ALAM TERSADAR

1032 Kata
"Tolong semua yang ada di sini, bantu bacakan doa yang kalian bisa. Entah ayat Qursi, atau doa tiga Qul yang pasti kalian hapal 'kan?" "Ba-baik, Kai." Mereka menjawab serentak. Lalu mulai berdoa dalam hati , ada yang juga sampai terdengar lirih.  Saat itulah Alam mulai menunjukkan reaksinya. Dia menggeliat lemah, seperti ingin meronta dari entah apa? Mereka semakin terlihat tegang, saat Alam mulai menggerakkan tubuhnya dengan keras. "Aaaarghhh!"  Lelaki berwajah manis itu, mulai berteriak lirih. Menahan rasa sakit yang seperti ditusuk-tusuk jarum. Sampai Sofia ikut meringis menahan kesakitan yang dirasakan kekasihnya itu. "Aaaeghhhh!" Kali ini teriakan Alam semakin menjadi-jadi. Dia seperti berusaha untuk menepis buah pinang yang terbelah di dadanya.  Di waktu yang bersamaan, Kai Ansyah memberi kode pada Andi dan Pak Saed. "Tekan yang kuat bagian tumitnya. Seperti tadi yang aku bilang." "Baik, Kai," sahut Andi, dia pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu. Sedangkan Pak Saed menahan kedua tangan Alam agar tidak meronta. Dalam detik yang sama, Kai Ansyah seperti menarik sesuatu dari ubun-ubun Alam, yang membuat kekasih Sofia itu menjerit sekuat-kuatnya. Hingga akhirnya jatuh pingsan. "Mas Alam!" teriak Sofia mendekat. "Mas Alam kenapa Kai?" Namun lelaki itu masih saja diam dengan memejamkan mata. Sambil kedua tangannya bergerak seperti menggulung sesuatu. Setelah sekian detik berlalu, Kai Ansyah menghentikan gerakan tangannya. Tangan yang satu mengambil tali yang terbuat dari bambu yang diserut panjang.  Kemudian, Kai Ansyah mengikat sebanyak beberapa kali.  Sampai dia meletakkan benda itu ke dalam tasnya. "Itu tadi gulungan rambut sosok yang berasal dari rumah kamu, Sofia. Sepertinya Mas Alam ini pernah melakukan hubungan intim bersamanya." Bagai disambar petir di siang hari. Sofia terbelalak dengan mulut yang terperangah. Dia tidak menyangka jika sosok Sofia Hirang sudah melangkah jauh. "Apa, Kai?"  Lelaki tua itu hanya manggut-manggut. "Jadi, Mas Alam sudah pernah bersama Sofia Hirang itu?" "Iya, karena mengira itu adalah dirimu." Sofia kembali menunduk lemas. Dia beringsut mundur, menyandarkan tubuhnya di dinding kayu. Tanpa terasa air mata sudah membasahi pipinya. "Kenapa Mbah? Kenapa sosok itu mengincar semua yang berhubungan dengan aku? Apa dia juga akan mengincar semua kehidupan aku?" "Nantinya akan seperti itu, Sofia. Karenanya kamu harus cepat bergerak." "Lalu, bagaimana nasib Mas Alam nanti?" "Saat ini dia sudah aman. Sosok itu tidak akan berani menganggunya lagi." Kai Ansyah melirik pada Sofia yang tampak sangat terpukul oleh kejadian ini. "Kamu harus jauh lebih kuat darinya, Sofia. Agar dia tidak bisa mempermainkan dirimu." "Bagaimana ulun bisa kuat, Kai? Kalau apa yang ulun hadapi ini sangatlah rumit dan sulit. Semuanya ini kayak berbalik arah. Semua kayak berputar dan aku merasanya seorang diri. Apalagi kalau sampai dia merebut teman-teman aku juga. Apa bisa begitu nantinya?" Kai Ansyah hanya diam. Dia tak menjawab pertanyaan Sofia. "Ulun tahu apa yang ada dalam pikiran Kai." Sembari Sofia tertunduk dalam tangisnya. Eno dan Aulia hanya bisa memandang Sofia dengan hati yang iba. Tak lama berselang. Tubuh Alam mulai bergerak pelan. Matanya mengerjap beberapa kali. Dia memandang orang yang ada di sekitarnya. "Di mana ini?" "Mas Alam masih di rumah sewa," sahut Pak Saed. Sedangkan Sofia tidak bereaksi sama sekali. Dia tampaknya masih kesal dengan apa yang tadi diungkap oleh Kai Ansyah. "Sofia di mana?" ujar Alam dengan suara yang lemah. Dengan terpaksa, walau hatinya sakit, Sofia pun mendekat, "Iya, Mas. Ini aku Sofia." Gadis itu menggenggam erat tangan Alam. Walau hatinya perih. Bagaimana bisa, Alam yang dia percaya akan kesetiaannya, bermain dengan sosok itu. "Cobalah duduk, Mas Alam!" Kai Ansyah membantu agar Alam duduk dan bersandar berjajar dengan Sofia. "Coba angkat kaosnya!" Segera Alam mengangkat kaosnya ke atas. Hingga bagian dadanya terlihat. Luka memar yang tadi bertambah lebar, kini telah lenyap. Bahkan tidak berbekas sama sekali. "Masih sakitkah dadanya?" "Enggak, Kai. Memangnya tadi ada apa? Kok Kai ada di sini?" "Mas Alam tadi dapat serangan. Sampai kesakitan, apa kada ingat?" tanya Pak Saed. Sejenak Alam mencoba mengingat semua yang baru saja terjadi. "Tadi d**a aku sakit sekali." "Memangnya apa yang Mas Alam lihat sebelumnya?" tanya Aulia. "Kayak ada bayangan hitam berdiri dekat pintu situ. Terus, aku enggak tahu lagi. Yang ada cuman rasa sakit di d**a ini, kayak diremas-remas." Kemudian, Kai Ansyah mengambil buah pinang yang lain, lalu dia masukkan ke dalam segelas air mineral. "Mas Alam, tolong ini di minum pagi sore. Jangan sampai lupa. Biar luka di bagian dalamnya cepat sembuh." "I-iya, Kai. Makasih ya." Alam melirik pada Sofia yang sedari tadi lebih banyak diam. "Kamu kenapa Sofia?" Gadis itu hanya menggeleng. "Ada apa sih Sofia?" "Enggak apa-apa kok, Mas. Sofia hanya capek aja." Kai Ansyah pun sgeera berpamitan, sembari memberikan botol yang berisi buah pinang pada Sofia. "Besok kalian pulanglah dulu sampai rumah. Tepat di hari jumat pagi, kalian pergilah ke rumah Abah Gambut." "Ba-baik, Kai." Pak Saed beserta istri pun berpamitan pulang sekalian mengantar Kai Ansyah. Begitu juga dengan Andi. "Mas Alam tolong kalau sampai di rumah nanti, jangan terlalu banyak mengikuti perasaan." "Maksudnya apa?" Tampak Alam kebingungan. Dia terus mencecar pertanyaan pada Andi. Lelaki muda yang sedikit mempunyai kemampuan itu, kembali duduk. "Kai Ansyah memang kada bilang apa-apa sama Mas Alam. Cuman tadi sekilas beliau bilang sama aku, kalau Mas Alam jangan terlalu mengikuti hawa napsu." Alam semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Andi. "Aku makin enggak ngerti sama omongan kamu ini. Jelaskan saja maksudnya!" Tampaknya Alam mulai emosi. Dengan sabar dan berusaha terus tersenyum, Andi  menjelaskan pelan-pelan. "Jadi gini Mas Alam. Sosok yang tadi menganggu Mas Alam ini berasal dari rumah MbakSofia. Sosok ini akan terus mencoba untuk mendekati, Mas Alam. Karena apa? Dia ingin merebut siapa saja yang dimiliki oleh Mbak Sofia. Sudah mulai mengerti Mas?" Alam memgangguk pelan. "Sebelumnya Mas Alam jangan marah ya?" "Enggak, bilang saja." "Apa benar Mas Alam pernah tidur dengan Mbak Sofia?" Sontak raut wajah Alam bagai terbakar. Memerah oleh amarah. "Semakin kurang ajar kamu ya!" Saat Alam ingin menonjok rahang Andi, dengan sigap Sofia menahan lengan Alam. "Stop, Mas! Hentikan!" teriak Sofia. "Apa yang ditanyakan sama Mas Andi ini ada benarnya. Mas Alam kada perlu marah juga. Ngaku kada?" Alam yang masih belum mengerti, bertambah bingung. "Kenapa kamu ingin aku menceritakannya sama mereka Sofia? Apa kamu ini enggak malu, haaa?" "Buat apa aku malu, Mas? Karena yang melakukan itu bukan aku, tapi Mas Alam melakukannya dengan sosok itu. Sofia Hirang!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN