JANTUNG SIAPA (?)

1047 Kata
"Menurut Paman itu apa?" "Mungkin saat Mas Alam di obati sama Kai Ansyah, membuat makhluk dalam rumah ini jadinya terbakar. Mungkin lah Sofia. Ini hanya pemikiran Paman aja." 'Dan ... yang aneh kayu hitam itu, Sofia!" Aulia menunjuk ke arah kotak kaca berisi kayu hitam. Cukup mengejutkan mereka. "Coba kalian ke sini!" ajak Aulia. Pandangan mereka langsung tertuju pada kayu hitam itu yang berdarah. "Ke-kenapa ... bentuk darah pada kayu itu kayak sebuah huruf A?" Aulia berpaling pada Sofia. Dengan cepat dia meraih tangan Sofia dan meletakkan di hadapannya. "Mas Alam bisa lihat juga 'kan?" Lalu, Aulia menoleh pada Paman Botek. "Paman juga melihat bentuk yang sama 'kan?"   "I-iya, kamu benar juga Lia. Ta-tapi kenapa tangan kamu itu, Sofia?" "Enggak apa-apa Paman. Cuman ingin membedakan saja antara aku sama dia. Kurasa bentuk dia tidak akan bisa dilukai seperti aku. Apa benar begitu ya Paman?" "Semoga apa yang kamu pikir ini, benar Sofia." "Iya, Paman." Kembali pandangan mereka tertuju pada kayu hitam itu. "Menurut Paman, apa darah yang ada di kayu itu, ada hubungan sama tangan aku ini?" "Kayaknya ada Sofia." "Benar-benar aneh. Apa sebenarnya hubungan dari semua ini, Paman?" Lelaki itu terdiam sesaat. "Menurut Kai Ansyah kayak apa?" "Aku harus datang ke kota Intan, Paman. Untuk bertemu sama Abah Gambut." "Abah Gambut?" "Itu yang disampaikan sama Kai Ansyah. Beliaunya kada bisa menuntaskan smeuanya. Harus dengan Abah Gambut." "Kapan rencana kalian?" Sofia melirik pada Alam. "Mungkin dua atau tiga hari lagi, Paman. Kita akan lakukan secepatnya," sahut Alam. "Cuman Paman, ada yang aneh selama Sofia menuju ke Pulo Laut kemarin itu." "Memangnya ada apa Sofia?" Sofia memilih duduk di karpet dekat Paman Botek. Dia menyandarkan kepala yang terasa pusing. "Ada cowok yang selalu ikuti Sofia, Paman. Perasaan dia selalu ada di mana-mana. Habis turun dari pesawat, di ajuga ada. Hendak naik kapal dia juga ada. Bahkan waktu kita mau pulang tadi, Sofia juga masih melihat dia. Dan, ini bukan sebuah kebetulan Paman. Karena pas malam kapan hari itu, Sofia melihat dia mengintai rumah sewa kami, dari balik pohon. Aneh 'kan, Paman?" "Sama sekali kah, kamu kada tahu, Sofia?" "Sama sekali. Aulia, Eno, Mas Alam, semuanya bisa lihat itu cowok. Bahkan tadi sebelum naik pesawat, kita bertiga sempat mengejarnya Paman." Sofia menghela napas panjang. "Lalu, kena kah dia?" "Kada Paman. Dia lari cepat sekali. Yang bikin Sofia heran itu, siapa dia? Kenapa kayak mengintai Sofia terus?" "Tapi, waktu di rumah ini, pernahkah kamu melihatnya?" "Kada sama sekali Paman." Sembari Sofia menggeleng. Dari arah luar terdengar Acil Mina yang mengucapkan salam. Wanita itu sudah membawa sebuah rantang besar.  "Ayo, nah. Kalian makan dulu!" "Wahhh, kebetulan saya lapar sekali, Bu," sahut Aulia. "Ya, udah ayo kita ke belakang!" ajak Acil Mina.  Mereka pun berjalan menuju ruang makan. Saat melihat lengan Sofia yang terluka, Acil Mina langsung menghentikan aktivitasnya. "Tangan kamu ini kenapa?" "Cuman luka dikit aja, Acil. Tapi, enggak apa-apa kok." "Semalam ada kejadian aneh di rumah ini, Sofia. Paman sudah cerita kah?" "Sudah, Acil." "Lalu hasilnya kamu pergi ke sana apa?" "Dua tiga hari ke depan, kami akan pergi lagi. Akan temuin Abah Gambut, Cil." "Lah, yang Kai Ansyah kenapa?" "Harusnya yang kami temuin itu namanya Ibnu Ansyah. Cuman beliaunya sudah meninggal. Nah, kami ketemunya dengan orang yang lain tapi namanya sama, dia menyarankan kami temui Abah Gambut ini. Yang katanya punya ilmu lebih tinggi dari Kai Ansyah ini Acil." "Ohhh, ya udah. Kalian makan dulu, habis tuh istirahat!" "Makasih, Bu Mina," ucap Alam. Selesai mereka makan. Sofia dan Aulia langsung menuju kamar. Kedua gadis itu, merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Sofia, kenapa aku merasanya si Sofia Hirang ini sulit buat kita usir." "Kenapa kamu berpikiran kayak gitu?" Aulia pun menggeleng pelan. "Aku juga enggak tahu. Cuman perasaan aku aja." Sorot mata Sofia tajam melihat padaAulia. "Segera selesaikan urusan kamu di sini, Sofia. Habis itu kita segera balik ke Jawa. Jujur, aku enggak nyaman di rumah kamu ini." "Aku bisa pahami itu, Lia. Semoga nanti saat kita ketemu Abah Gambut, semua permasalahan ini menemukan jawabannya." "Aamiin, semoga Sofia." Di siang menjelang sore, Sofia dan Aulia pun akhirnya terlelap. Paman Botek terlihat sedang memperbaiki pintu depan yang engselnya lepas. Sedang Alam di dalam kamar mencoba untuk tidur. Dia masih tidak percaya dengan apa yang tengah menimpa dirinya dua hari lalu. "Bagaimana mungkin, itu bukan Sofia? Aku benar-benar bisa merasakan tubuhnya. Bahkan lembutnya kulit dan wangi tubuh Sofia. Dan, aku yakin itu memang dia. Tapi, kenapa harus ada penyangkalan dari dia. Apa memang sosok si Sofia Hirang ini ada?" Berulang kali Alam mengembuskan napas. Sambil membuka ponsel, dan berselancar menuju ruang penyimpanan foto dan video. Tampaknya Alam masih belum percaya soal Sofia Hirang yang saat itu bersamanya. "Aku masih punya rekaman si Sofia, yang dia ingkari." Alam mulai memutar videonya dengan kecepatan yang lambat. Dari sosok Sofia yang tampak, dia sangat meyakini bahwa di dalam video itu adalah benar-benar Sofia.   "Tapi ... Sofia sangat yakin itu bukan dirinya." Alam pun menyandarkan tubuhnya. Sembari mengembuskan napas panjang yang lelah. Matanya pun mulai berat. Hingga akhirnya dia pun terlelap. Smapi sebuah guncangan di pundaknya cukup membuat Alam terkejut. "Sofiaaa?" Gadis itu mengangguk.  "Tolong  ... aku, MasAlam!" Saat Sofia mengatakn hal itu. Alam pun langsung terbangun, dia melihat kedua tangan Sofia berdarah. Tepatnya banyak tetesan darah segar yang berasal dari genggaman tangannya. "Ka-kamu, kenapa Sofia?" Suara Alam terbata dan sangat terperanjat. Dia bisa menyaksikan wajah pucat kekasihnya itu. "Apa yang terjadi? Kenapa ada darah begitu banyak di tangan kamu?" Gadis itu hanya menggeleng cepat. Dia terus terisak, dengan menunjukkan kedua tangannya. "Kenapa ini Sofia?" Segera Alam menarik tangan Sofia, sampai benda yang dibawa terjatuh di atas kasur. Seketika pandangan Alam terpaku pada bendaitu. "I-ini apa Sofia? Kok masih berkedut-kedut kayak gitu?" Sesaat Alam mulai mengamati dengan serius. Lalu, dirinya bagai tersentak. Tubuhnya hampir saja jatuh berguling ke lantai. Untung tangannya mampu menahan. "Bu-bukannya ... ini kayak jantung, Sofia?" Gadis itu pun mengangguk pelan, tanpa henti. "Beneran jantung?" Kembali Sofia hanya memberikan anggukan, tanpa ekspresi sama sekali. Sampai membuat Alam terhenyak. "Ka-katakan Sayang! I-itu ... jantungnya siapa? Ke-kenapa bisa ada di kamu?" Perlahan Sofia menunjuk ke arah pintu kamar, yang terbuka lebar. Sampai membuat Alam keheranan. Seingat dia, pintu kamar sudah dikunci dengan rapat. "Si-siapa itu?" desis Alam. Dia melihat seorang wanita yang jatuh tersungkur di lantai. "Katakan siapa dia Sofia!" bentak Alam dengan suara kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN