"Ehhh ... kenapa aku mikirnya, sakit yang dirasa Mas Alam sekarang. Karena ada hubungan sama sosok yang ada di rumah kamu Sofia. Bukannya selama ini dia juga rajin berkomunikasi dengan Mas Alam 'kan?"
"Iya, sih. Tadi aku juga sempat berpikir ke arah sana," sahut Sofia.
"Cuman, pikiran aku ada lainnya Sofia."
"Apa itu, Lia?"
Tampak Aulia ragu untuk mnegungkap yang ada di kepalanya. Sesekali pandangannya mnegarah pada Alam yang masih lemah dan kesakitan. Lalu, kembali pada Sofia.
"Katakan apa itu Lia?"
"Sepertinya sosok itu juga ingin menguasai Mas Alam. Sosok itu tidak mau kalian berdua menyatu. Dia ingin merebutnya dari kamu!"
Deg!
Ucapan Aulia bagai tamparan telak pada Sofia. Membuat hatinya meradang dengan pandangan nanar menatap Alam yang semakin pucat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sofia terlihat panik dan khawatir pada keadaan Alam, yang terus merintih. "Eno, gimana ini?"
Eno hanya bisa berjalan mondar mandir bingung.
"Kita harus bisa keluar dari sini, Sof. Kenapa aku curiga, kalau sosok itu berbuat begini agar kita kada bisa bertemu Kai Gambut. Bujur kada pikiran aku ni?" Bujur = benar, kada = tidak)
"I-iya, benarlah. Malah kalau hal itu yang terjadi, keadaan kita bisa makin parah," tukas Sofia.
Ketiga gadis itu semakin gelisah. Menunggu Pak Saed pun belum juga datang.
"Mas Alam harus dibawa ke rumah sakit. Kita 'kan enggak tahu sakitnya apa, Sofia? Cepatlah kamu telpon tuh Pak Saed!" "
"Kamu benar Lia. Aku coba telpon Pak Saed dulu!"
Bergegas Sofia mengambil ponsel yang ada di jaket. Buru-buru dia menekan panggilan keluar untuik Pak Saed. Baru dia hendak menelepon, sekilas pandangannya menangkap mobil Pak Saed yang sudah berhenti di halaman. Sontak mereka bertiga berteriak memanggil lelaki itu.
"A-ada apa ini? Kenapa kalian teriak-teriak?"
Ternyata Pak Saed tidak sendiri, dia datang bersama sang istri, yang keluar mobil membawa rantang untuk makan siang. Namun, mereka sangat terkejut melihat Sofia, Eno, dan Aulia yang berlarian keluar. Setidaknya mereka pun ikutan panik.
"Mas Alam, Pak!" teriak mereka bersamaan. "Coba lihat Mas Alam, Pak!" Sofia langsung menarik lelaki itu masuk rumah.
Lelaki itu pun ikut terperanjat, begitu juga sang istri saat melihat kondisi Alam.
"Padahal tadi baik-baik saja, pas turun mobil?"
"Baiknya lekas kita bawa ke puskemas aja. Mumpung dokter Ferlan masih ada, Pak."
"Mamak kok tahu?"
'Iya, si Ida tadi barusan dari sana."
Mereka bergegas membantu Alam untuk masuk mobil. Setelah Alam duduk, mereka semua juga masuk dan mobil mulai melaju perlahan. Meninggalkan rumah sewa.
"Ini tadi kenapa kok bisa kayak gini?"
"Kita baru saja sampai kan Pak Saed. Terus kita semuanya siap-siap berkemas. Habis kita kumpulin semua tas di ruang tamu, tiba-tiba Mas Alam memegang dadanya kesakitan. Mas Alam terus aja berteriak."
"Hemmm ... kok aneh?" sahut Pak Saed berkomentar memberikan tanggapan atas penjelasan Sofia.
"Makanya itu, Pak. Yang bikin aneh lagi, di d**a Mas Alam, ada lebam kebiruan sampai menghitam. Padahal selama di sini, Mas Alam enggak habis kena tonjok atau pukulan apa pun. Ini aneh Pak!" tegas Sofia.
"Biar kita coba dulu ke dokter, Mbak Sofia. Dokter Ferlan itu baik dan bisa kasih solusi. Dia juga dari Jawa," ujar istri Pak Saed.
"Iya, Bu."
Sofia mengusap keringat di wajah Alam. "Masih kerasa sakit, Mas?" Alam hanya mengangguk lemah. Terlihat Sofia yang cemas, takut terjadi apa-apa dengan kekasihnya. "Apa puskemasnya jauh, Bu?"
"Kada, Mbak. Dekat kok."
Mobil melaju kencang mnuju puskesmas yang terletak di atas lereng bukit.
"Alhamdulillah, dokternya belum pulang," cetus istri Pak Saed. "Ayo kita bawa turun!"
"Mak! Buka pintunya!"
Istri Pak Saed terlihat gelagapan, bengong. Dia segera turun dan membantu suaminya memapah Alam. Tampak Sofia menggantikan posisi istri Pak Saed. Eno dan Aulia mengikuti langkah mereka dari arah belakang.
"Assalamualaikum, Dokter!"
Aulia dan Eno terbelalak, melihat sosok dokter Ferlan yang benar-benar tampan.
"Waalaikumsalam. Langsung di bawa ke ruangan aja, Sus!"
"Baik, Dok."
"Ini kenapa tadi?" tanya Dokter Ferlan pada Sofia.
"Kita juga enggak tahu nah Dokter. Tiba-tiba aja Mas Alam teriak kesakitan. Terus saat mau kasih minyak angin, di dadanya ada memar cukup besar. Warnanya sampai kehitaman gitu, Dok."
"Oke, biar saya periksa dulu. Hanya satu orang yang boleh ikut."
Sofia memasuki ruangan. Dia melihat Alam yang masih meringis kesakitan.
"Dadanya rasanya gimana Mas?"
"Sa-sakit, Dok. Kayak diremas-remas," sahut Alam lirih.
Dokter Ferlan menyingkap kaos Alam. Pandangan matanya tak berkedip sama sekali. Dia pun cukup terperanjat, melihat memar di d**a Alam. Melihat Dokter muda itu mematung, membuat Sofia mendekat.
"Apa ... memar ini tadi terakhir kayak gini?"
Sofia kembali memperhatikan dengan seksama. Sambil mengingat memar yang sebelumnya dia lihat.
"Sepertinya ... enggak, Dok. Awalnya tadi di dekat d**a yang kiri. Ini kok bisa di sebelah kanan ya?"
Sofia sendiri pun heran melihat memar yang seolah berjalan.
"Berarti saya tidak salah lihat!" tegas Dokter Ferlan.
"Jadi, Dok?"
Lelaki muda itu menggeleng.
"Ini aneh. Coba Mbak perhatikan memar itu yang mulai bergerak pelan-pelan! Kayak ada yang sedang menggerakkan. Mbak, lihat 'kan?"
"Iya, Dok. Aku melihatnya."
"Terus, gimana dong ini?"
"Peralatan di puskesmas sini tidak lengkap. Harus cek lab dulu, kita mengesampingkan keanehan tadi. Sebaiknya bawa ke kota, sebelum terlambat. Karena ini bagian vital sekali."
Sofia hanya bisa tertunduk dalam.
"Saya hanya bisa berikan obat pereda nyeri." Lalu, sang dokter trampan memandang Sofia sekilas. "Mbak bukan asli sini 'kan?"
"Iya, Dok."
"Coba tanyakan sama yang antar Mbak tadi. Soal luka memar yang ada di d**a Mas Alam ini."
Gadis itu manggut-manggut. Setelah memberikan obat, Alam dan Sofia keluar ruang praktek. Melihat Alam yang masih sempoyongan, segera Pak Saed memapahnya.
"Kita langsung ke mobil saja!" ajak Pak Saed.
"Kayak apa Mbak Sofia?" tanya istri Pak Saed penasaran.
"Ehhh, Dokter Ferlan hanya bisa kasih obat pereda nyeri saja Bu. Karena harus diperiksa lab lengkap."
"Wahhh, harus ke kota itu."
"Memangnya kenapa Sofia?" Eno pun penasaran.
"Aku juga kada tahu. Soalnya Dokter Ferlan juga bingung."
Pak Saed sampai menghentikan mobil dan menoleh ke belakang.
"Coba kamu ceritakan ada apa ini Sofia! Kenapa Dokter Ferlan sampai ikut bingung?"
"Memarnya itu kayak berjalan, Pak."
Penjelasan Sofia membuat Pak Saed dan istri terhenyak. Mata mereka membulat lebar.
"Ada apa ini, Pak?"
Lelaki itu geleng-geleng kepala.
"Ini bukan penyakit biasa, Sofia."
"Maksud Paman?"
Sejenak lelaki terdiam, sambil pandangannya mengarah pada istri.
"Ini ada yang main-main sama Mas Alam. Ada yang menggunakan mistis, Mbak Sofia," sahut istri Pak Saed. Membuat Sofia tercengang.
"Bisa juga itu racun berjalan, yang bisa bikin orang mati. Awalnya muntah darah, sampai organ tubuh juga diserang." Pak Saed coba untuk menjelaskan.
"Ta-tapi, siapa Pak yang berbuat jahat sama Mas Alam?"
"Coba kamu tenang dulu. Sekarang kita balik ke rumah sewa. Nanti kita pikirkan Mas Alam akan kita bawa ke mana. Kalau di sini yang ada kita panik."
"Baiklah Pak kalau kayak gitu."
Mobil kembali melaju, dalam waktu lima menit. Mereka sudah sampai kembali ke rumah sewa.
Tubuh Alam terlihat lemas. Kepalanya hanya bisa miring ke kiri dan kanan.
"Coba kalian liha ini!" ujar Sofia dengan membuka kaos Alam. "Perhatikan dengan fokus. Maka kalian bisa melihat luka memar itu benar-benar berjalan. Ini tadi memarnya ada di sebelah sini. Sekarang mulai turun."
Eno dan Aulia memperhatikan apa yang dibilang Sofia. Begitu juga Pak Saed dan istri.
"Iya!" teriak Eno kelepasan. "Ke-kenapa bisa gerak begitu?"
"Makanya ini Mas Alam lagi alami hal yang tidak wajar. Kita harus cari orang pintar untuk mengobatinya."
"Adakah Paman punya?"
"Kalian sudah kenal."
"Siapa Pak?"
"Kai Ansyah tadi. Dia bisa juga obati yang kayak beginian."
"Kalau gitu, kita harus ke sana, Pak!"
Lelaki itu mengangguk.
"Biar istri saya menemani salah satu kalian yang jaga. Tentukan siapa yang berangkat?"
"Biar saya sama Eno yang temuin Kai Ansyah lagi."
Tanpa banyak bicara, mobil kembali meluncur menuju rumah Kai Ansyah. Sedang di rumah sewa, tinggal Aulia ditemani istri Pak Saed. Pandangan gadis itu tidak lepas dari wajah Alam yang pias dan terlihat lelah. ]
"Sepertinya habis minum obat tadi, dia tidur Bu."
"Cuman kada bisa kita tinggal, apalagi seorang diri."
"I-iya, Bu. Nanti gantian aja."
Perbincangan Aulia dan istri Pak Saed, membuat Alam membuka mata. Dia terbangun tanpa ada rintihan sama sekali. Dengan posisi yang langsung duduk menghadap arah luar rumah. Pandangannya kosong dan hampa. Seperti bukan Alam yang dikenal Aulia.
"Kita pulang sekarang!" Suara Alam pun terdengar aneh. Berulangkali Aulia menggeleng. Dalam hatinya mulai mmebaca surat Qursi.
"Ini aneh," desis Aulia melihat pada istri Pak Saed yang sepertinya merasakan hal yang sama.
"Kita pulang sekarang!"
"Kita pulang sekarang!
"Kita ... pulang sekaraaaaang!" Kali ini suara Alam sangat kencang dan membentak. Dua bola matanya terlihat merah membara. Seperti merahnya darah yang segar. Membuat Aulia ketakutan.
"Ka-kamu kenapa Mas Alam?"