RENCANA PULANG

1120 Kata
"Stop, Mas! Hentikan!" teriak Sofia. "Apa yang ditanyakan sama Mas Andi ini ada benarnya. Mas Alam kada perlu marah juga. Ngaku kada?" Alam yang masih belum mengerti, bertambah bingung. "Kenapa kamu ingin aku menceritakannya sama mereka Sofia? Apa kamu ini enggak malu, haaa?" "Buat apa aku malu, Mas? Karena yang melakukan itu bukan aku, tapi Mas Alam melakukannya dengan sosok itu. Sofia Hirang!" sentak Sofia kesal. "A-aku? Bu-bukannya sama kamu Sofia?" ulang Alam seolah tidak bisa percaya apa yang dikatakan oleh Sofia. Menurutnya malam itu mereka memang melakukan atas dasar suka-suka. "Apa kamu sengaja berbuat ini sama aku? Apa kamu lupa sama sekali, Sofia?" "Mas Alam!" Kali ini Sofia benar-benar dibuatnya marah. "Bukan aku yang bersama Mas Alam waktu itu!"tegas Sofia penuh keyakinan. "Ta-tapi, itu semuanya terlihat seperti kamu, Sofia." Gadis itu menghela napas panjang. "Bukannya aku selalu bilang sama kamu sih Mas Alam. Sepertinya kamu lebih mengandalkan hawa napsumu saja. Sudah aku bilang itu bukan aku, melainkan Sofia Hirang. Sampai di sini Mas Alam bisa percaya sama aku?"   Alam memegang rambutnya kuat-kuat.  "Aaaarghhh!" Dia marah pada dirinya sendiri. "Kenapa dia terlihatnya sama kayak kamu Sofia. Bahkan kulitnya dan empuknya badan kamu terasa sama. Bahwa dia memang nyata." "Sudahlah, Mas! Jangan lagi kita bahas. Besok pagi kita akan langsung pulang ke kota. Apa yang jadi pesan dari Kai Ansyah, tolong Mas lakukan. Itu botolnya di sebelah Mas Alam." Tampak kemarahan  Sofia yang tidak bisa dibendung lagi. Dia meninggalkan Alam sendiri, lalu masuk kamar. Aulia dan  Eno pun mengikuti langkah Sofia. Tak lama, Andi pun berpamitan pulang. "Yang terpenting, Mas. Lebih mendekatkan diri sama Allah saja!" "Makasih, Mas." Alam hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu. Dia menyaksikan kepergian Andi yang kemudian menghilang di kegelapan malam. Alam yang masih bingung dengan semua yang terjadi, segera menutup pintu. Dia berusaha untuk bicara dengan Sofia. "Sof, bisa kita bicara berdua?" Namun, Sofia hanya diam disaksikan kedua teman karibnya. Eno dan Aulia hanya bisa saling berpandangan. Tidak tahu harus mengatakan apa pada Sofia. "Sofia! Kita harus bicara! Jangan sampai seperti ini, Sof. Mungkin saja memang makhluk itu ingin memancing amarah kamu. Agar kita berdua berpisah. Please, Sofia. Beri aku kesempatan bicara!" Eno yang merasa kasihan pada Alam. Akhirnya berniat untuk membanti Alam. "Apa yang dikatakan sama Mas Alam itu ada benarnya juga, Sof." "Yang bagian mana, Eno?" "Soal Sofia Hirang yang  memang ingin memisahkan kalian. Aku pikir apa yang dibilang Mas Alam ada benarnya juga." "Menurut kamu gimana, En?" "Ini memang dibuat agar kalian saling marahan. Pasti sekali itu, Sofia. Jadi kamu pun jangan terpancing!" Setelah mendapat masukan dari Eno. Pada akhirnya Sofia pun mau menemui Alam. "Marahlah, Sofia. Tapi setelah kita selesai bicara. Tolong kamu pahami ini dulu!" Alam menuntun gadis yang dicintai duduk bersebelahan dengannya.  "Pertama, aku benar-benar enggak tahu sama sekali, kalau itu bukan kamu. Yang kedua, bukan eku enggak percaya apa yang kamu bilang. Cuman menurut aku semuanya ini aneh, Sofia. Tolong mengertilah sama perasaaan aku sekarang!" Masih saja Sofia terdiam. "Apakah setelah ini Mas Alam akn mempercayai hanya aku saja?" "Iya, Sofia. Aku berjanji." Kemudian, Sofia mengambil tas ransel yang berada di dekatnya. Dia merogoh belati seukuran telapak tangan. Sengaja dia bawa ke mana-mana, untuk menjaga dirinya. Dari orang yang ingin berbuat jahat. "Kenapa dengan belati itu, Sofia?" "Aku akan memakainya, agar Mas Alam bisa mengenali aku!" tegas Sofia. "Pintar juga kamu!" "Pegang pergelangan tangan aku, Mas! Yang erat jangan sampai lepas!" Alam mengangguk. Melihat pada Sofia yang tengah bersiap pada ujung belati yang tajam.  "Mau kamu apakan, Sofia?" "Diamlah, Mas!" Dari ambang pintu kamar, Eno dan Aulia melihat ke arah mereka berdua. "Kamu ngapain pegang pisau kayak gitu?" tanya Eno sambil berjalan ke arah Sofia. "Mending kamu diam aja, En!" Sofia meneruskan niatnya. Dengan gerakan sangat cepat, Eno menampel pisau Sofia. "Enoooo!" teriak Sofia menjerit. "Kamu kada tahu apa yang handak aku lakukan ini!" "Memangnya apa yang akan kamu lakukan?!" sentak Eno pun tak kalah sengit. "Aku ini masih bisa berpikir realita,En. Aku bukan mau bunuh diri. Aku ini hanya ingin kasih tanda agar Mas Alam tahu beda antara aku sama dia!" tegas Sofia, yang berdiri mengambil belati yang terlempar di lantai. "Ohhh, kalau itu alasannya, ya maaf Sofia." Sofia hanya mengatup rapat kedua bibirnya. Kemudian, dia kembali duduk berhadapan dengan Alam.  "Mana yang akan kamu buat tanda?" tanya Alam. "Bagian lengan ini, Mas!" Sambil Sofia mengangkat tangannya tinggi ke atas, tepat lurus pada pandangan mata Alam. "Di sini, Mas!" tunjuk Sofia pada lengannya. Tanpa ada yang menyangka, gerak cepat dari tangan Sofia langsung menghujam di bagian lengannya sendiri.  "Aaaarghhhh!" Sofia yang menahan rasa sakit dan perih, berderai air mata masih tetap bertahan. Sengaja dia membentuk huruf A. Untuk yang kedua kalinya dia berteriak. Sampai tubuh dan wajah sofia basah oleh keringat. Segera Aulia berlari mengambil minyak kayu putih. Sengaja dia mengguyurkan pada luka yang berdarah itu. "Tahan Sofia! BIar enggak bengkak. Harusnya jangan terlalu dalam." Aulia terus menekan dengan kapas untuk menahan darah yang keluar. "Bagaimana bisa kamu kepikiran kayak gini?" tanya Eno mendekat. "Karena Mas Alam kada bakal bisa membedakan antara aku sama dia! Makanya aku putuskan membuat tanda ini." "Memang di DIA enggak bakal ada tandanya?" tanya Aulia dengan mimik serius. "Dia bukan manusia, Aulia. Aku yakin dia kada  bisa berbekas tangannya." Sofia sangat yakin dengan pendapatnya.  "Besok kita akan pulang jam berapa?" tanya Alam. "Kita tunggu kabar dari Pak Saed. Sepertinya tiket kita yang hari ini hangus." "Maafkan aku ya, Sof! Sampai ada kejadian seperti ini."  Gadis itu tak bisa menjawab, permintaan maaf Alam. Dia langsung memeluk lelaki itu dengan erat.  "Aku sangat takut kalau sampai ada apa-apa sama Mas Alam. Tolong, agar Mas Alam lebih percaya sama aku, dari pada yang lainnya." "Iya, Sofia." Malam ini pun mereka bisa tidur dengan nyenyak. Sampai pagi menjelang, dan Pak Saed belum juga memberikan kabar pada mereka. "Bagaimana ini Sofia?" tanya Eno, gelisah.  "Kita sudah siap dari jam tujuh tadi, tapi Pak Saed belum juga ke sini."  "Tenang dulu Eno! Mungkin Pak Saed sekalian cari tiket kapal buat kita. BIsa aja 'kan?" "Iya, juga ya. Cuman perut aku udah lapar nah." "Sama, En. Dari smealaman kita kada ada yang makan." Tok tok tok! "Assalamualaikum!" Bu Saed sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum lebar. "Kalian pada lapar nih?" "Kok Ibu tahu?" sahut Eno. "Ibu denger kok, kalau kalian pada lapar," sahutnya terkekeh. "Ayo kalian makan dulu!" Mereka langsung menyerbu makanan yang di bawa oleh istri Pak Saed. "Bapak ke mana ya Bu?" tanya Alam penasaran. "Oh, Bapak langsung cari tiket buat kalian. Kalau dadakan gini agak lama." "Semoga Pak Saed bisa dapatkan tiketnya buat kita, Aamiin!" cetus Aulia. Hidangan yang dibawa Bu Saed, langsung tandas. Mereka benar-benar kelaparan. Tak lama, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. "Itu dia Pak Saed!" teriak Eno girang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN