"Bapak ke mana ya Bu?" tanya Alam penasaran.
"Oh, Bapak langsung cari tiket buat kalian. Kalau dadakan gini agak lama."
"Semoga Pak Saed bisa dapatkan tiketnya buat kita, Aamiin!" cetus Aulia.
Hidangan yang dibawa Bu Saed, langsung tandas. Mereka benar-benar kelaparan. Tak lama, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah.
"Itu dia Pak Saed!" teriak Eno girang.
Mereka melihat ke arah luar. Mobil baru saja berhenti. Segera Pak Saed berjalan cepat menuju rumah.
"Ayo kalian siap-siap. Kita berangkat sekarang!"
"Ba-baik, Pak!" sahut Eno.
Segera mereka naik ke mobil. Sesekali Pak Saed memperhatikan Alam yang duduk di sebelahnya.
"Mas Alam sudah baikan?"
"Alhamdulillah sudah, Pak."
"Syukurlah kalau gitu."
Mobil mulai melaju kencang menuju dermaga.
"Satu jam lagi akan datang kapal. Sesampai di Kota Baru kalian akan dijemput sama Firman."
"Bapak sudah kontak beliaunya?"
"Sudah, Sofia."
"Alhamdulillah, makasih ya Pak Saed. Bapak sama Ibu udah baik banget sama kita."
"Kita udah anggap kalian kayak saudara. Nanti siapa tahu kita akan ke Banjar, mampirlah ke rumah Sofia," sahut istri Pak Saed.
"Iya, Bu. Pastinya saya akan senang sekali."
Tak lama perjalanan mereka pun akhirnya sampai di dermaga. Tampak kapal yang akan mereka naiki sudah bersiap. Sofia segera berpamitan pada Pak Saed dan istri. Diikuti oleh yang lain. Sambil meambaikan tangan, Sofia menaiki tangga menuju dek kapal.
Tak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Sepertinya Eno, Aulia dan Alam pun kelelahan. Satu jam perjalanan akhirnya kapal mendarat.
"Di mana Pak Firman menunggu kita, Sof?"
"Katanya dekat pembelian tiket Mas. Kita cari ke sana aja."
Di saat langkahnya berjalan cepat sambil mencari sosok Pak Firman. Sofia melihat lagi sosok lelaki tampan yang terus menatap ke arahnya.
"Siapa dia?"
Rasa penasaran membuat Sofia membelokkan langkah kaki, hingga menjauh dari lokasi yang telah ditentukan bersama Pak Firman.
"Sof ... Sofia!" teriak Alam, keheranan. "Ahhh, mau ke mana anak itu?"
"Kita ikuti Mas!" Eno pun sudah berlari mengejar Sofia.
"Aku gimana, Mas?"
"Lia, kamu cari Pak Firman di pembelian tiket. Tunggu kita di sana!"
"Ba-baik, Mas."
Alam pun berlari mengejar Sofia. Yang sudah jauh mendahului dirinya. Sedang Sofia semakin berlari cepat meninggalkan Alam dan Eno yang terus mengejar. Sampai gadis itu akhirnya berhenti di dekat sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas.
"Ehhh, siapa kamu?" teriak Sofia. Namun sosok lelaki itu semakin menjauh dan menghilang, tidak terkejar oleh Sofia. Yang sudah kehabisan tenaga.
"Sofia!" teriak Eno hampir bersamaan dengan Alam yang sudah berlari sejejar dnegan dirinya. Sampai mereka berhenti tepat di belakang Sofia.
Terdengar napas yang tersengal-sengal dari mereka berdua.
"Kamu ini kenapa sih langsung lari saja?" tanay Eno berang. Kitanya kan jadi terkejut lah, Sofia. Sampai aku kira ada apa-apa."
"Ma-maaf! Aku tadi lihat lelaki itu lagi, sorot matanya itu loh. Aneh, kayak ada sesuatu."
"Hemm, siapa dia?" gumam Alam. "Ya, udah! Pastinya Pak Firman akan lama nungguin kita."
"Dia sama Aulia?"
"Iya, aku suruh nungguin Pak Firman," sahut Alam.
Mereka bertiga bergegas, berbalik arah, menuju loket pembelian tiket di dermaga. Dari kejauhan Aulia sudah melambaikan tangannya pada mereka. Sofia dan yang lain, langsung berlari menuju ke arahnya.
"Di mana Pak Firman?"
"Itu, lagi ngerokok orangnya. Pesawat kita dua jam lagi berangkat, suruh cepat-cepat."
"Ayok, kalau gitu!" sahut Sofia berlari kecil mendekatinya.
Melihat kedatangan mereka, Pak Firman langsung membuang puntung rokok. Segera dia menghampiri Sofia yang berjalan beriringan dengan Alam.
"Kita harus berangkat sekarang Sofia."
"Baik, Pak."
Mereka berlari kecil menuju mobil.
"Uang Pak Firman udah saya transfer loh Pak," ujar Sofia.
"Iya, udah Bapak ambil juga. Makasih ya"
Perjalanan hari ini cukup lancar. Sampai pesawat mereka mendarat di bandara Syamsudin Noor.
"Kamu snegaja enggak kontak Paman Botek?"
"Enggak, Mas. Takut merepotkan. Biar kita naik taxy online aja."
"Ya, udah kalau gitu."
Tampaknya Eno dengan sigap sudah memesan taxy. Hampir lima belas menit mereka menunggu. Sampai akhirnya taxy yang dipesan pun datang.
"Itu deh kayaknya. Ayo kita turun!" ajak Eno.
Setelahnya mereka pun masuk mobil.
"Mau telpin siapa?"
"Paman, Mas. Takutnya mereka pergi. Aku kada bawa kuncinya lah."
"Ya udah telpon aja!"
Cukup lama Sofia menunggu teleponnya diangkat.
"Ke mana ini Paman Botek?"
"Coba ulangi lagi!" seru Eno.
Sekali lagi Sofia meneleponnya.
"Assalamualaikum Sofia. Di mana sekarang?"
"Waalaikumsalam, Paman. Sofia sudah di perjalanan pulang ke rumah."
"Lah, kenapa kada bilang? Kan bisa paman jemput di bandara Sofia."
"Kada usah Paman. Lagian kita pulangnya ini dadakan. Paman ada di mana sekarang?"
"Baru aja sampai rumah kamu. Mau bersih-bersih."
"Oh, ya udah kalau gitu Paman. Lima belas menit lagi kita sampai."
"Ya, udah kalau gitu."
Sofia pun menutup teleponnya.
"Gimana? Paman Botek ada di rumah, Sof?" tanya Eno.
"Iya, En. Baru saja datang katanya. Lagi mau bersih-bersih juga."
"Ohhh, ya udah kalau gitu."
Sekitar lima belas menit berlalu. Taxi mereka sudah berhenti di depan rumah Sofia.
"Alhamdulillah kita udah sampai," cetus Aulia. "Sampai di rumah yang menyeramkan."
"Hemmmm!" sahut Sofia melirik pada Aulia, yang seketika tersenyum lebar.
"Maaf!"
Di teras depan Paman Botek menyambut kedatangan mereka dengan raut wajah yang senang.
"Senangnya aku lihat kalian datang. Gimana di sana Sofia?"
"Nanti ulun ceritakan Paman. Ulun taruh tas dulu."
"Iya, Paman udah siapkan minuman dingin di meja ruang tengah."
Bergegas Aulia berjalan masuk, dan langsung duduk di lantai yang dilapisi karpet. Segera dia meneguk air dingin hingga habis dua gelas. Begitu juga dengan Eno dan juga Alam.
"Sofia aku pulang dulu lah? Nanti sorean aku ke sini lagi."
"Oke, En. Tidur sini 'kan nanti malam?"
"Iya lah, aku usahakan."
Segera Eno pergi meninggalkan rumah Sofia.
"Apa ... ada kejadian aneh, pas di sana?"
Tiba-tiba, Paman Botek bertanya pada Aulia dan Alam. Mendengar pertanyaan dari Paman Botek, membuat Sofia keluar kamar.
"Dari mana Paman bisa tahu?" Dahi Sofia mengernyit. Dari wajahnya terlihat kalau Sofia heran atas pertanyaan lelaki tua itu.
"Ada kejadian aneh di rumah ini Sofia kemarin."
"Kemarin?" Serempak Sofia dan Aulia bertanya. Sedang Alam hanya terpaku dalam diam.
"Kemarin sekitar jam sebelas dua belas siang? Benar kada Paman?" tanya Sofia serius.
"Bukan siang Sofia. Sekitar Maghrib."
"Maghrib?" ulang Sofia seraya mengingat kedatangan dirinya ke rumah sewa bersama Kai Ansyah kemarin.
"Pas Maghrib 'kan ada Kai Ansyah, Sofia? Terus MasAlam bisa sehat."
"Iya, Lia. Kamu benar."
"Memangnya ada kejadian apa? Ada apa sama Mas Alam?" Kali ini Paman Botek yang bertanya-tanya. Lalu, dia melihat ke arah Alam, yang masih diam.
"Ada sebuah kejadian yang bikin kita terhambat pulang, Paman. Harusnya kemarin kita balik sini, tapi kada bisa."
"Memangnya kenapa dengan Mas Alam?"
Walau ragu, akhirnya Sofia menceritakan apa yang terjadi pada kekasihnya. Sampai membuat Paman Botek terperangah.
"Lalu, luka memarnya udah sembuh sekarang?"
"Sudah Paman. Enggak terasa sakit juga. Hanya saja kadang saya itu masih enggak percaya baru mengalami hal itu," tandas Alam.
"Syukurlah kalau begitu."
"Terus di rumah memang ada apa Paman?"
"Aku melihat kamu di dalam kamar Pak Hasbi. Cuman aku yakin itu bukan kamu. Sampai akhirnya, aku mendnegar suara teriakan kencang dan juga kayak ledakan yang menghantam atap rumah. Aku sama Acil Mina, sampai lari keluar rumah. Yang ada hanya bau gosong. Kayak ada sesuatu yang terbakar."
"Menurut Paman itu apa?"
"Mungkin saat Mas Alam di obati sama Kai Ansyah, membuat makhluk dalam rumah ini jadinya terbakar. Mungkin lah Sofia. Ini hanya pemikiran Paman aja."
'Dan ... yang aneh kayu hitam itu, Sofia!" Aulia menunjuk ke arah kotak kaca berisi kayu hitam. Cukup mengejutkan mereka. "Coba kalian ke sini!" ajak Aulia.
Pandangan mereka langsung tertuju pada kayu hitam itu yang berdarah.