Sofia sudah berjalan menuju toko kelontong kecil. Dia membeli apa yang dikatakan oleh Pak Saed. Tak lama, mobil kembali melaju menyusuri jalanan yang belum beraspal.
"Jauh kah Pak?" tanya Eno.
"Lumayan. Agak pelosok rumahnya Kia Ansyah ini."
Eno langsung menoleh pada Aulia.
"Ini aja udah pelosok, gimana rumah yang lebih pelosok lagi?" seloroh Aulia.
"Udah, dinikmati aja perjalanannya," cetus Sofia.
Perjalanan melewati jalanan yang becek dan berlubang dengan genangan air, karena semalam hujan deras mengguyur wilayah ini.
"Nanti dari tempat mobil berhenti, Sofia sama kawan-kawannya, masih harus jalan lagi."
"Jalan? Enggak sama Pak Saed?" tanya Alam, heran.
"Iya, Mas Alam. Jalannya ke sana cuman setapak. Mobil kada bisa naik ke atas."
"Wahhh, jalannya baik enggak Pak?" Alam terus bertanya dengan menoleh ke arah belakang.
"Ya, agak becek kalau habis hujan kayak gini, Mas."
"Ya, udahlah, anggap kita pendakian. Kira-kira seberapa jauh, Pak?"
"Ehhh, dekat kok, Mbak Sofia. Mungkin sekitar 1-2 kilometer aja."
"Jauh loh itu," bisik Aulia, yang memang bawel.
"Santai Lia, kita jalan aja. Pasti nanti enggak capek kok."
Mobil mereka menuju jalan yang mulai menyempit. Tepat di sebuah pasar kecil, yang sudah tutup, mobil Pak Saed berhenti.
"Kalian turun di sini. Bapak pun akan tunggu di sini."
"Kita ini lewat mana, Pak?"
Lelaki itu menunjuk ke arah barat. Ada jalan setapak yang berada di perbukitan yang tidak terlalu tinggi.
"Lewat situ aja kalian. Ikuti terus jalan setapak ini, kada ada belak belok sama sekali. Lurus dan terus naik. Nanti di atas ada satu-satunya pohon binjai, yang katanya sih sudah puluhan tahun tumbuh di situ. Tapi, kada ada orang yang berani metik buahnya."
"Binjai?" ulang Sofia, yang tidak pernah tahu buah itu. Begitu juga Aulia dan Alam yang hanya bisa saling berpandangan.
"Seperti buah mangga, warnanya putih kekuningan. Baunya wangi tapi masam. Biasanya kesukaan wanita hamil tuh, buat rujak." Pak Saed mencoba menjelaskan.
"Ohhh!" Hampir bersamaan mereka mengucapkannya.
"Terus, Pak. Dari pohon binjai ke mananya?" tanya Eno.
"Kada jauh. Dari pohon itu, nanti rumah Kai Ansyah sudah kelihatan."
Mereka mengangguk paham. Kemudian, Alam mengajak mereka untuk segera jalan naik ke atas.
"Kalian lihat langitnya, kayak mau hujan lagi. Kita harus jalan cepat biar sampai sana!" ajak Alam.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan setapak, yang sebagian tergenang air. Terkadang mereka pun harus menghindari beberapa bebatuan yang licin.
"Hati-hati terpeleset!" teriak Sofia yang berjalan di belakang Alam, Yang diikuti oleh Aulia dan terakhir Eno.
Langkah mereka mulai melambat. Namun dari kejauhan Alam mulai melihat sebuah pohon yang berdiri sendiri dengan kokohnya. Menjulang cukup tinggi dan lebat. Alam pun bisa melihat beberapa buah yang menggelantung di antara rimbunnya dedaunan.
"En! Itu kah pohonnya?" teriak Alam menoleh ke arah Eno.
"Iya, Mas. Tuh, aroma wanginya mulai kecium sampai ke sini!" seru Eno.
"Benar kamu, En. Wangi sekali baunya. Ihhh ... masak masam rasanya."
"Iya, kalau pun ada yang manis, ya tetap ada masamnya, Lia."
Kini, Alam berhenti tepat di bawah pohon binjai, sambil menunggu kedatangan mereka. Terdengar napas yang terengah-engah dari Sofia dan juga Aulia. Tinggal menunggu Eno yang berjalan sedikit lambat.
"Ada apa, En?"
"Ada orang di sana!" Sambil menunjuk arah kiri dari mereka.
"Orang siapa En?" Sofia pun ikut mengarahkan pandangannya, sejajar dengan ujung telunjuk Eno. "Di mana? Kok aku kada bisa melihatnya?"
"Dia udah naik ke atas barusan. Mungkin keluarga Kai Ansyah kali," sahut Eno sekenanya.
'Yuk, kita lanjut jalan lagi!" ajak Alam. Hanya berjarak beberapa meter, rumah yang dimaksudkan telah terlihat. Walau terlihatnya dekat, tapi jika ditempuh dengan berjalan cukup memakan waktu yang tidak sebentar.
"Kelihatannya dekat, padahal juga jauh," celetuk Aulia.
"Ihhh, dari tadi ngomel terus." Sofia mulai kesal pada Aulia.
"Maaf, Sof!"
Sampai akhirnya mereka tiba juga di sebuah rumah kayu yang sederhana sekali. Bersamaan mereka sampai, tiba-tiba hujan derasa mengguyur di lokasi mereka saat ini.
Alam berinisiatif mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum!"
Tok tok tok!
Rumah kecil dan sangat sederhana ini, tidak mmeiliki halaman yang luas. Di bagian depan terdapat tanaman perdu sebagai pagar.
"Apa enggak ada orangnya ya?" bisik Aulia.
"Masa sih? Kalau eggak ada orangnya sia-sia dong kita di sini," lanjut Sofia lemas. Dia terduduk di kursi yang terbuat dari kayu.
"Coba aku ketuk lagi," usul Alam.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalaam."
Tiba-tiba terdengar suara yang datang dari arah samping belakang. Tampak seorang lelaki tua dengan apkaian yang basah kuyup.
"Ohhh, Kai tadi yang aku lihat tadi," ujar Eno tidak meny6angka sama sekali.
"Iya, aku lihat kalian makanya langsung balik pulang. Sebenarnya tadi aku mau turun."
"Turun?" ulang Sofia aneh. "Ke mana Kai? Apalagi hujan deras kayak gini."
"Tadi 'kan belum hujan."
Sofia hanya mengangguk membenarkan.
Lelaki itu menarik pintu rumah yang ternyata tidak dikuncinya.
"Kai hidup sendirian di sini?"
"Iya, keluarga aku ada di bawah. Dekat pasar tadi."
Setelah pintu terbuka lebar. Lelaki tua membiarkan mereka masuk.
"Di sini kada ada kursi. Kita duduknya di lantai saja."
"Enggak apa-apa, Kai. Diterima saja kami sudah senang, Kai," ucap Alam, tertunduk.
"Aku ke dalam dulu!"
Lima menit berlalu, lelaki itu hadir dengan tampilan yang lebih bersih dan rapi. Lalu dia duduk bersila di antara mereka.
"Ada apa sebenarnya kalian ek sini?"
"Saya Sofia, Kai. Ini Mas Alam, sebelahnya lagi Aulia, terus yang di sebelah saya ini, Eno."
Tampak Kai Ansyah hanya manggut-manggut.
"Kami dari Jawa, ke sini ada urusan sedikit."
Lelaki itu mengerutkan dahinya kuat, sampai terbentuk lapisan pada kulitanya.
"Urusan apa itu?"
"Ehhh, Kai. Sebenarnya kami ini mencari seseorang yang bernama Ansyah. Perkiraan umurnya sudah tua, Kai. kami menduganya itu adalah Kai." Sofia berusaha untuk menjelaskan.
"Namanya kok bisa sama?" tanya Kai Ansyah pada mereka.
"Kami juga enggak tahu Kai, kenapa semuanya serba sama. Makanya kami datang ke sini, siapa tahu kita berjodoh."
Sofia terus memperhatikan gerak geriknya.
"Coba ceritakan sedikit saja tentang masalah kalian ini. Biar aku lebih paham."
"Begini Kai, beberapa hari lalu, Kami disuruh menemui Kai Ansyah oleh seseorang. Cuman kata beliaunya ini, Ansyah ini sudah meninggal. Makanya saat mendengar nama Kai, hati kami langsung bergetar. Apa mungkin Kai ini orang yang sama?"
Lelaki itu langsung menggeleng dengan menatap pada Sofia.
"Siapa tadi nama kamu?"
"Sofia, Kai."
"Nama yang bagus, biarpun kepahitan tengah mengejar kamu."
"Maksud Kai?"
"Semua ini ada hubungan sama masa lalu kamu!" tegas lelaki tua itu.
Sofia hanya bisa menatapnya. Dia berharap kalau lelaki inilah yang telah membantu Mamanya dulu.
"Di sini dulu ada dua nama yang sama. Ansyah saja sama Ibnu Ansyah. Nah, nama aku yang Ansyah aja."
Seketika Sofia langsung lemas.
"Jangan lemas dulu. Aku tahu rumahnya."
Bola mata Sofia berbinar. Dia terlihat senang, walau sempat putus asa.
"Apakah jauh, Kai?" tanya Sofia sudah tidak sabar.
"Cuman Kai Ibnu Ansyah ini, sudah meninggal. Sudah lama sekali, sama aku saja umurnya sudah jauh lebih tua."
"Jadi, yang ada tinggal anaknya saja?" tanya Sofia.