Kai Ansyah mengangkat tangan kanannya ke atas di hadapan mereka. Dengan mata kepala mereka melihat luka baru dengan darah yang tiba-tiba menetes.
"Menurut kalian ini apa?"
Sofia dan yang lainnya menggeleng.
"Ini ancaman dari makhluk itu. Makanya tadi aku bilang kalau mereka tahu, kalian ada di sini."
"Ja-jadi ... dia berasal dari sebuah perjanjian ilmu hitam, Kai?"lanjut Eno.
"Iya."
Teringat dengan batu hitam yang berupa mata panah. Segera Sofia mengeluarkannya.
"Kai tahu apa ini?" tanya Sofia. (Kai = kakek)
"Dari mana kamu dapatkan itu?"
"Ini peninggalan dari Papa saya sebelum meninggal, benda ini ditanam di halaman belakang rumah, Kai."
"Oleh siapa?"
"Katanya sih orang pintar, yang obatin Papa. Waktu itu Papa tiba-tiba muntah darah."
Kai Ansyah manggut-manggut mendengarkan apa yang dituturkan oleh Sofia.
"Sebenarnya benda ini, bertujuan untuk menghalau saat ada serangan dari sosok itu. Cuman, kalau sosok itu ternyata lebih kuat, benda ini bisa mengakibatkan serangan balik bagi pemakai atau pemeganganya."
"Nah, katanya benda inilah yang diberikan oleh seseorang bernama Ansyah ini, Kai."
"Kenapa Kai Ibnu Ansyah ini memberikannya sama Papa kamu, Sofia?" Sambil bergumam lelaki tua terus berpikir. "Apa kalian ada bolpen sama kertas? Segera lah datang ke Kai Gambut. Kalau bisa lebih cepat itu akan lebih baik lagi."
Kai Ansyah menuliskan denah dan nama kota serta desa dan kecamatan lengkap.
"Aku kada tahu nomer rumahnya, cuman kalau di desanya ini, beliau sudah terkenal. Dari sini, kemungkinan beliau lebih tahu dari aku. Apa yang dilakukan orang tua kamu ini, akibatnya fatal, Sofia. Selain membehayakan mereka, juga sangat berbahaya untuk kamu."
"I-iya, Kai."
Setelah menerima sobekan kertas, mereka segera berpamitan pulang. Sofia menyelipkan amplop yang berisi uang di bawah asbak.
Dari ambang pintu, Kai Ansyah memandang arah mereka yang menyusuri jalan. Embusan napas yang mengudara terdengar berat. Sekilas dia menggeleng pelan.
"Yang kamu hadapi ini berat anak muda, sungguh tidak ringan. Maaf kalau aku tidak berterus terang tentanga ketidak sanggupan aku membantumu Sofia. Hanya saja ini tidak semudah yang kamu kira. Perjanjian yang dilakukan orang tua kamu, di masa lalu, benar-benar menakutkan. Dan, bisa melukai siapa pun, termasuk aku," gumam Kai Ansyah. "Semoga Kai Gambut bisa membantu kamu."
Langkah mereka jauh lebih cepat, dari sebelumnya. Sofia hanya ingin masalah ini segera berakhir. Hanya butuh waktu sekian menit, akhirnya mereka sampai di mobil Pak Saed. Lelaki itu berlari mendekat begitu tahu mereka telah sampai.
"Bagaimana? Kalian udah bertemu?"
"Sudah, Pak." Sofia langsung menyodorkan secarik kertas itu. "Bapak tahu alamat ini?"
"Tahu lah kotanya, kalau alamat 'kan bisa dicari. Memangnya kenapa?"
"Kita mau ke sini, Pak Saed."
"Kalian?" Sofia mengangguk penuh keyakinan. "Jadi kalian mau ke sini?"
"Iya, Pak. Alamat ini Kai Ansyaf yang kasih. Kita harus menemui seseorang di sana."
Lelaki itu mengernyitkan dahi.
"Kalian harus balik dulu menuju arah kota Banjar. Setel;ah dari Kota Baru, kalian bisa sewa mobil. Cuman, tiket pesawat kada bisa buat hari ini. Ini udah jam berapa?"
Mereka langsung melihat jam di layar HP masing-masing.
"Sekarang jam berapa?" tanya Pak Saed.
"Masih jam setengah dua Pak."
"Kapal setengah jam lagi berangkat. Ada nanti jam empat, tapi ini pun kadang bisa ditunda keberangkatannya. Dah, kalian tunggu dulu di mobil, biar aku telponkan Firman dulu, biar carikan tiket pesawat buat kalian. Sama carikan tiket kapal juga."
"Baik, Pak." Sofia melihat ke arah Eno dan Aulia. "Kayaknya perjalanan kita bakal panjang ini. Ehhh ... Eno, kamu kada apa-apa? Coba telpon Mamak kamu, bilang kita kada bisa pulang lebih cepat."
"Beres, nanti aku telpon."
Pak Saed sudah duduk di kursi pengemudi. Lalu, menoleh pada Sofia.
"Aku udah telpon Firman. Dia akan usaha carikan tiket pesawatnya buat kalian."
"Makasih banyak, Pak Saed."
Mobil melaju kembali menuntaskan perjalanan mereka di kota ini. Tampak Pak Saed masih sibuk menelepon temannya yang bekerja di bagian tiket kapal laut.
"Bagaimana Pak?" tanya Sofia berharap cemas.
"Insyaallah ada kapal. Banyak penumpang katanya."
"Alhamdulillah," sahut mereka kompak.
"Ini kita pulang dulu ke rumah. Kalian bisa tata barang-barang kalian."
"Iya, Pak Saed. Sebelumnya makasih banyak."
Sesampai di rumah sewa mereka. Terlihat mereka berempat mulai berkemas, merpikan barang-barang yang dibawa.
"Aku kada menyangka kalau perjalanan kita akan panjang," seru Sofia, yang disambut anggukan oleh Aulia. Sedang Eno pun di dalam kamar sudah selesai berkemas begitu juga Alam.
"Kalian udah siap?" tanya Alam berdiri di depan selambu kamar Sofia.
"Sudah, Mas Alam."
Empat tas ransel, sudah tertumpuk di bawah jendela ruang tamu. Mereka duduk di lantai sambil menunggu kedatangan Pak Saed.
"Sofia, aku barusan ada kirim uang ke rekening kamu. Pakai aja itu!"
"Ihhh, serius Mas Alam?"
"Mana pernah aku canda, Sof?"
Pipinya merona kemerahan, membuat hati Sofia berbunga-bunga. Di detik yang sama, tiba-tiba Alam merasakan bagian hati dan jantung seperti diremas bersamaan. Sampai membuat lelaki ganteng itu menjerit yang tertahan.
"Arghhh"
Sontak membuat Sofia, Eno dan Aulia, tersentak. Mereka terkejut melihat Alam yang sudah bergulingan di lantai kayu. Sofia merangkak cepat ke arah Alam yang masih meringis kesakitan.
"Mas Alam ... Mas Alam, kamu kenapa Mas?"
Eno dan Aulia pun dibuar Panik. Mereka cemas melihat keadaan Alam yang kesakitan tanpa sebab.
"Kamu kenapa, Mas?!" Sofia mengguncang tubuh sang kekasih.
"A-aku juga enggak tahu, Sof. d**a aku kayak ada yang remas-remas, sakit sekali."
"Kok, bisa Mas Alam?? Seraya Aulia memberikan minyak angin pada Sofia. " Gosokkan pada dadanya dan punggung, Sof. Takutnya angin duduk."
"I-iya, Lia. Makasih, ya!"
Dibantu Eno dan Aulia, mereka sedikit membangunkan tubuh Alam yang berkeringat dingin. Buru-buru Eno beranjak masuk kamar, dan mengambil bantal.
"Tidurkan kepalanya di sini!" seru Eno. Sofia dan Aulia mengangkat kepala Alam, dengan gerak cepat Eno meletakkan di bantal yang dibawanya.
"Gimana Mas Alam? Udah enakan?"
Lelaki itu terlihat pucat. Dia mengangguk lemah.
"Kayaknya kita kada bisa berangkat sekarang. Kasihan kalau kita paksa. Kondisi Mas Alam kada memungkinkan perjalanan jauh ini."
"Aduuuhhh! Sa-sakit, Sofia! Sakit lagi, Sof."
Segera Sofia menyingkap kaos Alam, hingga terlihat bagian dadanya.
"I-ini, apa?" Setengah berteriak Eno menunjuk di bagian tengah d**a Alam. Pandangan mereka tertuju pada lebam yang membiru kehitaman. "Mas Alam kenapa? Kayak kena luka tonjok." Eno mengalihkan pandangannya pada wajah Alam yang memucat. Dengan bibir yang kering, seperti orang sakit.
"Sof, perasaan aku kok jadi enggak enak gini ya?"
"Maksud kamu gimana Lia?"
"Ini Mas Alam sakitnya dadakan, saat kita mau ke Kai Gambut. Apa kalian ada mikir kayak aku?"
"Memangnya yang kamu pikir apa?" tanya Eno penuh selidik. Dia ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Aulia. "Kok, diam?"
"Ehhh ... kenapa aku mikirnya, sakit yang dirasa Mas Alam sekarang. Karena ada hubungan sama sosok yang ada di rumah kamu Sofia. Bukannya selama ini dia juga rajin berkomunikasi dengan Mas Alam 'kan?"
"Iya, sih. Tadi aku juga sempat berpikir ke arah sana," sahut Sofia.
"Cuman, pikiran aku ada lainnya Sofia."
"Apa itu, Lia?"