"Kita pulang sekarang!" Suara Alam pun terdengar aneh. Berulangkali Aulia menggeleng. Dalam hatinya mulai membaca surat Qursi.
"Ini aneh," desis Aulia melihat pada istri Pak Saed yang sepertinya merasakan hal yang sama.
"Kita pulang sekarang!"
"Kita pulang sekarang!
"Kita ... pulang sekaraaaaang!" Kali ini suara Alam sangat kencang dan membentak. Dua bola matanya terlihat merah membara. Seperti merahnya darah yang segar. Membuat Aulia ketakutan.
"Ka-kamu kenapa Mas Alam?" Aulia dan Bu Saed mulai cemas dan panik. "Bagaimana ini, Bu? Kok bisa Mas Alam minta pulang kayak gini? Seperti bukan Mas Alam ini, Bu."
"Memang kayaknya bukan itu, Mbak. Untungnya badan dia lemah, semoga dia enggak nekad lari."
"Lari keluar rumah, Bu?"
"Iya, Mbak."
"Te-terus, Bu. Kita bagaimana ini? Mana cuman berdua aja lagi."
Wanita itu menepuk bahu Aulia, dan mengusapnya perlahan.
"Mbak Aulia harus bisa tenang ya. Ini tadi Ibu sudah memanggil keponakan yang paham soal begini. Sebentar lagi sampai sini."
"Ohhh, syukurlah kalau ada bala bantuan. Saya sudah takut sekali ini Bu."
"Kita jaga agar Mas Alam enggak sampai melakukan hal di luar nalar kita. Apalagi sampai melarikan dirinya dari rumah. Akan sangat bahaya buat keselamatan Mas Alam."
Waktu pun terus berjalan, dan terasa lama. Berulang kali Aulia melihat arah luar rumah. Sampai terdengar deru motor yang berhenti di halaman rumah mereka.
"Itu ponakan saya datang!" seru Bu Rahman semringah. Dia beranjak dari duduknya. "Masuklah Andi!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam." Andi langsung menyalami Bu Rahman. "Ada apa ini Tante?" Andi melirik pada Alam yang telah kembali tertidur pulas.
"Temani kita di sini, Andi. Paman kamu soalnya masih antar tamu ke orang pintar."
"Memangnya Mas itu kenapa?"
Aulia yang sedari tadi diam, menggeser duduknya mendekat.
"Itu namanya Mas Alam, Mas Andi. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba waktu kita mau pulang, Mas Alam mendadak kesakitan di bagian dadanya. Sampai kita bawa ke dokter, Mas. Tapi dia masih merintih terus."
"Dia ada teriak-teriak?"
"A-ada barusan aja."
"Bilang apa?"
"Katanya, dia mau pulang sekarang!"
Lelaki muda seumuran Aulia itu, terus memperhatikan Alam yang tidur meringkuk menahan sakitnya.
"Apa ada tanda luka atau yang lain di badannya, Mbak?"
"A-ada Mas. Di d**a Mas Alam ada luka memar."
"Boleh aku lihat ya?"
Aulia hanya mengangguk, dan menemani Andi sampai mendekati Alam.
"Mas Alam coba lihat lukanya dulu."
"Sakit ... sakiiit!" Suara Alam terdengar lirih.
"Ini dapat gangguan dari makhluk ghoib, Tante."
"Sudah Tante duga, Andi. Melihatnya aja udah enggak wajar."
Andi membaca sesuatu lalu meminta pada Aulia untuk mengambilkan air putih. Bergegas Aulia berjalan ke arah belakang. Lalu mengambil gelas dan menuangkan air dari teko.
"Ini Mas Andi."
"Ehhh, aku hanya bisa bantu agar Mas Alam kada keluar rumah, Mbak."
"I-iya, Mas."
"Soalnya kalau sudah berhubungan dengan makhluk ghoib yang berilmu tinggi kayak ini, ulun kada berani Tante." Sembari menoleh pada Bu Rahman. "Jelas sekali makhluk ini, sudah punya kontak sebelumnya sama Mas Alam."
"Kontak sebelumnya, Mas?" Aulia seperti tidak mengerti apa yang dimaksudnya tadi.
"Iya ada pertemuan yang sudah terjadi sebelumnya, Mbak."
Seketika Aulia teringat bagaimana perdebatan antara Sofia dan Alam saat itu.; Alam mengira bahwa Sofia yang melakukannya.
"Apa Mas Alam pernah melakukan hubungan yang dekat dengan sosok itu?" tanya Aulia penasaran.
Dia melihat Andi sudah memercikkan air pada wajah hingga ujung kedua kaki Alam. Masih belum ada reaksi sama sekali. Semua yang melihat dan menunggu cukup tegang. Mereka ingin tahu reaksi apa yang akan terjadi pada Alam.
"Belum ada reaksi apa pun Andi?"
"Biarkan saja Tan! Yang penting Mas Alam ini enggak bereaksi brutal, yang bikin kita malah kewalahan."
"Kamu benar juga."
Setelah itu, Andi menyelesaikan tugasnya. Dia kembali memericikkan air tadi di depan pintu hingga mengelilingi ke seluruh ruang.
"Semoga ini bisa jadi pagar, agar Mas Alam saat bangun enggak sampai berniat keluar rumah ini. Biar kita enggak susah, Tan."
"I-iya, Andi. Terserah kamu deh."
***
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tampak Sofia dan Eno terlihat tegang. Tak bisa dipungkiri dari pandangan mata mereka, yang nanar. Sofia terlihat murung, dengan jari-jari tangannya yang terus bergerak melampiaskan kegelisahan hati.
"Pak Saed, kenapa Mas Alam bisa kayak itu?"
"Aku juga kada tahu nah, Sofia. Yang jelas Mas Alam itu kena gangguan makhluk ghoib. Sakitnya dia enggak wajar."
Perkataan Pak Saed bagi hantaman yang menyakitkan buat Sofia. Dia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada Alam.
"Apa menurut kamu ini ada hubungannya sama Sofia Hirang, Eno?"
Eno tak menjawab selain hanya mengangguk. Gadis itu pun terlihat tegang dan cemas.
"Sebelum maghrib tiba, kita harus segera sampai atas," ujar Pak Saed.
"Ini udah hampir jam empat, Pak. Kira-kira kita bisa sampai enggak?"
"Semoga bisa. Perkiraan aku sampai sana jam empatan. Paling masih sore sudah di rumah Kai Ansyah."
Tepat jam empat lebih lima belas menit. Mobil mereka berhenti di depan pasar yang hanya ada satu dua orang terlihat. Melihat mobil Pak Saed yang berhenti, salah seorang dari mereka langsung menghampiri.
"Kenapa balik lagi?"
"Ada masalah sama orang rumah. Kayaknya terkena serangan makhluk jin. Aku juga kada tahu."
"Handak ke rumah Kai Ansyah lagi?" tanya lelaki tersebut. Pak Saed mengangguk cepat. "Cepatlah kamu ke sana, takutnya nanti kalau malam biasanya dia keluar rumah sampai pagi."
Mendengar perkataan lelaki itu, hati Sofia berdesir.
"Semoga ya Allah, jangan sampai Kai Ansyah keluar dulu. Pertemukan kami dulu ya Allah," desis Sofia semakin kalut.
"Kamu kada apa-apa, Sof?"
"Aku kada bisa tenang Eno. Takut sekali kalau ada apa-apa sama Mas Alam."
"Iya, wajarlah kamu cemas kayak gini. Cuman, sedari tadi kita jalan. Aku kepikiran apa yang dibilang Aulia tadi."
"Sama, aku juga Eno."
Pak Saed sudah menghampiri mereka setelah emnitipkan mobilnya.
"Ayo kita jalan sekarang!" ajak Pak Saed menyela pembicaraan Sofia dan Eno. Kedua gadis itu segera mengekor langkah Pak Saed.
Langit mulai kemerahan, pertanda akan siap berganti dengan malam. Sesekali Sofia melirik ke arah jam tengan yang dipakainya.
"Kurang lima belas menit lagi, jam lima. Kita masih setengah perjalanan," bisik Sofia kian reasah.
"Jangan mikirin jam lagi, Sofia! Yang penting kita bisa sampai atas."
"Baik, Pak Saed. Cuman Sofia bener-bener kepikiran Mas Alam."
"Pasti selesai. Kamu harus optimis, Sofia."
"Iya, Pak Saed."
Tak lama langkah mereka berhenti di rumah Kai Anyah. pIntunya sedikit terbuka. Sofia pun menarik napas lega, setidaknya lelaki itu masih di rumah.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam." Suara Kai Ansyah terdengar parau. Langkahnya pun mulai terdengar mendekati arah pintu. Lalu dia melongok dan melihat pada Alya dan yang lain.
"Kamu lagi?"
"I_Iya, Kai Ansyah. Saya datang lagi, karena mau minta tolong."
Dahi penuh keriput milik Kai Ansyah semakin mengerut. Dia tidak mengerti mengapa mereka datang lagi.
"Masuklah dulu. Jangan panik apalagi sampai bingung kayak itu!" tegas Kai Ansyah.
Mau tidak mau, mereka pun masuk rumah dan langsung duduk di atas tikar yang sudah disediakan.
"Coba tenangkan dulu diri kamu. Terus barui ceritakan apa yang terjadi!"