MEMINDAH JANIN

1015 Kata
"E ... hhh, hadahhh! Kok malah gantengnya yang kalian bahas!" seru Alam, tak habis pikir. "Yang dipikir itu, kenapa dia ngikutin kita. Ini yang aneh!" tegas Alam. "Iya, Mas. Cuman aku kan bilang secara kenyataan. Rambutnya dikuncir ke belakang, pakai jaket jeans macam Dylan. Keren sih, dengan celana jeans yang sobek-sobek. Aku yakin dia bukan asli sini," seloroh Eno. "Hemmm ... iya juga nih yang dibilang Eno. Emang ganteng," lanjut Aulia. Saat Sofia ingin memperhatikan sekali lagi, cowok yang ganteng kata Eno. Ternyata dia sudah tdak berada di tempatnya. "Kok lama juga ya Pak Saed itu, Sof. Apa harus telpon Pak Firman?" "Kita tunggu lima menit lagi aja. Kalau emang belum datang juga, biar aku telpon." "Kayaknya kada perlu Sofia," cetus Eno. "Itu kayaknya Pak Saed yang bawa mobil Kixxng kotak biru." "Haahhh, dari mana kamu tahu?" tanya Aulia menatap Eno. "Dia baru saja turun dan longok-longok seperti cari seseorang." Mereka melihat pada lelaki plontos dengan tubuh gemuk dan pendek. "Nah, bujur 'kan apa yang aku bilang. Dia berjalan ke sini sekarang."  (Bujur = benar) "Benar juga kamu, Eno," bisik Sofia. "Ehemmm!" Lelaki itu berdehem. Sengaja Sofia dan yang membiarkannya, seolah cuek tak peduli.  "Permisi!" "Iya, Pak," sahut Alam yang tidak tega. "Apa benar ini rombongan Mbak Sofia?" "Benar, Pak. Saya Sofia." Lelaki itu langsung tersenyum lebar, dan mengulurkan tangan. Segera Sofia menjabat, ujung kukunya. "Kenapa telat nih, Pak?" "Maaf, jalanan berlumpur. Maaf habis hujan, jadinya harus pelan lewatinya. Kada berani kencang." "Ohhh." Serempak mulut mereka membentu huruf O. Seraya berjalan mengikuti lelaki plontos, yang sudah emmbuka pintu untuk mereka. "Rumah sewa kami apa jauh, Pak Saed?" "Kada jauh, dekat saja, kurang lebih satu jam lah." Mobil mulai membawa mereka meninggalkan dermaga kecil. Dari jalanan beraspal, kini berganti jalanan berpasir dan tanah liat yang agak mengering. Sepanjang perjalanan mereka melewati kayak semak belukar dan hutan kecil yang masih ditumbuhi banyak pepohonan. "Masih sepi sekali ini, Pak?" "Iya lah, Mbak. Beda sama di kota." "Nama desanya apa Pak?" "Desa Pinang." Mereka pun manggut-manggut. Walau pun diberitahu juga tidak mengerti. Hampir empat puluh menit, mulai ada rumah warga. Sampai akhirnya mobil tua yang mereka tumpangi berbelok ke arah kanan, memasuki perkampungan warga. "Di sini banyak sekali tujuan wisata. Kalau mau minta antar, saya siap mengantar." "Wisata laut ya, Pak?" tanya Sofia. "Iya, Mbak." "Ehhh, apa pesan Pak Firman sudah disampaikan belum?" Tampak kening lelaki itu mengernyit. "Pesan yang mana ya?" "Minta tolong untuk sewakan motor, Pak." "Ohhh, gampang aja itu. Mobil Bapak ini masih kuat antar kalian ke mana aja." "Serius ini, Pak. Apa tidak merepotkan nantinya?" "Ohhh, tentu tidak! Anggaplah Bapak ini nanti guide kalian lah." Alam menyeringai senang. Karena dalam pikirannya, mereka tidak perlu repot bila menuju suatu daerah tertentu, bila ada yang sudah paham. Mobil memasuki halaman sebuah rumah kayu berbentuk panggung. Di atasnya masih beratapkan seng. "Wahhh, pastinya panas ini kalau siang," celetuk Eno. "A-ada kipas angin kok di dalam." Pak Saed berusaha memberikan yang terbaik pada mereka. "Maaf ya, di sini cari rumah sewa agaklah sulit." Mereka segera masuk ke dalam rumah. Terdapat tiga kamar, tanpa berpintu. Hanya sehelai kain penutup. "Nah, habis ini bini aku datang. Kalian makanlah dulu." "Kok jadinya ngerepotin, Pak Saed." "Pak Firman sudah kayak saudara sendiri. Kalau tamu dia, sama juga kayak tamu aku." Tak lama, datang seorang wanita berhijab.Dia membawa rantang susun empat. "Assalamualaikum!" "Waalaikumsalam," jawab mereka kompak. "Loh, Pak Saed rumahnya dekat sini juga?" tanya Sofia penasaran. "Iya, Mbak. Cuman ada sepuluh rumah dari sini. Nanti, kalau ada apa-apa, bilang saja, atau main ke rumah," sahut sang istri sangat ramah. "Wahhh, makasih banyak ya, Bu." "Ini, makanan khas laut. Semoga suka. Ibu kada bisa menemani, di rumah ada toko. Takutnya ada orang beli." "Makasih banyak ya, Bu." Sofia terus memandang sosok wanita itu. "Mending kalian makan dulu aja! Saya tinggal ke masjid dulu. Udah mau maghrib."  "Silakan, Pak!" sahut Alam. "Kayaknya aku mandi dulu deh. Ini badan udah macam pakai parfum keringat," celetuk Aulia. Berbeda dengan Eno dan Sofia yang memang kelaparan. Mereka menyantap menu ikan di bumbu kuning. "Ehhh, segernya," desis Eno. "Kita tadi kenapa lupa tanya sama Pak Saed." "Tentang apa Sofia?" "Itu loh, Mas Alam. Harusnya kan kita tanya, siapa tahu dia mengenal sosok Ansyah ini." "Hemmm, benar juga. Dari pada kita puyeng meau cari ke mana coba?" Tepat pukul tujuh malam. Saed datang berkunjung ke rumah mereka. Sengaja pintu rumah dibuka lebar. Mereka ingin menikmati suasana di perkampungan yang jauh dari kota. Hanya terdengar debur ombak yang menggulung pantai.  "Masuk, Pak!" ajak Alam. "Di luar aja, lebih dingin. Ini kubawakan tikar buat kalian." Akhirnya mereka berkumpul di halaman depan. Terdengar suara riuh anak bermain. "Pak Saed apa dulu pernah dengar nama Ansyah? Katanya sih dulu orang ini sangat terkenal dis ekitaran kota ini?" "Ansyah?" Sofia manggut-manggut. "Sebentar ya! Karena yang asli daerah sini, istri saya pasti lebih tahu. Biar dia aku suruh ke sini." "Apa kada merepotkan Pak?" "Tenang saja." Lelaki itu sudah menelepon sang istri. "Assalamualaikum, Ma." "Waalaikumsalam, Bah. Ada apa?" "Ke sini bentar aja. Ada yang ditanyakan oleh mereka nih." "Ohhh, ya udah . Aku ke sana, Bah."Segera istri Saed, menstater motornya. Lalu, dengan cepat menuju arah rumah Sofia. "Nah,itu istri saya datang." "Ada apa ini, Abah?" "Ehhh, kita mau tanya satu hal, Bu." "Apa itu Mbak Sofia?" Sang wanita dan suami, duduk menghadap Sofia. "Apa ... Ibu kenal dengan orang yang bernama Ansyah?" "A-ansyah?" ulang sang istri. "Benar, Bu. Katanya dulu sih memang ada orang pintar yang terkenal sampai ke Jakarta. Cuman  sekarang sudah meninggal." "Kalau keluarganya, kira-kira ada yang masih hidup, enggak Bu?" "Ini Ibu yang kada tahu sama sekali. Coba aja besok ke rumahnya, biar besok diantar sama Pak Saed, suami saya." Sofia pun mengangguk. "Katanya juga dulu itu ada orang hebat dan pintar. Kalau kada salah namanya juga Ansyah ini. Nah mending sebelum turun, kalian cari lagi informasi tentang sosok lelaki ini." "Memangnya kehebatan si Ansyah ini apa sih, pak?" "Katanya dulu bisa mindahin janin. Jadi yang banyak datang ke rumah dia, hanya untuk berubah. "Wahhhh, mindahin janin? Baru kali ini aku tahu," sahut Aulia. "Aku juga," sahut Eno. Sofia pun mengacungkan tangan, "Idem, Pak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN