MENUJU RUMAH KAI ANSYAH

1036 Kata
"Memangnya kehebatan si Ansyah ini apa sih, pak?" "Katanya dulu bisa mindahin janin. Jadi yang banyak datang ke rumah dia, hanya untuk berubah. "Wahhhh, mindahin janin? Baru kali ini aku tahu," sahut Aulia. "Aku juga," sahut Eno. Sofia pun mengacungkan tangan, "Idem, Pak." Namun seolah tersadar, Sofia kembali mencermati apa yang dikatakan oleh istri Pak Saed. 'Memindahkan janin?' bisik Sofia dalam hati. "Besok pagi, biar Bapak antar kalian ini ke rumahnya." "Apa, orangnya masih hidup Pak?" Lelaki itu langsung melihat pada sang istri. "Masih hidup kah orangnya?" tanya Pak Saed pada sang istri. "Lah, masih. Kai Ansyah ini masih hidup beliaunya." "Nah, mending sekarang kalian buat istirahat aja. Apalagi ini anginnya dah kayak mau turun hujan." Mereka pun mengangguk sepakat. Setelah kepergian Pak Saed dan istri, mereka membereskan tikar. Saat Sofia hendak masuk rumah. Lagi-lagi dia merasa seperti ada yang mengawasi dirinya, dari balik pohon kelapa yang berada di seberang rumah.  Eno menarik lengan Sofia yang masih berdiri terdiam, sambil sesekali melihat arah belakang. Gadis itu pun memandang aneh pada Sofia. "Kamu ini lagi lihat apa sih?" "Ehhh, kenapa sejak kepergian ke pulau ini, aku tuh ngerasa kayak ada yang ikutin. Aneh aja!" Perkataan Sofia pun terdengar oleh Alam dan Aulia. Mereka pun ikut menoleh ke arah Sofia. "Apa ... mungkin si cowok ganteng tadi, Sof?" tanya Aulia, membuat raut wajah Alam berubah.  "Udahlah! Jangan bahas soal cowok yang tadi, bisa saja 'kan hanya kebetulan?" sahut Alam menunjukkan kecemburuan dan ketidaksukaannya.  Mereka segera masuk rumah. Hati Sofia tidak bisa diingkari, memang beberapa kali kebetulan yang terlihat aneh menurutnya. Bagaimana bisa lelaki itu terlihat dalam kota yang selalu sama, dengan sorot mata yang tajam melihat pada Sofia. "Kita tidur di kamar yang mana?" tanya Eno. "Terserah aja deh, En. Kalau buat kita yang kamar paling luas aja," sahut Sofia. "Mana ada Sof? Ini tuh ukurannya sama semua," tukas Aulia. "Berarti kada muatlah buat kita bertiga?" celetuk Sofia. "Udah, aku tidur sendirian, kamu sama Aulia, tidur berdua. Dah, aku mau tiduran duluan, ngantuk." Mereka mulai berbagi kamar. Sedangkan Alam sudah tidur pulas mendahului mereka.  Suhu udara yang panas, membuat Sofia dan Aulia sulit untuk memejamkan mata. Biarpun ada kipas angin di setiap kamar, tetap saja tidak membantu. "Kamu bisa tidur, Sof?" "Kada, Lia! Panas banget. Nih, keringat aku kamu lihat!" Sofia duduk menghadap Aulia, yang kipas-kipas. Gadis itu menyeka keringatnya.  "Aku ke kamar mandi dulu deh." "Mau ngapain?" Sofia memandang arah Aulia yang sudah turun dari ranjang. "Mau basahi wajah sama tngkuk aku. Biar dingin dikit lah." "Ikut deh, kayaknya solusi saat ini tuh." Aulia berjalan lebih dahulu di depan Sofia. Sembari menunggu, sengaja Sofia melangkah menuju jendela. Dia menyibak korden jendela, dan hatinya berdebar-debar, manakala dia melihat sosok lelaki ganteng yang tadi dilihatnya. Pandangan mata mereka berserobok, cukup lama. Tangan Sofia bergerak pelan memegang handle pintu. Dia menariknya pelan, sampai pintu terbuka. Entah mengapa, kini Sofia sudah berdiri di halaman rumah. Langkahnya berjalan menuju pepohonan yang berada di seberang jalan. "Siapa kamu? Kenapa selalu mengikuti aku?" tanya Sofia. Namun, tidak ada yang keluar dari balik pohon itu. Walau ragu dan takut yang bercampur aduk, Sofia nekad. Langkah berayun pelan, hingga dia sekarang berdiri di antara pohon kelapa. Angin laut seakan mempermainkan rambutnya yang lebat dan hitam panjang. "Kamu sembunyi? Untuk apa? Coba katakan siapa kamu ini sebenarnya? Niat kamu apa? Jawab!" Sofia menekan suaranya agar tidak terdengar kencang.  Namun, sosok lelaki yang dilihatnya menghilang.  "Benar-benar bikin pusing. Kamu kira aku akan takut? Sama sekali kada takut aku!" Sofia terus mengomel, sampai teriakan dari Aulia terdengar kencang. "Sofiaaa!" Membuat gadis itu menoleh pada Aulia. "Ngapain kamu di tempat gelap situ? Menakutkan, Sofia. Ayo balik, katanya mau ke kamar mandi." "Iya, bentar." Sejenak pandangan matanya mengitari tempat itu. Dirasa tidak ada siapa pun, Sofia akhirnya berbalik dan melangkah menuju rumah. Tiba-tiba, Srek srek srek! Sontak Sofia kembali membalik tubuhnya. Samar dia melihat sekelebat bayangan yang berlari dan menjauh. "Hemmm, kurasa kamu manusia, bukan hantu. Tapi, siapa kamu?" bisik Sofia, tak lepas memandang arah bayangan itu pergi. Segera Aulia menarik tangan Sofia dan mengunci pintu rumah. "Kamu jangan gila, Sof! Ini tempat asing dan baru buat kita. Jangan sembarangan aja kamu keluar malam-malam gini, mana enggak ada orang lagi!" tegur Aulia kesal. "I-iya, Lia. Maaf ...! Aku tadi pas melihat ke arah luar, kayak ada yang lihatin terus. Makanya aku keluar." "Iya, tapi itu bahaya. Kalau perampok atau maling gimana coba? Kamu diculik dan diperkosa?" Sembari Aulia bergidik. "Aku salah, terlalu sembrono. Dah, aku mau basahi wajah dulu!" Air yang membasahi wajah dan leher mereka, cukup membantu Aulia dan Sofia untuk bisa tidur dengan nyenyak, sampai pagi menjelang. Suara anak berlarian ditambah kokok ayam yang bersahutan. Tidak ada yang bangun Shubuh, semuanya kesiangan sampai jam sembilan pagi. Sayup terdengar suara gedoran di jendela Alam, yang berada di kamar paling depan. Lelaki berparas manis itu, seketika gelagapan terbangun.   "Haahhh, jam berapa ini? Kok sinar mataharinya udah terang sekali?" Sontak dia mmebuka jendela yang terbuat dari kayu. "Pak Saed?!" "Wahhh, kayaknya kaliantidur pulas. Ini udah jam sembilan Mas." "Ehhh ... iya, Pak. Bentar saya bangunin mereka dulu!" Segera Alam menerobos masuk kamar Sofia. Dia mengguncang tubuh kekasihnya dan memercikkan air di wajah. "Sof, bangun!" "Ehhhh .... "Bangunlah Sayang! Atau aku cium nih." "Hemmm, kalau mau cium-cium jangan di sini!" Protes Aulia yang terbangun oleh suara gaduh Alam yang nyengir. "Ya, udah! Bangunin mereka kita udah kesiangan parah ini. Apalagi perjalanan kita masih panjang." "Siaaaap!" _Satu jam berlalu_ Mereka sudah bersiap untuk segera pergi. Tampak di halaman, mobil Pak Saed sudah siap menunggu mereka. "Maaf ya, Pak Saed. Kita bangunnya kesiangan," ucap Sofia. "Kada apa-apa. Tenang aja!" Mobil mulai melaju pelan dan berhenti di rumah Pak Saed. "Kok, berhenti Pak?" tanya Alam. "Kalian turunlah! Beli gula, minyak, kopi sama rokok, buat Kai Ansyah ini. Belinya di warung vaku aja," ujarnya terkekeh. "Ohhhh, baru paham. Ya udah aku turun dulu!"  Sofia sudah berjalan menuju toko kelontong kecil. Dia membeli apa yang dikatakan oleh Pak Saed. Tak lama, mobil kembali melaju menyusuri jalanan yang belum beraspal. "Jauh kah Pak?" tanya Eno. "Lumayan. Agak pelosok rumahnya Kia Ansyah ini." Eno langsung menoleh pada Aulia.  "Ini aja udah pelosok, gimana rumah yang lebih pelosok lagi?" * Jangan lupa masukkan daftar pustaka dan subs novel ini ya readers
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN