IKATAN DENGAN ILMU HITAM

1013 Kata
"Jangan lemas dulu. Aku tahu rumahnya." Bola mata Sofia berbinar. Dia terlihat senang, walau sempat putus asa. "Apakah jauh, Kai?" tanya Sofia sudah tidak sabar. "Cuman Kai Ibnu Ansyah ini, sudah meninggal. Sudah lama sekali, sama aku saja umurnya sudah jauh lebih tua." "Jadi, yang ada tinggal anaknya saja?" tanya Sofia. "Aku kada tahu kalau soal itu. Ibnu Ansyah ini dulu sangat terkenal sekali." "Memangnya yang datang pada beliau ini sakit apa ya Kai?" tanya Sofia penuh selidik. Karena Sofia sangat penasaran apa alasan kedua orang tuanya sampai mendatangi orang pintar segala. "Setahu aku, yang datang ke sana karena gangguan jin. Atau serangan yang disebabkan makhluk ghoib." "Kalau Kai Ansyah sendiri, sama kah?" lanjut Sofia. Yang lain hanya menyimak pembicaraan mereka. Lelaki itu terdiam sejenak.  "Dulu perbuatan aku sangat terlarang dan penuh dosa. Perbuatan yang bekerja sama dengan iblis terkutuk." Perkataan lelaki tua itu, membuat Alam dan yang lain terkesiap. Tidak ada sepatah kata yang terucap. "Mungkin kalian ke sini tadi, udah mendengar beberapa omongan tentang aku. Dan, bisa jadi itu benar!" Sofia melirik sekilas pada Iwan. "Sebenarnya apa yang jadi alasan kalian mencari Kai Ibnu Ansyah?" "Ehhh, sebenarnya itu masalah ulun. Mungkin berkaitan saat orang tua ulun masih hidup. Yang sampai sekarang ada hubungannya." (Ulun = saya) "Coba kamu kisahkan samaku!" Pelan dan pasti, Sofia mulai menceritakan semua yang dia alami. Serta beberapa kejadian yang menimpa orang tuanya, begitu juga dengan keluarga Nini Amas. Tak luput, Sofia pun bercerita perihal isi pesan yang diterima Alam, serta gangguan yang semakin sering dialaminya. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. "Apakah ada benda yang menjadi pajangan di rumah kamu sekarang?" "Benda, Kai?" "Iya. Benda yang kelihatan biasa saja, tapi menurut kalian anak jaman sekarang, benda itu menjadi aneh." Mereka berempat saling beradu pandang, dengan dahi berkerut keras. Mengingat apa saja yang ada dalam rumah Sofia.  "Cermin!" Tiba-tiba, Eno berteriak. Membuat yang lain terperanjat. "Sampai kaget aku, Eno," tegur Aulia. "Aku juga tadi berpikir cermin itu." "Memangnya kenapa dengan cermin itu?" tanya Kai Ansyah dengan pandangan yang lekat. "Cerminnya kelihatan aneh, Kai. Bayangan di cermin itu, kayak bukan ulun. Aneh dan menyeramkan, biar pun semuanya sama persis." Lelaki tua mengangguk seperti mengerti apa yang tengah terjadi. "Apa ada benda lain lagi?" Mereka terdiam dan kembali berpandangan. "Apa ya?" Sofia berdesis. "Apa ya Eno?" "Kalau kayu hitam itu kayak apa?" tanya Alam pada Sofia. "Nah, Mas Alam benar. Kayu itu, Kai. Di rumah ulun ada kayu hitam yang aneh. Mungkin panjangnya hanya seukuran kilan tangan ulun nah." Sambil Sofia merentangkan jari-jari tangannya. "Seukuran ini, Kai." "Apakah ada yang lain sama kayu itu?" "Ada!" tegas Alam. "Kayu itu diberi nama, SOFIA HIRANG!" "SOFIA HIRANG? Nama yang sama kayak kamu?"  "Iya, Kai. Makanya ulun itu heran. Kenapa bisa ada nama ulun di sana." (Kai = kakek, ulun = saya) Lelaki tua memejamkan mata, lalu mengembuskan napas panjang. "Apakah kalian masih berniat handak ke rumah Ibnu Ansyah?" Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Sofia.  "Menurut Mas Alam gimana?" Tampak Sofia bingung. Karena bila mencari rumah Ibnu Ansyah, hanya ketemu dengan  anak dan keluarganya, yang belum tentu mempunyai kemampuan yang sama. "Kayaknya Kai Ansyah ini pun punya kemampuan ya, Mas?" "Iya, malah kayaknya dia paham juga, Sofia," bisik Alam. "Aku kada memaksa kalian, mau ke mana saja terserah. Karena aku niat hanya ingin membantu. Makhluk ghoib yang ada di rumah kamu itu sangat jahat. Rupanya sama persis kayak kamu ini, Sofia." Mereka tertegun dengan kemampuan Kai Ansyah yang mengetahuinya. "Dia juga tahu kalian menemui aku di sini." Deg! Jantung Sofia serasa berdentum kencang. Dadanya terus berdebar-debar, mendnegar apa yang baru saja Kai Ansyah katakan. "Kalian tentukan sekarang juga! Kalau kalian masih ingin ke mendiang Kai Ibnu Ansyah, silakan. Ini aku akan kasih alamatnya." "Apakah jauh, Kai?" Lelaki tua menggeleng. "Sudah dekat." "Kebetulan sekali nama Kai bisa sama dengan Kai Ibnu Ansyah," celetuk Aulia, nyengir. "Iya. Karena sebenarnya aku ini adik kandung dari beliaunya. Hanya beda ilmu yang kami pakai. Kakak aku itu fokus ke pengobatan, sedang aku lebih ke praktek yang ilegal dan jahat menurut aku. Cuman dulu aku pernah diminta oleh Kakak aku itu. Meminta bantuan memindahkan anak ke dalam perut seorang wanita, yang bertahun-tahun belum bisa hamil." "Ke-kenapa kakak Kai mau melakukannya?" "Karena mereka dipaksa bercerai oleh keluarga yang laki. Bahkan, sudah ada perempuan lain yang disediakan untuk suaminya. Bahkan, katanya si perempuan itu sampai hamil." "Haaahhh! Yang cewek sampai hamil, Kai? Kenapa yang suaminya mau melakukannya?" "Mereka dipaksa menikah dibawah tangan. Dan si istri ini dendam dan marah, dengan sepengetahuan si suami mereka datang ke kakak aku." Entah mengapa perasaan Sofia menjadi tidak tenang. "Cuman ada yang salah dari semua itu. Baru kali itu aku gagal." "Gagal?" "Iya. Dan mereka kada pernah datang lagi, sampai sekarang pun kada tahu kabarnya." Suasana menjadi hening kembali. "Lalu, menurut Kai, kayu itu apa?" "Dia penangkal dari kejahatan si makhluk yang diberi nama Sofia Hirang ini. Sebaiknya kalian datanglah ke Kai Gambut!" "Kai Gambut? Siapa lagi itu Kai?" "Dia sangat paham dengan ilmu tua ini. Bahkan kemampuannya melebihi aku, Sofia. Karena kalau si Sofia Hirang ini kada dijauhkan atau diikat, kamu yangv akan menderita, seperti banyak peristiwa yang terjadi pada orang tua kamu." Sofia mengangguk pelan, "Ke mana ulun harus mencarinya? Apa masih di kota sini, Kai?" "Kada! Kalian harus balik ke arah kota lagi. Naik pesawat lagi, terus naiklah mobil, ke sebuah kota yang terkenal dengan batu akik dan emas berliannya. Kalian paham kan?" "Insyallah paham Kai," sahut Sofia. "Ehhh, tunggu sebentar Kai. Apa ini berkaitan dengan sebuah ilmu?" "Benar. Tepatnya ilmu hitam. Ilmu yang mengikat perjanjian antara orang tua Sofia dengan dukun itu. Yang tahu hal ini hanya Kai Gambut. Kalau aku angkat tangan. Coba kalian lihat ini!" Kai Ansyah mengangkat tangan kanannya ke atas di hadapan mereka. Dengan mata kepala mereka melihat luka baru dengan darah yang tiba-tiba menetes. "Menurut kalian ini apa?" Sofia dan yang lainnya menggeleng. "Ini ancaman dari makhluk itu. Makanya tadi aku bilang kalau mereka tahu, kalian ada di sini." "Ja-jadi ... dia berasal dari sebuah perjanjian ilmu hitam, Kai?"lanjut Eno. "Iya." Teringat dengan batu hitam yang berupa mata panah. Segera Sofia megeluarkannya. "Kai tahu apa ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN