"Kamu lagi?"
"I_Iya, Kai Ansyah. Saya datang lagi, karena mau minta tolong."
Dahi penuh keriput milik Kai Ansyah semakin mengerut. Dia tidak mengerti mengapa mereka datang lagi.
"Masuklah dulu. Jangan panik apalagi sampai bingung kayak itu!" tegas Kai Ansyah.
Mau tidak mau, mereka pun masuk rumah dan langsung duduk di atas tikar yang sudah disediakan.
"Coba tenangkan dulu diri kamu. Terus baru ceritakan apa yang terjadi."
Sofia menarik napas panjang. Lalu mulai menceritakan kondisi Alam dari awal kejadian sampai dia meninggalkan di rumah sewa bersama Aulia dan istri Pak Saed.
Kai Ansyah pun ikut terdiam beberapa lama.
"Aku harus ikut kalian! Bisa aku obatin di sini, cuman butuh waktu lama. Kasihan nanti kawan kalian itu."
"Memangnya Mas Alam itu kenapa Kai?"
Lelaki itu masih saja terdiam.
"Apa ... ada kaitan dengan rumah ulun? Sosok yang ada di sana?" cecar Sofia tidak sabar ingin segera mendapatkan jawaban.
Tangan lelaki itu bergerak did epan d**a. Sebagai pertanda agar Sofia berhenti bicara. Seketika suasana hening. Tidak ada seorang pun yang bicara sama sekali.
"Tunggu sebentar!"
Kai Ansyah berjalan masuk menuju ruang kamarnya. Mneinggalkan Sofia yang resah dan cemas. Perasaannya saat ini campur aduk jadi satu tidak karuan.
Sejenak Kai Ansyah mengambil kotak kecil, lalu buah pinang. Tak lupa satu kotak kulit jagung dan tembakau dia bawa. Lelaki itu mengayunkan langkah lebarnya menuju ruang tamu.
"Ayo, kita berangkat sekarang! Sebelum adzan!"
"Baik, Kai."
Mereka segera keluar rumah berjalan beriringan. Eno terlihat mulai kelelahan, segera Sofia memberikan air padanya.
"Sedikit lagi kita sampai Eno. Dikuatkan lagi ya."
"Iya, Sof. Cuman berhenti sebentar aja. Satu menit."
"Oke." Sofia memberi kode dengan lambaian tangannya pada Pak Saed dan Kai Ansyah. Untuk menyuruh mereka berdua jalan lebih dulu.
Satu menit kemudian, Eno dan Sofia pun menyusul mereka. Tampak di dalam mobil Pak Saed dan Kai Ansyah menunggu mereka berdua.
"Maaf, Kai . Ulun tadi lelah sekali, sampai kayak kada kuat jalan."
"Kada apa-apa."
"Kayaknya karena kalian belum ada yang makan. Habis ini selesai urusannya, kalian harus makan malam dulu!" ujar Pak Saed.
"Iya, Pak."
Mobil melaju kencang menuju rumah sewa.
"Semoga semua baik-baik saja," bisik Sofia pada Eno.
"Iya, Sof. Aku kasihan sama Mas Alam kalau sampai dia ada apa-apa. Jadi ingat kisah anak sama suaminya Nini Amas."
"Aku juga mikirnya gitu, Eno. Sampai kada bisa mikir lagi. Otakku buntu, kaya kada bisa mikir sama sekali nih."
Eno langsung memeluk Sofia, yang terisak. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah.
"Kenapa nasib aku kayak gini, En? Kenapa aku harus berhubungan dengan makhluk itu?"
"Sabar Sofia. Mungkin semua ini akan ada hikmahnya. Pasti ada hikmahnya.
Mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di depan pagar. Sofia langsung turun dan berlari. Dia terkejut melihat ada Andi yang dudu tidak jauh dari Alam.
"Dia ponakan Ibu, Andi namanya, Mbak. Aku suruh datang ke sini, soalnya tadi Mas Alam teriak-teriak minta pulang. Kita berdua takut kewalahan."
"Makasih ya, Bu. Mas Andi makasih juga."
"Sama-sama."
Sekian detik, Kai Ansyah bersama Pak Saed memasuki ruang tamu. Sekilas lelaki tua langsung memperhatikan Alam yang tidur. Lalu, dia duduk di dekat kepala Alam.
"Dia tidur dari kapan?"
"Setelah saya kasih minum air putih ini, Kai."
Lelaki itu manggut-manggut. Dia mengeluarkan biji pohon pinang. Yang sudah terbelah menjadi dua bagian.
Pada bagian tengah yang terbuka, Kai Ansyah mengusapnya perlahan dan meniup sebanyak tiga kali. Dia menempelkannya di bagian dahi dan ujung tenggorokan.
"Coba kamu buka kaosnya!"
Andi dengan sigap membantu KaiAnsyah. Saat kaos Alam terbuka ke atas dan terlihat dadanya yang bidang. Mereka bisa melihat memar biru kehitaman sudah melebar sebesar ukuran telapak tangan orang dewasa. Membuat Sofia terbelalak.
"Mas Alam!" bisiknya.
Berulang kali Kai Ansyah menarik napas panjang.
"Dia yang berada di rumah kamu itu yang melakukannya. Sosok itu menyukai lelaki ini!" tegas Kai Ansyah. Apa yang dikatakannya membuat Sofia hancur. Mana mungkin dia akan bersaing dengan sosok makhluk ghoib yang jahat.
"Bagaimana ini Kai?"
"Aku akan bantu melepaskan cengkraman sosok jahat itu. Cuman sifatnya sementara. Kalian harus segera ke rumah Abah Gambut."
"Kami memang berencana akan ke sana terlebih dulu, Kai."
Namun lelaki tua itu menggeleng.
"Kada bisa kalian langsung ke rumah Kai Gambut."
"Ke-kenapa Kai?"
"Pasti nanti sosok itu akan terus mengacaukannya. Pulanglah dulu kalian ke rumah. Nanti aku kasih benda yang harus kalian tanam, agar sosok itu setidaknya tidak mengganggu perjalanan kalian menemui Abah Gambut."
"Baik, Kai kalau begitu. Cuman kenapa dia senang sama Mas Alam?"
"Karena kamu juga senang."
Deg blaarrr!
Serasa jantung Sofia berdentum sangat keras.
"M-maksud Kai?"
"Apa yang kamu lakukan, kamu senangi dia juga lakukan hal yang sama. Termasuk mencintai lelaki ini!"
Sekujur tubuh Sofia terasa lemas seketika. Kedua lututnya sampai bergetar hebat. Eno dan Aulia yang melihat langsung menangkap tubuh Sofia dan mereka memeluk gadis itu.
"Kamu bantu aku!" ujar Kai Ansyah pada Andi. Pak Saed pun mendekat.
"Bai, Kai."
"Nah kamu dengar apa yang aku bilang ini. Kalau biji pinang ini aku letakkan di luka memarnya, terus kalau dia berteriak, tekan antara tumit kaki dengan mata kaki yang kuat. Salah satu kaki aja. Paham?"
"Paham, Kai."
"Nah, Pak Saed, tolong bantuin jagain badan anak muda ini jangan sampai terlalu banyak gerak. Paham juga lah?"
"Iya, Kai."
"Bismillah," desis Kai Ansyah. Dia mulai meletakkan dua potongan biji pinang, di atas luka memar yang terus bergerak pelan. Masih belum ada reaksi dari Alam yang terlihat. Raut wajah yang ada di rumah itu ikut tegang termasuk Sofia, yang hampir tidak bisa berkedip melihat kekasihnya.
'Bagaimana bisa aku harus menghadapi hal seperti ini sendirian? Sebenarnya, apa yang telah Papa dan Mama lakukan? Sampai hal ini membuat Sofia menderita kayak gini. Apa?' Hati Sofia menjerit dengan keadaan yang kini sedang dihadapi olehnya.
Kembali dia melihat pada Alam yang masih saja tetap diam, tanpa reaksi sama sekali.
"Tolong semua yang ada di sini, bantu bacakan doa yang kalian bisa. Entah ayat Qursi, atau doa tiga Qul yang pasti kalian hapal 'kan?"
"Ba-baik, Kai." Mereka menjawab serentak. Lalu mulai berdoa dalam hati , ada yang juga sampai terdengar lirih.
Saat itulah Alam mulai menunjukkan reaksinya. Dia menggeliat lemah, seperti ingin meronta dari entah apa?
Mereka semakin terlihat tegang, saat Alam mulai menggerakkan tubuhnya dengan keras.
"Aaaarghhh!"