam dengan bertumpu kedua lutu, kepalanya tertunduk dalam. Kedua tangannya masih berada di di depan d**a, dengan telapak tangan yang terbuka lebar. "Kenapa kamu diam?" sentak Alam sudah mulai hilang kesabaran. Lalu, Sofia menggerakkan tangan kembali ke arah lantai. "Liaaaa ...." Barulah Alam tersadar, jika ada tubuh yang tersungkur tidak jauh darinya. Bergegas Alam turun dan mendekat. Rambut panjang sepinggang seakan menutupi keseluruhan tubuh sang wanita. Alam mulai berjongkok. Dia mengguncang tubuh wnaita itu dengan pelan. Menepuk pundaknya, dan berinisiatif membalikkan bagian bahu hingga terlihat wajahnya. "Liaaaa ... kamu kenapa?" Tidak ada jawaban. Hening dan sunyi. Namun, saat pandangan matanya tertuju pada bagian d**a, sontak Alam menghempaskan tubuh wanita itu. "Haaahhh ... haaaahhhh!" jerit Alam histeris. Dia terus berteriak kencang, dengan beringsut mundur. Alam menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sampai sebuah panggilan seolah menyadarkan lelaki berwajah manis itu. "Mas Alam! Mas Alam! Ada apa ini?" Tiba-tiba, Sofia dan Aulia sudah berada di samping Alam, yang masih gemetaran. "Kamu ini kenapa sih, Mas?" "Pergi ... pergi kalian!" bentar Alam dengan mendorong pundak Sofia, dan juga menendang kaki Aulia. "Mas Alam! Kamu ini eknapa?" "Pergiiiii! Setan kalian ini!" "Sebaiknya kalian mundur dulu. Biarkan Mas Alam yang masih syok, tenang." Saat Sofia menoleh, Paman Botek sudah berdiri di ambang pintu. "Mungkin dia bermimpi buruk." "Ini masih sore, Paman!" tegas Sofia. Paman Botek hanya mengangkat alis. Pertanda agar Sofia tidak mendebat dirinya. Lelaki itu pun berjalan menghampiri Alam yang masih terduduk di lantai dengan membenamkan wajahnya di antara dua lulut. "Mas Alam ... Mas Alam! Ini Bapak, Mas." Saat mendengar suara Paman Botek, Alam mengangkat kepalanya perlahan. Mengerjap beberapa kali, dan mulai memandang sekitarnya. "Ehhh ... sa-saya, tadi melihat--" Kalimatnya terputus saya pandangan Alam tertuju pada Aulia.  "Aarggghhh!" Sontak teriakan Alam membuat terkejut Sofia dan Aulia, yang berdiri tak jauh dari mereka. "Kenapa sih Mas Alam itu? Lihat aku kayak hantu aja." Sofia hanya mengangkat kedua bahunya. "Mas Alam ada apa? Mungkin Mas Alam mimpi ya?" Terdengar derap langkah Acil Mina yang sudah membawakan segelas air. "Diminum dulu, Mas Alam!" Alam segera mengambil gelas dari genggaman tangan Acil Mina. Hanya beberapa kali tegukan, air itu pun habis. "Apa ... saya mimpi ya, Pak?" "Memangnya Mas Alam mimpi apa?" "Saya melihat--" Alam terdiam sekian detik, dengan mamandang Sofia. "Ayo lanjutkan!" pinta Paman Botek. "Saya melihat Aulia mati di lantai yang dia injak sekarang!" Aulia langsung bereaksi mundur, dengan raut wajah yang tegang. "Saat saya datangin, dadanya sudah berlobang dan jantungnya enggak ada. Paman tahu siapa yang mengambil jantung Aulia?" Paman Botek menggeleng, begitu juga dengan Acil Mina. "Memangnya ... siapa yang mengambil jantungnya?" "Sofia?" Seketika Sofia melotot, dengan memegang dadanya. Napas yang menderu semakin terdengar kencang. Tanpa terasa air matanya berlinang. "Ke-kenapa bisa aku Mas?" "A-aku juga enggak Tau, Sofia. Ini hanya mimpi. Lupakan saja!" sahut Alam. "Benar yang dibilang Mas Alam, Sofia. Ini hanya mimpi, jadi jangan diambil pusing." "Cuman ... mimpi Mas Alam tadi menakutkan sekali, Paman. Dadaku aja sampai sakit." Sofia berlalu meninggalkan mereka. Aulia segera menyusul langkah teman baiknya itu. "Sof ... Sofia! Tunggu dulu! Mau ke mana kamu?" "Aku ingin hancurkan cermin itu!" "Sofia!" cegah Paman Botek yang sudah berada di belakang mereka. "Jangan gegabah dalam bertindak. Mas Alam baru bermimpi, kenapa kamu sampai terbawa kayak gitu?" Bagai tersadar, Sofia menangis kencang. Dia menghambur ke dalam pelukan Aulia yang menyongsong tubuhnya. "Aku sepertinya enggak kuat hadapin ini, Lia. Aku ingin pulang ke Jawa aja." "Kalau kamu lemah seperti ini, siapa yang akan menyelesaikan semuanya, Sofia? Kamu sudah berada di setengah perjalanan. Lanjutkan atau kamu yang akan kalah. Karena di mana pun kamu berada, dia akan selalu ada Sofia. Jalan satu-satunya, melenyapkan dia dari kehidupan kamu!" tegas Paman Botek. Sofia manggut-manggut, dia tampaknya jauh lebih tenang. "Sofia, semakin kamu akan menemukan jalan keluar. Perjalanan yang kamu lalui, akan semakin terjal dan sulit. Ingat itu! Yang ada, dirimu harus kuat dan mempersiapkan diri. Yakin pada kemampuan kamu, bahwa semua bisa dihadapi dengan  mudah, Sofia. Walau kenyataannya sulit. Allah tidak akan menurunkan kesulitan tanpa memberikan jalan kemudahan." "Iya, Paman." Dalam waktu yang bersamaan. Eno berteriak memberikan salam, sambil membawa bungkus makanan. "Assalamualaikum!" Mereka menoleh ke arahnya. "Waalaikumsalam." Eno memandang aneh pada mereka. "Habis ada apa?" "Enggak ada apa-apa, kok," sahut Aulia.  "Aku tadi beli martabak manis. Yuk, makan!" ajak Eno yang langsung duduk di lantai. Aulia langsung mengajak Sofia yang masih terisak. "Kamu kenapa lagi?" "Aku tuh cuman sedih, En. Mas Alam baru saja teriak-teriak, ternyata dia mimpi." "Lah, masalahnya di mana?" "Dengerin aku ngomong dulu!" bantah Sofia kesal. "Oke ... oke, Maaf!" Gadis itu menarik napas panjang. "Tahu mimpi apa Mas Alam?" "Enggak tahu lah!" "Dia mimpi lihat Aulia mati di lantai, dengan d**a yang bolong. Jantungnya udah enggak ada." Sofia memandang pada Eno, yang bergidik ngeri.  "Terus?" "Kata Mas Alam, aku yang mengambil jantung Aulia. Serem enggak sih?" "Sangat!" "Kamu cuman nanggapinnya gitu aja?" "Lah, mau aku tanggepin gimana Sofia? Yang penting itu 'kan cuman dalam mimpi aja. Semoga kada bakala terjadi." "Iya, maaf aku jadinya sensi, sama emosi. Mungkin juga aku ini cemburu sama dia. Bagaimana bisa Mas Alam kepincut sama setan itu?" "Sofiaaaa! Istighfar anakku!" sahut Acil Mina. "Jangan cemburu sama hantu. Dia ini memang berniat pikiran kamu jadi kacau. Memang biar dirusak mental kamu." "Nah, benar yang dibilang Acil, Sofia. Mungkin saja sosok itu, ingin kamu lemah." "Bisa jadi," sahut mereka serempak. Sofia termenung sekian detik. Dari arah dalam, Alam berjalan menghampiri mereka.  "Kamu bener-bener udah enakan?" "Sudah, Mas." Tak jauh dari mereka duduk. Paman Botek dan Acil Mina sudah bersiap untuk pulang.  "Sofia kita pulang dulu lah, biar Maghrib kada di jalan. Di dapur juga ada makanan. Kalian tinggal hangatin aja ya." "Makasih Acil."  Sofia pun berdiri dan menjabat tangan keduanya. "Hati-hati ya, Paman!" Entah mengapa perasaan Sofia sedikit aneh, saat melihat kepergian mereka. Tidak seperti biasanya. Motor tua itu, berjalan lambat menyusuri jembatan kayu menuju arah rumah mereka. "Sepertinya sosok itu ingin menyerang mental Sofia, Mak." "Kayak apa itu, Bah?" "Yah, bikin Sofia itu jiwanya lemah. Dengan semua kejadian yang dia hadapi barusan ini." "Ohhh, kayak gitu. Mungkin saja lah Pak." Motor yang saat ini berada di tengah jembatan, tiba-tiba mesin motor mati mendadak. Membuat Paman Botek cemas. Tidak biasanya motor ini, tiba-tiba mati. "Turunlah dulu, Mak!" "Baik, Bah. Memangnya kenapa nih motor?" "Kada tahu jua nah. Nih masih mau aku periksa." Walau saat ini belum seberapa petang. Adzan Maghrib pun belum terdengar. Acil Mina merasa ada yang aneh.  "Abah ... Bah!" "Coba lihat itu nah, Bah!" "Apa, Mak?" "Itu yang berdiri di ujung jembatan kayak si Sofia, Bah." "Mana?" Acil Mina menunjuk pada ujung jembatan. Dia melihat seorang gadis, berdiri dengan gaun putih setinggi lutut. Yang berkibar terkena angin. Wajahnya masih samar. Tidak terlihat dengan jelas. Karena rambut menutupi sebagian wajahnya. "Abah lihat?" "Iya, memang mirip tapi bukan Sofia. Dia ada di rumah, Mak. Jangan terkecoh!" "Ta-tapi, Bah. Apa tujuannya dia berdiri di tempat itu? Apa dia Sofia Hirang?" "Jangan ngawur, Mak! Mungkin aja anak kampung sebelah."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN